|
BERITA UTAMA MTI 39 (02)
Peluang Duet Unik SBY-JK
Oleh Ch Robin Simanullang: Duet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terlihat unik. Berbeda
dengan duet Presiden – Wapres sebelumnya. Konstitusi mengamanatkan bahwa
Wapres adalah pembantu Presiden. Tapi duet SBY-JK terlihat unik dengan
kesan adanya pembagian kekuasaan. Masihkah duet unik ini bersatu dan
berpeluang menang pada Pilpres 2009?
Duet unik SBY-JK cukup kontroversial. Dari penglihatan luar, duet ini
sering berbeda dalam mengambil keputusan. Kadangkala terkesan Wapres JK
mendahului kewenangan Presiden SBY. Terkadang SBY terkesan takut sama JK.
Namun dalam kesempatan lain, SBY terkesan mengesampingkan JK. Sering
juga keduanya terkesan berlomba merebut popularitas. Lalu, dalam
kesempatan berikutnya, keduanya tampak seiring. Duet yang unik!
Banyak pengamat memperkirakan duet SBY-JK, Presiden-Wapres pertama
pilihan rakyat secara langsung (2004), ini akan pecah sebelum berakhir
masa jabatan 20 Oktober 2009. Duet ini tidak lagi akan berpasangan dalam
Pilpres 2009 nanti. Bahkan bukan hanya pengamat, kalangan internal
Partai Golkar (JK) dan Partai Demokrat (SBY) sendiri juga meragukan
kelanggengan duet SBY-JK. Tapi Wapres JK kepada Tokoh Indonesia
menegaskan tidak ada masalah di antara mereka. “Kita (SBY-JK) saling
mengisi,” katanya.
Namun belakangan, Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso
mengatakan masa depan duet SBY-JK dalam posisi yang tidak menentu.
“Mudah-mudahan saja ada keajaiban sehingga tetap duet ini bekerja dengan
tenteram,” ujar Priyo tatkala mengungkap kekecewaan partainya yang sudah
terakumulasi terhadap pemerintah.
Terakhir kekecewaan itu dipicu keputusan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto
tentang Pilkada Maluku Utara. Mendagri memilih mengangkat pasangan
Thayin Harmaini daripada pasangan Abdul Gafur yang diusung Partai Golkar
walaupun kemenangan Abdul Gafur pernah diakui oleh Komisi Pemilihan Umum
(KPU) Pusat. Menurut Priyo, Pilkada Malut itu adalah letupan atau puncak
dari pada kegetiran yang selama ini kami (Partai Golkar yang dipimpin JK
sebagai Ketua Umum) rasakan sebagai fraksi pendukung utama pemerintah.
Tapi politisi Partai Demokrat (partai yang dipimpin SBY sebagai Ketua
Dewan Pembina yang kekuasaannya hampir setara dengan Ketua Dewan Pembina
Golkar era Orde Baru) menanggapi dingin gertakan Partai Golkar itu. Para
pengamat juga sangat meragukan keberanian Partai Golkar meninggalkan
pemerintah yang dipimpin duet SBY-JK.
Setidaknya hal ini juga tercermin dari pernyataan Ketua Fraksi Partai
Golkar sendiri di DPR: “Biarlah pada saatnya partai akan bersikap. Tapi
izinkanlah, Fraksi Golkar yang saya pimpin untuk menyampaikan ini. Saya
mendapatkan dukungan yang demikian menggembirakan dari seluruh pimpinan
partai (Golkar), termasuk dari daerah. Dan saya tidak ingin membebani
Pak Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden,” ujarnya.
Juga tercermin dari pernyataan Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar
Surya Paloh kepada pers, seusai mendampingi Ketua Umum DPP Partai Golkar
Jusuf Kalla membuka rapat kordinasi teknis (Rakornis) bendahara Partai
Golkar di ruang Bhinakarna, Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (3/6/2008)
pagi.
“Tentu, kita sedih, berempati, dan kecewa. Itu satu fakta yang terasa
dalam semangat dan emosi para konstituen partai Golkar. Namun, tidak
berarti bahwasanya ini suatu hal yang barangkali—katakanlah—kita
langsung ambil sikap tidak mengenal lagi hubungan silaturahmi dengan
Presiden SBY,” ujar Surya Paloh yang disampingnya berdiri Wapres JK.
Benas saja, dalam kesempatan tidak terlalu lama, terhitung hari, Juni
2008, Fraksi PG bergandeng tangan dengan Fraksi PD menolak angket BBM
dan sama-sama memilih interpelasi.
Tampaknya pernyataan kekecewaan PG hanya sebuah dinamika dalam
perjalanan duet SBY-JK. JK sebagai Ketua Umum Partai Golkar, partai
terbesar yang memenangkan Pemilu 2004, berada dalam posisi dilematis
dalam dinamika koalisi PG dengan pemerintah (PD). Sebenarnya bagaimana
peta koalisinya?
Menjawab pertanyaan ini, Wapres Jusuf Kalla dalam wawancara dengan Tokoh
Indonesia menjelaskan: “Golkar kan partai nomor satu. Partai nomor satu
itu ingin juga mempunyai peranan lebih besar dalam pemerintahan. Tapi,
dilemanya itu sebenarnya kan, kebetulan saya jadi Ketua Umum Golkar
setelah jadi Wapres. Jadi ya, sebaiknya dipahami seperti itu dilemanya.
(Selengkapnya baca:
Wawancara
Wapres JK: Kita (SBY-JK) Saling Mengisi).
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Saiful Mujani, Kamis (1/11)
di Jakarta mengatakan duet SBY-JK harus mampu memastikan kepada
masyarakat bahwa mereka cukup solid untuk menyelesaikan pemerintahan,
setidaknya sampai 2009. Bahkan, menurutnya, mereka juga perlu memastikan
akan bersama-sama maju pada Pemilihan Umum 2009.
Hal itu dikemukakan Saiful menanggapi adanya kesan duet SBY-JK sudah
tidak solid. Ada kesan SBY sudah tidak mau dengan JK, demikian
sebaliknya. Menurutnya, hal itu membuktikan pemerintah telah gagal untuk
menciptakan kesan baik.
Sampai saat ini SBY belum pernah mengatakan akan tetap perpasangan
dengan JK pada Pilpres 2009. Demikian pula sebaliknya JK, bahkan pernah
mengatakan dapat berpisah dengan SBY pada 2009, walaupun JK juga pernah
mengatakan dirinya tidak mungkin menjadi presiden.
Dalam menjawab pertanyaan reporter Tokoh Indonesia, apakah tidak ada
niat menjadi Presiden, Wapres JK mengatakan segala hal itu bukan saja
urusan pribadi, tapi urusan partai. Partai yang memutuskan pada waktunya.
Pernyataan JK ini diakuinya bukan hanya sekedar menjaga perasaan
Presiden SBY, tapi karena memang hal itu adalah urusan partai.
Menanggapi kepemimpinan duet SBY-JK, yang kalau dilihat dari luar,
seperti antara sais dan joki dalam satu kreta kuda (sado), hal mana
Presiden SBY dibilang orang cenderung peragu, Wapres JK mengaku tidak
mengalami ada masalah di antara mereka. Walaupun JK juga melihat seolah
ada kesan jika dirinya sudah tidak solid dengan SBY. Tapi, menurutnya,
kesan itu kadang kala disebabkan oleh media. JK meyakinkan: “Kami punya
tujuan dan amanah yang sama sampai tahun 2009. Kecuali kalau mau memberi
amanah tambahan, ya terima kasih.” Mengenai posisi selanjutnya, menurut
JK akan ditentukan oleh partai politik dan bangsa. “Kalau saya sendiri,
inginnya terus mengabdi pada negara,” katanya.
Perihal gaya kepemimpinan SBY, JK mengatakan: “Sebenarnya beliau (SBY)
mengutamakan kebersamaan. Tentu, dalam kebersamaan itu kan harus
melaksanakan secara baik sosialisasi dan demokrasi yang baik, sampai
tingkat yang terendah.
Karena, menurutnya, hal-hal yang ditel biasanya SBY minta dia laksanakan.
“Beliau seorang pemipin yang baik, mengetahui semua permasalahan,” tegas
Wapres JK tentang kepemimpinan SBY. Maka JK yakin dwitunggal ini bisa
bertahan sampai 2009. Menurut JK, tidak pernah faktor gaya kepemimpinan
menjadi penyebab keretakan hubungan mereka. “Kita jalan secara bersama,
saling mengisi,” katanya.
Walaupun ada beberapa hal yang dicatat Tokoh Indonesia, di antaranya,
waktu timnya Marsillam, UKP3R dibentuk Presiden, lalu begitu kuat Golkar
menolak dan menantangnya. Menurut Wapres JK, itu supaya jangan timbul
dualisme saja. “Karena, kalau organisasi timbul dualisme, terlalu banyak
lembaga, justru menyebabkan orang bingung. Itu saja intinya, sebenarnya,”
katanya.
Sementara itu, intelektual muda yang juga Rektor Universitas Paramadina,
Anis Baswedan, menilai duet SBY-JK sepintas tampak seiring dan sejalan.
Namun, dia melihat ada dua aspek yang menjadi masalah, yaitu gaya dan
sistem. Menurutnya, SBY dan JK memiliki gaya berpolitik dan kepemimpinan
yang berbeda. SBY cenderung berorientasi pada prosedur, sementara JK
cenderung berorientasi pada hasil. “Efeknya, mereka sering memiliki
pendekatan berbeda dalam menghadapi problem yang sama,” katanya.
Sesuai konstitusi, Presiden memiliki otoritas politik lebih besar
daripada Wapres. Namun, dalam realitas politik, Wapres JK memiliki
sistem dukungan politik yang jauh lebih kuat (Partai Golkar)
dibandingkan Presiden SBY (Partai Demokrat). “Karena itu, Presiden
sering terkesan memperhitungkan langkah-langkah Wapres, seakan-akan
Wapres bukan sekadar wakilnya, tetapi sebuah entitas politik tersendiri
yang bisa independen dari Presiden,” ujar Anis. Perbedaan inilah yang
membuat kerja sama Presiden SBY dan Wapres JK menjadi tidak optimal.
Namun, Wakil Ketua MPR HM Aksa Mahmud menilai Duet SBY-JK sebagai
Presiden dan Wakil Presiden pilihan rakyat secara langsung, merupakan
duet yang paling ideal sepanjang sejarah republik ini. Mereka berdua
telah bekerja luar biasa. Tidak mengenal hari Sabtu-Minggu, siang dan
malam. Menurutnya, pemerintahan ini masih jauh lebih baik dibanding
dengan yang sebelum-sebelumnya.
Aksa Mahmud menilai duet ini sangat baik, karena kemampuannya yang
saling melengkapi, dwi tunggal Indonesia. Satu berfungsi sebagai
pengarah atau steering, satu sebagai pekerja atau organizing. Seorang
pekerja membutuhkan visi sebagai panduan yang menjadi tugas pengarah.
Sementara sebuah visi perlu diterjemahkan menjadi kerja yang konkrit di
lapangan. Sehingga membutuhkan pekerja keras yang ulet dan serius.
“Jadi pasangan ini sangat ideal, ada pengarah dan ada pekerjanya. Tentu
harapan kita hasilnya menyejahterakan dan memakmurkan rakyat,” ujar Aksa
Mahmud. Menurutnya, pasangan ini telah bekerja maksimal. Walaupun
masyarakat belum puas. Belum puas karena terlalu lambatnya pergerakan
ekonomi. “Sebagai orang yang mempunyai background pegusaha, seharusnya
bisa diselesaikan beberapa hari tapi kenapa dua-tiga tahun belum selesai.
Itu ketidakpuasan saya,” ujar pendiri kelompok usaha Bosowa itu. Namun,
anggota Badan Pertimbangan KADIN Indonesia, itu menambahkan, tentu tidak
bisa seperti membalik tangan, memerlukan proses.
Wakil Ketua Partai Demokrat Ahmad Mubarok juga pernah mengatakan
idealnya duet SBY-JK dua periode. Menurutnya, kepemimpinan nasional baru
akan terasa efeknya jika mendapat kesempatan memimpin pemerintahan
selama dua periode. Dia membandingkan dengan masa kepemimpinan Presiden
Soekarno selama 20 tahun (1945-1965) dan Presiden Soeharto hampir 32
tahun (1966-1998). Sementara setelah reformasi, semuanya
sebentar-sebentar. Presiden Habibie hanya 1 tahun sampai pemilu
(1998-1999), Abdurrahman Wahid jatuh di tengah jalan (1999-2002), dan
diteruskan Megawati lebih kurang tiga tahun (2002-2004).
Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPR RI Dr Syarief Hasan juga menilai
pemerintah pimpinan duet Presiden SBY dan Wapres JK, sebagai hasil
pilihan rakyat pada Pemilu 2004, telah menjalankan tugas sebagaimana
mestinya walaupun masih ada kekurangan dari hasil pelaksanaan tugas itu.
Berbagai persoalan sudah ditangani dan telah berhasil memperbaiki
keadaan. “Memang ada yang menyatakan kurang puas. Itu kita akui, namun
kita juga harapkan agar jangan menilai kinerja hanya berdasarkan
persepsi,” katanya.
Dia mengajak semua pihak untuk menjalankan etika berpolitik yang santun,
baik dan benar sebagai pedoman utama bagi partai politik dalam
menjalankan pembelajaran demokrasi. “Jangan hanya mengkritik, memfitnah
bahkan melakukan pembunuhan karakter dan citra,” kata Syarief Hasan.
Syarief Hasan mengemukakan bahwa Partai Demokrat (PD) menawarkan gagasan
agar Partai Golkar (PG) meneruskan koalisinya dengan mempertahankan
pasangan SBY-JK hingga Pemilu 2014. Walaupun dia menegaskan, meski
menawarkan gagasan agar pasangan SBY-JK dipertahkankan pada Pemilu 2009,
PD siap ditinggalkan PG jika pada Pemilu 2009 PG akan mencalonkan
kadernya menjadi presiden.
Hal senada dikemukakan Sekretaris FPD Sutan Bhatoegana jika PG ingin
mengajukan Capres, pihaknya siap. Namun, Sutan menegaskan bahwa PD tidak
akan terburu-buru mengumumkan pencalonan. “Kita memberi kesempatan
kepada SBY untuk mengukir keberhasilan. Dengan keberhasilan, maka hal
itu merupakan kampanye menuju Pilpres 2009,” katanya.
Diyakini PD akan tetap mencalonkan SBY. Sebab dari sejarahnya, PD
dibentuk sebagai kendaraan politik bagi SBY. Karena itu, PD mendorong
agar SBY berhasil akan memuluskan jalan bagi pencalonannya kembali pada
Pilpres 2009.
Sementara, dengan siapa SBY berpasangan masih akan ditentukan
perkembangan politik berikutnya. Namun, kecenderungan duet SBY-JK akan
dipertahankan masih lebih memungkinkan. Duet unik ini tampaknya
mempunyai kisah kerjasama dan komitmen yang mengikat untuk saling
mengisi. Namun, hal ini masih harus menunggu Pemilu Legislatif dan
keputusan partai (PG dan PD).
Jika PD mengungguli PG dalam Pemilu Legislatif, akan terasa lebih wajar
kader PG dalam posisi Wapres. Tapi jika perolehan suara PG jauh di atas
PD, akan lebih memungkin PG mengajukan Capres sendiri. Dalam kondisi ini,
posisi JK akan serba sulit. Namun kompromi politik antara JK (PG) dengan
SBY (PD) akan membuka peluang duet SBY-JK akan diusung PG dan PD kembali.
Apalagi, secara ideologis kedua partai ini memiliki persamaan. Artinya,
secara ideologis koalisi kedua partainya amat ideal.
Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso pernah mengemukakan bahwa
PG telah memiliki empat opsi untuk menghadapi Pilpres 2009. Opsi pertama,
justru meneruskan duet SBY-JK. Opsi kedua, jalan sendiri jika memperoleh
suara signifikan. Opsi ketiga, berkoalisi dengan parpol Islam (PKS).
Opsi keempat, berkoalisi dengan PDIP.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN), Umar S
Bakry, di Jakarta, Ahad (15/6/2008) mengungkapkan hasil survei terbaru
LSN yang dilaksanakan pada 2 hingga 14 Mei 2008 di 33 provinsi,
menunjukkan duet SBY-JK (Opsi pertama PG yang disebut Priyo) tidak lagi
masuk dalam sepuluh pasangan capres-cawapres yang diminati publik.
Pasangan ini hanya bertengger di peringkat 11. Jauh merosot dari hasil
survei LSN Januari 2008, di mana pasangan SBY-JK masih bertengger di
peringkat lima dengan 43,8 persen publik akan memilih SBY-JK jika
pasangan ini berduet lagi dalam Pilpres 2009.
Sedangkan hasil survei Lembaga Riset Indonesia (LRI) yang dilakukan pada
pertengahan Mei 2008 memprediksi keterpilihan pasangan SBY-JK (10,75
persen) berada di bawah kombinasi SBY-Hidayat Nur Wahid (15,12 persen)
atau Megawati-Sultan HB X (14,74 persen) dan berada di kombinasi
Yudhoyono-Sultan HB X (6,14 persen).
Namun hasil survei LSN dan LRI ini pastilah bukan menjadi bagian mutlak
bahan pertimbangan bagi PG untuk menentukan pilihan. PG akan menjadikan
pemilu legislatif sebagai patokan untuk Pilpres 2009. Kalau Golkar
menang, kemungkinan memilih opsi kedua. Bisa mungkin JK (Capres)
berpasangan dengan kader Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid (Cawapres).
Priyo menyebutkan, kombinasi itu bisa di balik menjadi Hidayat-Kalla
kalau perolehan suara PKS pada Pemilu 2009 mengungguli PG. Tapi
kemungkinan terbaik bagi PG adalah menduetkan JK dengan Sri Sultan HBX.
Tapi persaingan di PG untuk merebut tiket Capres atau Cawapres masih
akan terjadi. Partai ini memiliki sejumlah kader yang memiliki kapasitas
jadi Capres atau Cawapres. Tergantung bagaimana mekanisme internal
pemilihan Capres atau Cawapres dari partai ini. Jika mekanisme konvensi
diberlakukan akan terjadi kompetisi yang amat ketat. Beberapa nama yang
berpeluang memenangkan konvensi PG adalah Akbar Tandjung, Jusuf Kalla,
Sri Sultan HBX, Surya Paloh, Prabowo Subiakto, Aburizal Bakrie, Fadel
Muhammad, dan Slamet Effendi Yusuf. Kemungkinan menang adalah Akbar
Tandjung atau Jusuf Kalla.
Jika mekanismenya yang ditempuh melalui Rapimnas, hampir dipastikan
Jusuf Kalla akan memenangkannya dengan diberi mandat memilih menjadi
Capres atau Cawapres. Walaupun kemungkinan lain masih saja terbuka. Jika
kedua mekanisme (konvensi dan Rapimnas) ini tidak disepakati secara
mutlak, kemungkinan lain akan terbuka, yakni selain PG punya calon
sendiri (Capres atau Cawapres), kader PG lainnya juga akan dicalonkan
partai lain, seperti JK pada Pilpres 2004.
Satu hal yang patut dicatat dari perjalanan PG adalah partai ini
berpengalaman sebagai partai berkuasa, tidak berpengalaman sebagai
partai oposisi. Partai ini berpengalaman mela-kukan apa saja untuk
merebut kekuasaan.
Sementara itu, peluang SBY mempertahankan jabatan presiden tanpa
berpasangan dengan JK, juga terbuka dengan berbagai kemungkinan (alternatif).
SBY kemungkinan akan berpasangan dengan kader PKS (Hidayat Nur Wahid
atau Tifatul Sembiring). Walaupun kemungkinan kader PKS akan berpasangan
dengan Wiranto lebih terbuka jika Partai Hanura mendapat suara
signifikan. Kemungkinan lain, SBY berpasangan dengan Sri Mulyani
Indrawati, Aburizal Bakrie, Akbar Tandjung, Sri Sultan HBX, Hatta Rajasa,
Sutrisno Bachir, Din Syamsuddin, Fadel Muhammad, atau Suryadharma Ali.
Pasangan SBY - Sri Mulyani Indrawati kemungkinan akan tampil sebagai
kejutan, jika Partai Demokrat memperoleh suara signifikan pada Pemilu
Legislatif. Kejutan ini kemungkinan akan menarik perhatian kalangan muda
dan perempuan yang akan membuat pasangan ini meraih kemenangan. Mesin
intelejen politik SBY akan lebih berperan daripada Partai Demokrat dalam
mengatur strategi pemenangan Pemilu termasuk menciptakan kejutan siapa
pasangan Cawapres bagi SBY dan menciptakan sesuatu kejadian yang
mengundang empati kepada SBY dan pasangannya. ► Majalah Tokoh
Indonesia Edisi 39
|