| |
C © updated
02032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Utut Adianto
Lahir:
Jakarta, 16 Maret 1965
Isteri:
Dr. Tri Hatmanti
Anak:
Mekar Melati Mewangi
Ayah:
Ngatidjo Adiprabowo
Pendidikan:
Hubungan internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,
Universitas Padjajaran, Bandung, 1989
Prestasi:
Juara Junior Jakarta, 1978
Juara Junior Nasional, 1979.
Juara II Dunia (dibawah usia 16 tahun), Puerto Rico.
Gelar Master Nasional, 1982
FIDE Master, 1983
Gelar master internasional, 1985.
Grand master internasional termuda se-Asia Tenggara, saat masih 21 tahun,
1986
Juara I Biel Open, 1994
Juara II di Luzern, 1994
Juara III Biel Master, 1994
Super Grand Master (Elo 2.600), Zona Asia Pasifik di Genting Highland,
Malaysia, 1995
Olahragawan terbaik Indonesia tahun 1995
Medali Emas papan satu Olimpiade Istanbul, 2000
Medali Emas SEA Games XXII, Ho Chi Minh, 2003 |
|
| |
|
|
|
|
Utut Adianto
Anak Ajaib Bersyaraf Baja
Pria yang mendapat julukan ‘anak ajaib’ dan ‘syaraf baja’ ini dikenal
piawai memainkan buah catur. Ia pertama kali mengharumkan nama Indonesia
saat meraih Juara II Dunia (dibawah usia 16 tahun), di Puerto Rico. Dia
Olahragawan terbaik Indonesia tahun 1995, ketika masuk ke dalam kelompok elit 60 pecatur top, pada 1995.
Saat itu, dia menjuarai Zona Asia Pasifik di Genting Highland, Malaysia
dan menyandang predikat Super Grand Master dengan peringkat Elo 2.600, Dua tahun
kemudian, ia mencapai prestasi terbaiknya dengan menduduki peringkat 39
dunia dengan Elo rating 2615.
GM Utut Adianto, anak keempat dari lima bersaudara, mengenal catur dari
kakaknya saat berusia enam tahun. Pada 1973, kala berusia 8 tahun, Utut
mulai latihan di klub catur Kencana Chess Club. Di tahun itu pula, untuk
pertama kali Utut ikut kejuaraan catur yunior se-DKI Jakarta di bawah
usia 20 tahun.
Hasilnya, dari 45 peserta Utut masuk peringkat ke-15. Semangatnya
terpacu. la pun makin giat berlatih. Apalagi kala ayahnya, Ngatidjo
Adiprabowo, menghadiahi buku My 60 Memorable Games karangan pecatur
dunia Bobby Fisher. Dari situlah teori dan teknik memainkan bidak dari
berbagai kitab catur dilahap Utut. Bisa dibilang, Utut termasuk generasi
pertama pecatur Indonesia yang mempelajari catur bukan sekadar melalui
kejuaraan. "Saya juga membedah teknik lewat pendekatan ilmiah," kata
Utut yang memiliki IQ 128 ini.
Pria kelahiran Jakarta, 16 Maret 1965 ini merebut posisi Juara Junior
Jakarta pada tahun 1978 atau umur 13 tahun. Juara Junior Nasional tahun
1979. Juara II Dunia (di bawah usia 16 tahun) di Puerto Rico. Pada 1982,
Utut mulai mencuri perhatian publik dengan meraih gelar master nasional.
Setahun kemudian ia menyandang FIDE Master. Gelar master internasional
diraihnya pada 1985. Setahun kemudian Utut meraih grand master (sebutan
pecatur dengan peringkat tertinggi) internasional termuda se-Asia
Tenggara, saat masih 21 tahun.
Tahun 1986, Utut Adianto meneruskan studinya mengambil jurusan hubungan
internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Padjajaran,
Bandung. Saat itu, hatinya mulai bimbang, memilih catur sebagai profesi
atau melanjutkan kuliahnya. Ia kemudian memberanikan diri menghadap
ketua umum persatuan catur seluruh indonesia (Percasi), yang juga
menteri luar negeri sekaligus guru besar Unpad, Prof. Dr. Mochtar
Kusumaatmadja untuk berhenti kuliah dan berkonsentrasi bermain catur.
Ia juga berharap Pak Mochtar mau membiayai beberapa kejuaraan catur di
luar negeri yang akan ia ikuti. Permintaan Utut itu ditolak. Pak Mochtar
tetap menyarankannya melanjutkan kuliah. Akhimya, Utut menyelesaikan
kuliahnya pada 1989. Setelah itu, ia bekerja di salah satu perusahaan
pengembang terkemuka. Selama bekerja, Elo rating-nya perlahan-lahan
menurun dari 2.525 menjadi 2.470 dalam waktu setahun terhitung sejak ia
bekerja.
Maka, pada1991, Utut mengundurkan diri dari perusahaan itu, dan terjun
sepenuhnya sebagai pecatur profesional. Dampak keputusannya ini pada
awalnya sangat sulit sebab ia harus pandai menghemat dan menabung.
Apalagi sebulan kemudian, Utut mempersunting Tri Hatmanti, dokter yang
kini bertugas di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Tapi untunglah
ia mendapat dukungan dari calon isteri dan mertua yang tidak
berkeberatan punya mantu pecatur. Kendati belum jelas masa depannya
dibandingkan dengan profesi lain yang lebih gemerlap. Ia percaya bahwa
di mana ada usaha, pasti ada jalan.
Keputusan Utut rupanya tidak salah. Mimpinya mulai terwujud sejalan
dengan bertambahnya jam terbang mengikuti berbagai turnamen catur
nasional dan internasional. Kesempatan bertanding itu tak lepas dari dua
bersaudara Santoso Wirya dan Eka Putra Wirya yang menanggung seluruh
biaya. Pada awal Juni 1994 pertama kali ia ke AS mengikuti pertandingan
New York Terbuka dan Kejuaraan Dunia Terbuka di Philadelphia. Terus
melanglang ke beberapa negara Eropa, mengikuti Grand Prix PCA di London.
Hasilnya, ia menjuarai Biel Open, juara II di Luzern, dan juara III Biel
Master.
Tahun 1995, ia menjuarai Zona Asia Pasifik di Genting Highland, Malaysia
dan menyandang predikat Super Grand Master dengan peringkat Elo 2.600.
Menduduki peringkat Elo 2.600 membuat kehidupan ekonomi Utut semakin
baik. Pada 1997, Utut meraih prestasi terbaiknya dengan menduduki
peringkat 39 dunia dengan Elo rating 2615.
Kini, Utut tercatat sudah 89 kali mewakili tim nasional Indonesia.
Prestasi yang diukir sejak 1981-2000 adalah menjadi juara pada 15
turnamen internasional. Dari tujuh kali berjuang di ajang Olimpiade
sejak 1982, Utut mencatat prestasi dengan meraih perak di Dubai, UEA
pada 1986, dan medali emas di Istambul, Turki, tahun 2000. MURI mencatat
pesta catur terbesar ketika Utut Adianto bertanding sendirian melawan
833 orang dalam simultan catur di Surabaya tahun 1998. Akhir Januari
2004, Utut kembali tercatat dalam MURI ketika bertarung melawan 9.122
peserta di Gelegar Mega Catur 12.000 yang diselenggarakan di Hal A-B
Pekan Raya Jakarta namun gagal melampaui rekor sebelumnya yang
diselenggarakan di Havana, Kuba, 7 Desember 2002, tercatat 11.320 orang.
Kebanggaan lainnya adalah berhasil membuka Sekolah Catur Utut Adianto di
Bekasi, Jawa Barat, pada 1993. Dari sekolah ini, lahir Susanto Megaranto,
pecatur cilik yang meraih master internasional pada usia 15 tahun.
Sebagai seorang Grand Master, hingga saat ini Utut tak memiliki pelatih
tetap. Ia hanya berlatih menghadapi komputer catur dan menambah ilmu
dengan mempelajari buku catur yang jumlahnya seabrek. Ia mengaku jika
sedang berada di tanah air jadwal latihannya suka kacau. Ada saja
kesibukannya, teman-teman pada datang atau dia harus ngantor dan
mengajar catur di sekolah catur Enerpac sebagai ketua dewan pelatih.
Dia terus melatih taktik, penilaian posisi, dan menciptakan langkah baru,
jelas Utut, karena dunia catur juga terus berkembang, kendati tidak
revolusioner. Yang berkembang subvarian. Di dalam subvarian seorang
pemain menemukan langkah yang kuat. Itulah yang membuat catur tetap
hidup. Dalam pengembangan langkah ini Utut dikenal sebagai jago Varian
Caro-Kann. Kekampiunannya, menurut para pengamat, hanya bisa ditandingi
oleh Anatoly Karpov.
Selain melatih otak, Utut juga melatih ketahanan fisiknya agar mampu
bertanding dalam kondisi seberat apapun. Berat badan 80 kilogram dan
tinggi 165 sentimeter seringkali menjadi salah satu kelemahannya yakni
cepat lelah sehingga membuat kesalahan. Untuk mencegah kekurangan itu,
kini Utut rajin joging setiap hari. Latihan ini pula yang dilakukan Utut
menghadapi kejuaraan dunia di Belanda, akhir 2003 lalu. Selama
menurunkan berat badan, ia berlatih catur enam sampai sembilan jam
sehari.
Belum lama ini, Utut mengikuti Turnamen Catur Grand Master Makita-Lakoni
tanggal 15-25 Februari di Gedung Karya Group, Kelapa Gading, Jakarta
berhadiah total 12.500 dollar AS dan dibuka Ketua MPR Amin Rais, Minggu
(15/2). Turnamen yang diberi slogan “Battle of the sexes, Kings of
Indonesia (KOI) vs. Queens of the World (QOW)” ini mengadu tiga pecatur
yang mewakili Indonesia, GM Utut Adianto (rating Elo 2591), MI Danny
Juswanto (2505), MI Susanto Megaranto (2458) dengan tiga pecatur wanita
dari luar, Juara Dunia Wanita FIDE GM Zhu Chen (2490) dari Cina, Juara
Wanita Eropa tahun 2002 GM Antoaneta Stefanova (2478) dari Bulgaria dan
Juara Wanita Asia tahun 2000 MI Hoang Thanh Trang (2447) dari Vietnam. ►
atur lps
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|