| |
C © updated 12012005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/dok kel |
|
| |
Nama:
Muhammad Saleh Werdisastro
Lahir:
Sumenep, 14 Mei 1908
Agama:
Islam
Isteri:
Raden Ayu Mastura
Anak-Menantu:
1. Ir. Muhammad Mansur Werdisastro - Su'udiyah, BA
2. Kolonel TNI (Purn) Drs. Muhammad Ilyas Werdisastro – Roostien Iljas
3. DR. Drs. Muhammad Muhtadi Werdisastro - Tarlina
4. Farida, BA - Drs. Marjanto Danusaputro
5. Prof. DR. Badriyah Rifai, SH. - Prof. Dr. Achmad Rifai
Amirudin,Sp.PD,KGEH
Pendidikan:
1930 : Hogere Kweekschool (HKS)
Sumbangsih bagi Dunia Pendidikan:
1. Turut andil sebagai salah seorang pendiri Universitas Gadjah
Mada, Yogya
2. Turut andil sebagai salah seorang pendiri Universitas Surakarta, Solo
3. Turut andil sebagai salah seorang pendiri Universitas Magelang.
Karir:
1930 : Pengajar pada Gourverments Hollands Inlandse School (HIS)
1931 : Particulere Hollands Inlandse Schoold Soemekar Pangabroe Sumenep
1931 : Ketua Hisbul Wathon (HW) Madura
1941 : Pengajar Gesubsidieerde Inheemse MULO Muhammadiyah Yogyakarta
1943 : Dai Dancho Dai Dang II Yogyakarta
1945 : Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Yogyakarta yang
pertama
1945 : Anggota Dewan Penasehat Tentara Nasional Indonesia
1950 : Wakil Walikota Yogyakarta
1951 : Walikota Surakarta
1959 : Residen Kedu di Magelang
1962 : Residen Kedu dengan pangkat Gubernur
|
|
| |
|
|
|
|
Werdisastro, Muhammad Saleh
Residen Kebanggaan Muhammadiyah
Berkat sumbangsihnya di dunia pendidikan, militer dan pemerintahan, nama,
gambar dan foto dirinya diabadikan sebagai pahlawan perintis kemerdekaan
dalam satu ruang tersendiri di Museum Monumen Yogya. Aktivis
Muhammadiyah ini pernah mendirikan sekolah, berjuang bergerilya bersama
Jenderal Soedirman, menjadi salah seorang pendiri Universitas Gajah Mada,
walikota dan residen berpangkat gubernur. Bahkan namanya dijadikan nama
jalan yang terletak di daerah Banjarsari Kota Surakarta.
Muhammad Saleh Werdisastro adalah pria Madura kelahiran Sumenep 14 Mei
1908, putra dari cedekiawan R. Musaid penyusun Buku Babad Sumenep. Sang
ayah kemudian dianugerahi sejumlah uang (gulden) dan gelar Werdisastro (werdi
= memberi arti, sastro = sastra) oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Naskah Babad Sumenep diterbitkan menjadi buku oleh Balai Pustaka pada
tanggal 15 Pebruari 1914 (buku tersebut masih menggunakan bahasa Madura
huruf Jawa). Sejak mengeluarkan buku yang banyak menggunakan simbol dan
kiasan untuk mengobarkan semangat anti-penjajahan atau anti-kompeni, R.
Musaid terkenal dengan nama R. Werdisastro. Untunglah Belanda tidak
menangkap makna sebenarnya dari buku itu, malah memberikannya
penghargaan.
Untuk memasyarakatkan Babad Sumenep, sang ayah berencana hendak menyusun
ulang buku itu dengan menguraikan kiasan atau simbolnya menjadi arti
sebenarnya sejalan dengan sejarah. Namun manusia boleh berencana, Allah
jua yang menentukan. Sampai wafatnya pada tahun 1955, rencana sang ayah
tidak terlaksana.
Semasa hidupnya, sang ayah tertarik dengan ajaran Muhammadiyah dan
mendirikan Muhammadiyah cabang Sumenep karena kedekatannya dengan Ketua
Umum Muhammadiyah, Kyai Haji Mas Mansur yang kemudian memberikan bantuan
tenaga pengajar kepada Muhammadiyah cabang Sumenep.
Memajukan Pendidikan
Muhammad Saleh Werdisastro menamatkan sekolahnya tanggal 15 Mei 1930 di
Hogere Kweekschool (HKS) yang dijalani di Purworejo 1 tahun dan di
Magelang 2 tahun. Saat itu ia merupakan aktivis Muhammadiyah dan Boedi
Oetomo. Setelah tamat HKS, ia diangkat menjadi guru Gouvernements
Hollands Inlandse School (HIS) di Rembang mulai 1 Juni 1930.
Merasa cukup bekerja kepada pemerintah Hindia Belanda selama 1 tahun,
dia pun minta berhenti. Tanggal 30 Juli 1931, Muhammad Saleh Werdisastro
resmi diberhentikan dengan hormat dan kembali ke Sumenep sesuai
cita-citanya untuk memajukan pendidikan di daerah kelahirannya.
Pada 1931, di Sumenep hanya ada 1 sekolah Hollands Inlandse School (HIS)
yang hanya boleh dimasuki anak-anak Belanda, ningrat atau priyayi serta
anak-anak orang kaya. Melihat hal itu Muhammad Saleh Werdisastro
tergerak hatinya untuk mendirikan sekolah semacam HIS yang dapat
dimasuki anak-anak dari lapisan atas sampai lapisan bawah, dari yang
kaya sampai yang paling miskin sekalipun, dengan menggunakan biaya
sendiri.
Berbagai persiapan mulai dari pembelian sebidang tanah di Karembangan
berserta dengan bangunan sekolahnya, sampai dengan menyiapkan guru-guru
yang diperkirakan setara dengan guru-guru HIS. Guru-guru tersebut antara
lain dikenal dengan nama Meneer Ahmad, Meneer Badroel, Meneer Perwira
dan lain-lain.
Setelah beberapa bulan persiapan, maka pada tanggal 31 Agustus 1931
diresmikan sekolah dengan nama Particulere Hollands Inlandse School (PHIS)
Soemekar Pangabroe Sumenep dengan kepala sekolahnya Meneer Muhammad
Saleh Werdisastro.
Sejak itu masyarakat Sumenep yang terdiri dari anak-anak orang
kebanyakan, laki-laki maupun perempuan, kaya atau miskin dari semua
lapisan masyarakat dapat diterima menjadi murid di sekolah tersebut.
Particulere Hollands Inlandse School (PHIS) Soemekar Pangabroe Sumenep
yang berdiri taangal 31 Agustus 1931 ternyata mendapat sambutan di luar
dugaan. Anak-anak dari berbagai golongan terutama dari golongan miskin
dapat bersekolah setingkat dengan sekolah Belanda dimana kelas 3 mulai
diberi pelajaran bahasa Belanda, selanjutnya pada kelas 6 dan kelas 7,
guru-gurunya memberi pelajaran dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda.
Rasa kebangsaan ditanamkan pada para murid terekspresikan dengan
dilantunkannya lagu-lagu perjuangan setiap hari, terutama lagu Indonesia
Raya. Akibatnya dalam suatu inspeksi Residen Madura ke PHIS, Muhammad
Saleh Werdisastro mendapat teguran karena murid PHIS tidak dapat
menyanyikan lagu Wilhelmus.
Selama berdirinya PHIS, murid-murid laki-laki pada umumnya dapat
menamatkan sekolahnya, namun lain halnya dengan murid-murid perempuan.
Hampir semua murid perempuan sekolahnya berhenti di tengah jalan karena
dikawinkan oleh orang tuanya.
Di sela-sela kesibukannya mengurus Sekolah PHIS Soemekar Pangabru
Sumenep, Muhammad Saleh Werdisastro juga menjadi Ketua Hisbul Wathon
(HW) Madura yaitu perkumpulan kepanduan atau pramuka yang bernaung di
bawah Muhammadiyah. Dia juga masih bisa menyisihkan waktu untuk
memperdalam agama Islam di pondok-pondok pesantren yang tersebar di
pulau Madura.
Selama 5 tahun berguru dari kyai yang satu ke kyai yang lainnya,
masing-masing kyai menyatakan bahwa Muhammad Saleh Werdisastro telah
lulus dari pesantrennya. Rupanya bekal pengetahuan agama Islam tersebut
selalu digunakan sebagai referensi dalam langkah-langkah mengarungi
kehidupan selanjutnya.
Setelah 11 tahun Muhammad Saleh Wardisastro memimpin sekolah PHIS
Soemekar Pangabru Sumenep, dia mulai berfikir tentang kaderisasi
pengelolaannya kepada putra-putra Sumenep. Maka pada tanggal 1 September
1941 dia menyerahkan jabatan Kepada Meneer Badroel dan Muhammad Saleh
Werdisastro sekeluarga pindah ke Yogyakarta untuk lebih membaktikan
dirinya pada Muhammadiyah.
Menjadi Tentara
Sejak itu beliau menjadi guru Gesubsidieerde Inheemse MULO Muhammadiyah
Yogyakarta. Kegiatan mengajar di MULO Muhammadiyah itu berlangsung
sampai tentara Dai Nippon menduduki Indonesia. Sewaktu calon-calon
pemimpin Tentara Pembela Tanah Air (PETA) dicarikan dari tokoh-tokoh
Muhammadiyah oleh pemerintah Dai Nippon, terpilih Muhammad Saleh
Werdisastro bersama tokoh-tokoh Muhammadiyah yang lainnya seperti
Soedirman (kemudian menjadi Panglima Besar TNI), Kyai Muhammad Idris,
Kyai Doeryatman, Soetaklaksana, Kasman Singodimejo, Moelyadi
Djojomartono, dan lain-lain.
Pada tanggal 31 Agustus 1943, ia mulai menjalani pekerjaan militer
sebagai Dai Dancho Dai Dang II Yogyakarta (dai dancho = mayor) bermarkas
di Bantul yang tertelak di selatan kota Yogyakarta. Tentu saja sebagai
orang Muhammadiyah dia banyak merekrut orang Muhammadiyah untuk masuk
PETA.
Pada waktu itu Muhammad Saleh Werdisastro mendapat berita dari Sumenep
bahwa gedung sekolah PHIS Soemekar Pangabru diambil alih dan dijadikan
markas Tentara Jepang. Dengan rasa kecewa yang mendalam namun tetap
tegar, Muhammad Saleh Werdisastro yakin bahwa suatu saat nanti sekolah
itu pasti dapat hidup kembali.
Rupanya keyakinannya itu, yang diucapkan pada tahun 1943 akhirnya
menjadi kenyataan juga. Anak tertuanya Ir. Muhammad Mansur Werdisastro
mempelopori mewujudkan kembali cita-cita ayahnya dengan cara memberikan
bantuan berupa tanah berikut bangunan sekolah di Panglegur Sumenep
kepada Muhammadiyah sebagai ganti bangunan sekolah SMU Muhammadiyah.
Ketua Komite Nasional Indonesia Yogyakarta
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945,
Tentara PETA dibubarkan dan bekas perwira-perwiranya tampil ke depan
memegang posisi penting dalam pemerintahan Republik Indonesia. Muhammad
Saleh Werdisastro tak terkecuali.
Pada tanggal 1 September 1945 beliau diangkat menjadi Ketua Komite
Nasional Indonesia (KNI) daerah Yogyakarta yang pertama. Kemudian pada
tanggal 1 Juni 1946 dia juga diangkat sebagai anggota KNI Pusat.
KNI daerah dan KNI Pusat ini adalah cikal bakal yang di kemudian hari
menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).
Pada bulan Oktober 1945, tentera Jepang di Yogyakarta belum juga mau
menyerahkan senjatanya kepada Pemerintah RI. Dalam suasana genting
dengan tentara Jepang, Muhammad Saleh Werdisastro ditunjuk sebagai Ketua
Team Perundingan Perlucutan Senjata antara Pemerintah Republik Indonesia
dengan Tentara Jepang di Yogyakarta. Perundingan ini tidak membuahkan
hasil yang memuaskan kedua belah pihak sehingga pecah insiden yang
terkenal dengan Pertempuran Kotabaru di Yogyakarta.
Muhammad Saleh Werdisastro yang juga menjadi ketua Laskar Rakyat, Ketua
Barisan Banteng dan Ketua Hisbullah juga ikut memimpin barisan yang
akhirnya menjadi anggota Dewan Penasehat Tentara Nasional Indonesia yang
anggota-anggotanya terdiri dari kalangan militer, politikus, dan
pemimpin agama. Dalam dewan itu ia duduk bersama-sama dengan tokoh agama
Islam yang lain seperti Harsono Tjokroaminoto, Didi Kartasasmita. Ia pun
ikut bahu membahu dengan pasukan yang lain dalam Pertempuran Ambarawa
yang dipimpin oleh Jenderal Soedirman.
Pada waktu terjadi pemberontakan PKI Madiun yang terkenal dengan Affair
Madiun tahun 1948, dia ikut membentuk Tentara Nasional Indonesia dan
Polisi Negara Daerah Yogyakarta. Muhammad Saleh Werdisastro sebagai
orang Muhammadiyah menginginkan orang-orang Muhammadiyah ikut berperan
dalam tubuh TNI dan Polisi Negara.
Hal itu dilaksanakan dengan menyumbangkan 2 batalyon Barisan Hisbullah
ke dalam TNI dan Polisi Negara Daerah Yogyakarta. Perjuangannya terus
berlanjut sampai terjadi clash ke-2 tahun 1948 dimana Yogyakarta sebagai
Ibu Kota Republik Indonesia waktu itu diserang dan diduduki Belanda yang
menyerbu dengan menggunakan Tijger Brigade. Bung Karno, Bung Hatta, Bung
Syahrir, Mr Muhammad Roem serta pemimpin-pemimpin lainnya ditangkap
Belanda.
Panglima Besar Soedirman keluar kota Yogyakarta untuk memimpin gerilya
melawan Belanda. Demikian pula beberapa menteri Republik Indonesia
seperti Dr. Soekirman, Soepeno, J. Kasimo, dan Mr. Soesanto Tirtoprojo.
Muhammad Saleh Werdisastro yang waktu itu menjabat Penasehat Mendagri
Dr. Soekirman, dengan pangkat Letnan Kolonel TNI, ikut keluar kota,
bergerilya di daerah Yogyakarta, kadang-kadang di daerah Surakarta dan
Madiun.
Ia juga pernah mengikuti Panglima Besar Soedirman bergerilya dari
Trenggalek sampai Pakis di Pegunungan daerah Pacitan. Setelah Yogyakarta
kembali ke Republik Indonesia, Muhammad Saleh Werdisastro pada tanggal
15 Oktober 1949 ditunjuk duduk dalam perwakilan Dewan Penasehat Delegasi
Republik Indonesia di Joint Committee. Setelah itu, dia tidak
melanjutkan karier dalam militer lagi. Dia lebih memilih berkarir dalam
bidang pamong praja samabil meneruskan idealismenya sebagai pendidik dan
aktivis Muhammadiyah.
Rupanya perjuangan Muhammad Saleh Werdisastro sebagai Perintis
Kemerdekaan tahun 1945 mendapat penghargaan dari Pemerintah Republik
Indonesia dengan mengabadikan nama, gambar, atau foto dirinya serta
barang-barang peninggalan waktu menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia
Yogyakarta yang pertama dalam satu ruang tersendiri di Musium Monumen
Yogya Kembali.
Pamong Praja
Karier Muhammad Saleh Werdisastro dalam pamong praja dimulai sebagai
Wakil Walikota Yogyakarta pada tanggal 1 Pebruari 1950. Sebagai Wakil
Walikota dia aktif di Majelis Tanwir Muhammadiyah Pusat di Yogyakarta.
Di samping itu dia juga ikut sebagai salah seorang pendiri Universitas
Gajah Mada.
Mulai tanggal 1 Agustus 1951 sampai dengan tanggal 17 Pebruari 1958 (dipilih
untuk 2 periode) Muhammad Saleh Werdisastro menjabat sebagai Walikota
Surakarta. Pada masa itu di samping tetap sebagai anggota Majelis Tanwir
Muhammadiyah Pusat, juga mulai giat sebagai mubaliq mengadakan dakwah
atau ceramah agama Islam di berbagai tempat di Jawa Tengah dan
Yogyakarta. Di bidang pendidikan dia mempelopori berdirinya Universitas
Surakarta dan ikut aktif sebagai pengurus IKIP Muhammadiyah Surakarta
bersama Drs. Sosrodiningrat dan Prof. Sigit.
Warga Surakarta rupa-rupanya terkesan dengan kepemimpinan Walikota
Muhammad Saleh Werdisastro, sehingga untuk mengenang jasa-jasanya warga
Surakarta mengabadikan namanya menjadi nama jalan dengan nama jalan
Muhammad Saleh Werdisastro, terletak di daerah Banjarsari Kota Surakarta.
Pada tanggal 29 Pebruari 1959, Muhammad Saleh Werdisastro diangkat
menjadi Residen Kedu berkedudukan di Magelang. Untuk mengantisipasi
pengaruh komunisme dalam militer, Muhammad Saleh Werdisastro secara
tetap memberikan ceramah atau kuliah agama Islam di Akademi Militer
Nasional (AMN) Magelang. Dalam bidang pendidikan dia memelopori
berdirinya Universitas Magelang, bahkan sebelum adanya gedung yang
memadai, kegiatan Universitas dan kuliah-kuliah dilaksanakan di Aula
Keresidenan Kedu.
Muhammad Saleh Werdisastro mengakhiri karirnya sebagai pamong praja
setelah pensiun sebagai Residen Kedu pada tahun 1964 dengan pangkat
Gubernur. Dia pada akhir jabatannya sebagai residen sempat sakit dan
dirawat di Rumah Sakit Tentara Magelang. Menurut tim dokter yang
diketuai Brigjen TNI Parsono, Muhammad Saleh Werdisastro dinyatakan
menderita sakit kanker lever dan usianya di perkirakan tidak lebih dari
1 tahun.
Pada tahun 1965 dia sekeluarga pindah ke Yogyakarta untuk menjalani masa
pensiun disertai advis dari tim dokter agar banyak beristirahat. Namun,
dia tidak mau berhenti berkarya. Ia masih terus melakukan kegiatan di
Majelis Tanwir Muhammadiyah, dakwah agama Islam, ceramah, dan mengajar
di universitas.
Bahkan dia bersama teman-teman Muhammadiyah mengelola Harian Mercusuar
Yogyakarta. Dia memang seorang pejuang yang penuh dengan ide-ide dan
dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Pikiran-pikirannya cemerlang
dan diusahakannya untuk menjadi kenyataan. Namun kegiatan-kegiatannya
yang meningkat rupanya tidak didukung kesehatan badannya yang mulai
digerogoti penyakit lamanya.
Muhammad Saleh Werdisastro kembali jatuh sakit dan pada tahun 1966 dia
wafat karena penyakit kanker levernya yang semakin parah. Dia sempat
beberapa hari dirawat di Rumah Sakit PKO Muhammadiayah Yogyakarta.
Jenazahnya dimandikan oleh warga Muhammadiyah, dan kerandanya ditutup
dengan kain berlambang Muhammadiyah.
Ketika pihak militer meminta jenazah Muhammad Saleh Wwerdisastro untuk
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta karena alamarhum
memiliki Bintang Gerilya, pihak Muhammadiyah menolak karena Muhammad
Saleh Werdisastro begitu besar jasanya kepada Muhammadiyah sehingga
untuk menghormatinya, jenazah beliau dimakamkan berdampingan dengan
pendiri Muhammadiyah lainnya, Kyai Haji Achamad Dahlan di pemakaman
Karangkajen Yogyakarta.
Warga Muhammadiyah benar-benar kehilangan dan berkabung. Jalan-jalan
sekitar kediamannya penuh dengan warga Muhammadiyah berbaur dengan massa
yang lain. Ribuan pelayat mengiringi jenazah Muhammad Saleh Werdisastro
yang dipikul secara bergantian oleh warga Muhammadiyah sepanjang jalan
Malioboro, Yogyakarta kurang lebih 2 km menuju Masjid Besar Alun-alun
Utara Yogyakarta untuk disalatkan.
Toko-toko di sepanjang jalan yang dilalui jenazah banyak yang
menyediakan minuman di depan tokonya untuk diminum para pelayat. Di
antara pelayat yang berjalan kaki terdapat Ketua Umum Muhammadiyah Kyai
Haji Achmad Badawi, Pangdam Diponegoro Mayor Jenderal TNI Soerono,
Komandan Korem Yogyakarta Kolonel TNI Leo Ngali serta pejabat-pejabat
lainnya dari Yogyakarta, Surakarta, Magelang, dan Semarang. Semua
kendaraan menepi memberi jalan bagi jenazah beserta ribuan pelayat.
Setelah dishalatkan, jenazah dipikul lagi sekitar 2 km menuju Pemakaman
Karangkajen. Ribuan pelayat dengan dipandu warga Muhammadiyah membaca
doa membesarkan nama Allah sepanjang jalan, di pemakaman Karangkajen,
ribuan pelayat mengaminkan doa Sang Iman, memohonkan ampun kepada Allah
SWT serta memberikan penghormatan terakhir kepada seorang hamba Allah
bernama Muhammad Saleh Werdisastro yang selama hidupnya mengabdikan
dirinya kepada negara, bangsa, dan agama Islam khususnya Muhammadiyah.
Menikahi Perempuan yang Rela Berkorban
Muhammad Saleh Werdisastro menikah dengan seorang gadis bernama R. Ayu
Masturah, putri seorang opsir Kesultanan Sumenep bernama R. Setjodipoero.
Pasangan muda ini ternyata mempunyai keinginan untuk memajukan bangsanya.
R. Ayu Masturah yang hanya lulusan Sekolah Angka dua mendapat bimbingan
dari suaminya Muhammad Saleh Werdisastro sehingga mampu sejajar atau
wanita lainnya dalam pergaulan antar istri pejabat atau petinggi lainnya.
Ia juga aktif dalam kegiatan-kegiatan ibu-ibu yang tergabung dalam
Aisyah. Dia dapat menjadi contoh ibu teladan yang dengan setia dan penuh
pengorbanan mendampingi suaminya dalam perjuangan menegakkan Kemerdekaan
Republik Indonesia.
Dengan 5 anak yang masih belum dewasa, dia rela ditinggal suami di
Yogyakarta, karena sang suami harus berjuang, bertempur sampai
bergerilya melawan penjajah Belanda dari tahun 1945 sampai tahun 1950.
Sebagai isteri seorang pejuang kemerdekaan, R. Ayu Masturah sering
mendapat teror dan diancam akan dibunuh sekeluarga. Maka dari itu,
berdasarkan pertimbangan bersama teman-teman Muhammadiyah, dia beserta
keempat anaknya mengungsi ke kampung Kauman Yogyakarta yang mayoritas
penduduknya warga Muhammadiyah dan pejuang-pejuang kemerdekaan.
Sedang anak sulungnya bernama Muhammad Mansyur yang waktu itu berusia 15
tahun, dijemput anak buah ayahnya untuk bergabung bergerilya melawan
penjajah Belanda keluar kota Yogyakarta. Di bidang pendidikan R. Ayu
Masturah berprinsip bahwa anak-anaknya tidak lepas dari pendidikan
Muhammadiyah. Karena itu, ia menyekolahkan anak-anaknya di tingkat
pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Muhammadiyah.
R. Ayu Masturah juga menampung kemenakan-kemenakannya dan kemenakan
suaminya bahkan beberapa cucu untuk disekolahkan sampai tamat SMA atau
setingkat. Untuk itu dia tidak segan-segan mengorbankan harta benda atau
barang berharganya demi tercapainya pendidikan yang dicita-citakan.
Kemauan berkorban dan kegigihan dalam mendorong dan mendukung perjuangan
suami di segala bidang, terutama dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan
Republik Indonesia, menjadi contoh dan sumber inspirasi bagi keluarga
besar Muhammad Saleh Werdisastro yang terdiri dari anak dan menantunya
yaitu: Ir. Muhammad Mansur Werdisastro beserta isteri Su’udiyah, BA,
Kolonel TNI (Purn) Drs. Muhammad Ilyas Werdisastro beserta isteri
Roostien Iljas, DR. Drs. Muhammad Muhtadi Werdisastro beserta isterinya
Ajeng Tarlina, Farida, BA. beserta suami Maryanto Danoesapoetro, SE, dan
Prof. DR. Ny. Badriyah Rifai, SH beserta suami Prof. Dr. Achmad Rifai
Amirudin, SpPd., KGEH. ► e-ti/mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|