MAJALAH TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

 

Dapatkan di TOKO BUKU Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia dan AGEN-AGEN atau
E-MAIL: SIRKULASI atau
Telp: 021-83701736 Fax: 021-9101871


 
Apresiasi  
 
   

MAJALAH TOKOH INDONESIA 39

 

APRESIASI MTI 39

Bismar Siregar, Seni itu Ibadah


Tiga belas tahun sudah publik tidak lagi membaca atau mendengar sepak terjang Bismar Siregar SH sebagai pendekar hukum. Pasalnya, sejak 1 Desember 1995, ia pensiun dari puncak karirnya sebagai hakim agung. Tapi. di usia senja, dia berkarya sebagai pelukis.


ismar memang sudah tidak menjabat sebagai hakim agung. Tapi sebenarnya, ia masih tetap menyuarakan pentingnya penegakan hukum dan keadilan melalui tulisan-tulisannya, melalui kuliah-kuliah yang disampaikannya. Bahkan, ia pun menyuarakan jeritan hatinya tentang ketidakpastian hukum di negeri ini melalui goresan jari jema-rinya di atas kanvas. Itulah Bismar sekarang. Ia lebih mengekspresikan diri sebagai pelukis.


Ketika Tokoh Indonesia (TI) mengunjungi sanggar lukisannya yang berada di samping kanan rumahnya yang asri di kawasan Cilan-dak I, Jakarta Selatan, sejumlah lukisan terpampang menutupi dinding muka bangunan itu. Ketika berada di dalamnya, hampir semua space dinding, dipenuhi lukisan yang ditata sedemikian rupa, lengkap dengan beragam jenis lampu yang khusus diperuntukkan sebagai pencahayaannya. Secara keseluruhan, di dalam bangunan yang luasnya sekitar 500 meter persegi itu, terdapat lebih dari 150 buah lukisan.


Objek lukisan Bismar umumnya adalah alam. Tampaknya keindahan alam dengan berbagai fenomenanya menimbulkan dorongan tersendiri dalam diri Bismar untuk menuangkannya di atas kanvas. Kepekaannya dalam menangkap bahasa alam, kemampuan estetisnya dalam menggoreskan cat minyak di atas kanvas, serta konsistensinya dalam menekuni aktivitas tersebut, menjadikan Bismar seorang pelukis naturalis yang cukup produktif dalam mengisi waktu luangnya.


Menurut Bismar, setiap hari, sekitar dua jam, ia selalu menyempatkan diri untuk melukis. Yaitu setelah shalat ashar atau sekitar pukul 15.30 Wib hingga maghrib. Dalam rentang waktu tersebut, satu buah lukisan bisa dia selesaikan. Sebagai muslim yang taat, betapa pun asyiknya melukis, Bismar selalu menghentikan aktivitasnya itu ketika (azan) maghrib tiba. Ia bergegas mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan Ilahi.


Bagi Bismar, melukis adalah hobi. Jika dalam sehari tidak melukis, ia merasakan seperti ada sesuatu yang hilang. Padahal, ketika di rumah, Bismar pun melakukan aktivitas lain seperti membaca, kadang-kadang menulis, berenang di kolam renang yang berada persis di depan sanggarnya, atau sekadar bercengkerama dengan anggota keluarga.

Memaknai Lukisan
Bismar memberi makna tersendiri pada setiap hasil karyanya. Suatu makna, yang bagi Bismar, tidak sekadar makna. Melainkan suatu makna yang sarat dengan filosofi kehidupan. Tentu hanya Bismar sendiri yang tahu persis mengenai makna filosofi di balik lukisannya itu. Namun demikian, ia tetap menampilkan karya yang juga bisa dimaknai oleh para penikmat lukisannya. Sebab – seperti halnya gambar – lukisan juga mengandung sejuta bahasa dan setiap orang berhak untuk membahasakannya.


Dari sekian banyak karya Bismar yang menimbulkan pemahaman universal di antaranya adalah lukisan mengenai kebakaran hutan. Itulah ekspresi keprihatinan Bismar saat merespon kebakaran hutan yang berkali-kali melanda hutan Indonesia. Ekspresi yang juga menjadi keprihatinan bersama bagi siapa pun yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Bismar, berencana menyerahkan lukisan tersebut kepada menteri kehutanan.


Romatisme, juga menjiwai karya pelukis yang kini berusia 80 tahun itu. Hal ini tercermin dari pemaparannya ketika Bismar menjelaskan sebuah lukisan: Dua pohon tua dengan latar belakang langit yang senja. Kepada TI, Bismar menceriterakan ketika ia menjelaskan perihal lukisan itu kepada istrinya yang kini berumur 73 tahun. “Istriku, tahukah usia kita sudah senja? Apakah ini bukan merupakan suatu karunia sehingga kita masih tetap bisa bersama? Bersama dan saling membutuhkan dan berkasih sayang.” Bismar memanjatkan rasa syukurnya karena mereka (ia dan istrinya) telah dianugerahu umur panjang serta dapat merasakan keindahan.


Nuansa religiusitas Islam adalah ciri lain yang menonjol dalam lukisan-lukisan Bismar. Sebut saja lukisan Ka’bah dan lukisan Masjid yang pernah ia hadiahkan kepada seseorang. Melalui media lukisan bercorak Islam ini, Bismar sebenarnya sedang berdakwah. Ketika Bismar memberikan lukisan Masjid kepada Pak Harto (sebelum wafat), misalnya, dia sempat mengatakan: “Pak Harto, masjid inilah yang mengingatkan kita pada Allah Swt.”
Selain itu, salah satu karya lukisnya yang memiliki makna khusus adalah lukisan wajah Osama bin Laden. Goresan wajah Osama adalah satu-satunya lukisan manusia yang pernah dibuatnya. Padahal, selama ini Bismar merindukan untuk bisa melukis wajah kedua orangtuanya. Orang yang tentunya paling istimewa dalam diri Bismar.


“Saya merasa kesulitan melukis wajah orangtua karena sangat terharu jika mengingat mereka. Dulu, mereka miskin tetapi masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan diri saya. Karena sering teringat pada mereka, sehingga hilanglah konsentrasi tatkala akan melukisnya,” kata Bismar. “Mudah-mudahan sebelum ajal menjemput, saya sudah melukis wajah orangtua saya. Sebelum itu saya tidak ingin menghabiskan waktu dengan mencoba-coba,” lanjutnya.


Jika Bismar begitu banyak mengoleksi lukisannya, dari mana ia belajar melukis? Sejak kapan dirinya mulai menekuni bidang seni ini? Peraih gelar sarjana hukum dari UI itu menjelaskan, ia mulai menyenangi seni lukis sejak masih muda. Namun, awal produktivitasnya dalam menekuni seni lukis bermula ketika mengisi waktu luang di sela-sela mengikuti pendidikan hukum di negeri Belanda. Dari situlah, ia mulai belajar melukis secara otodidak. Bismar, sudah menjabat sebagai hakim agung di Mahkamah Agung kala itu.


“Saya berpikir, apa sisa waktu yang kosong itu dibiarkan berlalu? Saya merenung. Saat itulah saya banyak meluangkan waktu dengan melukis. Saat itu lukisan saya masih sangat sederhana dan kaku,” kenang Bismar. Masih kata dia, kebiasaan itu kemudian berlanjut ketika ia pulang ke Indonesia hingga sekarang.


Setelah kembali ke Indonesia, melukis bukan lagi sebagai aktivitas mengisi waktu luang semata. Melainkan suatu hobi yang memberikan kepuasan batin tersendiri. Sedangkan untuk memberikan spirit tertentu ketika melukis, biasanya Bismar mendengarkan lagu-lagu Batak dari cd yang diputarnya. Ia mengaku, lagu-lagu Batak memberikan nuansa tertentu saat melukis. “Bukan saya bersifat sempit, tetapi di lagu-lagu Batak saya menemukan nilai-nilai batiniah. Saya ditakdirkan sebagai orang Batak bukan kebetulan, melainkan ketentuan,” terangnya.

Lillahi ta’ala
Jika mencermati lukisan-lukisannya, lukisan karya Bismar Siregar cenderung bercorak naturalisme, ekspresionisme. Namun Bismar sendiri mengaku, dirinya tidak tahu persis aliran seni lukisnya. Malahan ia lebih senang menamai sendiri aliran lukisnya itu: aliran lillahi ta’ala.


Dalam pemahaman Islam, lillahi ta’ala memiliki makna ketulusan, mengharap ridla Allah Swt semata. Nah, makna ketulusan, mengharap keridlan Allah, adalah jiwa dari ibadah. Karenanya, Bismar melukis, bukan karena seni untuk seni.

 

Melainkan, seni untuk ibadah. Kiranya, karena itulah ia senang memberi kenang-kenangan kepada orang yang berkunjung ke galerinya dengan lukisan hasil karyanya. Termasuk kenang-kenangan, sebuah lukisan yang khusus diberikan untuk repoter Tokoh Indonesia. Ketika itu Bismar berkata, “Bila engkau bertandang ke pondok lukisan saya, takkan kubiarkan engkau kembali dengan tangan hampa. Akan kuberikan kenang-kenangan yang bisa engkau pandang dalam sewaktu-waktu.”
Dalam berbagai kesempatan, tampaknya Bismar memang gemar menghadiahi kenalan, rekan, teman, sahabat, atau siapa saja dengan lukisan-lukisannya. Menurutnya, kita harus selalu berupaya menyenangkan dan membahagiakan orang lain agar Allah membahagiakan kita.


Mengenai jumlah lukisan yang telah ia berikan kepada orang lain, Bismar sendiri merasa kesulitan untuk menghitungnya. “Sudah tak terhitung,” katanya. Apalagi, ketika melakukan pameran, misalnya, Bismar pun tidak segan-segan menghadiahkan lukisan-lukisannya.


Saat pameran di salah satu rumah sakit di Surabaya, umpamanya, Bismar sempat menegaskan kepada pihak penyelenggara (pihak rumah sakit) agar tidak khawatir seandainya lukisan karyanya tidak laku terjual. Malah Bismar berniat untuk menghadiahkan lukisan-lukisannya itu kepada rumah sakit.


“Jika tidak laku terjual, tolong lukisan-lukisannya dipasang di setiap kamar pasien sehingga mereka yang melihat lukisan ini dapat menikmatinya,” cerita Bismar kepada pihak rumah sakit kala itu.


Dalam menggelar pameran, Bismar sering mendapat beragam apreasisi terhadap seni lukisnya. Termasuk yang mengapreasiasi dengan membeli langsung lukisannya. Bahkan, ketika pameran di Bapindo Building, Jakarta, lukisan yang dipajang Bismar tergolong laris terjual. “Alhamdulillah laris, banyak,” kata Bismar bersyukur.


Meskipun bismar menyadari, bahwa aktivitasnya melukis akan segera berakhir seiring dengan usianya yang sudah senja, namun tampaknya, ia merasa tidak perlu ngoyo dalam melukis. Pasalnya, ia ingin mewariskan semua lukisannya itu pada anak-anaknya.


Bagi kebanyakan orang, nilai lukisan tidaklah seberapa dibandingkan dengan harta peninggalan (warisan) lainnya. Tapi bagi Bismar, lukisan-lukisan hasil karyanya memiliki nilai tersendiri. Apalagi, sebagai suatu karya seni, yang terekspresikan dari kelembutan perasaan, kepekaan batin, serta dijiwai oleh pemahaman terhadap makna dan hakikat kehidupan, membuat lukisan-lukisannya tidak bisa dinilai dengan uang.

 

Apalagi, secara sadar, sesadar-sadarnya, Bismar sengaja mengusung karya lukisnya berlandaskan kepada aliran lillahi ta’ala.


Sebagai orangtua, Bismar sangat mengarapkan anak-anaknya kelak, setelah dirinya dipanggil Yang Maha Kuasa, bisa menyikapi keberadaan warisan seni lukisnya itu secara bijaksana. spn ► Majalah Tokoh Indonesia Edisi 39

     

Majalah TokohIndonesia 39

Siapa Capres 2009

BERITA UTAMA: Siapa Capres 2009? Indonesia Butuh Strong Leadership = Peluang Duet Unik SBY-JK = Duel SBY-JK dan Pembelotan Menteri = Megawati Lebih Siap = Sri Sultan HB X, Capres atau Cawapres = PKS: Hidayat atau Tifatul = Peluang Terakhir Wiranto = Sutiyoso, Tiket Penumpang = WAWANCARA: Kita (SBY-JK) Saling Mengisi (Wawancara Eksklusif Wapres Drs. M Jusuf Kalla) = PRESTASI: Dada Rosada: Teladan, Kunci Kepemimpinan  = Baharudin H.Lisa, Keberuntungan Basel = TOKOH UTAMA: Dr. Aulia Sani, Spesialis Jantung yang Bersahaja = GAYA HIDUP: Nikmati Hidup dengan Teh = Sehat Berkat Minum Teh = APRESIASI: Bismar Siregar, Seni itu Ibadah = TOKOH MANCANEGARA: OBAMA Mengukir Sejarah Amerika = Mari Alkatiri PM Pertama Timor Leste = WAWANCARA MARI ALKATIRI: Pemilu Dipercepat 2009 Fretilin Yakin Menang = POLITISI: Nidalia Djohansyah, Perempuan Lebih Peka dan Responsif