|
Syaykh AS Panji Gumilang
Citra Pendidikan Modern
Peringatan Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1425 H tepatnya pada tanggal 22
Februari 2004 lalu, di Masjid Rahmatan Lil’Alamin Ma’had Al-Zaytun
dimaknai dengan pidato pemimpin “Pusat Pendidikan dan Pengembangan
Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian”, Syaykh Al-Ma’had AS Panji
Gumilang, dengan tema: “Memasuki Tahun Ke-25 Abad XV-H Kita Song-song
Indonesia 2020 dengan Penataan dan Updating Pendidikan.”
Panji Gumilang mengatakan menjelang tahun 2020 sudah harus lahir sebuah
generasi baru hasil produk pendidikan Indonesia modern yang bercirikan
abad-21. Menurutnya, pendidikan modern Indonesia harus selalu up to date
dan berkualitas tidak boleh asal-asalan. Sekolah Indonesia yang
bercirikan abad-21 itu harus memiliki citra atau image sebagaimana
dimiliki oleh sekolah-sekolah berkualitas antarbangsa.
Citra sekolah Indonesia modern bercirikan abad-21 yang kini sedang
dikembangkan itu memiliki enam citra khusus.
Citra pertama, pendidikan Indonesia modern adalah sekolah laksana
perusahaan, school as a fac-tory. Metafor ini menekankan image sekolah
pada keterkaitan antara teori pendidikan dan praktek. Sekolah laksana
perusahaan dimetaforakan karena sifatnya memproduksi massal, berteknik
jaringan pemasangan (assembly), dan kualitasnya terkontrol atau quality
control. Citra ini menampilkan karakter antara lain kepa-la sekolah
sebagai manajer, guru sebagai karyawan, dan murid sebagai produk yang
harus digerakkan untuk dibentuk.
Citra kedua adalah sekolah laksana rumah sehat, school as a hospital.
Metafora hospital untuk sekolah adalah dalam membedakan manajemen dan
pengam-bilan putusan-putusan profesional. Laksana hospital, dalam setiap
pengajaran harus lebih dahulu dilakukan diagnosa perspektif, pengajaran
individu dan sederet tes serta pendekatan yang bersifat klinik.
Citra ketiga adalah sekolah laksana log, school as a log mengacu kepada
bentuk sekolah klasik dimana dasar-dasar yang ditekankan antara lain
adalah guru diberi penghormatan dan status yang tinggi, diseleksi secara
cermat, dan ditunjang dengan materi dan sumber-sumber lainnya.
Citra keempat adalah sekolah laksana keluarga, school as a family
menunjukkan bahwa murid harus dilayani atau diperlakukan sebagai
individu yang utuh, seluruh anak didik harus dididik dan mereka tidak
dipaksa sebelum mereka siap. Model ini mengasumsi-kan bahwa hubungan
antara guru dan murid adalah hal yang paling penting dalam kegiatan
pendidikan di sekolah.
Citra kelima adalah sekolah laksana zona perang, school as a war zone
sebuah metafora yang menggam-barkan antara konflik dan damai dan aksi
agresif. Hal ini merupakan bagian yang diharapkan dalam kehidupan di
sekolah dan kelas dimana kalah dan menang menjadi lebih penting daripada
cooperation and accomodation.
Citra keenam atau terakhir adalah sekolah sebagai organisasi kerja ilmu
pengetahuan, school as a knowledge work organization. Sekolah sebagai
tempat kerja merupakan pandangan yang paling banyak dianut. Ini
dikuatkan dengan berbagai pekerjaan tugas dari sekolah berupa pekerjaan
rumah, pekerjaan kelas, dan pekerjaan lainnya. Peserta didik ke depan
akan menjadi pekerja ilmu pengetahuan (knowledge workers).
Panji Gumilang menyebutkan mewujudkan keenam citra pendidikan Indonesia
modern abad-21 yang harus dimiliki oleh seluruh sekolah di Indonesia
merupakan usaha besar yang wajib ditempuh seluruh kekuatan warga bangsa
Indonesia baik pemerintah, swasta, pemimpin, dan rakyat tanpa terkecuali.
Keenam citra itu menjadikan proses sekolah dan pendidikan Indonesia
modern bersifat terbuka yang mudah dimasuki dan menerima ide-ide dan
konsep-konsep baru yang selalu muncul. Guru, murid, masyarakat, dan
sistem menjadi terpadu.
Melalui keenam citra pendidikan Indonesia itu pulalah, demikian Syaykh
Al-Ma’had panggilan hormat terhadap AS Panji Gumilang, masa depan bangsa
dipersiapkan melalui pendidikan agar generasi baru bercirikan abad-21
itu mampu menjadi pemimpin yang sesuai dengan ciri kepemimpinan abad-21.
Tujuh ciri-ciri sebagai karakteristik generasi berperadaban baru hasil
produk pendidikan Indonesia modern abad-21 itu, tutur dia, adalah
sebagai berikut:
Pertama, generasi baru itu adalah sebagai pemikir sistem-sistem, systems
thinker yang berkeupayaan menggabungkan antara isu, kejadian, dan data
secara utuh dan terpadu.
Kedua, generasi baru itu adalah agen perubahan, change agent yang
berkemampuan mengembangkan pemahaman dan memiliki kompeten tinggi dalam
menciptakan dan mengelola perubahan (change) bagi kehidupan bangsa agar
dapat bertahan hidup.
Ketiga, generasi baru itu adalah pembaharu dan berani mengambil resiko,
innovator and risk taker yang terbuka terhadap perspektif yang luas dan
kemungkinan-kemungkinan yang esensial dalam menentukan tren dan
menggerakkan pilihan.
Keempat, generasi baru itu berkemampuan dan berkeupayaan untuk
meningkatkan pelayanan kepada orang lain, servant and steward yang
selalu melakukan pendekatan holistik untuk bekerja, memiliki kepekaan
terhadap lingkungan atau a sense of community dan berkemampuan membuat
keputusan bersama.
Kelima, generasi baru itu adalah polychronic coordinator yang
berkeupayaan untuk dapat mengkoordinasikan banyak hal dalam waktu yang
sama yang harus dapat bekerja bareng dengan orang lain.
Keenam, generasi baru itu adalah instructur, coach, and mentor yang
berkeupayaan tampil sebagai pembantu orang lain untuk belajar,
menciptakan banyak pendekatan yang beraneka, sebagai instruktur, pelatih,
dan mentor.
Dan ketujuh, generasi baru itu bersifat visionary and vision builder
yang berkeupayaan membantu membangun visi bangsa dan negaranya dan
memberi inspirasi bagi segenap lapisan masyarakat yang diposisikan
sebagai pelanggan dan kolega.
Berdasarkan enam citra pendidikan Indonesia modern yang memiliki
kualitas antarbangsa yang selalu menampilkan school-image, ditambah
tujuh karakteristik generasi baru Indonesia produk pendidikan Indonesia
modern yang bercirikan abad-21, Panji Gumilang tiba pada penentuan titik
ukuran minimal benchmarking atau patokduga untuk mengetahui berhasil
tidaknya produk pendidikan Indonesia modern itu dalam horison waktu
tertentu.
Kesepakatan patokduga tentang ukuran minimal pencapaian itulah
diikrarkan bersama dengan para murid dan santri yang harus sudah dicapai
di tahun 2020. Karena itulah ikrar tersebut dinamakan “Kesepakatan
Muharram 1425 Tentang Pencapaian Minimal Pendidikan Indonesia Modern di
Tahun 2020” yang berisi tujuh ukuran minimal, yaitu:
Pertama, menjelang 2020 semua anak Indonesia umur sekolah tanpa kecuali,
mesti telah memasuki sekolah dengan segera;
Kedua, menjelang 2020 tingkat tamatan Indonesia SMA menjadi terus
bertambah sampai 95%;
Ketiga, menjelang 2020 Pelajar Indonesia tahun ke-4, 8, 12 telah
berkemampuan mendemonstrasikan kompetensi mereka dalam berbagai materi
subjek yang sangat menantang, termasuk Bahasa Indonesia, Inggris, Arab,
Mandarin, Matematika, Sains, Sejarah, Geografi. Dan setiap lembaga
pendidikan Indonesia modern dapat menjamin bahwa setiap pelajar mampu
belajar menggunakan pemikiran mereka dengan baik dan telah dipersiapkan
sebagai warga negara yang bertanggungjawab, belajar lebih lanjut
(further-learning), sebagai pekerja produktif dalam ekonomi modern;
Keempat, menjelang 2020, pelajar-pelajar Indonesia modern dapat menjadi
The first in the world dalam pencapaian Sains dan Matematik;
Kelima, menjelang 2020, setiap manusia dewasa Indonesia modern telah
melek huruf semua tingkatan, dan terus berproses mencapai/menguasai
knowledge dan berbagai skill yang sangat penting untuk berkompetisi
dalam ekonomi global, serta terus bergerak dan berlatih untuk masalah
kebaikan dan kebenaran juga tanggungjawab sebagai warga negara;
Keenam, menjelang 2020, setiap lembaga pendidikan Indonesia modern harus
terbebas dari narkoba, berdisiplin tinggi dalam tatanan lingkungan yang
kondusif yang cintakan belajar; dan
Ketujuh, semua produk pendidikan Indonesia modern sudah siap masuk dalam
tatanan hidup dalam Zone of Peace and Democracy. **e-ti/ht
|
|
WAWANCARA
::
Siswono Y. Husodo
:: Hatta
Rajasa
::
Panji Gumilang,AS
:: AT Mahmud
::
Azwir Dainy Tara
::
Rokhmin Dahuri
::
Yusril Izha Mahendra
::
Theo L Sambuaga
::
Hidayat Nur Wahid
::
Slamet E. Jusuf
::
Bachtiar Chamsyah
:: Jusuf
Kalla
::
Abdul Khaliq Ahmad
::
Alinafiah,
MBA
::
Tambunan
RO
::
Soenarno
::
Adang
Ruchiatna
::
Alwi
Shihab
::
Hatta Rajasa
::
Matori Abdul Djalil
::
Bagir Manan
::
Ali Sadikin
::
Satrio Billy Joedono
::
Butet Kertaradjasa
::
Aberson Sihaloho
WAWANCARA
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (6)
Indonesia ini harus masuk dalam
‘zone of peace and democracy’ kalau ingin
menjadi negara yang beradab dan bermoral di muka bumi ini bersama-sama
dengan negara-negara lain. Demikian Syaykh Abdussalam Panji Gumilang,
pemimpin Ma’had Al-Zaytun dalam percakapan dengan Tim Wartawan
TokohIndonesia DotCom.
SELEBRITI
Marissa Haque
Marissa Haque, yang tidak pernah pergi jauh dari dunia perfilman,
kemudian masuk dalam dunia politik.
Sebelumnya selama tiga tahun dia di Amerika menempuh kuliah S2 di Jurusan
Film dan Televisi Internasional di Universitas Ohio, AS, sembari
bermunajat (mendekatkan diri) kepada Allah swt, mengurus suami dan dua
orang putrinya.
|
|