|
APRESIASI MTI 39
Bismar Siregar, Seni itu Ibadah
Tiga belas tahun sudah publik tidak lagi membaca atau mendengar sepak
terjang Bismar Siregar SH sebagai pendekar hukum. Pasalnya, sejak 1
Desember 1995, ia pensiun dari puncak karirnya sebagai hakim agung. Tapi.
di usia senja, dia berkarya sebagai pelukis.
ismar memang sudah tidak menjabat sebagai hakim agung. Tapi sebenarnya,
ia masih tetap menyuarakan pentingnya penegakan hukum dan keadilan
melalui tulisan-tulisannya, melalui kuliah-kuliah yang disampaikannya.
Bahkan, ia pun menyuarakan jeritan hatinya tentang ketidakpastian hukum
di negeri ini melalui goresan jari jema-rinya di atas kanvas. Itulah
Bismar sekarang. Ia lebih mengekspresikan diri sebagai pelukis.
Ketika Tokoh Indonesia (TI) mengunjungi sanggar lukisannya yang berada
di samping kanan rumahnya yang asri di kawasan Cilan-dak I, Jakarta
Selatan, sejumlah lukisan terpampang menutupi dinding muka bangunan itu.
Ketika berada di dalamnya, hampir semua space dinding, dipenuhi lukisan
yang ditata sedemikian rupa, lengkap dengan beragam jenis lampu yang
khusus diperuntukkan sebagai pencahayaannya. Secara keseluruhan, di
dalam bangunan yang luasnya sekitar 500 meter persegi itu, terdapat
lebih dari 150 buah lukisan.
Objek lukisan Bismar umumnya adalah alam. Tampaknya keindahan alam
dengan berbagai fenomenanya menimbulkan dorongan tersendiri dalam diri
Bismar untuk menuangkannya di atas kanvas. Kepekaannya dalam menangkap
bahasa alam, kemampuan estetisnya dalam menggoreskan cat minyak di atas
kanvas, serta konsistensinya dalam menekuni aktivitas tersebut,
menjadikan Bismar seorang pelukis naturalis yang cukup produktif dalam
mengisi waktu luangnya.
Menurut Bismar, setiap hari, sekitar dua jam, ia selalu menyempatkan
diri untuk melukis. Yaitu setelah shalat ashar atau sekitar pukul 15.30
Wib hingga maghrib. Dalam rentang waktu tersebut, satu buah lukisan bisa
dia selesaikan. Sebagai muslim yang taat, betapa pun asyiknya melukis,
Bismar selalu menghentikan aktivitasnya itu ketika (azan) maghrib tiba.
Ia bergegas mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan Ilahi.
Bagi Bismar, melukis adalah hobi. Jika dalam sehari tidak melukis, ia
merasakan seperti ada sesuatu yang hilang. Padahal, ketika di rumah,
Bismar pun melakukan aktivitas lain seperti membaca, kadang-kadang
menulis, berenang di kolam renang yang berada persis di depan sanggarnya,
atau sekadar bercengkerama dengan anggota keluarga.
Memaknai Lukisan
Bismar memberi makna tersendiri pada setiap hasil karyanya. Suatu makna,
yang bagi Bismar, tidak sekadar makna. Melainkan suatu makna yang sarat
dengan filosofi kehidupan. Tentu hanya Bismar sendiri yang tahu persis
mengenai makna filosofi di balik lukisannya itu. Namun demikian, ia
tetap menampilkan karya yang juga bisa dimaknai oleh para penikmat
lukisannya. Sebab – seperti halnya gambar – lukisan juga mengandung
sejuta bahasa dan setiap orang berhak untuk membahasakannya.
Dari sekian banyak karya Bismar yang menimbulkan pemahaman universal di
antaranya adalah lukisan mengenai kebakaran hutan. Itulah ekspresi
keprihatinan Bismar saat merespon kebakaran hutan yang berkali-kali
melanda hutan Indonesia. Ekspresi yang juga menjadi keprihatinan bersama
bagi siapa pun yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Bismar,
berencana menyerahkan lukisan tersebut kepada menteri kehutanan.
Romatisme, juga menjiwai karya pelukis yang kini berusia 80 tahun itu.
Hal ini tercermin dari pemaparannya ketika Bismar menjelaskan sebuah
lukisan: Dua pohon tua dengan latar belakang langit yang senja. Kepada
TI, Bismar menceriterakan ketika ia menjelaskan perihal lukisan itu
kepada istrinya yang kini berumur 73 tahun. “Istriku, tahukah usia kita
sudah senja? Apakah ini bukan merupakan suatu karunia sehingga kita
masih tetap bisa bersama? Bersama dan saling membutuhkan dan berkasih
sayang.” Bismar memanjatkan rasa syukurnya karena mereka (ia dan
istrinya) telah dianugerahu umur panjang serta dapat merasakan keindahan.
Nuansa religiusitas Islam adalah ciri lain yang menonjol dalam
lukisan-lukisan Bismar. Sebut saja lukisan Ka’bah dan lukisan Masjid
yang pernah ia hadiahkan kepada seseorang. Melalui media lukisan
bercorak Islam ini, Bismar sebenarnya sedang berdakwah. Ketika Bismar
memberikan lukisan Masjid kepada Pak Harto (sebelum wafat), misalnya,
dia sempat mengatakan: “Pak Harto, masjid inilah yang mengingatkan kita
pada Allah Swt.”
Selain itu, salah satu karya lukisnya yang memiliki makna khusus adalah
lukisan wajah Osama bin Laden. Goresan wajah Osama adalah satu-satunya
lukisan manusia yang pernah dibuatnya. Padahal, selama ini Bismar
merindukan untuk bisa melukis wajah kedua orangtuanya. Orang yang
tentunya paling istimewa dalam diri Bismar.
“Saya merasa kesulitan melukis wajah orangtua karena sangat terharu jika
mengingat mereka. Dulu, mereka miskin tetapi masih bisa memenuhi
kebutuhan keluarga dan diri saya. Karena sering teringat pada mereka,
sehingga hilanglah konsentrasi tatkala akan melukisnya,” kata Bismar.
“Mudah-mudahan sebelum ajal menjemput, saya sudah melukis wajah orangtua
saya. Sebelum itu saya tidak ingin menghabiskan waktu dengan
mencoba-coba,” lanjutnya.
Jika Bismar begitu banyak mengoleksi lukisannya, dari mana ia belajar
melukis? Sejak kapan dirinya mulai menekuni bidang seni ini? Peraih
gelar sarjana hukum dari UI itu menjelaskan, ia mulai menyenangi seni
lukis sejak masih muda. Namun, awal produktivitasnya dalam menekuni seni
lukis bermula ketika mengisi waktu luang di sela-sela mengikuti
pendidikan hukum di negeri Belanda. Dari situlah, ia mulai belajar
melukis secara otodidak. Bismar, sudah menjabat sebagai hakim agung di
Mahkamah Agung kala itu.
“Saya berpikir, apa sisa waktu yang kosong itu dibiarkan berlalu? Saya
merenung. Saat itulah saya banyak meluangkan waktu dengan melukis. Saat
itu lukisan saya masih sangat sederhana dan kaku,” kenang Bismar. Masih
kata dia, kebiasaan itu kemudian berlanjut ketika ia pulang ke Indonesia
hingga sekarang.
Setelah kembali ke Indonesia, melukis bukan lagi sebagai aktivitas
mengisi waktu luang semata. Melainkan suatu hobi yang memberikan
kepuasan batin tersendiri. Sedangkan untuk memberikan spirit tertentu
ketika melukis, biasanya Bismar mendengarkan lagu-lagu Batak dari cd
yang diputarnya. Ia mengaku, lagu-lagu Batak memberikan nuansa tertentu
saat melukis. “Bukan saya bersifat sempit, tetapi di lagu-lagu Batak
saya menemukan nilai-nilai batiniah. Saya ditakdirkan sebagai orang
Batak bukan kebetulan, melainkan ketentuan,” terangnya.
Lillahi ta’ala
Jika mencermati lukisan-lukisannya, lukisan karya Bismar Siregar
cenderung bercorak naturalisme, ekspresionisme. Namun Bismar sendiri
mengaku, dirinya tidak tahu persis aliran seni lukisnya. Malahan ia
lebih senang menamai sendiri aliran lukisnya itu: aliran lillahi ta’ala.
Dalam pemahaman Islam, lillahi ta’ala memiliki makna ketulusan,
mengharap ridla Allah Swt semata. Nah, makna ketulusan, mengharap
keridlan Allah, adalah jiwa dari ibadah. Karenanya, Bismar melukis,
bukan karena seni untuk seni.
Melainkan, seni untuk ibadah. Kiranya, karena itulah ia senang memberi
kenang-kenangan kepada orang yang berkunjung ke galerinya dengan lukisan
hasil karyanya. Termasuk kenang-kenangan, sebuah lukisan yang khusus
diberikan untuk repoter Tokoh Indonesia. Ketika itu Bismar berkata,
“Bila engkau bertandang ke pondok lukisan saya, takkan kubiarkan engkau
kembali dengan tangan hampa. Akan kuberikan kenang-kenangan yang bisa
engkau pandang dalam sewaktu-waktu.”
Dalam berbagai kesempatan, tampaknya Bismar memang gemar menghadiahi
kenalan, rekan, teman, sahabat, atau siapa saja dengan
lukisan-lukisannya. Menurutnya, kita harus selalu berupaya menyenangkan
dan membahagiakan orang lain agar Allah membahagiakan kita.
Mengenai jumlah lukisan yang telah ia berikan kepada orang lain, Bismar
sendiri merasa kesulitan untuk menghitungnya. “Sudah tak terhitung,”
katanya. Apalagi, ketika melakukan pameran, misalnya, Bismar pun tidak
segan-segan menghadiahkan lukisan-lukisannya.
Saat pameran di salah satu rumah sakit di Surabaya, umpamanya, Bismar
sempat menegaskan kepada pihak penyelenggara (pihak rumah sakit) agar
tidak khawatir seandainya lukisan karyanya tidak laku terjual. Malah
Bismar berniat untuk menghadiahkan lukisan-lukisannya itu kepada rumah
sakit.
“Jika tidak laku terjual, tolong lukisan-lukisannya dipasang di setiap
kamar pasien sehingga mereka yang melihat lukisan ini dapat menikmatinya,”
cerita Bismar kepada pihak rumah sakit kala itu.
Dalam menggelar pameran, Bismar sering mendapat beragam apreasisi
terhadap seni lukisnya. Termasuk yang mengapreasiasi dengan membeli
langsung lukisannya. Bahkan, ketika pameran di Bapindo Building,
Jakarta, lukisan yang dipajang Bismar tergolong laris terjual.
“Alhamdulillah laris, banyak,” kata Bismar bersyukur.
Meskipun bismar menyadari, bahwa aktivitasnya melukis akan segera
berakhir seiring dengan usianya yang sudah senja, namun tampaknya, ia
merasa tidak perlu ngoyo dalam melukis. Pasalnya, ia ingin mewariskan
semua lukisannya itu pada anak-anaknya.
Bagi kebanyakan orang, nilai lukisan tidaklah seberapa dibandingkan
dengan harta peninggalan (warisan) lainnya. Tapi bagi Bismar,
lukisan-lukisan hasil karyanya memiliki nilai tersendiri. Apalagi,
sebagai suatu karya seni, yang terekspresikan dari kelembutan perasaan,
kepekaan batin, serta dijiwai oleh pemahaman terhadap makna dan hakikat
kehidupan, membuat lukisan-lukisannya tidak bisa dinilai dengan uang.
Apalagi, secara sadar, sesadar-sadarnya, Bismar sengaja mengusung karya
lukisnya berlandaskan kepada aliran lillahi ta’ala.
Sebagai orangtua, Bismar sangat mengarapkan anak-anaknya kelak, setelah
dirinya dipanggil Yang Maha Kuasa, bisa menyikapi keberadaan warisan
seni lukisnya itu secara bijaksana. spn ► Majalah Tokoh
Indonesia Edisi 39 |
|
|
|