|
MAJALAH TOKOH INDONESIA 22
Berita Tokoh
Bangun Al-Zaytun di Natuna
Aisyah sangat terkesan dengan ide Syaykh Abdussalam Panji Gumilang,
untuk mendirikan sekolah Al-Zaytun di pulau Natuna. Menurut Aisyah,
kalau itu terjadi pasti sangat membantu keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Ketika Hj Aisyah Aminy, SH, (74 tahun) bersama keluarga, berkunjung
ke Ma’had Al-Zaytun (MAZ), Indramayu, Ahad 24 April 2005, bukan hanya
MAZ yang menjadi pokok pembicaraan. Tapi mencakup persoalan dan
perkembangan politik, keamanan dan pendidikan di Indonesia. Bahkan
tentang keprihatinannya mengenai Blok Ambalat.
Setelah meninjau komplek MAZ siang harinya, selepas Maghrib, Ibu Aisyah
berkesempatan silaturrahmi dengan Syaykh al-Ma’had Abdussalam Panji
Gumilang. Dalam perbincangannya dengan ‘seniman politik tingkat tinggi’
ini (julukan Syaykh al-Ma’had untuk Aisyah Amini), Syaykh menjelaskan,
bahwa MAZ sedang membangun sentral pendidikan di pulau Rupat, Bengkalis,
Riau dengan luas lahan sekira lima ribu hektar. Sebenarnya Syaykh lebih
melirik kepada pulau Natuna yang masih kosong. Hal itu sudah pernah
dibincangkan dengan Bupati Bengkalis Syamsul Rizal.
“Kalau kita ambil titik di sana (Natuna), lebih dekat ke Vietnam. Dengan
motorboat saja sampai. Pertahanan di sana sangat minim. Kalau di sana
kita dirikan sentral pendidikan, maka dapat berfungsi sebagai penjaga
negara. Aset negara akan aman. Kalau kita baca di peta, di sana seperti
tidak ada apa-apa. Tapi bila kita injakkan kaki ke sana, akan kita
ketahui bahwa pulau itu sangat kaya. Berbeda dengan Rupat, Natuna adalah
pulau yang kokoh, karena punya akar. Bukan yang muncul tanpa akar. Jadi
tak mudah diserang ombak akibat diguncang gempa,” kata Syaykh Panji
Gumilang.
Aisyah pun sangat terkesan dengan ide Syaykh Abdussalam Panji Gumilang,
untuk mendirikan sekolah di pulau Natuna. Dia mengaku belum pernah
dengar, ada orang yang punya ide membangun suatu pesantren di wilayah
Natuna. Kalau itu terjadi, katanya, pasti sangat membantu menjaga
keutuhan wilayah negara kita.
“Karena sebetulnya, pengawasan terhadap wilayah negara kita yang cukup
luas ini, sangat kurang. Selama ini, kita sangat mengandalkan tentara.
Akan jauh lebih efektif, bila ada pesantren di wilayah itu. Saya
berharap, mudah-mudahan hal ini akan menjadi kenyataan. Saya akan
mengembangkan ide ini. Mudah-mudahan, hal itu dapat terlaksana,” kata
politisi perempuan yang telah aktif di parlemen sejak akhir tahun
1960-an ini.
“Saya kira, andai kata Ismeth Abdullah (Drs Ismeth Abdullah, E.D.I.
Fellow, Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) jadi
gubernur, pasti akan senang sekali dengan ide ini. Saya akan cerita
padanya,” lanjut Ibu Aisyah. “Natuna itu pulau, sekaligus menjadi
penjaga batas wilayah. Angkatan laut kita tidak punya kapal untuk
menjaga. Kasus Ambalat muncul juga karena pengalaman Sipadan dan Ligitan.”
Menurutnya, hakekat kedaulatan itu harus dihayati. Dan tugas menjaga
kedaulatan wilayah adalah di tangan TNI. Aisyah sangat prihatin ketika
masalah Blok Ambalat mengemuka. Aisyah menyayangkan bahwa sebagai
penjaga perbatasan, TNI diberi fasilitas yang baik dan memadai.
Contohnya Angkatan Laut RI. Jumlah kapalnya sangat minim. Bahkan
kapal-kapal asing jauh lebih modern dan lebih cepat dari KRI yang
berpatroli di wilayah lautan kita.
Di sisi lain, negara kita adalah negara yang kaya dengan sumber alamnya,
termasuk laut. Khususnya kekayaan laut, kita belum mengeksplorasinya
secara maksimal. Yang lebih banyak mengambil malah negara-negara lain
seperti Thailand, Jepang, India, dan sebagainya.
Dalam rapat-rapat kerja, Aisyah sering mengemukakan saran untuk
memaksimalkan eksplorasi kekayaan laut. Kalau hanya dijaga, tentu akan
mengeluarkan biaya operasional yang besar. Sebaliknya, jika pemerintah
memberi peluang bagi para pengusaha dalam negeri untuk menggali kekayaan
laut dan memberikan insentif, maka para penjarah itu tidak akan berani
datang lagi. Sebab, para pengusaha dalam negeri itu akan ikut berperan
serta menjaga wilayah laut yang menjadi konsesi mereka.
Bahkan Aisyah mengungkapkan ide untuk mendorong para pensiunan AL untuk
menjadi pengusaha kekayaan laut, karena mereka yang sehari-hari berada
di laut tentu sangat mengenal medan.
Pak Natsir dan Kyai Zarkasyih
Aisyah juga menanyakan kenapa Ma’had ini dinamakan Al-Zaytun. “Allah
saja senang pada zaytun. Kita sebagai makhluknya, ya ikut senang. Karena
ketika ingin menciptakan manusia, kok Tuhan menyebut zaytun,” jelas
Syaykh.
“Wattini wazzaytun,” sela Ibu Aisyah.
“Mau ambil nama At-Tin, sudah diambil Pak Harto. Ditaruh di Taman Mini.
Maka Al-Zaytun saja,” kata Syaykh, melanjutkan.
Syaykh juga bercerita bahwa ide pendirian Ma’had ini, juga sudah
didiskusikan dengan Pak Natsir pada awal 1980-an. Kemudian awal 1990-an,
lanjut Syaykh, beliau dengan kawan-kawan berunding tentang pendidikan
ini. Menjelang 9 tahun kemudian, barulah berdiri. Pada tahun 1982, Pak
Natsir menyampaikan kepada Syaykh: “Kalau kamu sudah melangkah,
sandaranmu harus dirimu. Sebab perjuangan tidak bisa bersandar pada yang
lain.”
Syaykh juga bercerita tentang pengalamannya sebagai santri KH Imam
Zarkasyih, di Gontor, tahun 1960-an. “Pak Zarkasyih masih keras saat itu.
Menurut beliau, mendidik putri lebih sulit. Mendidik satu putri lebih
sulit dari mendidik seribu putra. Waktu itu Syaykh bertanya kepada KH
Zarkasyih, “Kalau begitu Pak Kyai, siapa yang mendidik putri? Kemudian
beliau menjawab: “Zamanmu lain!” Itulah sebabnya di sini (MAZ), ada
putri dan ada putra dengan sistem semi co-education,” jelas Syaykh.
Gedung pembelajaran di MAZ berbentuk huruf U, kemudian dibagi dua.
Sebelah barat untuk santri putra dan sebelah timur untuk putri.
Maksudnya, agar mereka dapat saling mengucapkan assalamu’alaikum. Sebab
itu obat. Kalau tidak, dia bisa berbuat macam-macam. Kalau sudah
assalamu’alaikum kemudian walaikumsalam sudah plong. “Ternyata, hal itu
kita praktekkan selama 6 tahun, alhamdulillah, hasilnya baik,” tambah
Syaykh.
Al-Zaytun University
Syaykh juga menjelaskan tentang akan segera dibukanya Universitas Al-Zaytun
bulan Agustus 2005 yang akan berfungsi sebagai Al-Zaytun International
Research University. Tahap pertama, untuk tahun ini akan dibuka enam
fakultas, yaitu: fakultas pertanian, fakultas teknik, fakultas
kedokteran, fakultas IT, fakultas bahasa dan fakultas pendidikan.
Lalu Aisyah menanyakan apakah akan ada fakultas ekonomi. Menurut Aisyah,
masalah ekonomi adalah masalah yang cukup besar. Ide Mohammad Hatta
tentang ekonomi adalah ekonomi kerakyatan, yakni meningkatkan harkat
rakyat yang masih di bawah garis kemiskinan.
Menurut Syaykh, setelah berjalan dua atau tiga semester, mereka akan
membuka fakultas ekonomi dan fakultas hukum. Malah untuk mengawali
perguruan tinggi ini, MAZ sudah punya diploma pertanian, diploma teknik,
dan diploma bahasa. MAZ mulai dari D2 dilanjutkan ke D4. Menurut Syaykh,
universitas itu nantinya akan menjadi universitas riset yang mampu
tampil sebagai universitas mandiri.
Dijelaskan pula, bahwa MAZ menargetkan setelah 10 semester universitas
akan mempunyai fakultas-fakultas sosial dan eksak secara lengkap.
Seluruh fakultas tersebut akan didukung oleh laboratorium yang lengkap.
Kerjasama-kerjasama dengan berbagai universitas baik dalam maupun luar
negeri juga akan dilakukan. Antara lain Filipina, Singapura dan
Malaysia. Kedokteran di Malaysia saat ini sangat layak dilihat.
Ditimpali Ibu Aisyah, bahwa di tahun 1970-an, banyak orang Indonesia
yang pergi ke Malaysia untuk jadi guru dan dosen. Waktu itu, kakaknya
juga menjadi dosen di sana. Namun sekarang, yang pergi ke sana adalah
para TKI yang tergusur-gusur.
Menurut Syaykh, itu akibat dari kelengahan bangsa Indonesia. Beliau
sendiri pernah lama tinggal di Malaysia. Kalau tahun 1980-an kita
memberi kepada Malaysia, mudah-mudahan masa selanjutnya, kedua negara
bisa sama-sama saling mengadopsi.
Selain kemiskinan dan kesejahteraan rakyat, Aisyah memang mencermati
sistem pendidikan yang tidak mendorong para lulusan sekolah untuk bisa
mandiri. Saat ini, jumlah pengangguran terus meroket setiap tahun.
Menurut perempuan yang pernah menjadi guru dan dosen ini, hal ini
disebabkan karena sistem pendidikan di Indonesia tidak berbasis link
and match. Jadi para lulusan tidak bisa mengaplikasikan apa yang
sudah didapat di sekolah di tengah masyarakat. Selain itu, kesejahteraan
guru yang kurang, menyebabkan guru tidak fokus mendidik murid-muridnya.
Kepedulian Aisyah pada dunia pendidikan juga diwujudkan pada
pelajar-pelajar perempuan Aceh yang tertimpa musibah tsunami. Aisyah dan
organisasi Wanita Islam akan membangun asrama untuk mahasiswi-mahasiswi
Aceh yang sudah hampir lulus. Para mahasiswi itu dikhawatirkan keluar
dari Bumi Rencong karena merasa tidak ada harapan lagi di daerahnya yang
porak poranda. Padahal menurut Aisyah, mereka adalah calon-calon
pemimpin perempuan di Aceh. Ia berharap, mereka tetap tinggal di Aceh
dan membangun daerahnya kembali.
Menurut Aisyah, saat ini banyak mahasiswa di Indonesia yang protes
karena biaya pendidikan yang mahal. Namun demikian, menurutnya,
bagaimana pun juga kita tak bisa lari dari pendidikan.
Perguruan tinggi negeri (PTN) yang biasa disubsidi, menurut Syaykh,
memang banyak menghadapi kendala, termasuk dari mahasiswanya. Tetapi
perguruan tinggi swasta (PTS) sejak awal sudah mandiri, sehingga lebih
mudah. Ketika PTN kemudian dituntut untuk mandiri dalam hal pendanaan,
mau tidak mau hal itu harus dibebankan pada konsumen, yaitu mahasiswa.
Itulah sebabnya, mahasiswa merasa tidak diperhatikan oleh negara. Kalau
PTS, memang sudah diiklankan (diumumkan) sejak awal, bahwa ini swasta.
Tidak bisa berjalan tanpa dana dari mahasiswa. Kalau di PTS, mereka
sudah siap mental. Sekolah negeri, risiko pemerintah, sedang sekolah
swasta, risiko orang tua.
Keduanya lantas membicarakan masalah subsidi silang. Menurut Ibu Aisyah,
ada rencana subsidi silang untuk sekolah negeri. Sekolah mahal
mensubsidi sekolah yang lebih murah. Menurut Syaykh, jika akan dibuat
subsidi silang, sebaiknya, beri kebebasan kepada sekolah swasta untuk
membuat sekolah sebaik-baiknya. Baik dari segi kualitas maupun kuantitas,
dibiayai setinggi-tingginya oleh orang yang punya uang. Kemudian, kepada
penyelenggara sekolah tersebut diwajibkan beberapa persen dari yang
diperoleh untuk membangun sekolah di desa yang berkualitas tinggi. Jadi
ada sinergi dengan pemerintah.
Syaykh berpendapat, sekolah negeri wajib dibiayai negara. Kalau
pemerintah tidak mau membiayai, swastakan saja semuanya dan predikat
negerinya dicabut. Risikonya, pasti kalah oleh sekolah swasta yang sudah
terbiasa mandiri. Beliau mengambil contoh Insitut Teknologi Bandung (ITB)
yang sekarang menjadi universitas swasta.
“Jalan begini dikritik, jalan begitu dikritik,” komentar Syaykh.
“Kadang-kadang, pimpinannya sendiri sudah terbiasa dengan
kepegawainegeriannya. Kreatifitasnya kurang hingga tidak bisa mencari,
di mana tempat gerak untuk mendanai pendidikannya.”
Kemudian Syaykh menyimpulkan, “Solusinya, sekolah negeri ditingkatkan
kualitasnya. Diberikan biaya setinggi-tingginya, supaya berkualitas.
Sementara swasta, disuruh menyaingi, dengan syarat, nanti kalau sudah
kuat dananya, sebagian masuk negara melalui undang-undang, untuk
membangun pedesaan. Sebenarnya subsidi silang itu tugas swasta.”
Al-Zaytun Perlu Dicontoh
Ibu Aisyah kemudian bertanya mengapa dalam Kongres Umat Islam beberapa
waktu yang lalu, Al-Zaytun tidak mengirim perwakilannya. “Kami tidak
diundang,” jawab Syaykh singkat. “Ya, mungkin, dianggap bukan pesantren,”
lanjut Syaykh.
“Nanti saya sampaikan. Contoh-contoh seperti ini (MAZ, red.) perlu
diketahui banyak pihak,” kata Ibu Aisyah.
“Bagi yang memerlukan,” sahut Syaykh. Tapi dijawab Aisyah, bahwa
semuanya pada dasarnya perlu. Menurut Syaykh, banyak yang mengira tidak
perlu. “Buktinya pada Kongres Umat Islam kemarin, banyak suara nyeleneh,
dimuat di surat kabar lagi,” tambah Syaykh pula. Aisyah meyakini hal itu
tidak terjadi di Komisi. Syaykh mengamini bahwa hal itu mungkin memang
terjadi di forum informal. Di luar sana mereka saling membuat statement.
Dialog kedua tokoh itu ditutup dengan penjelasan Syaykh atas pertanyaan
Ibu Aisyah tentang waktu pendaftaran dan daerah asal santri yang berada
di MAZ. “Di sini penerimaan murid barunya, ditutup setiap akhir Mei.
Dari Malaysia tahun 2005 ini, murid baru sudah masuk 56 santri, Afrika
Selatan 3 santri dan yang lainnya di atas 500 santri. Santri asal Aceh
yang berada disini juga banyak, ada 7 yang sebatang kara akibat musibah
tsunami dari 117 santri. Santri MAZ didominasi dari luar Jawa. Kata
kawan-kawan, luar Jawa lebih banyak peminat dan semangat-semangat.”
Selesai acara silaturrahmi, saat diwawancarai wartawan Al-Zaytun, Ibu
Aisyah berkata, “Saya melihat semangat beliau cukup tinggi untuk
memajukan umat ini. Sangat besar artinya untuk kemajuan bangsa kita yang
sudah cukup lama terpuruk dalam berbagai bidang, terutama bidang
pendidikan. Mungkin hal-hal seperti ini, perlu dicontoh oleh banyak
pihak. Sehingga, model pendidikan seperti ini akan meluas. Harapan saya,
semangat beliau tidak hanya untuk di sini. Tapi untuk seluruh Indonesia.
Seperti apa yang juga beliau sebutkan, soal membangun pendidikan di Riau,
baik Rupat maupun Natuna.”
Tinjau Komplek MAZ
Begitulah Aisyah dengan gayanya yang khas, langsung memberondong
pengurus MAZ yang menyambutnya, dengan berbagai pertanyaan. Pengurus MAZ
menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan yang dilontarkannya.
“Saya mengetahui MAZ ini dari Pak Hendropriyono,” kata ibu kelahiran
Sumatera Barat pada 1 Desember 1931 itu, membuka pembicaraan. Memang,
mantan Kepala Badan Intelijen (BIN) Hendropriyono sudah beberapa kali
datang ke MAZ. Namun bukan politikus namanya kalau di antara
pertanyaannya tidak ada yang bernuansa politik. “Mengapa di luar, banyak
berita miring tentang MAZ?” tanyanya.
“Sebaiknya, Ibu bertanya pada mereka yang memberitakan tersebut. Bukan
kepada kami,” sahut pemandu. “Atau tanyakan pada Pak Hendro. ‘Kan,
beliau bapaknya penelitian.”
Mendapat jawaban seperti itu, Ibu Aisyah tersenyum sambil mengangguk.
Kemudian rombongan diajak meninjau komplek MAZ. Selama perjalanan
meninjau Kompleks MAZ yang memakan masa lebih dari 4 jam, berbagai
pertanyaan dan komentar diutarakannya.
“Belum pernah saya melihat pesantren seperti ini dan sebersih ini. Saya
sudah banyak meninjau pesantren di Indonesia, namun belum ada yang
sebaik ini,” ungkapnya sambil menggelengkan kepala pertanda kagum. “Kata
Pak Hendro, Al-Zaytun bagus. Itulah sebabnya saya ingin memasukkan cucu
saya ke sini,” tambahnya sambil menunjuk ke arah dua orang cucunya yang
datang bersamanya.
Pada kesempatan bertemu dengan santri, Aisyah juga selalu berusaha
berdialog. Di antara isi dialognya, dia menanyakan pendapat mereka yang
tampak amat betah belajar di Al-Zaytun. Aisyah selalu menasihati santri
yang diajak dialog, agar mereka senang dan kerasan belajar di MAZ.
“Baik-baik belajar ya, Nak. Ini sekolah bagus. Ibu belum pernah
menemukan sekolah sebagus ini,” nasihatnya kepada para santri.
Ibu Rahmah Aminy (adik Ibu Aisyah) yang turut berkunjung mengaku
terkesan dengan semangat Syaykh dan segenap keluarga MAZ yang mereka
temui. Menurutnya, hal itu sangat membantu perkembangan lembaga
pendidikan ini. Seperti misalnya pemandu yang membawa mereka berkeliling
sejak pagi. Dia memberikan banyak waktunya bagi rombongan mereka. Karena
itu, keluarga Aminy sangat menghargainya. Rahmah Aminy berharap,
sikap-sikap seperti itu akan memberikan stimulan untuk peningkatan
lembaga pendidikan ini.”
Menurutnya, dengan semakin banyaknya orang yang datang berkunjung ke MAZ,
isu-isu miring mengenai MAZ bisa terhapus. Dalam hal ini, seorang intel
sekaliber Hendropriyono pun menepis kabar-kabar miring itu. Bahkan
mendukung dan akan membela. Seperti kata pepatah, ujar Ibu Rahmah, pohon
besar akan ditiup oleh angin yang besar juga. Alhamdulillah, sikap
Syaykh dan juga para pengurus pesantren ini tidak tergoyahkan dengan
isu-isu yang tidak benar itu. Mudah-mudahan Al-Zaytun ini akan berjalan
terus.
Tampak kepuasan dan harapan besar terhadap Al-Zaytun menghiasi wajah Ibu
Aisyah Aminy beserta keluarga, mengiringi kepulangannya ke Jakarta.
Semoga ibu Aisyah dengan keluasan wawasannya, akan membuktikan
janji-janjinya untuk selalu bersama-sama, memperjuangkan jayanya
pendidikan di negeri tercinta ini. ► ti/ms-maz
*** Majalah Tokoh Indonesia 22
►Index
►24 ►23
►22
►21
►20
►19
►18 ►17
►16
►15
►14
►13
►12
►11
►10
►09
►08
►07
►06
►05
►04
►03
►02
►01
►EDISI KHUSUS
►P2005 |
|
Majalah Tokoh Indonesia 22
BERITA TOKOH: ►
Bangun Al-Zaytun di Natuna (6) = TOKOH
UTAMA: ►
Hj Aisyah Aminy, Perempuan Baja Vokalis Senayan (12) ►
Politisi Perempuan Religius (16) ► Perempuan di Ranah Publik (18) ►
Nyaris Tertangkap Belanda (21) ► Demi Bangsa dan Negara (23) ► Berkibar
di Semua Gelanggang (26) = DEPTHNEWS: ►
Memuaskan, UN di Ma’had
Al-Zaytun (30) ► Hasil Ujian Nasional
2005 (32) ► Kilas Balik Ujian Akhir Nasional
(33) ►Prospek UN 2006 (34) = KAPUR SIRIH:
Perempuan Pemimpin (4) =
SURAT: Kang Jalal, dll (3)
|
|