| |
C © updated 11072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sctv |
|
| |
Nama:
Titie Said
Lahir:
Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935
Agama:
Islam
Pendidikan:
- Sarjana muda Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia
(1959)
Karir:
- Wartawati (redaktur majalah Kartini dan memimpin majalah Famili)
- Penulis Novel dan Cerpen (Novel antara lain: Jangan Ambil Nyawaku,
1977, Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia. Kumpulan; Cerpen: Perjuangan
dan Hati Perempuan, 1962)
- Ketua Lembaga Sensor Film
Alamat Kantor:
Jalan MT Haryono Jakarta
|
|
| |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time. |
|
|
|
| TITIE SAID HOME |
|
|
 |
Titie Said Novelis Pimpin LSF
Novelis yang memimpin Lembaga Sensor Film (LSF), Titie Said mengakui
banyak sinetron yang tidak melalui sensor LSF dengan alasan kejar tayang. Di sisi lain, sanksi yang ditentukan sesuai
UU No 8/1992 untuk pelanggaran seperti itu dinilai terlalu ringan, yakni
hukuman kurung maksimal satu tahun atau denda maksimal Rp 40 juta.
“Yang namanya kejar tayang, itu bisa 20 menit sebelum ditayangkan, barangnya
masih di jalan. Kapan LSF sempat mensensor?” katanya.
Selain itu, banyak juga sinetron yang menurut LSF dikategorikan sebagai
tayangan untuk orang dewasa (yang harus ditayangkan setidaknya pukul
22.00 WIB), ternyata kemudian ditayangkan sebagai tontonan untuk anak
atau remaja. Yang termasuk dalam kategori ini, antara lain adalah film
kartun Sinchan dan sinetron Bawang Merah, Bawang Putih.
Menurut Titie, menghadapi pelanggaran-pelanggaran seperti itu, LSF tidak
bisa berbuat banyak. Yang dilakukan LSF selama ini hanya mengirim surat
teguran kepada pihak yang melanggar. Tindakan yang lebih tegas, lanjut
Titie, seharusnya dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena
komisi itulah yang memiliki wewenang.
Menurut Titie Said Sadikun, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), trailer
yang ditayangkan berbagai televisi, memang oleh produsernya tidak
disertakan, sebagai bagian dari materi film yang seharusnya disensor
oleh LSF.
Tayangan Mistik
Belakangan pun banyak tokoh yang mulai risih dengan maraknya tayangan
mistik. Hal ini membuat Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Titie Said
mengundang majelis-majelis agama untuk menyikapi maraknya tayangan
mistik, pornografi dan reality show di televisi.
"Kami ingin mendengar apa sih mistik itu dari berbagai elemen agama.
Hal ini untuk menyatukan pendapat sehingga kita bisa mendapatkan hal
yang pasti tentang pengertian mistik", kata Titie Said di sela-sela
acara konsultasi LSF dengan Majelis-majelis agama dan insan perfilman
dan televisi di Gedung Film, Rabu (9/6) lalu.
Titie mengakui, tidak semua tayangan televisi bisa disensor, terutama
tayangan yang bersifat berita (termasuk berita-berita kriminal) dan
reality show. Apalagi sekarang ini banyak acara yang disiarkan secara
langsung.
"Kalau LSF terlalu jauh, nanti disangka memasung kreativitas. Karena
biar bagaimana pun kita harus mendorong kreativitas anak bangsa. Selama
ini kita juga tak sedikit menghapus tayangan mistik yang berlebihan",
kata Titie.
Lantaran begitu derasnya kemajuan teknologi dan informasi, Titie
berharap masyarakat juga harus turut aktif dalam melakukan self
censorship. "Masyarakat harus punya sikap terhadap tayangan-tayangan di
televisi. Misalnya ada yang merasa dirugikan, atau ada tayangan yang
dianggap negatif bagi moral masyarakat, maka masyarakat harus menunjukan
sikap ketidak-setujuannya. Namun jangan berbondong-bondong, melainkan
harus melalui prosedur yang ada, misalnya melalui perangkat hukum yang
ada. Jadi lebih santun dalam menyikapinya", tutur Titie Said. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|