|
Berita Utama MTI 39 (08)
Sutiyoso, Tiket Penumpang
Oleh Ch Robin Simanullang
Sutiyoso (Bang Yos) sangat percaya diri mendeklarasikan kesiapannya
menjadi Calon Presiden (Capres) pada Pilpres 2009, tanpa perlu
mendirikan partai sebagai kendaraan politik. Mantan Gubernur DKI Jakarta
ini berharap partai lain akan mencalonkannya. Mungkinkah ada partai yang
memberi tiket penumpang gratis?
Berharap dicalonkan partai lain, suatu impian yang mudah dan indah. Tapi
kenyataan dalam percaturan politik tidak semudah dan seindah impian itu.
Politik adalah hitungan kekuasaan dan kepentingan yang tidak gratis.
Sutiyoso, mantan Pangdam Jaya, kelahiran Semarang, 6 Desember 1944, itu
juga pasti sangat menyadari hal itu. Maka, tentu, dia sudah memiliki
perhitungan sendiri sebelum mendeklarasikan kesiapannya menjadi Capres
tanpa mendirikan partai atau bergabung (menjadi anggota) partai tertentu.
Lalu, pertanyaannya, sebesar apa posisi tawar Bang Yos untuk bisa
mewujudkan obsesinya menjadi Capres? Kepemimpinannya yang sudah teruji
dan berhasil memimpin DKI Jakarta selama 10 tahun dalam kondisi sulit,
bisa menjadi salah satu credit point. Tapi partai-partai (terutama
partai besar) tentu juga memiliki pemimpin yang bisa diandalkan untuk
memimpin bangsa. Apalagi, mereka sudah ‘berkeringat’ membesarkan partai.
Dalam posisi seperti ini, sebesar apa posisi tawar Bang Yos?
Memang, ada belasan partai yang menyebut-nyebut nama Bang Yos akan
dijadikan Capres atau Cawapres, termasuk Partai Amanat Nasional (PAN)
serta partai-partai kecil dan baru. Tapi melihat gencarnya iklan politik
Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir, rasanya sulit diprediksi bahwa PAN akan
mengusung Bang Yos sebagai Capres. Beruntung, Partai Indonesia Sejahtera
(PIS) dalam Rapimnas (23/7/2008) telah secara resmi menyatakan akan
mengusung Bang Yos sebagai Capres.
Barangkali cukup realistis bila Bang Yos mendekati partai-partai baru
atau partai-partai kecil potensial. Tapi hal itu, pasti memerlukan biaya
dan cukup spekulatif. Partai-partai baru belum tentu meraih suara
signifikan. Untuk ini keberanian dan perhitungan yang cermat diperlukan.
Dukungan sponsor yang kuat pasti juga akan memudahkan. Walaupun posisi
Bang Yos akan tetap sebagai penumpang (istimewa) di kapal (partai) yang
dinakhodai orang lain.
Hal itu hanya sekadar analisis. Sementara yang pasti, Bang Yos
barangkali memiliki kalkulasi politik atas deklarasi pencapresannya.
Deklarasi itu dilakukan bertepatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober
2007 dan enam hari menjelang mengakhiri masa tugas 10 tahun sebagai
Gubernur DKI Jakarta (7/10/2007). Dihadiri sejumlah tokoh antara lain
mantan Presiden Abdurrahman Wahid, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno,
mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, Wakil Ketua MPR
Moeryati Soedibyo, mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, Ketua
Umum PNBK Eros Djarot, Ketua Umum PDK Ryaas Rasyid, budayawan Taufik
Ismail dan Ridwan Saidi, serta sekitar seribu simpatisan mengenakan kaus
putih bertuliskan “Bang Yos Pemimpin Masa Depan”.
Deklarasi Capres itu dilakukan sebagai respon atas desakan berbagai
kalangan selama setahun terakhir. Juga didorong pengalaman memimpin
Jakarta (1997-2007) untuk melanjutkan pengabdiannya. “Saya merasa
terpanggil karena jiwa pengabdian sebagai anak bangsa,” ujar mantan
Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI). Dia juga
yang mengaku mengetahui semua masalah yang terjadi di setiap provinsi,
termasuk cara-cara untuk mengatasinya.
Dalam deklarasi itu, Bang Yos setidaknya mengemukakan lima langkah (misi)
yang akan diwujudkannya. Pertama, penghargaan terhadap nilai-nilai lama
yang baik dan penyerapan terhadap nilai-nilai baru yang lebih baik.
Kedua, perumusan nilai-nilai reformasi yang sesuai bagi Indonesia.
Ketiga, menyukseskan otonomi daerah dengan memberi kewenangan dan dana
yang cukup sehingga pembangunan dapat dilangsungkan dengan cepat di tiap
daerah. Keempat, penciptaan rasa aman dengan penguatan sistem pertahanan
dan keamanan. Kelima, penciptaan politik bebas aktif, di mana tak ada
negara lain yang boleh mendominasi Indonesia di bidang politik, ekonomi,
sosial, dan budaya.
Sejauhmana peluang Bang Yos untuk bisa merujudkan visi-misinya? Apakah
dia memiliki tim sukses yang handal? Jangan-jangan tim suksesnya terlalu
percaya diri dan malah mengurung Bang Yos dalam ruang hampa. Seperti
feodal yang sulit tersentuh dan berinteraksi dengan pihak lain.
Sebab setelah satu tahun pendeklarasian, tidak terlihat peningkatan
pencitraan Bang Yos sebagai Capres atau Cawapres. Dalam berbagai survei,
Bang Yos belum masuk dalam posisi unggulan.
Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) 2007 Bang Yos hanya didukung 1,0
persen dari kategori tokoh yang paling mampu dalam mengatasi masalah
mendesak (SBY 35 persen, Megawati 22 persen, Amin Rais 6 persen, JK 5,5
persen, Wiranto 5 persen, Sultan HB X 5 persen, dan Sutiyoso 1 persen.
Juga dalam kategori lebih bisa dipercaya, Bang Yos hanya 0,5 persen (SBY
30,5 persen, Megawati 18,0 persen, Amien Rais 8.0 persen, JK 4,0 persen,
Wiranto 3.0 persen, Sultan 6.0 persen, dan Sutiyoso 0,5 persen). Begitu
pula dalam penilaian tokoh yang lebih perhatian pada rakyat, Sutiyoso
hanya 1,0 persen (SBY 35,0 persen, Megawati 23,0 persen, Amien Rais 5,0
persen, Sultan 5,0 persen, JK 4,0 persen, Wiranto 3,0 persen).
Sementara untuk posisi Cawapres, semula PDI-P juga menominasi Bang Yos
sebagai Cawapres unggulan pendamping Megawati. Tetapi, belakangan
setelah tiga kali melakukan survei internal (sampai Meu 2008), nama
Sutiyoso tidak lagi muncul dalam lima urutan teratas.
Sedangkan hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang dilakukan pada
Januari dan Mei 2008, menunjukkan nama Bang Yos masuk urutan lima dari
enam nama Cawapres paling ideal untuk mendampingi Megawati, yaitu
Wiranto (45,6 persen), Sri Sultan Hamengku Buwono X (45,6 persen), dan
Prabowo Subianto (41 persen), Akbar Tandjung (37,4 persen ), Sutiyoso
(37 persen) dan Hidayat Nur Wahid (36,6 persen).
Melihat kondisi pencitraan Bang Yos sampai saat ini, tampaknya Bang Yos
masih belum melakukan gebrakan. Sehingga masih sangat sulit memprediksi
peluang Bang Yos untuk menggapai kursi pengabdian Presiden atau Wakil
Presiden 2009-2014.
Jika Bang Yos berhasil menggalang partai untuk mengusungnya sebagai
Capres, kemungkinan akan memilih tokoh lebih muda darinya sebagai
Cawapres, seperti Hidayat Nurwahid atau Tifatul Sembiring, Sutrisno
Bachir atau Hatta Rajasa, Yenny Wahid atau Muhaimin Iskandar, Yusril
Ihza Mahendra, Sri Mulyani atau Faisal Basri. ► Majalah Tokoh
Indonesia Edisi 39 |
|
|
|