| |
C © updated 14032005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rp |
|
| |
Nama:
Wimar Witoelar
Nama Lengkap:
Wimar Jartika Witoelar
Lahir:
Padalarang, Jawa Barat, 14 Juli 1945
Agama:
Islam
Menikah:
KBRI Bangkok, 27 Februari 1971
Istri:
Suvatchara Witoelar Leeaphon (dokter syaraf, meninggal tahun 2003)
Anak:
1. Satya Tulaka (lahir 1975)
2. Aree Widya (1978)
Orangtua:
-Ayah Raden Achmad Witoelar Kaartaadipoetra (1910-1987)
-Ibu Nyi Raden Toti Soeiamah (1914-1977)
Saudara Kandung:
1. Luki Djanatun Muhammad Hamim (Lahir 1932)
2. Kiki Waskita (Lahir 1935)
3. Toerki Joenoes Moehammad Saleh (Lahir 1938)
4. Rachmat Nadi Witoelar (Lahir 1941)
5. Wimar Jartika Witoelar
Pendidikan:
-Pendidikan Dasar di sejumlah negara Eropa, SR di Yayasan
Pendidikan Budi Mulia, Bogor, lulus dari SR di Jalan Cilacap, Jakarta
-SMP Katolik Van Lith, Jalan Gunung Sahari, Senen, Jakarta Pusat, tamat
tahun
-SMA Kolese Kanisius, Jakarta
-Teknik Elektro ITB Bandung
-George Washington University, Washington DC,
Pengalaman Kerja:
-Dosen Pasca Sarjana, Program Transportasi ITB Bandung (1975-1982)
-Dosen Tamu Institut Manajemen Prasetya Mulya (1982-1993
-Direktur Eksekutif Summa Excelence Institute (1990-1991)
-Dosen Magister Manajemen dan Bisnis Administrasi Teknologi ITB
-Pimpinan PT InterMatrix Bina Indonesia (Konsultan Manajemen)
-Pimpinan PT InterMatrix Communication (Konsultan Komunikasi)
-Pimpinan PT Inter Properti (Pembangunana Perumahan)
-Pimpinan PT Caksugara Nusantara Media (Television & Audiovisual
Production)
-Pimpinan PT Inter Sinclair Knight (Konsultan Engineering)
-Pimpinan PT Nusantara International Development Corporation
- Pendiri dan Pimpinan Yayasan Perspektif Baru
Karya Tulis Buku:
-No Regrets, tahun 2000, sebuah kenangan sehari-hari bersama Gus
Dur, diterbitkan Equinox Publishing Singapura, dapat ditemui di
amazon.com, diluncurkan di Jakarta, Singapura, Melbourne, Sydney, New York
dan Washington DC.
-Menuju Partai Rakyat Biasa
-Mencuri Peluang di Tengah Kebingungan
-Perspektif
Pengalaman Lain:
-Ketua Dewan Mahasiswa ITB Bandung, 1969
Kegiatan Lain:
-Pembicara dan Pemandu acara talkshow, diskusi, seminar
-Kolumnis dan Pewawancara di media cetak dan televisi inernaisonal (ABC,
SBS, Nine Netwok, BBC, CNN, CNBC, NBC, European Channels)
-Komentator politik dan penulis kolom di Newsweek, International Herald
Tribune, The Washington Post, serta media cetak nasional
Penghargaan:
Adjunt Professor in Journaism and Public Relation, Deakin
University, Australia
Alamat Rumah:
Jalan Madrasah, Cilandak, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
PT InterMatrix Communication, Kompleks Duta Mas Fatmawati C2-19,
Jalan Raya RS Fatmawati, Jakarta Selatan 12150, Indonesia
Telp. +6221 7279.0028, Faks. +6221 722.9994, SMS +62811811291
Email:
wimar@intermatrix.co.id
wimar@witoelar.com
|
|
| |
BIOGRAFI
= Kepala Juru Bicara Demokrasi
= Calon Presiden 1978
= Pemandu Talkshow Perspektif
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Wimar Witoelar
Calon Presiden 1978
Begitu mulai memasuki Kampus Ganesha ITB Bandung sebagai mahasiswa baru di
tahun 1963, Wimar segera larut dalam aktivitas kampus. Ia bergabung dalam
Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), sebuah kumpulan mahasiswa netral yang
tanpa aliran politik, ideologi, agama dan kedaerahan.
Ia memilih PMB pada saat ormas mahasiswa lain mulai gencar merekrut dan
memobilisasi anggota. Di PMB Wimar berkenalan lalu bersahabat akrab antara
lain dengan Sarwono Kusumaatmaja, Arifin Panigoro, Jhony Saleh, Ginanjar
Kartasasmita, Marzuki Darusman, Erna Anastasia, dan tentu dengan
kakak-karib Rachmat Witoelar.
Memasuki PMB Wimar tak luput dari perpeloncoan. Ia didandani sebagai
“Jenderal Plonco” yang berbadan gemuk berambut kribo acak-acakan sekadar
untuk lucu-lucuan. Padahal tanpa didandani pun Wimar sudah lucu. Di PMB
Wimar berdiskusi bersama kawan-kawan. Mereka menyempatkan diri
berpesta-pesta dan dansi-dansi sekaligus berpacaraan bagi yang mampu dapat
cewek.
Sayang Wimar hingga sebelum ketemu Suvatchara, seorang gadis Thailand yang
kemudian diperistri tak pernah sekalipun kebagian teman cewek apalagi
berpacaran. Wimar malah dibilang takut terhadap perempuan. Maklumlah,
Wimar jarang bersentuhan dengan lawan jenis. Sekolah SMP dan SMA ia
habiskan di sekolah yang steril perempuan.
Wimar yang di masa belia gemar membaca, menonton dan mendengar media massa
asing terbentuk menjadi seorang komunikator ulung sekaligus berani. Kakang
Rachmat menyaksikan Wimar itu mempunyai gaya bicara yang bebas, spontan,
lugas, agak agresif, cerdas dan berani. Termasuk berani bilang tidak
sementara semua orang bilang ya sejauh itu merupakan keyakinan hati
nurani.
Pendukung Orde Baru
Wimar semakin larut berpolitik ketika tahun 1965 terpilih sebagai salah
seorang Ketua Presidium KAMI Komisariat ITB Bandung. Wimar dipilih
mewakili unsur PMB. Tak lama berselang pecah Gerakan 30 September/PKI
tahun 1965. Kemudian di tahun 1966, Wimar mulai bergerak memimpin sejumlah
apel siaga dan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa mengganyang sisa-sisa
kekuatan PKI.
Wimar yang semasa SMP aktif mengikuti dan mengagumi pidato-pidato Bung
Karno, dan diam-diam suka menirukan pidato di depan kaca, bahkan saking
kagumnya sempat bercita-cita menjadi presiden, semua itu berbeda 180
derajat ketika menginjak bangku kuliah. Wimar gencar memperjuangkan
Tritura. Kekaguman akan Bung Karno perlahan memudar termasuk cita-cita
menjadi presiden terlupakan sudah.
Wimar tampil bak hero mensosialisasikan Supersemar ke mana-mana. Ia
memimpin misi Ampera, terdiri sejumlah mahasiswa ITB melakukan perjalanan
ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Wimar berpidato lantang di mana-mana
tempat memungkinkan.
Kepemimpinan Wimar terus menanjak. Tahun 1968, ia terpilih menjadi Ketua
Majelis Permusyawaratan Mahasiswa ITB (lembaga legislatif mahasiswa),
bergandengan dengan Sarwono Kusumaatmaja yang terpilih jadi Ketua Dewan
Mahasiswa ITB (lembaga eksekutif). Pasangan Sarwono-Wimar sangat populer
hingga menjadi nara sumber tetap sejumlah media massa lokal dan asing.
Tahun sama 1968, Wimar berhasil mencapai puncak karir tertinggi sebagai
Ketua Dewan Mahasiswa ITB Bandung, menggantikan Sarwono untuk periode
1968-1969.
Lalu, setiap tahun ada program tahunan Pemerintah AS mengundang sejumlah
pemimpin mahasiswa dan pemuda dari 12 negara Asia Pasifik untuk melakukan
kunjungan ‘wisata politik’ selama dua bulan di AS. Di tahun 1970 giliran
tiba pada Wimar mewakili Indonesia, setelah sebelumnya Arif Budiman,
Syahrir, Marsilam Simanjuntak, Sarwono Kusumaatmaja, Haryadi Darmawan dan
lain-lain.
Dalam pelesiran politik mahasiswa kali ini, Wimar berkesempatan bertemu
kembali untuk kedua kali dengan sahabat perempuannya, sesama aktivis
kampus yang sebelumnya sudah dikenalnya di Bangkok. Namanya Suvatchara
Leeaphon, masih tercatat sebagai mahasiswa kedokteran Universitas
Chulalongkorn, ke AS, mewakili mahasiswa Thailand.
Wimar bersama pemimpin mahasiswa negara Asia Pasifik berkeliling ke
beberapa negara bagian AS seperti Washington, Texas, San Fransisco, New
York, Hawaii dan Alaska. Mereka juga melakukan tur ke Gedung Putih,
meninjau Kongres, mengunjungi Wali Kota, berdiskusi dengan Dewan Mahasiswa
setempat dan sebagainya. Wimar malakukan wisata politik meski ia lebih
banyak melakukan jalan-jalan pelesiran, termasuk menonton striptease
segala.
Berbulan Madu di Kampus
Masa gonjang-ganjing perkuliahan sesungguhnya sudah berakhir setelah 18
bulan penuh marak dengan gerakan demonstrasi. Akan halnya Wimar, hingga
tahun kedelapan kuliahnya tetap terbengkalai.
Wimar sering bolos kuliah sekaligus bolos ujian. Kalaupun sering nongol di
kampus itu bukan untuk kuliah. Hanya sekedar nongkrong di student center,
ngakunya rapat, atau nongkrong di rumah Arifin Panigoro tempat berkumpul
anggota PMB.
Wimar terlalu asyik main politik kampus mahasiswa apalagi berdemonstrasi.
Maklum, ia adalah Ketua Dewan Mahasiswa ITB Bandung. Keseharian Wimar jika
bukan menentang kebijakan rektor, ya menentang kebijakan pemerintah.
Tentang kuliahnya, Wimar mencoba ‘ngeles’. Ia menyebutkan tidak terlalu
suka elektro. Pelajarannya susah. Ia pun buka kartu, kuliah elektro
awalnya hanya gaya-gayaan. Tebukti bertahun-tahun kuliah betulin radio
saja tak bisa.
Rektor Prof Dodi Tisna Amidjaja menyebutkan kuliah Wimar pasti tak akan
pernah selesai jika tetap berada di ITB. Dodi memastikan, Wimar tidaklah
terlalu bodoh. Sang rektor bersedia merekomendasikan Wimar memperoleh
beasiswa ke luar negeri. Semua pihak akhirnya memberi rekomendasi.
Mungkin, kata Wimar, itu dimaksudkan supaya Wimar cepat-cepat meninggalkan
ITB dan Indonesia. Beasiswa Wimar berasal dari Asia Foundation, kuliah ke
George Washington University, AS.
Kepergian Wimar Witoelar adalah sebab sekaligus akibat. Walaupun
sebetulnya kedua peristiwa ini tidak nyambung. Wimar harus ke Amerika
tahun 1971 sebab kuliahnya tak lulus-lulus. Kata Wimar, tidak enak jika
tidak sampai selesai. Padahal Wimar sesungguhnya punya alasan lain: Sedang
jatuh cinta sehingga lebih memilih sekolah daripada terjun berpolitik
praktis. Karena harus ke Amerika, Wimar cepat-cepat menikah dengan
Suvatchara.
Suvatchara adalah anak kedelapan dari 10 bersaudara. Suvat hidup di
tengah-tengah keluarga intelektual yang secara ekonomis tergolong keluarga
berada. Setelah bertemu kedua kali dalam pelesiran politik di AS tahun
1970, keduanya sepakat berpacaran. Sebelum bersedia diajak menikah Suvat
mensyaratkan terlebih dahulu mau berkunjung ke negara yang hendak menjadi
negara dan tempat kediamannya, Indonesia.
Suvat kesampaian mengunjungi Jakarta. Ia dijemput di Bandara Halim
Perdanakusuma, setelah Wimar meminjam mobil sang kakak. Di tengah
perjalanan saat melintasi Jalan Sudirman mobil dihentikan. Wimar lalu
menyelipkan cincin polos pertunangan ke jari manis tangan kiri Suvat. Duit
pembelian cincin itu adalah hasil pinjaman dari Rachman Toleng.
Tiba di rumah, pertunangan Wimar-Suvat diresmikan sederhana. Hanya
dihadiri pihak keluarga Wimar dan tiga sahabat: Sjahrir, Dorojatun
Kuntjoro Jakti, dan Yanti Subianto. Kemudian, keduanya menikah pada 27
Februari 1971 di KBRI Bangkok.
Usai menikah, mereka berangkat ke Washington DC. Wimar meneruskan
pendidikan teknik elektro, Suvat mengambil spesialisasi ilmu syaraf, di
kampus sama, George Washington Universiuty. Wimar yang mahasiswa
kehormatan hasil transferan, itu berhasil menyelesaikan sisa pendidikan
S-1 teknik elektro satu setengah tahun saja, untuk meraih gelar Bachelor
of Science (BS) in Electrical Engineering. Dia banyak dapat nilai A. Di
kampus sama Wimar melanjutkan kuliah S-2 bidang Analisis System dan meraih
gelar MS in System Analysis tahun 1974. Tahun 1975 Wimar kembali meraih
gelar S-2 lain, MBA di bidang Keuangan dan Penanaman Modal.
Sambil kuliah, Wimar akrab dengan stasiun televisi. Ia nyambi rutin
memandu acara TVRI “Laporan dari Amerika”, hasil kerjasama Kedutaan Besar
RI di AS dan United Stated Information Service (USIS). Istrinya, spesialis
syaraf Suvatchara Witoelar bekerja sebagai dokter di rumah sakit setempat.
Kedua suami-isteri itu sama-sama capek, untuk cari uang dan mengerjakan
tugas-tugas rumah tangga. Mereka tidak menggunakan jasa pembantu. Karena
itu jika Suvat yang bekerja memasak dan menyeterika pakaian, giliran Wimar
yang mencuci pakaian dan membersihkan rumah. Jika Suvat mengurus asuransi
dan berbagai rekening tagihan, Wimar merawat dan memperbaiki peralatan
elektronik.
Sebagian hasil kerja sampingan Wimar dikirim ke Rachmat Witoelar sebagai
pembayaran utang yang dahulu banyak dipinjam. Terutama, untuk membayar
utang uang jajan selama Wimar kuliah di Bandung yang dibiayai Rachmat.
Wimar juga menitipkan uang untuk biaya membangun rumah di Bandung. Wimar
bercita-cita bersama Suvat bermukim di Bandung.
Calon Presiden 1978
Wimar dan Suvat kembali ke Indonesia tahun 1975. Mereka tinggal dahulu
bersama orangtua Wimar di Jalan Prapanca, Jakarta Selatan. Suvat tanpa
kesulitan mampu bergaul dan beradaptasi dengan keluarga besar Wimar yang
berpandangan luas. Kemudian, Suvat segera berganti kewarganegaraan.
Rumah Wimar di Jalan Cihampelas, Bandung, begitu selesai dibangun segera
ditempati. Wimar pun kembali ke kampus. Ia mengajar di almamaternya.
Uniknya, ia menjadi dosen ilmu manajemen pada program pascasarjana. Wimar
kembali ke kampus seolah untuk membuktikan tak bisa lulus dari ITB bukan
karena bodoh. Walaupun, dia mengaku, menjadi dosen karena suka ngomong
saja.
Wimar sesungguhnya pernah bercita-cita, kalau bisa bekerja di Bendungan
Jatiluhur. Namun setelah Wimar melihat sendiri, meninjau Jatiluhur ia
ketemu turbin melulu. Ia segera mengkoreksi cita-cita. Ia bingung, kalau
kerja di Jatiluhur mau ngomong sama siapa nantinya. Menyelesaikan teknik
elektro di George Washington University pun, itu sesungguhnya
dipaksa-paksakannya.
Begitu memasuki Kampus Ganesha kebiasaan lama berlanjut. Wimar kembali
rajin kumpul-kumpul dengan mahasiswa. Bedanya, Wimar kali ini adalah
dosen. Dosen baru yang mantan demonstran ini mengajar dengan gaya yang
santai, egaliter, tidak nge-bossy. Maka dia pun cepat menjadi dosen
favorit. Mahasiswa sering mengajaknya diskusi, rapat atau sekedar
ngobrol-ngobrol hingga main basket segala. Wimar merasakan dirinya menjadi
muda kembali.
Sebagai dosen favorit, Wimar adalah calon kuat Pembantu Rektor Urusan
Kemahasiswaan, di tahun 1977, ketika Iskandar Alisjahbana terpilih sebagai
rektor baru. Ia gagal terpilih karena kepentok status kepegawaiannya yang
masih golongan IIIA, menjadi dosen pun belum genap dua tahun.
Sebagai dosen yang akrab dengan mahasiswa, Wimar akrab pula dengan
dinamika kehidupan politik dunia kampus. Hal itulah yang akhirnya menjadi
awal kejatuhan Wimar sebagai dosen. Sebab Wimar menjadi lebih senang
bertukar pendapatnya daripada menjadi dosen. Sebagai dosen, Wimar
sebetulnya bagus, beberapa kali terpilih menjadi dosen teladan. Karena
kalau kuliah ia selalu datang, dan kalau ditanya selalu jawab. Karena
memang senang.
Tapi karena pelajaran yang diajarkan juga ilmu ekonomi, menyangkut hal-hal
yang sosial, jadilah Wimar terlibat dalam gerakan mahasiswa. “Ya, sebagai
orang yang ikut berpikir,” kata Wimar. Momentum awal pergerakan baru Wimar
terjadi di penghujung tahun 1977, menjelang Sidang Umum MPR 1978.
Menjelang Pemilu 1977, nama Wimar sesungguhnya sudah kembali masuk sebagai
caleg Golkar dari Bandung, kendati ia masih di Amerika ketika itu.
Dianggap Wimar masih dibutuhkan dan punya pengaruh yang layak dijual ke
massa pemilih.
Tapi tawaran itu ditampik. Ia melihat Soeharto yang akan dicalonkan
kembali, bahkan tampil sebagai calon tunggal presiden 1978-1983, sudah
terlalu lama memerintah 12 tahun. Langkah Soeharto sebagai pemimpin pun
dilihatnya sudah terlalu melenceng.
Wimar akhirnya ikut kecewa pula terhadap Golkar, organisasi politik yang
ikut dibentukannya yang kemudian mau saja dijadikan kendaraan politik oleh
Pak Harto.
Bersama mahasiswa ITB dan teman-teman angkatan tahun 1972 dan 1973, Wimar
mulai bergerak. Ia menentang pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden.
Ia membentangkan spanduk besar di gerbang Kampus Ganesha: “Tidak
Mempercayai Lagi Soeharto sebagai Presiden RI.” Sebagai bukti nyata
penolakan, agar Soeharto bukan calon tunggal, Wimar lalu ikut mencalonkan
diri sebagai calon presiden 1978.
Hasil gerakan itu jelas. Militer segera menyerbu demonstran, kampus
diduduki tiga bulan penuh, sejumlah pimpinan mahasiswa ditangkap. Wimar
adalah satu-satunya dosen yang ikut ditangkap. Kejadian penangkapannya
berlangsung di rumah. Wimar sedang ngobrol dengan seorang teman di ruang
tamu. Tiba-tiba saja truk rombongan tentara berhenti di depan rumah dan
menerobos masuk. Tidak lama, sekejap saja, Wimar sudah dibawa pergi. Ia
dimasukkan truk tanpa sempat berpesan ke istri yang sedang mengandung anak
kedua. Sementara, anak pertama, Satya, saat itu berusia dua setengah
tahun.
Pledoi Bawah Tanah
Wimar bersama mahasiswa yang ditahan membuat pledoi bawah tanah sebagai
pembelaan diri. Buku putih ini menjadi misterius sebab oleh penguasa
dilarang beredar.
Wimar tetap kukuh pada perjuangan politiknya. Ia tak perlu meminta bantuan
kepada kakaknya yang waktu itu sudah semakin mantap karirnya sebagai
petinggi Golkar.
Rachmat sendiri tak bisa berbuat apa-apa menyelamatkan adiknya, kecuali
sebatas meminta jaminan dari pihak-pihak tertentu agar sang adik
diperlakukan dengan wajar saja selama dalam tahanan. Enam bulan lamanya
Wimar mendekam dalam tahanan tanpa pernah diproses verbal.
Peristiwa ini lama membekas. Menjelang Pemilu berikutnya nama Rachmat
Witoelar pernah dicoret dari daftar calon tetap anggota legislatif. Alasan
pencoretan, dikatakan ada keberatan masyarakat Jawa Barat, Rachmat tak
bersih lingkungan. Wimar, adik Rachmat, pernah bikin onar di Bandung.
Persoalan ini sampai juga ke tangan Pak Harto. Pak Harto membandingkan
persoalan itu seperti antara Mayor Jenderal S. Parman pahlawan revolusi,
dengan Sukirman anggota CC PKI yang kakak-adik. Jadi, antara Rachmat dan
Wimar pun kata Pak Harto nggak ada masalah. Nama Rachmat akhirnya tetap
melaju bahkan hingga terpilih sebagai Sekjen Golkar 1988-1993.
Wimar akhirnya bisa melihat kali ini Pak Harto bisa bersikap bijaksana.
Walaupun Wimar dalam nada canda menjadi bingung, dalam hal ini siapa yang
PKI, siapa yang pahlawan di antara mereka berdua.
Menjadi Wirawasta di Jakarta
Wimar tercatat mengajar di almamaternya hanya antara tahun 1975-1982,
sebagai Dosen Pasca Sarjana Program Transportasi ITB dan Dosen Magister
Manajemen dan Bisnis Administrasi Teknologi ITB. Di tingkat S-1, lulusan
teknik elektro ini malah disuruh mengajar di Jurusan Teknik Industri.
Wimar dan istri boyongan pindah ke Jakarta. Wimar berhenti menjadi dosen
di Bandung. Statusnya sebagai pegawai negeri digantikan istri yang dokter
spesialis syaraf, di RSCM Jakarta. Suvat pindah ke RS Fatmawati Jakarta
Selatan untuk menjabat Kepala Bagian Syaraf. Sebelum akhir hayat, Suvat
tetap berpraktek di paviliun rumahnya yang asri, di Jalan Madrasah,
Cipete, Jakarta Selatan. Suvat juga menangani pasien di RS Pondok Indah,
Jakarta Selatan.
Di Jakarta, Wimar mencoba berbagai profesi. Ceritanya, ia menjadi
wiraswasta. Wimar pernah dan masih memimpin sejumlah perusahaan. Wimar
pernah menjadi konsultan, pengusaha real estate, keuangan, jual beli
komputer, pelayanan audio visual yang menyuplai film ke sejumlah stasiun
TV asing, termasuk mendirikan perusahaan modal ventura namun harus bubar
karena seorang partner bisnisnya keburu menjadi menteri. Lain-lain usaha
juga diterjuni Wimar.
Di Jakarta, Wimar juga pernah menjadi dosen tamu di Institut Manajemen
Prasetya Mulya (1982-1993). Ia juga pernah Direktur Eksekutif Summa
Exellence Institute (1990-1991). Karena ketika masih menjadi dosen ITB,
Wimar sudah nyambi sebagai konsultan manajemen, pas keluar dari ITB
profesi konsultan secara pribadi itu diteruskan dengan menggunakan bendera
perusahaan orang lain. Klien utamanya antara lain Bank Dunia dan ADB.
Menggunakan bendera perusahaan orang lain, kendati dibayar, akhirnya Wimar
berpikir mendingan bikin bendera sendiri. Berdirilah PT InterMatrix Bina
Indonesia, di tahun 1986, untuk mengerjakan sejumlah studi dan konsultansi
manajemen.
Lalu sekoyong-koyong saja, Wimar sejak tahun 1994 masuk televisi
membawakan acara talkshow “Perspektif”. Dukungan masyarakat terdahap acara
itu cukup mengagetkan Wimar. Pekerjaan konsultannya di InterMatrix Bina
Indonesia sempat menjadi terbengkalai. Bahkan, satu dua tahun pernah nggak
punya uang.
Wimar lalu melihat peluang pekerjaan baru. Ia bisa melakukan jasa public
relation (PR). Ia lalu membikin perusahaan PR PT InterMatirx
Communication, bergerak di bidang komunikasi. Sedangkan PT InterMatrix
Bina Indonesia tetap sebagai perusahaan konsultan manajemen.
InterMatrix Communication semakin serius ditekuni Wimar selepas tugas
profesional kenegaraannya sebagai Juru Bicara Kepresidenan. Perusahaan
yang memiliki tak kurang 25 tenaga prosesional ini memiliki sejumlah klien
besar. Jasanya antara lain melakukan public relation dan komunikasi untuk
perusahaan-perusahaan, orang-orang dan isu-isu. Wimar beruntung pernah
menjadi demonstran dengan kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan
sebagai komunikator itulah yang dikelolanya menjadi business entity baru
yang menjanjikan.
Serba mengagetkan, memang. Sama kagetnya dengan kepercayaan Deakin
University, Asutralia, yang mengangkat Wimar Witoelar menjadi Guru Besar
bergelar Profesor di bidang Jurnalis dan Public Relation, setelah tahun
2002 Wimar hadir di situ sebagai dosen tamu.
►e-ti/ht-ms
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|