| |
C © updated 10032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/mi |
|
| |
Biodata
Nama:
Turino Djunaedi
Nama Asli:
Teuku Djuned
Lahir:
Padang Tiji, Nanggroe Aceh Darussalam, 6 Juni 1927
Meninggal:
Jakarta, 8 Maret 2008
Agama:
Islam
Profesi
Aktor film,Sutradara, produser, penulis cerita dan skenario film
Pendidikan:
- Kursus Radio Telegrafis di Medan (1943)
- Sinematografi dan Produksi Film di Tokyo
Karya Filmografi:
= Meratap Hati (1950)
= Seruni Layu (1951)
= Si Mientje (1952)
= Pulang (1952)
= Rentjong dan Surat (1953)
= Sri Asih (1954)
= Kopral Djono (1954)
= Oh Ibunda (1955),
= Taman Harapan (1957)
= Iseng (1959)
= Gadis Di Seberang Djalan (1960),
= Detik-Detik Bersahaja (1961),
= Bermalam di Solo (1962),
= Kartika Aju (1963),
= Maju Tak Gentar (1964)
= Operasi Hansip 13 (1965),
= Belaian Kasih (1966),
= Kasih Diambang Maut (1967)
= Djakarta-Hongkong-Macao (1968)
= Orang-Orang Liar (1969)
= Bernapas dalam Lumpur (1970)
= Wajah Seorang Laki-laki (1971)
= Intan Berduri (1972)
= Kabut Bulan Madu (1972)
= Si Manis Jembatan Ancol (1973)
= Akhir Sebuah Impian (1973)
= Pacar (1974)
= Krisis X (1975)
= Ganasnya Nafsu (1976),
= Liku-Liku Panasnya Cinta (1976)
= Selangit Mesir (1977)
= Sorga (1977)
= Petualang Cinta (1978)
= Hati Selembut Salju (1981)
= Bernafas Dalam Lumpur (1991)
= Kabul Asmara (1994)
Penghargaan:
- Lifetime Achievement Award dalam Festival Film Asia Fasifik di
Jakarta, 2001
- Satya Lencana Wirakarya dari Presiden RI Megawati Soekarnoputrim 2004
Alamat Keluarga:
Jalan Gaharu I No 26 Cipete, Jakarta Selatan |
|
| |
|
|
|
|
| TURINO DJUNAEDI HOME |
|
|
 |
Turino Djunaedi (1927-2008)
Tokoh Paripurna Perfilman Nasional
Tokoh paripurna perfilman Indonesia, Turino Djunaedi, meninggal dunia
Sabtu 8 Maret 2008 pukul 20.55 pada usia 80 tahun di RS Setia Mitra,
Jakarta. Aktor film, sutradara, produser, penulis cerita dan skenario
film, kelahiran Padang Tiji, Nanggroe Aceh Darussalam, 6 Juni 1927,
itusudah lama menderita sakit karena stroke.
Jenazah tokoh pembangkit perfilman nasional itu disemayamkan di rumah
duka Jalan Gaharu I No 26 Cipete, Jakarta Selatan, dan dimakamkan Minggu
9 Maret 2008 pukul 13.00, di pemakaman keluarga di Gadog, Ciawi,
Kabupaten Bogor.
Kolega seangkatannya, sutradara H Misbach Yusa Biran (74), mengatakan,
Turino, bersama tokoh lain seperti Usmar Ismail, adalah perintis
industri film nasional setelah era kemerdekaan.
Peraih penghargaan Lifetime Achievement Award dalam Festival Film
Asia Fasifik di Jakarta, 2001dan Satya Lencana Wirakarya dari Presiden
RI Megawati Soekarnoputri, 2004, itu menguasai hampir semua profesi di
bidang perfilman, mulai dari aktor, penulis skenario, sutradara, hingga
produser.
Turino telah terjun ke dunia film sejak tahun 1950 dengan bermain
dalam film Meratap Hati produksi perusahaan film Golden Arrow. Minatnya
kepada film bermula saat dia mengedarkan film-film Mesir di Sumatera.
Lalu dia tertarik pada film Indonesia ketika untuk pertama kalinya
menionton film Indonesia Menanti Kasih, yang di bintangi A. Hamid Arief,
tahun 1949.
Setelah itu Turino berangkat ke Jakarta dalam upaya mendapatkan
film-film Indonesia. Tetapi sedampai di Jakarta, dia malah ditawari
bermain film oleh perusahaan Golden Arrow. Sejenak dia ragu dan bingung
sebelum akhirnya menerima tawaran itu. Itulah awalnya dia bermain film,
ikut membintangi film Meratap Hati tahun 1950. Kemudian berlanjut
pada film Seruni Layu tahun 1951 dan Si Mientje tahun 1952.
Dari data
www.tamanismailmarzuki.com, Turino telah berperan sebagai aktor ,
penulis dan sutradara puluhan film (karya filmografinya). Mulai dari
Meratap Hati (1950), Seruni Layu (1951), Si Mientje (1952, Pulang
(1952), Rentjong dan Surat (1953), Sri Asih (1954), Kopral Djono (1954),
Oh Ibunda (1955), Taman Harapan (1957), Iseng (1959), Gadis Di Seberang
Djalan (1960), Detik-Detik Bersahaja (1961), Bermalam di Solo (1962),
Kartika Aju (1963), Maju Tak Gentar (1964) Operasi Hansip 13 (1965);
Belaian Kasih (1966), Kasih Diambang Maut (1967),
Djakarta-Hongkong-Macao (1968), Orang-Orang Liar (1969), Bernapas dalam
Lumpur (1970), Wajah Seorang Laki-laki (1971), Intan Berduri (1972),
Kabut Bulan Madu (1972), Si Manis Jembatan Ancol (1973), Akhir Sebuah
Impian (1973), Pacar (1974), Krisis X (1975), Ganasnya Nafsu (1976),
Liku-Liku Panasnya Cinta (1976), Selangit Mesir (1977), Sorga (1977),
Petualang Cinta (1978), Hati Selembut Salju (1981), Bernafas Dalam
Lumpur (1991), dan Kabul Asmara (1994).
Dalam rangka menunjang karir, perusahaan dagang GAF yang didirikannya
pada awal 1950-an diubah menjadi perusahaan pembuat film. Selain sebagai
produser, dia juga berperan sebagai pemain utama dalam produksi
pertamanya, film Pulang tahun 1952. Begitu juga dalam produksi film
berikutnya yakni film Rentjong dan Surat tahun 1953, film Sri Asih tahun
1954 dan film Kopral Djono tahun 1954.
Tokoh paripurna dalam profesi perfilman itu, telah pula merangkap
sutradara sejak (dalam) film Sri Asih. Dalam film ini, Turino bermain
bersama Mimi Mariani yang kemudian menjadi istrinya. Beberapa film dia
bintangi dan sutradarai. Kemudian dia mendirikan perusahaan PT Sarinande
Film pada tanggal 13 Desember 1959. Produksi pertama Sarinande Film ini
adalah Iseng (1959). Film Iseng ini mengorbitkan nama pelawak Alwi dan
Oslan Hussein.
Sarinande telah memproduksi lebih dari 40 judul film sampai tahun
1980. Turino juga membimbing Pembantu Sutradara seperti Has Manan, Bay
Isbahi dan Arizal. Salah satu filmnya yang paling terkenal dan tentu
telah menghasilkan uang yang besar adalah Film Bernafas dalam Lumpur
(1970 dan 1991)
Turino Djunaedi yang bernama ssli Teuku Djuned, itu juga dikenal
sebagai salah satu pendiri Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI).
Dia juga berperan dalam Yayasan Nasional Festival Film Indonesia yang
sejak tahun 1973 mengadakan FFI hampir setiap tahun.
►ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|