MAJALAH TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

 

Dapatkan di TOKO BUKU Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia dan AGEN-AGEN atau
E-MAIL: SIRKULASI atau
Telp: 021-83701736 Fax: 021-9101871


 
Gaya Hidup  
 
   

MAJALAH TOKOH INDONESIA 39

 

GAYA HIDUP MTI 39 (01)

Nikmati Hidup dengan Teh


Di sejumlah negara, acara minum teh bukanlah momen biasa.

Menikmati suasana pagi memang tepat bila ditemani oleh secangkir teh hangat. Apalagi saat menjelang sore, sambil memandang indahnya langit dengan semburat jingga menawan, teh bisa menjadi teman yang pantas dalam suasana tersebut. Teh dipercaya dapat membantu menenangkan hati dan pikiran di kala stres melanda. Dan tidak hanya itu, teh juga mempunyai khasiat yang baik bagi kesehatan tubuh.


Minuman berkhasiat ini memang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Pertama kali teh dikenalkan sekitar 2.737 tahun Sebelum Masehi di China, saat Dinasti Sheh Nong berkuasa.

 

Perjamuan minum teh ini kemudian menjadi sebuah tradisi turun temurun yang tidak boleh ditinggalkan. Bagi orang China, mereka sangat peduli terhadap rasa dan aroma dari teh yang diminumnya. Tak jarang, karena kepedulian yang sangat besar terhadap rasa dan aroma teh, mereka begitu senang membandingkan antara teh satu dengan teh lainnya untuk mendapatkan rasa dan aroma teh yang berbeda dari setiap jenis.


Di negeri tirai bambu ini, untuk minum teh digunakan medium gelas dan mangkuk berukuran kecil. Gelas ini dipergunakan untuk menghirup aroma teh, sementara mangkuk dipakai untuk meminum teh. Medium tambahannya adalah sebuah poci yang terbuat dari tanah liat merah. Poci diletakkan di atas mangkuk besar yang dituangi air mendidih hingga meluber. Kemudian, poci ditutup rapat selama dua menit. Setelah itu, teh yang berada dalam poci tadi dituangkan ke gelas dan tamu diminta untuk menghirup aroma teh tersebut sebelum meminumnya melalui mangkuk. Proses ini memberi arti sebagai tanda penghormatan bagi tuan rumah.


Lain China, lain pula Jepang. Budaya minum teh menyebar ke Jepang sekitar abad ke-6 dan diperkirakan menjadi tradisi di Jepang selama masa Kamakura (1192-1333) oleh pengikut Zen. Kebiasaan pengikut aliran Zen minum teh agar mereka tetap terjaga selama meditasi yang bisa memakan waktu berjam-jam. Selama abad ke-15, ini menjadi acara tetap berkumpul di lingkungan khusus untuk mendiskusikan berbagai hal.

 

Selanjutnya, masuk ke Eropa dan Amerika di abad 17 dan 18.
Di Negeri Sakura upacara minum teh masih berlangsung hingga kini. Diadakan di tempat khusus yang disebut cha-shitsu. Semua dijalankan dengan tata krama yang khas dan standar baku. Urutannya, para tamu duduk berlutut di bawah. Tuan rumah, menempatkan diri di depan mereka dengan di hadapan sudah tersaji berbagai peralatan, antara lain mangkuk untuk air buangan, sendok dari bambu, tempat teh, dan sebagainya.
Acara minum teh ini biasanya berlangsung satu setengah jam. Jika dengan makanan kecil, diperlukan waktu lebih lama lagi, 3-4 jam. Bagi yang tak biasa, siap-siap pegal.


Menurut ahli seni minum teh ala Jepang, hakikat upacara itu adalah setiap pertemuan antarmanusia mempunyai arti khusus. Tuan rumah memutuskan peristiwa-peristiwa apa saja yang akan dirayakan dan peralatan teh macam apa yang akan dipilih. Ketika tetamu datang dan merayakan bersama, maka tercipta hubungan yang erat di antara mereka.


Nilai filosofis upacara minum teh ini tergambar dalam upacara minum teh dalam rangka memperingati ulang tahun emas persahabatan Indonesia-Jepang beberapa waktu lalu di Hotel Inter Continental Jakarta. Seorang peracik teh asal Jepang bergelar grand master Sen Genshitsu di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para undangan yang hadir menjelaskan makna upacara. Menurutnya, upacara tradisional minum teh ini bukan hanya sekadar rangkaian sebuah seremoni atau hanya sekadar minum teh biasa, melainkan mengandung unsur filosofi untuk memperhatikan dan menghormati umat manusia. Kemurnian yang muncul pada saat meneguk teh hijau pekat yang pahit diungkapkan oleh pria berusia 85 tahun ini untuk mengingatkan manusia agar selalu berbuat kebaikan.


Sambil menerangkan proses pembuatan teh, tangan-tangan terampil Genshitsu Sen mulai meracik teh tradisional Jepang dengan peralatan yang dibawa langsung dari Jepang. Sebelum minum teh, kepada Presiden SBY dan Ibu Ani disajikan kue khas Jepang berwarna hijau. “Kue yang dipilih ini melambangkan air arus yang jernih karena saat ini di Jepang adalah musim panas,” Genshitsu menjelaskan.


Genshitsu yang sudah ahli meracik teh selama 38 tahun juga mengajari tata cara minum yang tidak sembarangan. Pertama kali dia mengajak untuk lebih dulu menatap teh berwarna hijau dalam cawan. Lalu, tangan kanan peminum diletakkan di bawah cawan dan tangan kiri untuk menyangga cawan. Setelah itu, tanpa mengungkapkan kata-kata, badan dibungkukkan sebagai tanda ucapan terimakasih kepada sang ahli teh. Terakhir kalinya, teh diminum perlahan-lahan hingga habis.


Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan upacara minum teh, sekitar empat jam. Selama perjamuan teh, Presiden dan para tamu disuguhkan makanan berat dan dua hidangan teh yaitu koicha, sebutan untuk teh yang halus dan kental, serta usucha teh hijau yang encer.


Tidak mudah menghadirkan kesenangan batin dan keindahan bagi para tamu. Tidak gampang juga menghasilkan secawan teh dengan kualitas rasa dan aroma yang sempurna. Untuk itulah waktu menjadi bekal berharga bagi para peracik teh handal.
Berbeda dengan China dan Jepang yang memiliki tradisi minum teh yang kuat, minum teh di Indonesia hampir bisa dikatakan, tidak terikat aturan apa pun. Untuk kenikmatan penyajian, seduhan teh dapat dicampur dengan gula sesukanya. Teh dapat diminum kapan saja, dari pagi hingga malam. Wadah dan cara meminumnya juga tidak memiliki aturan khusus.


Sementara di negara lain, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari tradisi minum teh ini. Teh bukan hanya sekadar untuk diminum. Proses dalam menghasilkan teh itulah yang sebenarnya telah membawa filosofi mengajarkan manusia tentang arti hidup. (RTH, MLP)

 

***

Tradisi Minum Teh di Berbagai Negara


TEH (Camelia sinensis) dikenal sejak sekitar 2.737 tahun Sebelum Masehi pada masa kekaisaran Sheh Nong di China. Dari negeri China, teh kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, dan sampai kini tradisi minum teh masih lestari di berbagai negara.

China
Orang China sangat memerhatikan rasa dan aroma teh. Mereka juga senang membanding-bandingkan satu jenis teh dengan teh lainnya. Di China, penyajian minum teh tidak disertai dengan hidangan makanan.

Jepang
Pendeta Zen Buddha Yeisei yang pertama kali memperkenalkan teh di Jepang. Ia memanfaatkan nilai-nilai yang terkandung dalam upacara minum teh untuk meningkatkan rneditasi religius. Dalam waktu singkat teh mendapat dukungan dari kekaisaran dan menyebar di seluruh kalangan kerajaan dan biara-biara. Yeisei kemudian digelari Bapak Teh di Jepang.

Rusia
Orang Rusia mengenal teh sejak abad ke-17. Mereka minum teh sambil berdiri, mengikuti tradisi orang Barat. Orang Rusia menggunakan ketel samovar, mirip ketel orang Mongol. Samovar dulu dikenal untuk membuat minuman madu berempah. Biasanya teh disajikan dengan kue-kue manis.

Inggris
Teh dikenalkan di Inggris sekitar tahun 1652. Harganya sangat tinggi karena dianggap sebagai minuman bangsawan. Salah satu bangsawan yang menggemari teh adalah Pangeran Charles II dan istrinya, Catherine de Braganza. Dari bangsawan-bangsawan Inggris, teh dikenal sampai ke beberapa negara. Teh yang biasa disajikan saat sarapan dan makan malam ini menjadi minuman pergaulan. Para bangsawan menikmati teh sambil jalan-jalan di halaman rumah. Gaya hidup para bangsawan ini ditiru oleh para keluarga Inggris. Kebiasaan minum teh di Inggris masih berlangsung hingga kini. Ada dua jenis upacara teh di Inggris. Teh cair biasanya disajikan pada siang hari dalam pertemuan keluarga. Dihidangkan dengan roti berselai, sandwich, atau makanan kecil lainnya.

Irak
Bagaimana pun sibuknya, orang Irak selalu menyempatkan diri untuk berkumpul pada sore hari sambil menikmati teh. Tiap orang duduk melingkar di ruang tamu sambil menanti sajian teh. Apresiasi orang Irak pada penyajian teh sangat tinggi. Jadi, menyuguhkan teh celup sangat tidak dianjurkan karena bisa dicemooh. ► Majalah Tokoh Indonesia Edisi 39

     

Majalah TokohIndonesia 39

Siapa Capres 2009

KAPUR SIRIH: Mencari Pemimpin BERITA UTAMA: Siapa Capres 2009? Indonesia Butuh Strong Leadership = Peluang Duet Unik SBY-JK = Duel SBY-JK dan Pembelotan Menteri = Megawati Lebih Siap = Sri Sultan HB X, Capres atau Cawapres = PKS: Hidayat atau Tifatul = Peluang Terakhir Wiranto = Sutiyoso, Tiket PenumpangWAWANCARA: Kita (SBY-JK) Saling Mengisi (Wawancara Eksklusif Wapres Drs. M Jusuf Kalla)PRESTASI: Dada Rosada: Teladan, Kunci Kepemimpinan  = Baharudin H.Lisa, Keberuntungan BaselTOKOH UTAMA: Dr. Aulia Sani, Spesialis Jantung yang BersahajaGAYA HIDUP: Nikmati Hidup dengan Teh = Sehat Berkat Minum TehAPRESIASI: Bismar Siregar, Seni itu IbadahTOKOH MANCANEGARA: OBAMA Mengukir Sejarah Amerika = Mari Alkatiri PM Pertama Timor Leste = WAWANCARA MARI ALKATIRI: Pemilu Dipercepat 2009 Fretilin Yakin MenangPOLITISI: Nidalia Djohansyah, Perempuan Lebih Peka dan Responsif