| |
C © updated 24052008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Zuhairi Misrawi
Lahir:
Sumenep, Madura, 5 Pebruari 1977
Agama:
Islam
Pendidikan:
- S1 Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar, Kairo-Mesir
- Pernah kuliah S2 di Program Studi Ilmu Politik, Universitas Indonesi
Karir:
- Salah Satu Penggagas Lingkar Muda Indonesia
- Pemimpin Redaksi Jurnal Pemikiran Keagamaan PERSPEKTIF PROGRESIF, P3M,
Jakarta
- Direktur Moderate Muslim Society (MMS)
- Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
OPINI:
01
02
03
04 05 == Zuhairi Misrawi (04)
Menyemai Islam yang Indonesiawi
21/11/2006: Ledakan bom di Kramat Jati, Jakarta Timur, beberapa hari
lalu menyisakan kegelisahan. Kendatipun bom yang diledakkan M Nuh masuk
dalam kategori kecil, peristiwa tersebut tetap merupakan pesan dan
simbol anti-Amerika.
Pertanyaannya, apakah sikap ekstrem dengan merakit dan meledakkan bom di
tempat-tempat umum, yang memakan korban sebagian besar adalah umat
seagama dan sebangsa, dapat dibenarkan?
Tentu saja, secara otomatis kita semua akan memberikan jawaban bahwa
tidak sepatutnya seorang yang memahami ajaran agama dengan baik dan
benar melakukan tindakan teror dan aksi kekerasan lainnya.
Masalah utama yang perlu mendapat perhatian dari pelbagai pihak adalah
fenomena menguatnya ekstremisme. Khaled Abou el-Fadl dalam The Great
Theft: Wrestling Islam from the Extremists menuturkan bahwa gerakan
ekstremis yang berbasis agama makin menguat. Kendatipun jumlah mereka
relatif sedikit, tetapi mereka mempunyai pengaruh yang cukup besar.
Moderatisme vs ekstremisme
Secara sosiologis, sikap ekstrem yang dilakukan oleh sebagian kelompok
tidak semata-mata merupakan dorongan agama, melainkan mempunyai
akar-akar sosiologis. Yang paling kentara adalah faktor modernitas yang
melahirkan pseudoliberalisasi, yaitu liberalisasi yang makin
menyengsarakan rakyat. Ada agenda tersembunyi di balik liberalisasi yang
tidak sejalan dengan visi dan misi agama untuk pembebasan dan
keberpihakan terhadap mereka yang miskin. Karena itu, menurut Khaled,
sikap ekstremis merupakan sebuah sikap perlawanan terhadap modernitas.
Di samping itu, munculnya ekstremisme berkaitan dengan arus besar
indoktrinisasi faham keagamaan yang bernuansa kekerasan, seperti faham
bunuh diri dan terorisme. Di era teknologi ini, pengaruh-pengaruh luar
amat mudah diakses oleh publik di Tanah Air. Akibatnya, faham keagamaan
yang bernuansa kekerasan makin mudah memengaruhi mereka yang tidak
mempunyai faham keagamaan yang mendalam.
Di sini dalam konteks keindonesiaan diperlukan pemikiran besar, terutama
dalam rangka merancang-bangun keberagamaan moderat yang bersumber dari
teks-teks keagamaan yang mampu menyesuaikan diri dengan konteks dan
lokalitas. Faham keagamaan yang mempunyai orientasi pada kemanusiaan dan
moralitas.
Muhammad Thahir bin ’Asyur dalam Maqâshid al-Syarî'ah menyatakan bahwa
upaya mewujudkan kehidupan yang adil dan damai merupakan tujuan utama
dari agama, terutama Islam.
Dalam hal ini, praktik keagamaan kalangan Muslim Indonesia sesungguhnya
mempunyai keistimewaan tersendiri dalam rangka membangun keberagamaan
yang moderat, serta menolak ekstremisme. Adanya kontrak politik di
antara umat Muslim dengan umat-umat agama lain dalam Pancasila dan UUD
1945 menunjukkan salah satu bukti kuatnya sikap moderat, terutama dalam
rangka membangun kebersamaan di tengah kebhinnekaan. Di sinilah
masyarakat Muslim Indonesia mempunyai kekhasan tersendiri, terutama bila
dibandingkan dengan masyarakat Muslim di negara lainnya.
Karenanya, sikap moderat mempunyai tujuan yang amat mulia untuk
membangun toleransi dan kebersamaan. Tentu saja, yang masih harus
diperjuangkan secara terus-menerus adalah memperkecil volume kebencian
dan kekerasan antara sesama anak bangsa.
Indonesiawi
Dalam konteks kebangsaan, kita semua mempunyai tanggung jawab yang amat
berat agar capaian-capaian yang telah diraih oleh para pendiri bangsa
ini dapat terus dipelihara. Di sinilah arti penting prinsip, menjaga
masa lalu yang sudah baik, dan mengambil hal-hal masa kini yang lebih
baik. Khazanah masa lalu berupa keislaman yang indonesiawi sebagaimana
diwariskan para pendahulu kita harus dijadikan sebagai modal untuk
mempererat kebangsaan dan menjunjung tinggi kemanusiaan.
Dalam kurun waktu yang cukup panjang, bangsa ini bisa hidup damai dalam
kebhinnekaan. Karena itu, jalan untuk menyemai hidup damai dalam
pluralitas tersebut adalah mengembangkan faham keagamaan yang bernuansa
moderatisme dan mengubur faham keagamaan yang bernuansa ekstremisme.
Apalagi sebagian besar, kalangan Muslim Indonesia, adalah moderat, maka
modal ke arah itu sangat besar. ►e-ti (http://www.islamemansipatoris.com/artikel.php?id=558)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|