|
Berita
Hari Nusantara 2003
Presiden Megawati Sukarnoputri akan menghadiri puncak acara peringatan
Hari Nusantara 2003 yang diselenggarakan di Terminal Merak Mas, Banten,
Senin 15 Januari 2004. Presiden seusai menyampaikan pidato sambutan,
selanjutnya bertatap muka dengan masyarakat nelayan/pembudidaya ikan dan
masyarakat pelayaran rakyat dipandu Menteri Kelautan dan Perikanan
Rokhmin Dahuri. Selepas itu, Presiden menyerahkan beberapa penghargaan.
Selanjutnya Kepala Negara melepas Joy Sailing. Joy sailing ini
melibatkan para siswa SMU, Pramuka Bahari dan masyarakat umum.
Peringatan Hari Nusantara 2003 yang bertema “Daya Gunakan Potensi
Ekonomi Maritim Untuk Kesejahteraan dan Kejayaan Bangsa Indonesia” ini
juga diisi Parade Kapal diikuti sekitar 50 kapal yang terdiri dari
pelayaran rakyat, perahu tradisionil, kapal pengawas DKP dan kapal TNI-AL.
Acara juga diisi Sea food festival (bazaar), yang dimaksud untuk
mengampa-nyekan gemar makan ikan bagi masyarakat Indonesia, dan lebih
mempertinggi gizi makanan. Kegiatan ini merupakan salah satu fokus
kegiatan Gerakan Nasional Pembangunan Mina Bahari.
Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri mengatakan tujuan
peringatan Hari Nusantara ini adalah upaya untuk meningkatkan kesadaran
bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang hidup di negara nusantara,
yang terdiri atas pulau-pulau dan laut, sebagai negara bangsa maritim
terbesar di dunia.
Selain itu, kata Rokhmin, peringatan Hari Nusantara tahun ini merupakan
terompet untuk mengingat-kan semangat bangsa Indonesia untuk menjaga
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan kedaulatan
wilayah Indonesia yang belakangan ini beberapa bagian wilayah kita sudah
mulai diganggu oleh negara luar.
Peringatan ini juga meru-pakan gendang memanfa-atkan potensi kemaritiman
sudah di kumandangkan secara nasional sejak deklarasi Bunaken tahun 1999
di Manado, Seruan Sunda Kelapa tahun 2001 di Jakarta, dan tahun ini
tepatnya tangal 11 Oktober, Presiden Megawati Soekarno-putri
mencanangkan Program Gerakan Nasional Mina Bahari (GMB) di teluk Tomini.
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, Hari Nusantara
tahun ini dijadikan momen-tum untuk mengembalikan kondisi ekonomi
nasional berharap pada potensi yang terkandung di laut.
Sementara, sasaran peringatan Hari Nusantara adalah tersosialisasinya
prinsip-prinsip Indonesia sebagai Negara Nusantara (Archipelagic State),
dengan berbagai peluang, tantangan, kekuatan dan kelemahannya, melalui
kegiatan peringatan di instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah,
desa atau kelurahan, sekolah-sekolah, masyarakat umum lainnya.
Deklarasi Djoeanda
Hari Nusantara ditetapkan 13 Desember melalui Keppres 126/2001. Hari ini
dipilih mengingat ‘Deklarasi Djoeanda’ pada 13 Desember 1957 yang
memaklumatkan tentang wilayah laut Nusantara, yang pada intinya
menyatakan batas-batas laut yang mengikatkan kepulauan Nusantara sebagai
negara kesatuan, serta ditetapkan-nya Konvensi Hukum Laut PBB 1982 yang
mengakui prinsip-prinsip negara Kepulauan Nusantara (archipelagic
principles).
Sejarah membuktikan pemanfaatan potensi laut Indonesia sudah sejak
kerajaan Sriwidjaya (683 M-1030 M), Tetapi saat itu laut hanya dijadikan
sebagai sarana penghubung antar pulau maupun antara negara. Laut
dijadikan media transportasi bahan niaga ke pelbagai negara terutama ke
wilayah Eropa.
Berangkat dari keputusan Territoriale Zee en Maritie-me Kringen
Ordonnantie (TZMKO), wilayah laut Indonesia, hanya 3 mil dari garis
batas pantai pulau. Artinya, perairan diantara pulau-pulau yang jaraknya
<3 mil adalah laut internasi-onal. Wilayah teritorial Indonesia
didasarkan TZMKO sangat kecil, dan banyak perairan laut Indonesia
menjadi milik banyak negara.
Dengan semangat kebangsaan yang tinggi dan tekad bulat memperjuangkan
kedaulatan Indonesia, maka 13 Desember 1957, Perdana Menteri Ir.
Djoeanda, mendeklarasikan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah
termasuk laut di sekitar, di antara, dan di dalam Kepulauan Indonesia,
yang dikenal sebagai “Deklarasi Djoeanda”. Deklarasi dengan (prinsip-prinsip)
negara Nusantara (Archipelagic State) ini meskipun mendapat tantangan
dari beberapa negara besar, melalui per-juangan panjang, akhirnya
diterima dan ditetapkan di dalam konvensi hukum laut PBB (UNCLOS, 1982)
bahwa Indonesia adalah negara Kepulauan Nusantara.
Bertolak dari terbitnya deklarasi Djoenda, maka pada tahun 1999 Presiden
KH. Abdurrahman Wahid mencanangkan bahwa tanggal 13 Desember sebagai
“Hari Nusantara”. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 11 Desember
2001, Presiden RI, Megawati Soekarnoputri menerbitkan Surat Keputusan
Presiden Nomor 126 Tahun 2001, bahwa tanggal 13 Desember dinyatakan
sebagai Hari Nusantara, dan resmi sebagai hari perayaan Nasional,
walaupun masih bersifat fakultatif.
“Bertolak pada kondisi sekarang banyak daerah ingin memisahkan diri dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka perlu mengobarkan
kembali semangat kebersamaan NKRI dan tetap mempertahankan kedaulautan
negara kita melalui peringatan hari Nusantara. Momentum yang sangat
tepat hari Nusantara tahun 2003 dijadikan terompet yang akan bergema
sampai ke pelosok Sabang-Merauke,” kata Menteri Rokhmin Dahuri. *e-ti
|
|
Majalah Biografi
TOKOH
UTAMA:
Hidayat Nur Wahid = CEO PILIHAN
Edie Haryoto = OPINI TOKOH:
Rauf
Purnama = WAWAN-CARA;
Hidayat Nur
Wahid = BERITA TOKOH:
Achmad Tirtosudiro,
Arifin Panigoro,
KH Achmad Sahal,
Dewi Motik = SELEBRITI:
Inneke,
Miing Bagito,
Astri Ivo = TOKOH
DUNIA:
Yasser Arafat. Dapatkan di toko buku dan agen atau
Bagian Sirkulasi Rp.14.000.
|
|