| |
C © updated 24032006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Dr Vennetia Ryckerens Danes
Lahir:
Manado, 27 Maret 1962
Suami:
Mochtar Siby
Anak:
Nicky (18) dan Victoria (15)
Ayah:
Jan FA Danes
Ibu:
Beatrice Adeleida Tirayoh
Pendidikan:
- S1 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat)
Manado
- S3 Fakultas Kedokteran Universitas Melbourne, Victoria, Australia,
disertasi berjudul ”Cardiomyocyte Calcium and pH Regulation in Primary
Cardiac Hypertrophy”
Pekerjaan:
Peneliti dan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
(Unsrat) Manado
Penghargaan:
Telah menerima tujuh award dari berbagai lembaga internasional
|
|
| |
|
|
|
|
| VENNETIA HOME |
|
|
 |
Vennetia Danes
Peneliti Berkelas Dunia
Vennetia Ryckerens Danes membuat dua pemegang Nobel kedokteran dari
Max Plank Institute (Jerman), Prof Bert Sakmann dan Prof Erwin Neher,
berdecak kagum. Kedua guru besar itu tidak menduga dokter kelahiran
Manado, 27 Maret 1962, ini menyimpan potensi sebagai peneliti berkelas
dunia.
Ketika menyaksikan penelitian yang sangat rumit yang dilakukan dokter
lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado
itu, selain terkagum-kagum, Bert Sakmann juga dengan terus terang
menyatakan rasa bangganya. Terutama ketika Prof Sakmann ikut mencarikan
jalan keluar saat teknologi patch clamping yang digunakan dalam
penelitian Vennetia tidak mampu mengeluarkan data yang dibutuhkan.
Alat atau teknologi patch clamping temuan Sakmann dan Erwin Neher, yang
mengantarkan kedua ahli kenamaan itu berhak atas hadiah Nobel bidang
kedokteran, ternyata saat digunakan Vennetia sempat tidak berfungsi.
Padahal, saat digunakan Sakmann dan Neher, teknologi itu berhasil
meneliti sel-sel saraf guna mendapatkan solusi atas penyakit epilepsi.
Alat itu pula yang digunakan oleh Vennetia untuk meneliti sel-sel
jantung. Vennetia hampir frustrasi ketika berbulan-bulan di laboratorium
ia tidak menemukan apa-apa, padahal teknologi tersebut sudah
menghasilkan Nobel bagi penemunya.
Waktu itu di suatu malam di Melbourne, Australia, ujar Vennetia,
tepatnya pukul 23.00, dia keluar dari laboratorium untuk menghirup udara
segar. ”Istirahat sejenak karena kebetulan peralatannya tidak bisa
mengeluarkan data apa-apa. Di sebelah ruangan lab saya tampak Prof
Sakmann, guru besar tamu kehormatan pembimbing saya masih aktif bekerja.
Saya kemudian memberanikan diri memasuki ruangannya dan menjelaskan
kebuntuan di lab saya. Ternyata Prof Sakmann malah mau mendatangi lab
saya dan menerangkan banyak hal,” kata Vennetia yang telah
memublikasikan 10 jurnal ilmiah internasional.
Keduanya berdiskusi sambil mengutak-atik sejumlah sel jantung yang masih
hidup. Upaya pemecahan kebuntuan itu berlanjut hingga sehari penuh
esoknya. Sakmann juga mengakui, penelitian sel-sel jantung dengan
menggunakan alat patch clamping jauh lebih rumit ketimbang meneliti
sel-sel saraf.
”Esoknya seluruh departemen gempar karena pagi-pagi benar, sekitar pukul
08.00, si Nobel sudah duduk langsung di lab saya, menerangkan sambil
menggambar desain struktur alat baru yang akan diorder,” ujar Vennetia.
Prof Sakmann sendiri mengantar Vennetia turun ke lantai basement di
workshop untuk memesan alat yang sudah didesain sendiri oleh Sakmann.
Sepanjang hari itu Sakmann menyisihkan waktu untuk memecahkan persoalan
yang dihadapi Vennetia.
Menurut Venne, panggilan akrab Vennetia, lewat teknologi patch clamping,
aktivitas ion yang masuk keluar pada sel saraf neuron pada penderita
epilepsi bisa diukur. Penemuan teknik itu telah membawa revolusi sangat
berarti di bidang kedokteran, terutama di bidang sel, molekul, dan
elektrofisiologi. Teknik ini dapat mengukur voltase, aliran listrik,
serta aplikasi molekuler lainnya terhadap sel mulai dari ujung rambut
sampai ujung kuku, termasuk sel jantung.
Vennetia, istri tercinta dari Mochtar Siby, dosen Fakultas Teknik
Unsrat, mengatakan, melalui teknologi itu pula ia melahirkan terobosan
dalam penelitian bidang molecular and cellular cardiology yang kemudian
mengantarkannya menemukan channel baru penyebab lain pembesaran dan
kegagalan jantung. Lewat temuan itu pula, ibu dua anak, Nicky (18) dan
Victoria (15), itu berhak atas gelar doktor setelah mempertahankan
disertasinya berjudul ”Cardiomyocyte Calcium and pH Regulation in
Primary Cardiac Hypertrophy” pada Fakultas Kedokteran Universitas
Melbourne, Victoria, Australia.
”Channel” baru
Channel baru penyebab pembesaran dan kegagalan jantung itu disebut LVACC
(low voltage activated calcium current) di membran sel jantung yang
mengatur masuk keluar kalsium di sel jantung dan juga mengatur ritme
jantung. Sebelumnya (pada penemuan lebih dulu oleh ilmuwan lain), untuk
masuknya kalsium di sel jantung kebanyakan melalui calcium channel tipe
L dan sebagian kecil melalui tipe T dan sodium calcium exchanger yang
ada di membran sel.
Ternyata, kata Vennetia, pada kasus penderita jantung membesar dan
kegagalan jantung ditemukan kelainan aktivitas LVACC yang memengaruhi
faktor arrhythmia (atau ketidakberaturan irama jantung). Protein-protein
lain di membran, seperti Na/H exchanger (yang mengatur antara lain pH
sel jantung), L dan T-type calcium channels serta sodium-calcium
exchanger (yang mengatur mekanisme kerja kontraktilitas jantung), juga
berubah. Akibatnya, itu memengaruhi perkembangan penyakit jantung
membesar yang selanjutnya menuju ke kegagalan jantung.
Didapatkan pula, lanjut Vennetia, bahwa perbedaan pengaturan terhadap
asam dan ion kalsium yang memengaruhi respons kontraktilitas dan
elektikal dari sel-sel otot jantung ditentukan oleh faktor genetika yang
mendasari setiap model pembesaran jantung. Menurut Vennetia, dari
tingkat molekuler dan seluler penemuan kelainan pengaturan ionik di
jantung sel ini akan dapat memberikan kontribusi pemahaman mekanisme
kerja jantung pada keadaan patologis, yakni pada saat jantung membesar
dan perjalanannya ke arah kegagalan memompa.
Anak ketiga dari empat bersaudara keluarga Jan FA Danes dan Beatrice
Adeleida Tirayoh ini mengungkapkan, sedikitnya 20 profesor kenamaan
dunia di bidang jantung sempat bekerja sama dan jadi mitra diskusinya.
Dengan mereka, Vennetia berjanji akan bekerja sama meneruskan
penelitiannya.
Mungkinkah suatu saat dapat Nobel? ”Saya bekerja bukan untuk mendapat
Nobel, tetapi untuk kemanusiaan meskipun beberapa mitra saya sudah
mengatakan, ’Venne, Anda telah memulai sesuatu yang besar di bidang
kedokteran’,” kata penerima tujuh award dari berbagai lembaga
internasional itu. (Freddy Roeroe, Kompas, 24 Maret 2006) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|