|
Depthnews MTI-07
Gerbang Mina Bahari
Presiden Megawati Soekarnoputri telah mencanangkan Gerbang Mina Bahari,
di Teluk Tomini, 11 Oktober 2003 lalu. Gerakan Nasional Pembangunan
Kelautan dan Perikanan, ini diharapkan mampu mempersatukan seluruh
komponen bangsa untuk mendayagunakan sumberdaya kelautan dan perikanan
secara cerdas, optimal dan lestari bagi kemajuan, kemakmuran dan
kemandirian bangsa Indonesia. Sehingga dapat menjadi trade mark
keberhasilan Kabinet Gotong Royong.
Pencanangan Gerbang Mina Bahari setidaknya telah diawali dengan
sangat antusias dan optimis. Diikuti oleh sekitar 3000 peserta terdiri
dari perwakilan nelayan, pembudidaya ikan, masyarakat pelaut, masyarakat
pariwisata bahari, asosiasi kelautan dan perikanan, pengusaha kelautan
dan perikanan, perbankan dan lembaga keuangan non-bank, para kepala
dinas kelautan dan perikanan propinsi seluruh Indonesia, beberapa kepala
dinas kelautan dan perikanan kabupaten/kota, perwakilan gubernur seluruh
Indonesia, beberapa bupati/walikota, anggota DPR-RI, TNI, para eselon-1
dan eselon-2 DKP, dan lainnya.
Dua hari sebelum pencanangan Gerbang Mina Bahari, ini dilaksanakan
Rakornas dengan seluruh Gubernur dan Kepala Dinas Kelautan dan Per-ikanan
propinsi dalam rangka menentu-kan tugas dan kewajiban antara pemerintah
pusat dan daerah di dalam mengimplementasikan Gerbang Mina Bahari.
Rakornas semacam ini akan terus dilanjutkan secara reguler minimal dua
kali dalam setahun guna memantau, mengevaluasi, dan memper-baiki kinerja
Gerbang Mina Bahari.
Di samping itu, Pencanangan Gerbang Mina Bahari ditandai berbagai
program terobosan (breakthrough) di bidang kelautan dan perikanan.
Antara lain, penguatan dan pengembangan perikanan budidaya dengan
bantuan benih unggul dan seperangkat alat PCR; pengembangan industri
perikanan tangkap terpadu; pengoperasian VMS; pembentukan SISWASMAS
nasional; pembangunan stasiun pengisian BBM untuk nelayan di l260 lokasi:
kredit MINA Mandiri; kredit Swamitra MINA Bukopin; BPR Pesisir dan
Nelayan kerjasama dengan PT .PNM; pariwisata bahari dan pulau-pulau
kecil; dan parade armada nelayan Teluk Tomini.
Menteri Kelautan dan Perikanan Prof.Dr.Ir.Rokhmin Dahuri, MS, pada
sambutannya mengatakan belajar dari sukses yang pernah diraih Korea
Selatan dengan Semaul Undong-nya, dan Thailand dengan Gerakan Nasional
Pembangunan Pertanian dengan motto menjadikan Thailand sebagai Kitchen
of the Worl, diharapkan Gerbang Mina Bahari ini dapat menjadikan
Indonesia sebagai bangsa yang maju, makmur dan berkeadilan serta
diridhoi Allah SWT, baldatun toyyibatun warrabun ghofur .
Trade Mark
Ia juga berharap Gerbang Mina Bahari dapat menjadi trade mark
keberhasilan Kabinet Gotong Royong. Sehubungan dengan itu, ia berharap
Inpres dan Keppers tentang Gerbang Mina Bahari yang konsepnya tengah
digodok oleh Sekretariat Negara segera dikeluarkan.
Rokhmin Dahuri mengatakan apabila Gerbang Mina Bahari ini dapat
diimplementasikan, maka pada tahun 2006: “Produksi perikanan akan
mencapai 9,5 juta ton. Total nilai ekspor perikanan menjadi sebesar US$
7. Devisa pariwisata bahari akan meningkat dari sekarang hanya US$ 0,5
milyar menjadi US$ 2,5 milyar. Jasa perhubungan laut yang selama ini
menghamburkan devisa US$ l0 milyar per tahun menjadi penghasilan
perusahaan pelayaran dalam negeri. Serta tambahan lapangan kerja yang
dapat tercipta diperkirakan sekitar 3 juta orang.”
Ia berkeyakinan potensi kelautan dan perikanan Indonesia akan semakin
dapat didayagunakan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat. Optimisme itu semakin mengemuka setelah melihat kenyataan dalam
sekitar 3,5 tahun sejak berdirinya Departemen Kelautan dan Perikanan
serta Dewan Maritim Indonesia, beberapa kemajuan di sektor kelautan dan
perikanan secara faktual dapat dirasakan bersama.
Menurutnya, itu diraih berkat kerja sama sinergis seluruh instansi
terkait di pusat dan daerah serta segenap stakeholders kelautan dan
perikanan.
Misalnya, jika pada tahun l998 total produksi perikanan Indonesia
mencapai 4 juta ton yang menempatkan Indonesia sebagai produsen ikan
terbesar ketujuh di dunia, maka pada tahun 2002 telah mencapai 5,6 juta
ton, yang menjadikan Indonesia sebagai produsen ikan terbesar keenam di
dunia (FAO 2002).
Dari total produksi tersebut, sebanyak 5 juta ton untuk memenuhi
konsumsi dalam negeri, sedangkan sisanya 0,6 juta ton untuk ekspor
dengan perolehan devisa sekitar US$ 2, l milyar, meningkat US$ 500 juta
dibandingkan nilai devisa perikanan tahun l998 yang hanya US$ l,6 juta.
Jika sebelum adanya DKP, sektor kelautan dan perikanan tidak
menghasilkan PNBP, maka pada tahun 2002 sektor ini telah menyumbangkan
PNBP hampir Rp 300 milyar. Tahun 2003 diharapkan menghasilkan Rp 450
milyar, dan tahun 2004 PNBP sektor kelautan dan perikanan insya Allah
mencapai Rp 700 iniyar.
Sumbangan subsektor perikanan dari produk primer terhadap PDB pada tahun
2001 sebesar 2% (Rp 25 trilyun), maka pada tahun 2002 meningkat menjadi
3% (Rp 47 trilyun). Dan, apabila dihitung dengan produk sekunder (olahannya),
maka krontribusinya terhadap PDB pada tahun 2002 hampir l0% (BPS, 2002).
Pendapatan sebagian nelayan, pembudidaya ikan, dan pedagang ikan yang
telah mendapatkan sentuhan program PEMP, INBUDKAN, dan Optimalisasi
Perikanan Tangkap juga meningkat cukup signifikan.
“Sedikit kemajuan di atas, diperoleh dengan menerapkan berbagai
kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan yang pada intinya bagaimana
menekan biaya produksi usaha perikanan dan kelautan serendah mungkin dan
meningkatkan pendapatan semaksimal mungkin sesuai batas-batas
kelestarian sumberdaya ikan beserta ekosistemnya,” ujarnya.
Rokhmin juga mengungkapkan bahwa sepanjang sejarah republik baru sejak
awal tahun ini sekitar l260 tempat-tempat pendaratan ikan dan pemukiman
nelayan telah dan akan mendapatkan stasiun pengisian bahan bakar.
Sehingga, yang selama ini para nelayan membeli solar atau bensin jauh
lebih mahal ketimbang harga patokan Pertamina, maka mulai awal 2003 para
nelayan dapat membeli BBM dengan harga sama dengan harga patokan
tersebut.
Sejak Maret 2003, Bank Mandiri telah menyediakan kredit khusus untuk
usaha perikanan sebesar Rp 3 trilyun untuk jangka waktu sampai Maret
2004. Bank Bukopin telah dan akan membangun kredit simpan-pinjam khusus
untuk usaha perikanan, bernama Swamitra Mina di l60 kabupaten/kota
pesisir.
PT. PNM telah menandatangani kerjasama dengan 30 Bupati/Walikota di KBI
dan KTI untuk mendirikan BPR Pesisir dan Nelayan.
Ia menyebut pembangunan dan perbaikan pelabuhan perikanan dan tempat
pendaratan ikan terus dilakukan. “Modernisasi dan optimalisasi usaha
perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan produk
perikanan dan pemasarannya baik di dalam negeri maupun pasar ekspor
terus dikembangkan dan diperkuat,” katanya.
Mengenai kapal ikan asing ilegal, Rokhmin mengatakan bahwa berkat
dukungan penuh berbagai instansi terkait, utamanya TNI-AL dan POLAIRUD,
maka kurang lebih 5000 kapal ikan asing ilegal yang sebelumnya
beroperasi di perairan Indonesia, kini hanya sekitar l000 yang masih
belum berhasil ditertibkan. Oleh sebab itu, kerugian negara akibat
ilegal fishing yang dulu senilai US$ 4 milyar, kini tinggal US$ l milyar.
Segelintir keberhasilan tersebut, kata Rokhmin, memang semestinya kita
syukuri. Namun demikian, tegasnya, seluruh insan kelautan dan perikanan
di tanah air masih jauh dari puas. “Karena kami berkeyakinan bahwa
sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia, dengan luas laut
5,8 juta km2 atau 3/4 dari total wilayah Indonesia, dan ditaburi sekitar
17.506 pulau yang dikelilingi oleh 81.000 km garis pantai; sesungguhnya
Indonesia memiliki potensi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan
yang sangat besar dan beragam.”
Ia menyebut berbagai potensi itu, mulai dari sumberdaya yang dapat
diperbaharui seperti perikanan, tcrumbu karang, rumput laut, dan hutan
mangrove; serta sumberdaya yang tak terbaharui termasuk migas dan bahan
tambang serta mineral lainnya; sampai dengan energi dan jasa-jasa
lingkungan. khususnya pariwisata bahari. Menurut perhitungan PKSPL-IPB
(l998), bahwa nilai ekonomi dari sumberdaya perikanan (tangkap, budidaya,
dan industri bioteknologi perairan) saja dapat menghasilkan sekitar USS
82 milyar/tahun.
Sementara itu, seiring dengan terus meningkatnya jumlah penduduk dunia
dan kesadaran umat manusia akan kebaikan gizi ikani (seafood) bagi
kesehatan, kecerdasan dan kekuatan manusia, maka dapat dipastikan
permintaan terhadap produk dan jasa kelautan dan perikanan akan terus
membesar.
“Apalagi kalau kita membandingkan (bench marking) dengan kinerja sektor
kelautan dan perikanan negara-negara lain dengan potensi yang jauh lebih
kecil dari pada Indonesia. seperti Thailand, Pilipina, RRC, Taiwan,
Norwegia, dan Islandia. Kami semakin yakin bahwa sektor kelautan dan
perikanan dapat memberikan sumbangan yang jauh lebih signifikan bagi
kemajuan, kemakmuran dan kemandirian bangsa Indonesia,” ujar Rokhmin.
*e-ti/juka
|
|
Majalah Biografi
TOKOH
UTAMA:
Hidayat Nur Wahid = CEO PILIHAN
Edie Haryoto = OPINI TOKOH:
Rauf
Purnama = WAWAN-CARA;
Hidayat Nur
Wahid = BERITA TOKOH:
Achmad Tirtosudiro,
Arifin Panigoro,
KH Achmad Sahal,
Dewi Motik = SELEBRITI:
Inneke,
Miing Bagito,
Astri Ivo = TOKOH
DUNIA:
Yasser Arafat. Dapatkan di toko buku dan agen atau
Bagian Sirkulasi Rp.14.000.
|
|