| |
C © updated 25072003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
DR. H. Tutty Alawiyah AS
Lahir:
Jakarta, 30 Maret 1942
Agama:
Islam
Suami:
H. A. Chatib Naseh
Anak:
H. Moh. Reza Hafiz
H. Dailami Firdaus, SH. LLM. MBA
Dra. H. Nurfitria Farhana
Lily Kamalia Ihsana, SE
Syifa Fauzia
Ayah:
KH. Abdullah Syafi’ie
Ibu:
H. Rogayah
Pendidikan formal
SD Slamet Riyadi / Ibtidaiyah As-Syafi’iyah, Jakarta
Tsanawiyah As-Syafi’iyah, Jakarta
Aliyah As-Syafi’iyah, Jakarta
Sarjana S-1 Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Mendapat Gelar Doctor Honoris Causa pada tgl. 17 Februari 2001 dari
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarief Hidayatullah Jakarta
Pendidikan informal
Kursus Bahasa Inggris Conversation Course sampai Advanced di
Lembaga Indonesia Amerika (LIA)
Kursus Bahasa Inggris di LPPM Jakarta
Mengikuti Kursus-kursus singkat dibidang kepemimpinan dan manajemen di
dalam dan luar negeri
Organisasi/Karir
Anggota pendiri Perguruan Islam As-Syafi’iyah / Yayasan Perguruan
Tinggi As-Syafi’iyah (YAPTA)
Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA)
Menteri Negara Peranan Wanita Kabinet Pembangunan VII 1998
Menteri Negara Peranan Wanita (Menperta) Kabinet Reformasi Pembangunan
Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) utusan
Golongan Tahun 1999-2004
Ketua Internatonal Muslim Women’s Union (IMWU) Indonesia
Direktur Eksekutif International Muslim Women’s Union (IMWU) untuk Asia
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Masyarakat Madani (PMM)
Presiden Komisaris PT. Adhisa Jaya Pastika
Presiden Komisaris PT. Kharisma Redisa Utama
Pendiri/Penanggung jawab Pesantren Khusus yatim As-Syafi’iyah
Ketua Umum Majelis Taklim Kaum Ibu (MTKI) As-Syafi’iyah
Pendiri/Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), sampai sekarang
Ketua Umum Yayasan Al Hurriyah
Ketua Umum Yayasan Alawiyah
Anggota MPR RI Periode 1992-1997 / Periode 1997-2002
Anggota Badan Pekerja (BP) MPR RI Ad Hoc II 1997/1998
Wakil Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI)
Wakil Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI)
Wakil Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Pusat
Wakil Ketua Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI)
Anggota Dewan Pembina BAMUS BETAWI (Badan Musyawarah Masyarakat Betawi)
Penasehat Pengurus Wanita Betawi
Anggota Dewan Pers Indonesia
Anggota CIDES (Center for Information and Development Studies)
Penceramah pada siaran Televisi: ANTEVE, TPI, RCTI, INDOSIAR, SCTV, TVRI
Anggota Pengurus/Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) DKI
Periode 1972-1985
Pendiri Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI)
Anggota Pleno Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Panitia Tetap Nasional, Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) tahun
1988 sampai dengan tahun 1998
Pemimpin dan Pembimbing Jamaah Haji dan Umroh sejak tahun 1988-1997 (10
kali berturut-turut)
Berceramah dan Tabligh di berbagai daerah/wilayah Indonesia
Berceramah di Negara-negara ASEAN (Undangan dari istana Brunei Darussalam,
Masyarakat Brunei, Malaysia, Singapore)
Pembicara dan sering menghadiri Seminar lokakarya baik di dalam maupun di
luar negeri.
Diundang oleh Pemerintah Amerika Serikat, tahun 1984, selama satu bulan
Diundang berceramah oleh MAWA (Malaysia Asosiation of Western Australia),
Perth Australia
Diundang berceramah oleh Kerajaan Brunei Darussalam Tahun 1987 dan 1988
Pembicara pada Forum Perdana EHWAL ISLAM, di Johor Bahru Malaysia Tanggal
24 Mei 1997 (menyambut Tahun Baru Islam)
Pembicara pada Tabligh Akbar Hijriah, di Stadium Negara Singapore (Audensi:
60.000 Orang)
Melantik Pengurus ICMI dan Dialog Islam di England, Paris, Jerman, Texas,
Kanada, dan Afrika
Direktur Utama Radio Alawiyah
Anggota Forum Rektor
Ketua Umum International Muslim Women Union chapter Indonesia (1998-2004)
Ketua Penyelenggara/Penanggung Jawab Acara
Dasawarsa BKMT di Stadion Utama Senayan 1991 (120.000 Orang)
Gelar Akbar Majelis Taklim Tasyakur 50 Tahun Kemerdekaan RI, 26 Agustus
1995 di Stadion Utama Senayan (140.000 Orang)
Gelar Budaya Islam 3 hari di Masjid Istiqlal Jakarta
Gema Zikir & Takbir di Silang Monas - Jakarta Tanggal 29 Januari 1998
Silaturahmi Akbar dan Rakernas IV BKMT, tanggal 20 Februari 1999 di
Stadion Utama Senayan Jakarta (100.000 Orang)
Buku-buku
Wanita dalam Nuansa Peradaban
Strategi Dakwah di Majelis Taklim
Membangun Kesadaran Beragama
Suara Petunjuk I (Bimbingan Tabligh di Majelis Taklim)
Suara Petunjuk II (Bimbingan Tabligh di Majelis Taklim)
Kumpulan 400 Topik Pelajaran Majelis Taklim Kaum Ibu (MTKI) As-Syafi'iah
Tasyakur Indonesia Emas Bersama BKMT
Mengenal Peradaban Dunia (Catatan Perjalanan di 91 Kota di 5 Benua)
Kumpulan Pidato Lepas + 250 Topik dari Radio As-Syafi’iyah
Seiring Irama Kehidupan
Peran Dakwah Millenium Ke-3
Perempuan dan Masyarakat Pembelajaran
KH. Abdullah Syafi’ie Tokoh Kharismatik
Yatim dan Masalahnya
Bimbingan Manasik Haji
15 Tahun Kiprah BKMT
Kata dan Perbuatan
Setetes Hikmah
Women in Islam
Kisah Nabi-Nabi
Perintah dan Larangan
Bersama Rasulullah
Kalimat Tauhid
Sholat Malam
Al-minhatul Aliyah
Syair Asmaul Husna
Keutamaan Dzikir
Ratib dan Doa
Mutiara Hati
Tahlil
Penghargaan
Bintang Mahaputra Adhi Pradana dari Presiden Republik Indonesia
Bapak B.J. Habibie
Penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Pemerintahan R.I yang
disematkan oleh Presiden RI Bapak H. Muhammad Soeharto, tanggal 21
Desember 1995 di Daerah Istimewa Aceh
Penghargaan Dari Angkatan 45
Penghargaan dari Lembaga Islam Bangkok – Thailand
Life Time Membership For Moslem Women’s Federation Of Southem Africa
Patron of the Tuan Yusuf Learning Centre in Southern Africa
Penghargaan dari Presiden Iraq
Penghargaan dari Ratu Rania Abdullah, Jordania
Penganugerahan Gelar Profesor dari Federation Al Munawwarah, Berlin Jerman
Alamat Rumah
Jl. Raya Jatiwaringin No. 51
Pondok Gede, Bekasi 17411
Alamat Kantor
Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA)
Jl. Raya Jatiwaringin No. 12 Pondok Gede, Bekasi 17411
Telepon (021) 846 2361, 84977469, 84975907
Facsimile (021) 849 77469 |
|
| |
|
|
|
|
TUTTY HOME

DR. H. Tutty Alawiyah AS
Lahir untuk Berdakwah
Tutty Alawiyah dilahirkan untuk berdakwah. Sebutan ini tidaklah berlebihan
bila ditelusuri jejak langkah hidupnya. Semenjak usia 9 tahun, Tutty sudah
berdakwah menyiarkan agama Islam. Di bawah naungan Yayasan Perguruan As-Syafi’iyah
yang didirikan tahun 1933 oleh ayahnya, Tutty membangun Pesantren
Putra-Putri dan Yatim, Pesantren Tinggi Darul Agama, Sekolah Tinggi
Wiraswasta, serta Universitas Islam Syafi’iyah. Dalam dunia politik, ia
juga punya nama. Dia pun sempat masuk bursa calon presiden lewat konvensi Partai
Golkar.
Pengalamannya mengunjungi 63 kota besar di 23 negara demi kepentingan
berdakwah dan kegiatan sosial mengharumkan namanya sehingga ia layak
dianugerahkan gelar doktor honoris causa bidang dakwah Islam dari IAIN
Syarif Hidayatullah dan gelar profesor dari Federation Al Munawarah,
Berlin Jerman.
Mantan Menteri Negara Peranan Wanita dalam dua pemerintahan yang berbeda
ini - Kabinet Pembangunan VII tahun 1998 jaman Soeharto dan Kabinet
Reformasi Pembangunan jaman Habibie - adalah orang Betawi asli. Ia
dilahirkan 30 Maret 1942 di Jakarta dari pasangan KH. Abdullah Syafi’ie
dan Hajjah Rogayah. Atas jasa ayahnya yang besar dalam bidang pendidikan
Islam, pemerintah menganugerahkan penghargaan Bintang Maha Putera Pratama,
dan Pemerintah Khusus Ibukota menggunakan namanya sebagai nama jalan utama
menggantikan Jl. Lapangan Roos dan Kampung Melayu Besar.
Mubaligah kondang dan Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah ini mempunyai
visi bahwa perempuan Indonesia adalah pilar bangsa. Kemampuan
intelektualnya dan banyaknya jam terbang menjadi pembicara dan penceramah
di berbagai kota di 5 benua, hanyalah sedikit bukti bahwa perempuan
memiliki kesempatan dan hak yang sama dengan laki-laki dalam berkarya di
berbagai sektor bagi bangsa ini. Ia pernah diundang pemerintah Amerika
Serikat tahun 1984 untuk bertemu dengan para tokoh dari berbagai agama,
tokoh-tokoh pendidik dari perguruan tinggi, tokoh-tokoh wanita, dan
mengunjungi lembaga-lembaga sosial dan keagamaan.
Ia merupakan pendiri banyak organisasi dan institusi Islam di Indonesia.
Ia pernah bergabung di ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), MUI (Majelis
Ulama Indonesia), CIDES (Center For Information And Development Studies),
dan organisasi lainnya.
Dalam usia yang masih muda, Tutty sudah banyak mengukir prestasi yang
mengagumkan. Pada usia 7 tahun, ia sudah lancar membaca Al-Quran. Kemudian
di tahun 1951 ketika usianya 9 tahun, ia mendapat kesempatan membaca Al-Quran
di Istana Negara di mana saat itu, BKOI, sebuah organisasi Islam,
mengadakan acara pertama pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di kediaman
Presiden Soekarno. Pada saat itu ia sudah dikenal sebagai qori’ah cilik
yang sudah sering menyanyikan lagu qasidah mulai dari di depan kelas,
acara pernikahan hingga mendampingi ayahnya mengajar di masjid-masjid
terdekat di sekitar Jakarta.
Kemahiran Tutty dalam membaca Al-Quran lengkap dengan tajwid dan lagunya
tidak lepas dari ajaran ibunya tercinta, H. Rogayah, seorang ustadzah dan
qoriah. Tutty kecil kebagian peran membaca beberapa ayat suci Al-Quran di
kala ibunya sedang mengajar di kampung-kampung. Kemampuannya menulis
tulisan Arab Melayu (huruf Jawi) juga didapat dari ibunya. Sekedar iseng
sambil mengasah kemampuan, ia dan kakaknya, H. Muhibbah mendengarkan lagu
di radio seperti Bengawan Solo, Hanya Engkau, Sepasang Mata Bola, dan lagu
melayu lainnya, lalu mereka berlomba siapa yang lebih dulu selesai menulis
syair lagu tersebut dalam tulisan Arab Melayu.
Menginjak kelas dua di Madrasah Islamiyah, Tutty masuk ke Sekolah Rakyat.
Meskipun ayahnya keberatan, Tutty tetap bersikeras untuk bersekolah di
sana karena melihat sepupunya yang lebih tua dua tahun darinya sudah
bersekolah di sana. Akhirnya, Tutty bersekolah di dua tempat, Sekolah
Rakyat dan Madrasah.
Di sekolah, Tutty menjadi siswa yang baik dan berprestasi. Pernah suatu
kali, Tutty yang bercita-cita bisa naik haji ini mendapat hadiah arloji
karena prestasinya di sekolah. Walaupun begitu, sama seperti layaknya anak
kecil yang ingin bermain dan terkadang nakal, Tutty dan sabahatnya,
Rinjani yang tinggal di Bukit Duri, iseng-iseng bersepeda hingga ke
Kemayoran dan pernah tersesat sampai ke Kebayoran Lama. Tutty dan Rinjani
sering jalan bersama, bermain kasti dan olah raga lari.
Tahun 1951, 40 hari setelah kedua orang tuanya kembali ke Indonesia dari
tanah suci, ibunda tercinta, H. Rogayah, meninggal dunia. Kesepian dan
kesedihan yang dialaminya ia lewati dengan kesibukan yang semakin
bertambah. Ia mulai dikenal dan diundang membaca Al-Quran dimana-mana,
menulis puisi dan artikel yang dimuat di beberapa surat kabar ibukota,
memberikan kursus-kursus, dan berceramah di depan umum.
Setahun setelah kepergian ibunya, di usianya yang ke 10, Tutty yang sudah
mampu mengetik dengan kecepatan 260 ketukan per menit ini memberikan
kursus membaca dan menulis huruf latin kepada beberapa wanita di daerah
Pancoran. Seminggu dua kali, Tutty ditemani Dahlia sepupunya, bersepeda
bonceng membonceng ke rumah Ibu Halimah untuk mengajar dan mendapat upah
beberapa rupiah yang kemudian mereka bagi dua.
Pengalamannya memberikan kursus ternyata tidaklah sia-sia. Di usia 13
tahun, Tutty
mulai mengajar secara tetap dengan membuka 3 kursus yaitu Kursus Banat As-Syafi’iyah,
diisi dengan pelajaran agama, pelajaran Maulid Nabi, dan membaca Al-Quran,
dengan murid 200 orang lebih, Kursus Umahat As-Syafi’iyah, khusus untuk
ibu-ibu yang ingin mendalami agama, dengan murid 100 orang (2 kelas) dan
yang terakhir, Kursus Tilawatil Quran yang diikuti 40 orang. Kursus ini
terus berlanjut hingga 1980. Tiga tahun kemudian, tahun 1958, kakaknya H.
Muhibbah meninggal dunia. Sejak itu, ia dipercaya secara penuh memimpin
Majelis Taklim Kaum Ibu As-Syafi’iyah dan melanjutkan pengajian setiap
Sabtu pagi di Masjid Al Barkah.
Cita-citanya agar bisa keluar negeri akhirnya kesampaian juga. Melihat
bakat Tutty dalam berpidato, membaca Al’Quran, dan mendendangkan lagu-lagu
qasidah, sang ayah mengajak Tutty berdakwah di Singapura dan Malaysia
tahun 1959. Di Singapura ia dipercaya oleh Bapak Sugih Arto, Konsulat
Jenderal Republik Indonesia untuk berceramah di depan masyarakat Indonesia
yang datang lebih dari 500 orang. Di Singapura pulalah ia mendapat
pengalaman pertama yang tak terlupakan dimana ia terpaksa berceramah di
depan umum tanpa teks karena naskah ceramahnya ketinggalan. Pengalaman ini
menjadi titik balik, dimana dalam ceramah-ceramah selanjutnya ia tidak
lagi menggunakan catatan tertulis yang baku, kecuali dalam seminar atau
pidato resmi. Kaset-kasetnya mulai banyak beredar di toko-toko kaset
Singapura. Bahkan ada pula yang menamai anaknya dengan nama Tutty Alawiyah
dan Abdullah Syafi’ie.
Di Singapura ia melihat wanita tampil dengan baik dalam segala peran
kehidupan, baik muda ataupun tua. Mereka memimpin sekolah seperti ustadzah
Saadah Suhaimi di Ipoh Lane. Wanita-wanita Islam berbahasa Inggris,
berpakaian trendy, menyetir mobil sendiri, bekerja di luar, punya
organisasi yang mapan. Ia melihat di sana seperti tidak ada hambatan untuk
maju dan berkarier. Melihat hal ini, ia tertarik ingin menerapkannya
kepada kawan-kawan dan murid-muridnya di Indonesia.
Langkah awalnya adalah
dengan memodifikasi baju muslim. Ia terapkan baju dua helai atas bawah
dengan berbagai variasi kancing dan belah samping, karena ia tidak mau
terikat dengan baju berkain panjang. Baginya, pengalaman di Singapura ini
membuka beberapa tali belenggu sempitnya pemikiran terhadap
peluang-peluang kemajuan untuk wanita terutama wanita Islam yang ingin
tampil dalam berbagai kesempatan dan kegiatan.
Di Malaysia, ia berdakwah di Johore Baru dan Muar serta Batu Pahat. Saat
itu ia mendapat kehormatan besar karena diundang oleh isteri Sultan Johore.
Di Masjid Abu Bakar yang megah, ia memberikan acara lengkap, sejak dari
bacaan Al-Quran, ceramah, dan ditutup dengan beberapa lagu qasidah serta
puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Dua Permaisuri Agung Malaysia bahkan
pernah berkunjung ke Pesantren Khusus Yatim As-Syafi’iyah tahun 1984 dan
1986. Hingga kini, Tutty masih sering diundang untuk berdakwah di Malaysia
Barat dan Timur.
Selain berdakwah, masa remajanya juga diisi dengan menulis puisi dan
artikel yang dimuat di beberapa surat kabar ibukota. Beberapa puisinya
seperti Santri, Pesantren, Ulama dan Nafiri Ilahi diterbitkan oleh koran
Minggu Abadi dan Berita Minggu. Usahanya dalam menerjemahkan ayat Al’Quran
ke dalam bentuk puisi membuahkan hasil. Puisinya berjudul Yusuf yang Agung
menjadi puisi terbaik versi RRI tahun 1960, dimana penyelenggaranya adalah
Abdul Muthalib, pengasuh rubrik “Tunas Mekar”. Kebetulan waktu itu, ia
sering diajak oleh Sdr. Mahbub Junaidi, seorang penulis sastra, mengisi
acara di situ.
Di tahun yang sama, Tutty menikah dengan Ahmad Chatib Naseh dan dikaruniai
5 orang putra-putri. Walaupun ia menikah di usia yang masih muda (18 th),
dan masih duduk di bangku SMA dengan kesibukan yang bertumpuk, Tutty dapat
mengurus keluarganya, seperti layaknya ibu rumah tangga lainnya dan
berhasil meraih kesarjanaan dari Institut Agama Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Tahun 1963 ia mulai memperkenalkan seni qasidah di TVRI. Salah satunya
adalah dengan menampilkan pelajar-pelajar menyanyikan koor lagu-lagu As
Syafi’iyah yang ia ciptakan sendiri. Lagu-lagu ciptaannya direkam ke kaset
atas bantuan seorang Qori, almarhum H. Muhammadong. Sedangkan kaset
ceramah direkam di Radio As-Syafi’iyah. Sebuah radio yang kemudian
dirintisnya tahun 1967. Radio ini menyajikan program Santapan Rohani Pagi,
Berita Pagi, Dunia Selintas Kilas, Renungan Malam, Varia As-Syafi’iyah,
Pilihan Pendengar. Di Bulan Ramadhan dibuat program khusus bernama
Renungan Sahur yang dibawakan oleh Tutty selama 17 tahun sejak tahun
1968-1985. Kaset ceramahnya saat itu laku keras di pasaran Indonesia,
Singapura dan Malaysia.
Dalam rangka merayakan ulang tahun As-Syafi’iyah tahun 1968, Tutty
mengadakan acara besar di Stadion Utama Senayan yang dihadiri sekitar
60.000 orang. Dalam kurun waktu 10 tahun, 1970-1980, As-Syafi’iyah yang
dipimpinnya dipercaya untuk menangani kegiatan-kegiatan besar seperti
pembukaan MTQ V tahun 1972. Saat itu, As-Syafi’iyah mengerahkan hampir
6.000 orang, terdiri dari 2.500 pemain rebana, 2.000 senam indah, dan drum
band yang ditangani oleh sebuah organisasi rebana bernama LASQI (Lembaga
Seni Qosidah Indonesia), sebuah organisasi yang diprakarsai oleh Tutty dan
kawan-kawan.
As-Syafi’iyah juga memperoleh kesempatan menjadi penanggungjawab acara
perpisahan dengan Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin dan telah 3 kali
mengadakan acara BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim) di Stadion Utama yang
dihadiri lebih dari 140.000 orang pada tahun 1991, 1995 dan 1999. Majelis
taklim pada mulanya lahir dari pengajian di Masjid Al-Barkah yang dikelola
K.H. Abdullah Syafi'ie.
Sedangkan BKMT adalah sebuah organisasi yang
berdiri tahun 1981 atas prakarsa As-Syafi’iyah dengan mengundang
pengurus-pengurus Majelis-Majelis Taklim Se-Jabotabek untuk bermusyawarah
di Pesantren As-Syafi’iyah. Pertemuan itu dihadiri lebih dari 1500
pimpinan Majelis Taklim yang mewakili 798 Majelis Taklim se-Jabotabek. Di
usianya yang lebih dari dua dekade, BKMT sudah tersebar di 22 propinsi
seluruh Indonesia dengan jutaan anggota dan belasan ribu majelis taklim.
Saat As-Syafi’iyah genap berusia 50 tahun, Masjid Al Barkah diperluas
dengan membebaskan sekitar 16 rumah di sekitar masjid. Demi pembangunan
ini, Tutty merelakan rumah dan tanahnya yang sudah didiami selama 23 tahun
untuk dirobohkan pada bulan Desember 1983. Ia lalu membangun rumah kecil
yang tidak jauh dari tempat tersebut.
Ketika pembangunan besar-besaran baru mencapai 50%, KH. Abdullah Syafi’ie
meninggal dunia tanggal 3 Nopember 1985. Saat itu, seluruh masyarakat As-Syafi’iyah,
masyarakat Betawi, seluruh jamaah dan pelajar dan pendengar setia radio
berkabung. Atas jasa ayahnya yang besar dalam bidang pendidikan Islam,
pemerintah menganugerahkan penghargaan Bintang Maha Putera Pratama, dan
Pemerintah Khusus Ibukota menggunakan namanya sebagai nama jalan utama
menggantikan Jl. Lapangan Roos dan Kampung Melayu Besar.
Hingga kini, Tutty masih terus berkarya meneruskan pesan ayahnya agar ia
hidup berguna bagi masyarakat, kaum duafa dan wanita, terjun dalam bidang
dakwah, sosial dan pendidikan. Karena perhatiannya yang besar terhadap
kaum perempuan, berbagai dukungan dan simpati masih terus berdatangan. Itu
terbukti dari dukungan sekitar 600 anggota majelis taklim se-Jabotabek
menggelar aksi di DPRD DKI Jakarta menuntut agar Tutty – yang diajukan
oleh Fraksi Golkar – bisa menduduki kursi Gubernur DKI periode 2002-2007.
Terakhir, April 2003 yang lalu, Tutty sebagai Ketua International Moslem
Women Union (IMWU) untuk Indonesia menggelar kongres organisasi
internasional ini di Jakarta. Kongres yang melibatkan wakil perempuan dari
87 negara ini membahas isu seputar pemberdayaan wanita dan peran wanita
dalam perdamaian dunia. ► Atur LPS dari berbagai sumber.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|