| |
C © updated 17062006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
Yenny Wahid
Nama Lengkap:
Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid
Lahir:
Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974
Saudara:
- Alissa Qotrunnada Munawaroh Rahman (anak)
- Anitta Hayatunnufus Rahman (anak)
- Inayah Wulandari Wahid (anak)
Pendidikan:
- Sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti
- Master dari Harvard University
Pekerjaan:
- Koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald
dan The Age (Melbourne), 1997-1999
- Direktur The Wahid Istitute (2004-sekarang)
- Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik
Penghargaan:
Australia's Premier Journalistic Award - The Walkleys
Alamat:
Jl Al Munawaroh No 10 Ciganjur, Jakarta Selatan |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
The Wahid Institute
Jakarta 10/9/07: The Wahid Institute berkomitmen terus mengembangkan
falsafah pluralisme sebagai sintesis perdamaian. Lembaga ini menjunjung pluralisme dengan menegakkan keadilan. Ikhtiar ini dipetik
dari orasi Yenny Zanubba Wahid pada
peringatan HUT Ke-3 The Wahid Institute, Sabtu (8/9).
Yenny Zannuba Wahid
Gus Dur dan SBY
Jika dibaca sepenggal, "gertakan" KH Abdurrahman Wahid atau
Gus Dur yang menyatakan akan membentuk pemerintahan baru jika
pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak menegakkan hukum
dengan benar, terasa seram.
Namun, jika kalimat selanjutnya dicerna, kontroversi maklumat Gus Dur
sirna karena dinyatakan, "Tetapi kalau ada perbaikan dari pemerintah, ya
saya akan ikut terus. Karena saya orang yang paling menaati konstitusi.
Saya enggak berani melanggar konstitusi."
Berdasar sentimen yang sama, pernyataan kontroversial Andi Mallarangeng
bahwa tindakan Gus Dur adalah makar, juga tidak perlu dipahami dengan
miris karena komentar itu dari political scientist bahwa semua tindakan
di luar konstitusi adalah makar.
Terlepas dari itu semua, segala respons mengundang sepenggal kelakar di
lingkungan istana. Sekretaris Presiden Brigjen Kurdi Mustofa dengan
jenaka menyatakan, akan membuat ring tinju di istana bagi staf khusus
presiden.
Kelakar itu menunjukkan, yang terjadi sebenarnya tidak segawat yang
dibayangkan orang. Bagi yang memahami betul sikap dan pemikiran Gus
Dur—termasuk Presiden SBY—apa yang disampaikan Gus Dur masih dalam batas
wajar dan menjadi bagian dari dinamika politik yang sehat.
Beberapa alasan
Mengapa muncul kesimpulan demikian? Pertama, kritik Gus Dur muncul
karena maraknya "premanisme dalam negara", terutama yang mengatasnamakan
agama. Sudah lama aparat hukum terkesan membiarkan sekelompok massa yang
menggunakan cara kekerasan dalam menyalurkan aspirasinya. Dalam bahasa
Gus Dur, "menyampaikan pendapat dengan membawa bambu runcing, kelewang,
dan alat-alat pukul lainnya". Menurut Gus Dur, dalam pemerintahan SBY,
aparat keamanan kurang tegas dalam menegakkan hukum.
Kedua, beberapa saat setelah peristiwa di Indramayu, Presiden SBY
memanggil saya dan menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa yang
menimpa Gus Dur, bahkan menawarkan tambahan pasukan pengamanan di luar
beberapa orang petugas yang selama ini mengawal Gus Dur. SBY juga
prihatin atas sikap sekelompok massa yang cenderung mengedepankan
kekerasan. SBY berjanji akan membahas masalah maraknya kekerasan yang
dilakukan sekelompok massa dalam sidang kabinet. Namun, karena ada gempa
di Yogyakarta dan Jawa Tengah, agenda itu untuk sementara ditangguhkan.
Ketiga, beberapa hari setelah kembali dari Yogyakarta, SBY menepati
janjinya dan memanggil Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan
Widodo AS, Kepala Polri Jenderal Sutanto, dan Menteri Pertahanan Juwono
Sudarsono dalam rapat membahas fenomena anarkisme di masyarakat. Hasil
rapat, peringatan keras pemerintah kepada kelompok atau organisasi
kemasyarakatan yang selama ini diindikasikan melakukan tindak kekerasan.
Pemerintah akan menindak secara hukum organisasi yang anarkis, main
hakim sendiri atau mengeluarkan ancaman kekerasan kepada orang lain.
Keempat, ada kesamaan visi antara SBY dan Gus Dur tentang dasar
kehidupan politik nasional, terutama menyangkut Pancasila dan NKRI.
Ketika menyampaikan pidato politiknya pada peringatan hari lahir
Pancasila 1 Juni 2006, apa yang disampaikan SBY terlihat senapas dengan
pemikiran Gus Dur. Karena itu, sebenarnya ada ikatan ideologis dan
transendental antara keduanya.
Kita tahu, Gus Dur tidak pernah lelah membela bentuk nations state
berdasar Pancasila dan menjunjung tinggi demokrasi. Gus Dur cenderung
memberi respons keras jika negara nasional atau Pancasila dan demokrasi
di Indonesia mendapat ancaman. Pandangannya tentang Islam sebagai etika
sosial (social ethic) dan Islam tanpa kekerasan merupakan bagian
integral perjuangannya dalam mempertahankan NKRI sebagaimana
dicita-citakan pendiri dan nasihat ulama pesantren masa lampau.
Kelima, dalam cara pandang politik Jawa, Gus Dur adalah tokoh Semar,
seperti disebut Romo Sindhunata dalam seminar wayang di Yogyakarta tahun
1994, sementara SBY adalah Batara Guru. Menurut Romo Sindhu, sebagai
Semar, Gus Dur adalah pengembara, berkelana tak terikat tempat. Ia tidak
terikat pada bentuk. Dengan humor kritisnya ia bisa mendekonstruksi
segala kemapanan. Seperti Semar, ia tidak terikat pada posisi, bahkan
menjadi pengkritik keras kekuasaan. Dan seperti Semar, Gus Dur yang kiai
itu adalah mediator (Kompas, 30/5/2001)
Seperti kentutnya (maaf) yang membuat puyeng jagat, apa pun yang
dilakukan Semar, termasuk kritiknya yang keras, ditujukan untuk kebaikan
kepemimpinan Batara Guru. Sekeras apa pun kritiknya, Semar tidak mungkin
melakukan hal inkonstitusional.
Saling melengkapi
Jadi, posisi Gus Dur dan SBY bersifat saling melengkapi. Komitmen
keduanya adalah untuk kelangsungan proses transformasi politik yang
demokratis dan berkeadilan serta tegaknya NKRI berdasar Pancasila.
Apa yang tampak di permukaan selama ini, Gus Dur dan SBY terlihat "tidak
sejalan". Bagi saya, itu hanya perbedaan cara dan bentuk dalam
mengekspresikan komitmen yang sama. Perbedaan cara dan bentuk seperti
itu merupakan hal biasa dan menjadi landasan penting proses dinamisasi
masyarakat agar bangsa ini tetap eksis di tengah kompleksnya tantangan
kehidupan di tingkat nasional dan global. (Kompas 17 Juni 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|