|
GAYA HIDUP MTI 39 (01)
Nikmati Hidup dengan Teh
Di sejumlah negara, acara minum teh bukanlah momen biasa.
Menikmati suasana pagi memang tepat bila ditemani oleh secangkir teh
hangat. Apalagi saat menjelang sore, sambil memandang indahnya langit
dengan semburat jingga menawan, teh bisa menjadi teman yang pantas dalam
suasana tersebut. Teh dipercaya dapat membantu menenangkan hati dan
pikiran di kala stres melanda. Dan tidak hanya itu, teh juga mempunyai
khasiat yang baik bagi kesehatan tubuh.
Minuman berkhasiat ini memang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu.
Pertama kali teh dikenalkan sekitar 2.737 tahun Sebelum Masehi di China,
saat Dinasti Sheh Nong berkuasa.
Perjamuan minum teh ini kemudian menjadi sebuah tradisi turun temurun
yang tidak boleh ditinggalkan. Bagi orang China, mereka sangat peduli
terhadap rasa dan aroma dari teh yang diminumnya. Tak jarang, karena
kepedulian yang sangat besar terhadap rasa dan aroma teh, mereka begitu
senang membandingkan antara teh satu dengan teh lainnya untuk
mendapatkan rasa dan aroma teh yang berbeda dari setiap jenis.
Di negeri tirai bambu ini, untuk minum teh digunakan medium gelas dan
mangkuk berukuran kecil. Gelas ini dipergunakan untuk menghirup aroma
teh, sementara mangkuk dipakai untuk meminum teh. Medium tambahannya
adalah sebuah poci yang terbuat dari tanah liat merah. Poci diletakkan
di atas mangkuk besar yang dituangi air mendidih hingga meluber.
Kemudian, poci ditutup rapat selama dua menit. Setelah itu, teh yang
berada dalam poci tadi dituangkan ke gelas dan tamu diminta untuk
menghirup aroma teh tersebut sebelum meminumnya melalui mangkuk. Proses
ini memberi arti sebagai tanda penghormatan bagi tuan rumah.
Lain China, lain pula Jepang. Budaya minum teh menyebar ke Jepang
sekitar abad ke-6 dan diperkirakan menjadi tradisi di Jepang selama masa
Kamakura (1192-1333) oleh pengikut Zen. Kebiasaan pengikut aliran Zen
minum teh agar mereka tetap terjaga selama meditasi yang bisa memakan
waktu berjam-jam. Selama abad ke-15, ini menjadi acara tetap berkumpul
di lingkungan khusus untuk mendiskusikan berbagai hal.
Selanjutnya, masuk ke Eropa dan Amerika di abad 17 dan 18.
Di Negeri Sakura upacara minum teh masih berlangsung hingga kini.
Diadakan di tempat khusus yang disebut cha-shitsu. Semua dijalankan
dengan tata krama yang khas dan standar baku. Urutannya, para tamu duduk
berlutut di bawah. Tuan rumah, menempatkan diri di depan mereka dengan
di hadapan sudah tersaji berbagai peralatan, antara lain mangkuk untuk
air buangan, sendok dari bambu, tempat teh, dan sebagainya.
Acara minum teh ini biasanya berlangsung satu setengah jam. Jika dengan
makanan kecil, diperlukan waktu lebih lama lagi, 3-4 jam. Bagi yang tak
biasa, siap-siap pegal.
Menurut ahli seni minum teh ala Jepang, hakikat upacara itu adalah
setiap pertemuan antarmanusia mempunyai arti khusus. Tuan rumah
memutuskan peristiwa-peristiwa apa saja yang akan dirayakan dan
peralatan teh macam apa yang akan dipilih. Ketika tetamu datang dan
merayakan bersama, maka tercipta hubungan yang erat di antara mereka.
Nilai filosofis upacara minum teh ini tergambar dalam upacara minum teh
dalam rangka memperingati ulang tahun emas persahabatan Indonesia-Jepang
beberapa waktu lalu di Hotel Inter Continental Jakarta. Seorang peracik
teh asal Jepang bergelar grand master Sen Genshitsu di hadapan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dan para undangan yang hadir menjelaskan makna
upacara. Menurutnya, upacara tradisional minum teh ini bukan hanya
sekadar rangkaian sebuah seremoni atau hanya sekadar minum teh biasa,
melainkan mengandung unsur filosofi untuk memperhatikan dan menghormati
umat manusia. Kemurnian yang muncul pada saat meneguk teh hijau pekat
yang pahit diungkapkan oleh pria berusia 85 tahun ini untuk mengingatkan
manusia agar selalu berbuat kebaikan.
Sambil menerangkan proses pembuatan teh, tangan-tangan terampil
Genshitsu Sen mulai meracik teh tradisional Jepang dengan peralatan yang
dibawa langsung dari Jepang. Sebelum minum teh, kepada Presiden SBY dan
Ibu Ani disajikan kue khas Jepang berwarna hijau. “Kue yang dipilih ini
melambangkan air arus yang jernih karena saat ini di Jepang adalah musim
panas,” Genshitsu menjelaskan.
Genshitsu yang sudah ahli meracik teh selama 38 tahun juga mengajari
tata cara minum yang tidak sembarangan. Pertama kali dia mengajak untuk
lebih dulu menatap teh berwarna hijau dalam cawan. Lalu, tangan kanan
peminum diletakkan di bawah cawan dan tangan kiri untuk menyangga cawan.
Setelah itu, tanpa mengungkapkan kata-kata, badan dibungkukkan sebagai
tanda ucapan terimakasih kepada sang ahli teh. Terakhir kalinya, teh
diminum perlahan-lahan hingga habis.
Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan upacara minum teh,
sekitar empat jam. Selama perjamuan teh, Presiden dan para tamu
disuguhkan makanan berat dan dua hidangan teh yaitu koicha, sebutan
untuk teh yang halus dan kental, serta usucha teh hijau yang encer.
Tidak mudah menghadirkan kesenangan batin dan keindahan bagi para tamu.
Tidak gampang juga menghasilkan secawan teh dengan kualitas rasa dan
aroma yang sempurna. Untuk itulah waktu menjadi bekal berharga bagi para
peracik teh handal.
Berbeda dengan China dan Jepang yang memiliki tradisi minum teh yang
kuat, minum teh di Indonesia hampir bisa dikatakan, tidak terikat aturan
apa pun. Untuk kenikmatan penyajian, seduhan teh dapat dicampur dengan
gula sesukanya. Teh dapat diminum kapan saja, dari pagi hingga malam.
Wadah dan cara meminumnya juga tidak memiliki aturan khusus.
Sementara di negara lain, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari
tradisi minum teh ini. Teh bukan hanya sekadar untuk diminum. Proses
dalam menghasilkan teh itulah yang sebenarnya telah membawa filosofi
mengajarkan manusia tentang arti hidup. (RTH, MLP)
***
Tradisi Minum Teh di Berbagai Negara
TEH (Camelia sinensis) dikenal sejak sekitar 2.737 tahun Sebelum Masehi
pada masa kekaisaran Sheh Nong di China. Dari negeri China, teh kemudian
menyebar ke berbagai penjuru dunia, dan sampai kini tradisi minum teh
masih lestari di berbagai negara.
China
Orang China sangat memerhatikan rasa dan aroma teh. Mereka juga senang
membanding-bandingkan satu jenis teh dengan teh lainnya. Di China,
penyajian minum teh tidak disertai dengan hidangan makanan.
Jepang
Pendeta Zen Buddha Yeisei yang pertama kali memperkenalkan teh di Jepang.
Ia memanfaatkan nilai-nilai yang terkandung dalam upacara minum teh
untuk meningkatkan rneditasi religius. Dalam waktu singkat teh mendapat
dukungan dari kekaisaran dan menyebar di seluruh kalangan kerajaan dan
biara-biara. Yeisei kemudian digelari Bapak Teh di Jepang.
Rusia
Orang Rusia mengenal teh sejak abad ke-17. Mereka minum teh sambil
berdiri, mengikuti tradisi orang Barat. Orang Rusia menggunakan ketel
samovar, mirip ketel orang Mongol. Samovar dulu dikenal untuk membuat
minuman madu berempah. Biasanya teh disajikan dengan kue-kue manis.
Inggris
Teh dikenalkan di Inggris sekitar tahun 1652. Harganya sangat tinggi
karena dianggap sebagai minuman bangsawan. Salah satu bangsawan yang
menggemari teh adalah Pangeran Charles II dan istrinya, Catherine de
Braganza. Dari bangsawan-bangsawan Inggris, teh dikenal sampai ke
beberapa negara. Teh yang biasa disajikan saat sarapan dan makan malam
ini menjadi minuman pergaulan. Para bangsawan menikmati teh sambil
jalan-jalan di halaman rumah. Gaya hidup para bangsawan ini ditiru oleh
para keluarga Inggris. Kebiasaan minum teh di Inggris masih berlangsung
hingga kini. Ada dua jenis upacara teh di Inggris. Teh cair biasanya
disajikan pada siang hari dalam pertemuan keluarga. Dihidangkan dengan
roti berselai, sandwich, atau makanan kecil lainnya.
Irak
Bagaimana pun sibuknya, orang Irak selalu menyempatkan diri untuk
berkumpul pada sore hari sambil menikmati teh. Tiap orang duduk
melingkar di ruang tamu sambil menanti sajian teh. Apresiasi orang Irak
pada penyajian teh sangat tinggi. Jadi, menyuguhkan teh celup sangat
tidak dianjurkan karena bisa dicemooh. ► Majalah Tokoh
Indonesia Edisi 39 |
|
|
|