|
|
 |

Nama:
Usman Ja’far
Lahir:
Sekadau, 10 September 1951
Isteri:
Maya Damayanti
Anak:
Lisa Pasylia, Adesty Kamelia dan Robby Ramasaputra
Jabatan:
Gubernur Kalimantan Barat
Pendidikan:
SD = 1958- 1964 SDN. I, Sekadau
SMP = 1965- 1967 SMP N. I, Sekadau SMA = 1968- 1970 SMA N. 23, Jakarta
1971 —1974 Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) -Jakarta
Training:
-Akuntansi & Financial di LPPM Jakarta -Dept. Store Management
Metro Singapore -Corporation Management di Mitsui -Jepang -Corporation
Management di Seiyu & Seibu-Jepang
..
Pekerjaan:
1974- 1976,Staf Keuangan dan Akunting PT IPC Sarinah Jaya- Jakarta.
1977- 1978, Kepala Bagian Keuangan, PT IPC Sarinah Jaya- Jakarta
1979- 1980, Kepala Bagian Pembelian, PT IPC Sarinah Jaya - Jakarta
1980 -1981, Kepala Proyek Pembangunan Pasaraya Blok M - Jakarta
1982- 1991, General Manager PT Pasaraya Tosersajaya-Jakarta
1992- 1993, Direktur PT Pasaraya Tosersajaya -Jakarta
1993- 2002 Direktur Utama PT AlatiefNusakarya Corporation
1993- 2002 Direktur Utama PT Pasaraya Nusakarya –Jakarta
1993- 2002 Direktur Utama PT Pasaraya Tosersajaya -Jakarta
1993-2002 Direktur Utama PT Tata Disantara -Jakarta
1993-2002 Direktur Utama PT Ambhara Tharuna -Jakarta
1994-2002 Direktur Utama PT AlatiefCorporation -Jakarta -1995-2002
Direktur Utama PT Sulawesi Wisatanusakarya 1993-2002 Komisaris Utama PT
Pasaraya Life Insurance -1993-2002 Komisaris PT Bumicipta Sakapiranti
1994-2002 Komisaris PT Aldinaselaras Persada
1998-2002 Komisaris PT Pasaraya General Insurance
1999-2002 Komisaris PT Mitrakarya Sarananusa
1999-2002 Direktur Utama PT Aldina Wisatanusakarya
2000-2002 Direktur Utama PT Lativi Mediakarya
Organisasi:
-Anggota Dewan Pembina APRINDO (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia)
-Anggota Dewan Penyantun Pendidikan Akademi Pimpinan Perusahaan (APP)
Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
Motto Hidup:
“ Bekerja sambil belajar” I
Alamat Rumah:
Kelapa Hijau I Blok O No.10
Komp. Billymoon -Pondok Kelapa Jakarta Timur ,
Alamat Kantor:
Gedung Pasaraya BlokM Lt. 8
Jl. Iskandarsyah II No.2, Kebayoran Baru Jakarta Selatan
|
|
Usman Ja’far,
Sesepuh Bisnis Eceran
Pulang Membangun Kampung
Kalangan dunia bisnis ritel menjulukinya sesepuh. Perjalanan hidupnya
memang tidak bisa lagi dilepaskan dari retail business di Indonesia. Namun
di puncak karirnya sebagai CEO sukses, ia bertekad pulang membangun
kampung halaman sebagai Gubernur Kalimantan Barat.
Di dunia bisnis ritel ia meniti karier dari lapis paling bawah hingga
duduk di puncak pimpinan perusahaan terkemuka, Grup Alatief. Dia dipercaya
memimpin 12 perusahaan, milik Abdul Latief. Karena keberhasilannnya, dia
pun dijuluki sebagai sesepuh bisnis eceran di Indonesia.
Perjalanan suami Maya Damayanti ini dalam menempuh karier adalah sebuah
potret yang menarik dan layak ditiru. Keberhasilannya mengelola dan
mengembangkan bisnis ritel di Jakarta juga merebak ke berbagai pelosok
termasuk ke tanah leluhurnya, Kalimantan Barat.
Meski sudah lama meninggalkan desa kelahirannya, nama Usman Jaf’ar
tampaknya tetap menyatu dengan masyarakat daerahnya. Sehingga tak heran
bila dalam rapat paripurna, pada tanggal 12 Desember 2002, anggota DPRD Tk
I Kalimantan Barat memilihnya menjadi Gubernur Kalbar periode 2003-2008.
Ia didampingi wakilnya LH Kadir.
Ia lahir 10 September 1951 di Sekadau, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar),
dari pasangan Djaf’ar – Zaiton. Tidak ada yang istimewa dalam keluarga
yang hidup dari hasil pertanian itu. Sehari-harinya pas-pasan dan sangat
sederhana.
Meski begitu, keluarga ini di desanya menjadi sebuah potret keluarga
bersahaja. Hampir tidak pernah merengut, meski harus kerja keras mencari
nafkah. Djafar, ayah Usman, di samping sebagai petani, juga menjual kayu
yang diangkut sendiri melalui sungai ke Pontianak.
Sayang kemesraan antara Usman dengan ayahnya, Djafar, tidak berlangsung
lama. Bahkan kasih sayang dari sang ayah boleh dikatakan belum
dinikmatinya. Sebab, ketika Usman berusia lima tahun, ayahnya meninggal.
Meski merupakan pukulan berat setelah ditinggal Sang Ayah, keluarga ini
jauh dari frustasi.
Usman bersama ibu, empat saudaranya ditambah lagi dengan kakeknya, hidup
dalam satu rumah dan rukun. Hari demi hari dilalui keluarga ini seperti
keluarga lain yang tinggal di desa itu.
Usman meski masih anak-anak sudah diandalkan untuk ikut menopang hidup
keluarga. Dia pun sering berjualan durian di pinggir jalan bersama
teman-teman sebayanya. Waktunya, hampir tidak ada yang terbuang sia-sia.
Jika musim panen selesai, dia pun mencari pekerjaan lain untuk menutupi
ekonomi keluarga.
“Saya harus bekerja dan bekerja untuk membantu ibu dan kakek menghidupi
keluarga”, ungkap Usman mengenang masa lalunya di tanah leluhurnya,
Sekadau.
Pendidikan Mutlak
Zaiton, Bunda Usman, menyadari jika terus-menerus menyuruh atau membiarkan
anaknya larut dalam pekerjaan, tidak baik. Artinya, kesempatan bagi putera
tersayangnya untuk maju akan tertutup. Karena itu, meski tidak pernah
mengecam pendidikan, Zaiton memutuskan untuk menyekolahkan Usman.
Betapa gembiranya Usman ketika ibu dan kakeknya menyuruhnya sekolah.
Seperti gayung bersambut. Sebab, dalam sanubarinya pun tertanam keinginan
yang dalam untuk sekolah. Tahun 1958, ketika berusia tujuh tahun, Usman
masuk kelas satu SD Negeri I Sekadau.
Untuk ke sekolah, Usman dan teman-temannya harus menyeberangi Sungai
Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Satu-satunya alat untuk
menyeberang perahu ukuran kecil yang harus didayung sendiri. Untuk
menghindari percikan air, buku-buku dibungkus dengan plastik.
Waktu enam tahun di SD, dapat dilaluinya dengan baik tanpa hambatan. Ia
yang dikenal sebagai pendiam, terbilang cukup pandai. Tahun 1964, ia
meninggalkan bangku sekolah SD dan kemudian melanjut ke SMP di desa yang
sama. Dorongan dari keluarga pun cukup kuat. Ia pun semakin bersemangat.
Namun pikirannya sering terusik karena biaya sekolah semakin tinggi.
Sementara kemampuan keluarga sangat terbatas. Tapi baginya, tidak ada
istilah menyerah. Sepulang sekolah, dia terus mengupayakan dana tambahan
dengan menjual durian. “Saya tidak memilih-milih pekerjaan. Apa saja saya
lakukan, yang penting biaya sekolah tertanggulangi”, ujar ayah dari Lisa
Pasylia, Adesty Kamelia dan Rob by Ramasaputra ini.
Tahun 1967, ia pun merasa gembira karena lulus dari SMP. Tapi dibalik
kegembiraan itu muncul pula tanda tanya dalam hatinya yakni mau melanjut
kemana dan mampukah keluarga membiayai? Dia menyadari betul, keterbatasan
kemampuan keuangan keluarga. Ketika ia menyampaikan keinginannya untuk
terus melanjutkan sekolah, Ibunya Zaiton dan kakeknya langsung menyambut.
Keterbatasan keuangan tidak menjadi penghalang. Satu-satunya jalan terbaik,
ia ikut pamannya Abdussjukur, seorang tokoh PNI (Partai Nasional
Indonesia) yang ketika itu menjadi Ketua DPRD Kalimantan Barat di
Pontianak. Tahun 1968, Ia pun melajut ke SMA di Pontianak dan tinggal
serumah dengan pamannya.
Setelah sekolah enam bulan, pikirannyan kembali terusik. Tapi kali ini
bukan karena kuatir akan biaya sekolah, melainkan Abdussjukur-pamannya,
harus meninggalkan Pontianak karena terpilih menjadi anggota DPR/MPR di
Jakarta. Tapi, kekuatirannya langsung terhenti, karena pamannya juga akan
memboyongnya ke Jakarta.
Sedih dan gembira bercampur dalam benaknya. Sedih karena belum sempat
mengenal Pontianak lebih jauh dan juga harus berpisah dengan
teman-temannya yang baru mulai akrab. Tapi di balik itu tergambar juga
sebuah kembiraan. Sebab, dia akan menginjak kota Jakarta, ibukota RI, yang
sebelumnya tidak pernah terbayang dalam benaknya.
Karena tuntutan keadaan, anak dari dusun itu pun memulai hidup di alam
baru yang jauh lebih modern yakni Kota Jakarta. Kaget dan heran meliputi
jalan pikirannya. Baginya kota Pontianak saja sudah besar dan hebat. Tapi
setelah melihat Jakarta yang kesibukannya luar biasa, lalu lintas ramai
dan di malam hari yang diwarnai sinar gemerlapan lampu warna-warni,
Pontianak tidak ada apa-apanya.
Kepribadiannya tidak tenggelam dalam gemerlapan kota Jakarta. Sambil
menyaksikan kehebatan pembangunan di kota Jakarta, dia tetap mengutamakan
kelanjutan sekolahnya. Dengan bantuan pamannya, ia kemudian terdafar di
SMA 23 di Slipi, Jakarta Barat. Karena dasarnya, murid pintar, ia tidak
terlalu sulit untuk mengikuti pelajaran. Dia pun bisa menyelesaikan bangku
SMA tahun 1970.
Tiga tahun tinggal di Jakarta, ia pun sudah percaya diri. Tekadnya harus
melanjut. Ke mana? Memang untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA
tidak semudah ketika lulus SD dan SMP. Pikirannya kembali bergumul.
Memang banyak pilihan, tapi yang menentukan juga ikut kemampuan keuangan.
Harus disinkronkan dengan keungan. Di tengah pergumulannya, dia melihat
iklan di TVRI tentang penerimaan mahasiswa baru Akademi Pimpinan
Perusahaan (APP), juruan keuangan. Tanpa ragu, dia langsung mendaftar dan
diterima.
Perasaan bangga melekat dalam dirinya karena menyandang sebutan mahasiswa.
Pada hal, untuk menjadi mahasiwa, waktu itu harus diplonco. “Mahasiswa
baru dipaksa senior untuk nyemplung ke kali yang kotor”, kenang Usman.
Perpeloncoan pada zaman itu cukup berat, tapi tidak boleh dielak. Semua
perintah senior harus dituruti.
Sebagaimana tekad yang tertanam dalam dirinya, urusan pendidikan selalu
dinomorsatukan. Di kampus hampir tidak ada masalah. Uang kuliah lancar
yang didukung oleh pamannya yang anggota dewan.
Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, benturan kembali muncul. Pasalnya,
masa jabatan pamannya Abdussjukur sebagai anggota DPR/MPR berakhir dan
tidak terpilih lagi. Pak Sjukur harus kembali ke Pontianak. Lalu bagaimana
dengan Usman? Kembali ke Pontianak sama artinya meninggalkan kampus.
Padahal, baginya pendidikan unsur yang sangat penting dalam menentukan
masa depan. Karena itu, dia pun memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta.
Ia berprinsip jika ada tantangan jangan mengelak dan harus dihadapi.
Sekarang muncul tantangan itu dan ia pun siap. Bantuan dari pamannya dari
Pontianak tetap menjadi andalan untuk membiayai kuliah.
Meski harus berjuang sendiri, kuliahnya praktis tidak terganggu. Dengan
kesungguhan, ia dapat mengakhiri kullliah di APP tahun 1974. Di jurusannya,
dia termasuk mahasiswa yang menonjol. Karena itulah, dia bersama beberapa
temannya yang menonjol mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan ritel
yang baru didirikan oleh Abdul Latief yang juga alumni APP.
Tanggal 19 Januari 1974, ia mulai bekerja di PT IPC Sarinah Jaya. Nasibnya
sangat mujur, selepas kuliah langsung bekerja. Dari perusahaan inilah ia
memulai karier untuk mewujudkan impiannya. Dengan modal ijazah APP, ia
berkonsentrasi menekuni pekerjannya.
Keseriusan dan tanggung jawab sebagai staf, ditunjukkannya. Prestasinya
pun menggembirakan dan menanjak. Memasuki tahun ke tiga, dia dipercayai
memimpin bagian keuangan. Tahun keempat dipindahkan ke unit pembelian.
Tugas barunya ini jauh berbeda dari yang sebelumnya. Tapi itu tidak
menjadi masalah baginya. “Kalau ada kemauan semua pekerjaan akan dapat
diatasi”, ujar Usman suatu ketika.
Dia pun cukup berhasil dalam bagian pembelian ini. Relasi perusahaan ada
di mana-mana, sehingga tidak pernah kesulitan dalam pengadaan
barang-barang. Berkat pengalamannya, liku-liku bisnis kerajinan
dipahaminya sangat ditel, dari hulu sampai ke hilir.
Berbekal pengalaman kerjanya, ia kemudian ditunjuk “boss”nya sebagai
pemimpin proyek (Pimpro) pembangunan sebuah gedung pusat perbelanjaan di
kawasan Blok M. Gedung mewah dan kren itu, kini bernama Pasaraya.
Pemilik perusahaan, Abdul Latief, kemudian mengangkatnya menjadi General
Manager, sejak tahun 1982. Selama 10 tahun dia memegang posisi general
manager PT Pasaraya Torsesajaya itu.
Selain pengalaman kerja yang lengkap, dia juga sering mengikuti berbagai
jenis pelatihan di dalam dan luar negeri. Mengikuti Managerial Trainng and
Finance Management di LPPM Jakarta, Management Departmen Training di Metro
Departmen Store Singapura, Management Depertmen Training di Seiyu Jepang
dan Busines Group Training di Mitsui Jepang. Selain itu, juga sering
melakukan studi banding ke berbagai belahan dunia, terutama ke pusat-pusat
mode. Ia pun semakin matang dan mapan dalam mengelola bisnis eceran.
Bekerja sambil belajar. Itulah motto hidupnya dan dilaksanakan dengan
mengerahkan segala potensi yang dimilikinya. Hasilnyapun cukup menakjubkan.
Semua pekerjaan dan jabatan yang diberikan kepadanya dapat dilaksanakan
dengan baik dan memuaskan.
Tahun 1993, dia kemudian dipercaya sebagai Direktur Utama PT Pasaraya
Tosersajaya, menggantikan Abdul Latief yang diangkat sebagai Menteri
Tenaga Kerja. Pengangkatannya sebagai orang nomor satu di Pasaraya, tidak
terlalu mengejutkan baik bagi lingkungan internal maupun eksternal.
Hampir semua pihak yang bergerak dalam dunia usaha ritel memberikan
penilaian yang sama yakni: Usman Jaf’ar orang yang paling tepat untuk
menduduki posisi Dirut. Dia cukup piawai menjadikan dirinya sebagai
jembatan dalam memajukan bisnis eceran di tanah air.
Disambut Baik
Berbicara mengenai bisnis eceran di Indonesia, ia langsung tanggap. Hal
ini bisa dimaklumi selain sudah digelugutinya selama bertahun-tahun, dia
sangat faham seluk beluknya. Dia menilai perkembangan bisnis eceran
(retail business) di Indonesia cukup pesat. Hampir di semua kota
perusahaan yang bergerak dalam usaha eceran ini telah berdiri.
Tapi sistem manajemen yang diterapkan pemilik perusahaan tidak sama.
Lazimnya, di gedung pusat belanja, ruang disewakan atau dijual kepada
pedagang. Tapi PT Pasarya Nusakarya yang mengelola pusat perbelanjaan PT
Pasaraya Blok M dan Manggarai tampil beda yakni tidak menjual atau
menyewakan ruang. Pertimbangannya, pemilik gedung tidak hanya berfikir
untuk kepentingan sendiri, tapi juga terpanggil untuk memikirkan
kepentingan pedagang.
Filosopinya, pemilik gedung dan pedagang/pemasok barang dapat bergandengan
tangan untuk sukses dan maju. Perusahaan tidak rugi dan pedagang pun harus
untung. Itu artinya bersama-sama menuju kehidupan yang semakin baik. “Ini
sistem yang kami terapkan”, ujar Usman.
Manajemen di Pasaraya berlaku sistem bagi hasil. Artinya, 20% dari hasil
penjualan menjadi milik pengelola dan sisanya (80%) untuk pedagang. Pihak
pengelola sangat menyadari pola bagi hasil akan memperlambat Break Event
Point (BEP).
Sebab, semakin sedikit penjualan pedagang tentu semakin kecil yang
diterima pengelola. Tapi pemikirannya tidak hanya untuk kepentingan
pengelola, tapi perusahaan membangun budaya sinergi (kebersamaan) dengan
mitra usahanya yakni pemasok atau pedagang.
Kalau tujuannya hanya ingin mendapatkan uang secara cepat, sistem yang
paling tepat adalah menjual ruang atau menyewakan. Tapi jika ini
diterapkan yang punya kesempatan untuk mendapatkan ruang hanyalah yang
punya uang.
Sementara para pengusaha kecil yang jumlahnya jauh lebih banyak dan
modalnya pas-pasan tidak akan mampu berdagang di tempat yang bagus. “Kami
memberikan kesempatan kepada semua pedagang untuk berjualan di tempat ini”,
ujar Usman.
Kalangan pemasok dan pedagang memuji ide yang diterapkan Pasaraya dalam
mengelola bisnis eceran ini. Ide yang diterapkan Pasarya disambut baik
oleh para pedagang. Dengan konsep bagi hasil, pemasok bebas mengisi
konternya dengan barang yang mereka pilih. Pedagang cuma melaporkan
harganya kepada pengelola. Karena pembayaran seluruhnya melalui Pasaraya.
Di bawah pimpinan Usman, bisnis eceran di grup Alatif maju pesat. Para
pemasok juga maju. Maju bersama-sama.
Ketika ditanya pandangannya tentang bisnis eceran ini, ia sangat tidak
sependapat bahwa kehadiran departmen store akan mematikan pasar
tradisional. Itu tidak akan mungkin terjadi. Sebab segmen pasarnya berbeda.
Departmen store membidik pasar menengah ke atas, sementara pasar
tradisional untuk menengah ke bawah. Lebih tepat jika disebutkan secara
bersama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dari lapis bawah hingga atas.
Tanah Leluhur
Di Jakarta ternyata Usman tidak hanya memikirkan kemajuan perusahaan yang
dipimpinnya. Secara diam-diam dia juga memikirkan tanah leluhurnya. Meski
pada usia usia 17 tahun, dia sudah meninggalkan tanah kelahirannya,
hubungan batin dan kedekatannya dengan kampung halamannya tidak pernah
lekang.
Usman, salah seorang putra Pontianak di perantauan tidak rela pembangunan
di kampung halamannya tertinggal. “Kalimantan Barat kaya sumber daya alam
dan tak selayaknya tertinggal seperti sekarang ini”, ujar Anggota Dewan
Pembina APRINDO (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia ini.
Dalam pemikirannya, sewajarnyalah Kalbar sejajar dengan kemajuan di
Sarawak, Sabah atau dengan Brunei Darussalam. Untuk mengatasinya
dibutuhkan pemimpin berkualitas dan profesional.
Berbekal pengalamannya yang cukup sukses dalam mengelola bisnis di
Jakarta, ia pun maju sebagai calon gubernur Kalbar dan menang mutlak.
Terpilihnya Usman sebagai gubernur bukan sesuatu kejutan. Sebab,
prestasinyalah yang mengantarkannya terpilih menjadi KDH Tk I Kalbar.
“Usman merupakan yang tepat dan layak menjadi orang nomor satu di daerah
ini”, ujar beberapa tokoh daerah setempat. Dia ulet, memiliki pemikiran
dan wawasan yang luas. Buktinya, PT Pasaraya Nusakarya menjadi perusahaan
terkemuka di Indonesia dalam retail business. Perusahaan ini pun mendapat
predikat the fisrt and the largest-yang pertama dan yang terbesar.
Tidak hanya itu, 12 perusahaan yang dipimpinnya juga berkembang. Ia pun
dijuluki anak desa yang profesional. Di bawah pimpinannya, Kalbar akan
lebih maju. Bekerja sambil belajar. Itulah motto hidupnya dan dijalankan
penuh tanggung jawab. Kepercayaan yang dilimpahkan kepadanya tidak pernah
disia-siakan.
Berbekal pengalaman dan kesuksesannya mengelola bisnis nasional di
Jakarta, ia bertekad mewujudkan impiannya yakni ingin ikut membangun tanah
kelahirannya. “Kalbar tertinggal karena penggarapannya belum optimal dan
butuh tangan trampil dan profesional”, ujar Usman sebelum terpilih. Dia
mengakui para Kepala Daerah Provinsi Kalbar telah berbuat untuk membangun
daerah itu. Namun, sektor bisnisnya kurang begitu terangkat karena
penggarapannya belum maksimal. Untuk mengejar ketertinggalan, Kalbar butuh
pimpinan yang naluri bisnisnya handal dan memiliki akses ke pusat (nasional)
dan internasional.
Keberhasilannya mengelola bisnis di Jakarta akan menjadi modal utamanya
dalam mempercepat proses pembangunan Kalbar. “Saya bersama seluruh elemen
masyarakat akan berusaha meningkat pembangunan. Dengan demikian
kesejahteran masyarakat dapat meningkat”, ujar Usman.
Menurutnya, bila potensi alam Kalbar dikelola secara bisnis dan
profesional, pasti mampu meningkatkan kemajuan. Tentu, diperlukan
kebersamaan. Saat ini terlalu banyak pihak yang tidak satu tujuan. Bahkan
perbedaan tidak hanya dalam bentuk implementasi, tapi juga dalam visi.
Memang, perbedaan terutama di era reformasi ini sah-sah saja. Tapi jika
sejak awal sampai akhir terus berbeda, maka tidak akan pernah ada sesuatu
apa pun yang bisa dicapai. Jika lebih banyak yang sependapat dan satu
tujuan, meski ada saja yang apriori, pasti bisa berjalan terus.
“Tantangan untuk membangun Kalbar sangat banyak dan tidak mudah. Tapi jika
tercipta kebersamaan langkah dan pendapat, sesulit apa pun itu kendala
akan dapat diatasi”, kata pria yang sudah mengantongi pengalaman banyak
dalam mengelola bisnis ini. Dia juga sering berkunjung ke berbagai negara
untuk menimba ilmu bisnis.
Ia mengaku dalam hal pembangunan, Kalbar mengalami kemajuan, tapi belum
sebanding dengan potensi yang dimilikinya. Berpenduduk 4,1 juta jiwa,
pendapatan domestik regional bruto (PDRB) tahun 1998 mencapai Rp 3,799
juta per kapita. Ada peningkatan jika dibandingkan tahun 1994 yang hanya
Rp1,713 juta dan 1997 hanya Rp2,702 juta.
Namun peningkatan itu tidak berarti karena terjadi lonjakan harga (inflasi)
yang sangat tinggi mencapai 50,7%. Akibatnya, angka kemiskinan tetap
tinggi yakni 885.277 jiwa (tahun 1997). Kemudian meningkat lagi 26,53%
tahun 2000 menjadi 1.030.298 jiwa.
Berdasarkan kenyataan, sektor pertanian masih menjadi tumpuan. Karena itu,
di samping membangun sektor-sektor lain, sektor pertanian tetap diutamakan
tentunya dengan cara modernisasi.
Dalam hal ini, daya guna dan hasil guna pemerintahan harus betul-betul
ditingkatkan. Aparatur penyelenggara negara haruslah mengutumakan
pelayanan kepada masyarakat yang diayominya. “Program pembangunan harus
benar-benar difokuskan untuk kesejahteraan rakyat”, kata Usman yang sudah
28 tahun bekerja di Kelompok Alatief dan sudah siap untuk memulai
pekerjaan baru yakni mensejahterakan rakyat Kalbar dengan cara
menggalakkan pembangunan di semua lini.
Meningkatkan pembangunan di Kalbar terbuka lebar. Potensi alamnya tidak
kalah jika dibandingkan dengan provinsi lain di tanah air. Kekuatannya
terletak pada sektor kehutanan dan pertanian. Belum lagi potensi wisata
budaya yang sangat kuat. Di Kalbar hidup budaya Dayak, Melayu dan Tionghoa.
Begitu juga wisata agro yang terletak di Sintang dan Putussibau yang
memiliki sungai terpanjang. Hanya saja untuk mengelola potensi alam itu
dibutuhkan sumber daya manusia berkualitas dan profesional. Itu artinya,
pembangunan pendidikan harus mendapat prioritas utama. Baik pendidikan
formal maupun nonformal, seperti pelatihan atau kursus.
Hadapi Era Baru
Usman mengakui dalam menghadapi perdagangan bebas (ASEAN Free Trade Area/AFTA)
yang sudah diambang pintu, Kalbar tidak boleh tidak, harus mempersiapkan
diri lebih intens. Untuk mewujudkan itu, tentu tidak hanya urusan Gubernur
dan wakil gubernur. Tapi melibatkan peran seluruh elemen masyarakat.
Karena itu, perlu dibangun kebersamaan yakni Kalbar Bersatu. Artinya,
untuk menempatkan Kalbar berdaya saing global, unsur pimpinan harus mampu
merangkul dan melibatkan semua elemen masyarakat. “Tugas ini tidak ringan.
Tapi jika dilaksanakan sebagai panggilan tugas, saya optimis bisa terwujud”,
ujarnya.
Ia yakin membangun dengan mengutamakan semangat kebersamaan akan
membuahkan hasil positif. Dia telah membuktikannya dalam bisnis retail.
Harus dihindari langkah parsial.
Program Kalbar Bersatu adalah salah satu alternatif untuk memberdayakan
potensi masyarakat dengan memegang “berdiri di atas kaki sendiri” sebagai
pondasi baru dalam kehidupan bermasyarkat dan bernegara. Aparat pemerintah
sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat, juga harus menjadi kader-kader
pembangunan.
Pemikiran-pemikirannya dalam mengelola bisnis dan memajukan Kalbar,
tersaji secara lengkap di bukunya yang berjudul, “Perjalanan seorang anak
desa yang profesional”. Selamat Pak Usman.
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), tor
|
|