MAJALAH TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  MAJALAH TI
 ► Index MTI
 ► Volume 13
 ► Volume 12
 ► Volume 11
 ► Volume 10
 ► Volume 09
 ► Volume 08
 ► Volume 07
 ► Volume 06
 ► Volume 05
 ► Volume 04
 ► Volume 03
 ► Volume 02
 ► Volume 01
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
berita  
 
   

Majalah Tokoh Indonesia 13

Jelang Pilpres Putaran Dua


Dua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) yang lolos ke putaran kedua Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 20 September 2004, hari-hari ini semakin sibuk menggalang dukungan baik langsung kepada rakyat pemilih maupun lewat elit partai. Bagi rakyat juga masih ada waktu untuk menimbang sebelum menjatuhkan pilihannya kepada pasangan calon yang dianggap terbaik, antara pasangan Hj. Megawati Soekarnoputri dan KH A. Hasyim Muzadi, dengan pasangan Jenderal TNI (Purn) H. Susilo Bambang Yudhoyono dan H. Muhammad Jusuf Kalla.

Dialog ekonomi telah diprakarsai dan difasilitasi Kadin Indonesia. Kedua pasangan Capres-Cawapres berkesempatan menyampaikan visi dan program ekonominya masing-masing. Para pengusaha dan rakyat pun mempunyai kesempatan untuk menilai siapa yang terbaik.

Presiden Megawati Soekarnoputri dalam posisi sedang berkuasa berupaya meningkatkan komunikasi dengan rakyat. Sebagai Capres dan Ketua Umum DPP PDIP, ia pun intensif melakukan pendekatan kepada elit partai politik. Terlihat kecenderungan Partai Golkar, PKB, PPP akan berkoalisi dengan PDIP mendukung pasangan ini.
Begitu pula pasangannya KH Hasyim Muzadi melakukan konsolidasi, terutama dalam internal Nahdlatul Ulama (NU).

Sementara, pasangan Susilo-Kalla, berupaya memanfaatkan setiap kesempatan untuk menggalang dukungan rakyat secara langsung. Pada mulanya pasangan ini, terkesan terlalu percaya diri, sehingga pagi-pagi telah menyatakan bahwa mesin politik partai tidak terlalu efektif. Maka pasangan ini hanya akan menggalang koalisi terbatas.
Ini sebuah proses pembelajaran demokrasi yang akan menghasilkan pemimpin nasional yang berlegitimasi kuat. Sekaligus juga untuk mempertahankan momentum perbaikan ekonomi. Sebab sebelum ini antara proses demokrasi politik dan ekonomi seringkali bak bandul pendulum yang bisa cenderung bergerak ke kiri atau ke kanan.

Banyak pihak menyebutkan wajah Tim Ekonomi sebagai the dream team akan sangat menentukan kemenangan kandidat pasangan Capres-Cawapres. Rasa penasaran akan “wangi harum” muatan ini berbuah tuntutan baru kepada kedua kandidat agar mengumumkannya sebelum 20 September. Memang ada untung ruginya jika diumumkan atau tak diumumkan.

Jika kedua pasangan sama-sama mengumumkan untungnya adalah rakyat menjadi sungguh-sungguh tahu apa isi muatan kabinet. Ibarat tak lagi beli kucing dalam karung. Ukuran dan ekspektasi pasangan presiden menjadi diketahui. Sebab sudah mulai sedikit transparan. Ruginya, model pikiran kolektif bangsa masih serba sumir, selalu melihat dari sudut pandang kelemahan dan kekurangan. Resistensi menjadi dominan muncul ke permukaan bukan pengharapan akan perbaikan dan perubahan.

Dengan demikian diumumkan atau tidak diumumkan, pilihan terhadap Tim Ekonomi niscaya menjadi harus dikritisi secara cermat. Pasangan presiden boleh tidak menyebutkan nama namun harus berani menggariskan kriteria orang-orang yang akan membawa bangsa ke arah perbaikan dan perubahan ekonomi.

Bahwa, setiap anggota tim ekonomi haruslah profesional, intelektual, mempunyai gagasan yang jitu dan orisinil mengelola ekonomi keuangan negara, berani bersikap tanpa keraguan dalam memutuskan sesuatu, terbukti bersih sekaligus anti KKN, mempunyai jaringan pergaulan dan pengalaman yang luas di dalam negeri terutama di luar negeri untuk membina lobi-lobi ekonomi keuangan dan perdagangan internasional, mempunyai jiwa kepemimpinan, mampu membangkitkan semangat kewirausahaan, dan yang terutama mempunyai kemampuan administrasi yang baik.

Kriteria itu bisa saja diperluas. Namun substansinya adalah janganlah bangsa ini dua kali terperosok ke lubang yang sama. Bangsa ini sudah pernah mengalami keterperosokan ekonomi yang sangat dalam pada tahun 1997 yang berimbas pada runtuhnya sistem “demokrasi” politik yang selama 32 tahun dipertahankan dengan tangan besi oleh rejim lama.

Beberapa pakar dan praktisi ekonomi dan keuangan, di antaranya Prof. Dr. Laurence Manullang Rektor STIE-IBEK Jakarta, sejak 13 Oktober 1997 sudah menyebutkan bahwa perekonomian kita sesungguhnya bisa ditolong dengan menghentikan KKN. Namun tarik-menarik pilihan antara memperpanjang umur kekuasaan dengan membela kepentingan rakyat kecil ketika itu memang menjadi pilihan sulit. Laurence Manullang sesungguhnya tidak seorang diri ketika itu namun sayangnya teriakan penghentian KKN dan pembelaan kepada rakyat selalu menjadi hanya teriakan di padang gurun. Peringatannya tak sedikitpun dihiraukan oleh mereka yang tetap meneriakkan fundamental ekonomi kuat. e-ti/ht

     

MTI 13

Majalah Tokoh Indonesia 13

►TOKOH UTAMA: Laurence Manullang, Top Eksekutif Keuangan Dunia = Kisah Sukses Yatim-Piatu dari Narumonda = BUMN dan Pisau Analisa CONICS = Budaya dan Etos Kerja ► WAWANCARA: Azyumardi Azra, Kokohkan Diri Pembaharu Islam ► SELEBRITI: Ari Wibowo Bintang nan Bersinar ► BERITA: Jelang Pilpres Putaran Kedua ► KAPUR SIRIH: Hentikan Korupsi ► SURAT: Emha Ainun Najib dll.

 

 

 

 

 
Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero