|
Majalah Tokoh Indonesia 13
Jelang Pilpres Putaran Dua
Dua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) yang
lolos ke putaran kedua Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 20 September
2004, hari-hari ini semakin sibuk menggalang dukungan baik langsung
kepada rakyat pemilih maupun lewat elit partai. Bagi rakyat juga masih
ada waktu untuk menimbang sebelum menjatuhkan pilihannya kepada pasangan
calon yang dianggap terbaik, antara pasangan Hj. Megawati Soekarnoputri
dan KH A. Hasyim Muzadi, dengan pasangan Jenderal TNI (Purn) H. Susilo
Bambang Yudhoyono dan H. Muhammad Jusuf Kalla.
Dialog ekonomi telah diprakarsai dan difasilitasi Kadin Indonesia. Kedua
pasangan Capres-Cawapres berkesempatan menyampaikan visi dan program
ekonominya masing-masing. Para pengusaha dan rakyat pun mempunyai
kesempatan untuk menilai siapa yang terbaik.
Presiden Megawati Soekarnoputri dalam posisi sedang berkuasa berupaya
meningkatkan komunikasi dengan rakyat. Sebagai Capres dan Ketua Umum DPP
PDIP, ia pun intensif melakukan pendekatan kepada elit partai politik.
Terlihat kecenderungan Partai Golkar, PKB, PPP akan berkoalisi dengan
PDIP mendukung pasangan ini.
Begitu pula pasangannya KH Hasyim Muzadi melakukan konsolidasi, terutama
dalam internal Nahdlatul Ulama (NU).
Sementara, pasangan Susilo-Kalla, berupaya memanfaatkan setiap
kesempatan untuk menggalang dukungan rakyat secara langsung. Pada
mulanya pasangan ini, terkesan terlalu percaya diri, sehingga pagi-pagi
telah menyatakan bahwa mesin politik partai tidak terlalu efektif. Maka
pasangan ini hanya akan menggalang koalisi terbatas.
Ini sebuah proses pembelajaran demokrasi yang akan menghasilkan pemimpin
nasional yang berlegitimasi kuat. Sekaligus juga untuk mempertahankan
momentum perbaikan ekonomi. Sebab sebelum ini antara proses demokrasi
politik dan ekonomi seringkali bak bandul pendulum yang bisa cenderung
bergerak ke kiri atau ke kanan.
Banyak pihak menyebutkan wajah Tim Ekonomi sebagai the dream team akan
sangat menentukan kemenangan kandidat pasangan Capres-Cawapres. Rasa
penasaran akan “wangi harum” muatan ini berbuah tuntutan baru kepada
kedua kandidat agar mengumumkannya sebelum 20 September. Memang ada
untung ruginya jika diumumkan atau tak diumumkan.
Jika kedua pasangan sama-sama mengumumkan untungnya adalah rakyat
menjadi sungguh-sungguh tahu apa isi muatan kabinet. Ibarat tak lagi
beli kucing dalam karung. Ukuran dan ekspektasi pasangan presiden
menjadi diketahui. Sebab sudah mulai sedikit transparan. Ruginya, model
pikiran kolektif bangsa masih serba sumir, selalu melihat dari sudut
pandang kelemahan dan kekurangan. Resistensi menjadi dominan muncul ke
permukaan bukan pengharapan akan perbaikan dan perubahan.
Dengan demikian diumumkan atau tidak diumumkan, pilihan terhadap Tim
Ekonomi niscaya menjadi harus dikritisi secara cermat. Pasangan presiden
boleh tidak menyebutkan nama namun harus berani menggariskan kriteria
orang-orang yang akan membawa bangsa ke arah perbaikan dan perubahan
ekonomi.
Bahwa, setiap anggota tim ekonomi haruslah profesional, intelektual,
mempunyai gagasan yang jitu dan orisinil mengelola ekonomi keuangan
negara, berani bersikap tanpa keraguan dalam memutuskan sesuatu,
terbukti bersih sekaligus anti KKN, mempunyai jaringan pergaulan dan
pengalaman yang luas di dalam negeri terutama di luar negeri untuk
membina lobi-lobi ekonomi keuangan dan perdagangan internasional,
mempunyai jiwa kepemimpinan, mampu membangkitkan semangat kewirausahaan,
dan yang terutama mempunyai kemampuan administrasi yang baik.
Kriteria itu bisa saja diperluas. Namun substansinya adalah janganlah
bangsa ini dua kali terperosok ke lubang yang sama. Bangsa ini sudah
pernah mengalami keterperosokan ekonomi yang sangat dalam pada tahun
1997 yang berimbas pada runtuhnya sistem “demokrasi” politik yang selama
32 tahun dipertahankan dengan tangan besi oleh rejim lama.
Beberapa pakar dan praktisi ekonomi dan keuangan, di antaranya Prof. Dr.
Laurence Manullang Rektor STIE-IBEK Jakarta, sejak 13 Oktober 1997 sudah
menyebutkan bahwa perekonomian kita sesungguhnya bisa ditolong dengan
menghentikan KKN. Namun tarik-menarik pilihan antara memperpanjang umur
kekuasaan dengan membela kepentingan rakyat kecil ketika itu memang
menjadi pilihan sulit. Laurence Manullang sesungguhnya tidak seorang
diri ketika itu namun sayangnya teriakan penghentian KKN dan pembelaan
kepada rakyat selalu menjadi hanya teriakan di padang gurun.
Peringatannya tak sedikitpun dihiraukan oleh mereka yang tetap
meneriakkan fundamental ekonomi kuat. e-ti/ht
|
|
|
|