| |
C © updated 18052006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
H Syaukani HR
Nama Lengkap:
Prof Dr H Syaukani Hasan Rais, SE, MM
Nama Panggilan:
Pak Kaning
Lahir:
Tenggarong, Kutai Kartanegara, 11 November 1948
Jabatan:
- Bupati Kutai Kartanegara periode 1999-2004 dan 2005-2009
- Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalimantan Timur
- Rektor Universitas Kutai Kartanegara
Pendidikan:
Sekolah Rakyat, Tenggarong
- SMP 19 (kini SMP 1) Tenggarong
- STM Samarinda (hanya satu tahun)
- SMA I Tarakan, 1968
- BSc Universitas Mulawarman, 1973
- S1 Fakultas Ekonomi Universitas Jember, 1978
- S2 (Magister Manajemen) Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto,
2001
- Doktor (S3) Ilmu Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor, 2005
- Guru besar (profesor) ilmu ekonomi Unikarta, 2006
Pendidikan Lainnya:
- Pendidikan dan Latihan Staf dan Pimpinan Administrasi Tingkat Menengah
(SPAMEN) di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia, 1995;
- Program Khusus Legislativ di Departemen Dalam Negeri Republik
Indonesia, 1997
- Special Education Reinventing Government Course di Amerst,
Massachusets, AS, 1996
Karir:
- Kepala SMEA, Tenggarong 1973
- Kepala Seksi Ipeda Dispenda, Kutai, 1978
- Kepala Seksi Pendapatan Lain-lain Dispenda, Kutai, 1979
- Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kutai, 1980
- Kepala Bagian Sosial Sekretariat Wilayah Daerah Kabupaten Kutai, 1991
- Asisten I Tata Praja Sekretariat Wilayah Daerah Kabupaten Kutai, 1991
- Kepala Dinas Pendapatan Pemda Kababupaten Kutai, 1992
- Ketua DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (dua periode 1997-1999 dan
1999)
- Bupati Kutai Kartanegara, 14 Oktober 1999-2004 dan 2005-2009
- Rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta)
Kegiatan Lainnya:
- Direktur Lembaga Penelitian Universitas Kutai Kartanegara
Alamat: Kantor:
- Bupati Kutai Kartanegara, Jalan Wolter Monginsidi, Tenggarong, Telp
(0541) 624018 Fax (0541) 662056
- Rektor Unikarta, jalan Gunung Kombeng No 27, Tel (0541) 661821 Fax
(0541) 661822, Po Box 133 Tenggarong
Alamat Rumah Dinas:
Jalan Monumen Utara, Tenggarong, Tel (0541) 61019 – 62026
Rumah Pribadi:
Jalan Panji No. 1, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Tel (0541) 664001 Fax
(0541) 661030
E-mail:
syaukani_hr@smd.mega.net.id
Website:
www.tokohindonesia.com/
ensiklopedi/s/syaukani-hr/
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
=
Prof Dr H Syaukani Hasan Rais, MM (05)
Wawancara: Daerah Kuat, NKRI Kukuh Pada era otonomi
daerah saat ini, beri kesempatan daerah untuk berkembang dan berkreasi.
Kalau daerah makmur, negara kita makmur. Kalau daerah kuat, NKRI kita
kokoh. Kalau pusat makmur, belum tentu daerah makmur. Kalau pusat kuat,
belum tentu daerah kuat. Demikian visi Prof Dr H Syaukani HR, SE, MM,
sebagai seorang putra bangsa yang berpikir tentang kepentingan bangsa
secara keseluruhan.
Bupati Kutai Kartanegara (1999-2004 dan 2005-2010) yang
menjabat Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalimantan Timur mengemukakan
hal itu dalam percakapan dengan Tim Wartawan Tokoh Indonesia (TWTI) di
Hotel Singgasana, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan
Timur, Kamis 13 April 2006. Percakapan berlang-sung di restoran hotel
berbintang tiga itu. Sejumlah tamu yang sedang sarapan pagi juga sengaja
ditemuinya di restoran hotel itu.
Di antaranya 16 mubaligh muda Finalis Dai TPI yang sengaja didatangkan
untuk memberikan tausiyahnya pada Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad
SAW 1427 Hijriah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Acara itu
berlangsung semarak, Rabu (12/04) malam. Ribuan warga tumpah ruah
memadati lapangan parkir gedung Puteri Karang Melenu, Tenggarong
Seberang. Acara itu juga dihadiri para pejabat Muspida Kukar, kepala
dinas/instansi, tokoh agama serta Ketua Badan Kehormatan DPR RI Slamet
Effendy Yusuf.
Tim Wartawan Tokoh Indonesia berada di Kukar selama lima hari (11-14
April 2006), berkeliling mengunjungi dan mengamati sejumlah tempat,
mulai pagi hingga malam hari. Bak wisatawan yang menikmati keagungan dan
kemegahan Kukar. Tentu saja, juga berbicara dengan sejumlah penduduk,
wartawan koran lokal, kerabat Keraton, pejabat Pemda dan Ketua DPR
Bachtiar Effendy.
Pertemuan dengan Bupati H Syaukani HR, tidak pernah diagendakan secara
khusus. Hanya saja, kunjungan Tim Wartawan Tokoh Indonesia (TWTI), ini
memang merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di Wisma Kutai
Kartanegara, Jalan Cimahi, Menteng, Jakarta Pusat. Saat itu, Syaukani,
memilih irit berbicara baik tentang profil dirinya sendiri maupun profil
keberhasilan pembangunan Kutai Kartanegara. “Alangkah lebih baik Anda
mengun-jungi daerah kami, daripada hanya berbicara dengan saya,”
katanya.
Ketika TWTI tiba di Kukar, Bupati H Syaukani HR, tengah berada di
Jakarta untuk kemudian ke Bangka Belitung, menghadiri sebuah acara,
dimana dia dianugerahi penghargaan. Setelah tiga hari mengunjungi
berbagai objek di Kukar, TWTI menyampaikan kepada ajudan keinginan
bertemu bupati. Kamis pagi (13/4), bupati datang ke restoran hotel milik
Pemda Kukar itu, menemui para tetamunya. Satu persatu tamu itu dilayani,
termasuk melayani percakapan dengan TWTI.
Percakapan dengan TWTI berlangsung akrab, seperti layaknya sahabat yang
sudah lama saling kenal. Dia seperti sangat yakin bahwa TWTI telah
mengenalnya setelah sekian hari mengunjungi berbagai tempat di Kukar.
Percakapan yang sangat terbuka, disaksikan beberapa tamu yang duduk di
meja sebelah.
Demikian petikan percakapan dengan Prof Dr H Syaukani HR, SE, MM, itu:
MTI: Bisa Anda mulai dari masa kecil, bagaimana pengasuhan orangtua?
SHR: Masa kecil saya penuh tantangan. Karena umur tiga tahun saya
ditinggalkan ayah. Saya hidup dengan ibu dan nenek. Jadi saya terbiasa
mandiri. Untungnya kakak saya tiga orang perempuan, mereka bisa
mengayomi. Keadaan itu membuat kami selalu berpikir mandiri. Jadi
menghadapi tantangan itu merupakan hal yang biasa.
Keadaan susah itu saya alami. Karena itu ketika sekarang ini saya
mendapat kepercayaan dari rakyat, saya memperhatikan orang susah. Dan
yang paling penting bagi saya dalam kehidupan ini, bagaimana menciptakan
hubungan baik dengan yang lain. Kemudian kalau diaplikasikan di
organisasi bagaimana mempunyai hubungan yang baik dengan semua orang.
Kita tidak bisa hidup sendirian, harus selalu tergantung kepada pihak
lain, dan pihak lain juga tergantung kepada kita. Jadi kita belajar dari
itu, mungkin dari hal-hal kecil bisa diperluas menjadi scope yang lebih
besar. Ini saya kira yang selalu mendasari saya bahwa kita hidup ini
harus berguna bagi orang lain.
Dalam hidup ini, saya mempunyai tiga prinsip. Pertama, hidup seperti
lilin, harus berani berkorban demi kepentingan yang lebih besar,
menghilangkan kegelapan sekalipun badan meleleh. Kedua, hidup seperti
batu karang. Harus tahan banting oleh berbagai benturan gelombang
tantangan. Ketiga, prinsip hidup seperti lebah. Prinsip kekompakan,
kebersamaan dan persatuan yang menjadi kekuatan, seperti lebah.
MTI: Kembali lagi ke masa kecil Anda, menjalani pendidikan di bawah
asuhan seorang ibu?
SHR: Saya menjalani masa pendidikan dengan prihatin. Di situ saya
memandang pendidikan sangat penting untuk masa depan. Karena itu saya
menulis buku “Pendidikan Paspor Masa Depan.” Karena saya sering menulis
buku.
Saya mengawali karir sebagai pendidik, karena saya cinta dengan
pendidikan. Saya sebagai guru dan tahun 1974 saya sudah sebagai kepala
SMEA. Begitu lulus di Unmul, sarjana muda saja, sarjana tengah, Bsc.
Setelah bekerja saya melanjutkan ke Jember.
MTI: Sampai sekarang masih menggeluti pendidikan?
SHR: Tahun 1985 saya mendiri-kan Universitas Kutai Kartanegara. Saya
sebagai pendirinya bersama Bupati Kutai waktu itu. Tapi saya punya
inisiatif. Saya mendirikan itu, dengan menggabungkan beberapa perguruan
tinggi swasta yang ada waktu itu.
Karena saya lihat, motivasi perguruan-perguruan tinggi yang dulu itu
untuk mencari keuntungan seperti di perusahaan. Saya nggak mau
masyarakat saya dijadikan korban, diperas oleh pendidik. Lalu saya
dirikan Universitas Kutai Kartanegara, saya jadi pembantu rektor,
bupatinya rektor. Sehingga saya mempunyai jabatan akademis mulai dari
lektor, lektor kepala dan rektor dan dianugerahi gelar profesor.
Setelah dipercaya jadi Ketua Apkasi di Jakarta, hampir lima puluh persen
waktu saya di Jakarta, lalu saya manfaatin juga sekolah program S3 di
Institut Pertanian Bogor (IPB). Sekolah kan nggak kenal usia, sampai
akhir hayat. Long life education, artinya pendidikan itu berlangsung
seumur hidup. Saya mau memberi contoh, bupati pun bisa sekolah, sudah
tua pun sekolah, apalagi yang masih muda. Mereka yang bekerja harus
berpendidikan. Saya mau memberi contoh ke masyarakat saya, bahwa saya
ini betul-betul sekolah, step by step.
MTI: Perihal perjalanan karir Anda, dari mulai guru SMEA sampai jadi
bupati, bagaimana prosesnya?
SHR: Jadi setelah saya lulus belajar dari Jember, saya dapat S1, saya
bekerja di Pemda Kabupaten Kutai. Kemudian menduduki beberapa jabatan,
di antaranya sebagai kepala dinas pendapatan. Di samping itu, saya ikut
terjun beror-ganisasi, saya ketua Angkatan Muda Pembaru Indonesia,
underbouw-nya, sayapnya Golkar. Kemudian KNPI, gelanggang remaja, PPM,
saya anak pejuang juga. Jadi ikuti semua organisasi yang ada.
Kemudian membawa saya menjadi sekretaris DPD Golkar dua kali di Kutai
ini, sampai sekarang dipercaya jadi ketua DPD Partai Golkar Kaltim.
Kemudian saya terjun sekaligus di dunia politik. Tahun 1997 saya jadi
ketua DPRD, saya dua periode jadi ketua DPRD. Tapi dua periode itu
jangka waktunya hanya dua tahun. Tahun 1997, Golkar meraih suara 73
persen, sehingga saya diangkat jadi ketua DPRD.
Lalu reformasi tahun 1998, kemudian Pemilu dipercepat tahun 1999, Golkar
kalah, PDIP menang tapi saya tetap diangkat jadi ketua DPRD untuk
periode kedua, tapi hanya 4 bulan, kemudian ada pemilihan bupati. Bupati
masih dipilih oleh anggota DPR. Dan walaupun PDIP pemenang Pemilu, bukan
Golkar, tapi mereka semua mantan kader-kader dan kawan saya, jadi mereka
tahu apa saya pantas dipilih atau tidak. Saingan saya bupati yang lama
dan Sekda yang lama, pemegang kekuasaan. Dan saya menang, jadilah
bupati.
Sebelumnya, tahun 1992, saya sudah pernah diusulkan jadi bupati. Ini
cerita yang agak menarik juga bagi saya. Tahun 1992 Golkar menang, saya
ketua Golkar, saya diusulkan oleh seluruh elemen masyarakat untuk jadi
bupati, termasuk 3 fraksi dari 4 fraksi DPRD yang mengusulkan saya. Tiga
fraksi itu, fraksi Golkar, fraksi ABRI, fraksi PPP. Yang satu PDI, dia
tidak mendukung saya karena terkonspirasi dengan gubernur.
Dulu masih berkuasa yang namanya tiga jalur, jalur A, jalur B dan jalur
G. Saya termasuk salah satu korban sistem dulu. Kenapa? Karena walaupun
saya ketua Golkar, itu hanya kendaraan, tapi kalau sudah tingkat atas
berkehendak lain, tidak bakalan, karena demokrasi dulu, demokrasi semu.
Berbagai elemen masyarakat menaikkan nama saya, tapi mereka (penguasa
sistem itu) mencoret nama saya, tidak diikutkan sebagai calon bupati.
Pemilihan bupati dilakukan dalam Sidang Paripurna DPRD Kutai. Tapi waktu
itu, 19 orang anggota DPRD Kutai nggak mau hadir. Sidang tidak memenuhi
qorum, tapi tetap dilaksanakan, menang Pak Sulaiman. Tapi rakyat Kutai
protes karena nggak memenuhi qorum. Suatu tindakan protes yang berani
dan langka pada kala itu. Protes waktu itu sampai ke menteri, kenapa
dimenangkan. Walaupun pemilihan, tapi tidak memenuhi qorum. Akhirnya
dibatalkan.
Tapi waktu itu saya masih berpikir panjang. Pada demokrasi semu itu,
saya masih bisa berpikir kalau saya maju saya masuk jurang sama-sama,
mungkin saya dihabisin. Lalu saya mundur dua langkah, saya pasang
kuda-kuda. Karena saya masih muda juga waktu tahun 1992. Saya bilang
okelah siapa yang dimaui oleh gubernur kita dukung saja. Ini 19 orang
yang lari saya jamin akan mengikuti sidang, saya jamin akan memberi
suara memenuhi keinginan atasan. Dan itu saya tepati, semuanya nurut apa
yang saya katakan. Akhirnya jadilah bupati yang namanya HM Sulaiman.
Saya bawahannya, waktu itu saya masih kepala Dispenda. Kemudian karena
selalu bersebelahan sama bupati, saya pindah ke legislatif. Saya lari ke
politik.
MTI: Lalu bagaimana kejadi-an Anda diganti tiba-tiba pada masa
jabatan periode pertama?
SHR: Saya sebenarnya habis 1 November 2004, itu lima tahun. Lalu dari 1
November menjelang Pilkada, karena PP-nya belum dibentuk waktu itu,
tahun 2004, Mendagri mengeluarkan surat keputusan yang ditandatangani
Dirjen memperpan-jang masa jabatan saya. Lalu, setelah kabinet berganti,
Mendagri berganti, tiba-tiba saya diberhenti-kan tanpa lebih dulu
memberitahu dan tanpa alasan yang jelas.
Bagi saya sebenarnya nggak masalah diganti atau dipotong, nggak ada
masalah sama sekali. Cuma etika menggantinya tanpa memberitahu saya,
tanpa memberitahu DPRD, tiba-tiba saja dan dilaksanakan mendadak, tanpa
menghargai kita. Hari kamis terbit SK, hari Jumat baru dikirim ke DPRD,
hari Senin digantikan. Saya ada di Jakarta, nggak diberitahu. Hari Sabtu
ada di surat kabar kalau saya diberhentikan. Jadi waktunya singkat.
MTI: Terjadi demo dan keguncangan di daerah ini, sampai Pilkada
dilakukan dan kemenangan Anda sangat mutlak, kalau nggak salah sekitar
60 persen lebih, bagai-mana hasil ini bisa dicapai?
SHR: Saya bersyukur karena saya Pilkada pertama dan situasinya kondusif.
Yang hadir juga banyak memilih, dari 300an ribu suara, saya mungkin 160
ribu lebih. Jadi cukup signifikan, walaupun pada waktu itu black
campaign luar biasa.
Saya pikir oleh pihak atas, saya sudah tidak dikehendaki lagi.
Saya kan diperiksa macam-macam karena sudah tidak berkuasa lagi. Yang
berkuasa itu gubernur dengan pejabat bupatinya. Saya diperiksa
macam-macam, disangka saya ini koruptor. Tapi Allah Maha Tahu kan. Ya
silahkan, saya bilang, saya nggak takut diperiksa. Kalau ada yang
bengkok, silahkan tunjukkan saya yang bengkoknya. Kalau ada yang bopeng,
silahkan tunjukkan saya. Saya welcome. Diperiksa mulai dari Irjen, BPK,
BPKP, macam-macam memeriksa. Tapi Alhamdulillah, saya bebas dari
sangkaan korupsi yang mereka gembar-gemborkan.
Saya tidak bilang saya mutlak benar. Tapi kalau pun ada kesalahan
mungkin kesalahan administrasif saja, atau kebijakan atau apa. Tapi kala
itu saya dinyatakan koruptor. Saya merasa belum pantas disebut itu,
karena saya nggak pernah merugikan negara. Malah negara harusnya memberi
bintang kepada saya karena saya banyak menyelamatkan uang negara
daripada macam-macam. Karena sejelek-jeleknya saya, saya bisa membangun
daerah kami ini.
MTI: Sebagai bupati, Anda punya konsep Gerbang Dayaku yang tahap
pertama sudah selesai dan bisa mengubah demikian baik daerah ini?
SHR: Gerbang Dayaku itu, Gerak-an Pengembangan Pemberdayaan Kutai
Kartanegara. Itu konsep kami yang selalu berbasis pada pember-dayaan.
Artinya semua stakeholder harus berperan, berfungsi dan mem-berikan
kontribusi yang maksimal.
Gerbang Dayaku tahap kedua, bedanya sekarang ini kami tekankan bagaimana
menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih dan penegakan supremasi
hukum. Kenapa? Karena belajar dari pengalaman yang pertama bahwa kalau
tidak dilaksanakan oleh pejabat yang amanah, tidak dilaksanakan oleh
pejabat yang profesional dengan baik, Gerbang Dayaku itu mungkin akan
lebih banyak dirasakan oleh pejabat daripada masyarakat.
Karena itu yang kedua ini masyarakat harus lebih banyak merasakan
daripada pejabat, yang menikmati lebih besar harus masyarakat, supaya
mempercepat proses kemajuan dan kesejahteraan. Jadi para pejabat harus
bersih dari KKN, kesimpulannya.
Tahap kedua ini ada tiga sektor yang menjadi prioritas (unggulan)
Gerbang Dayaku, yakni (1) Pening-katan sumber daya manusia, (2)
Pengembangan agrikultur dalam artian luas, dan (3) Pengembangan industri
pariwisata dengan menjadi-kan Kukar sebagai tujuan wisata.
Tiga sektor ini yang nanti akan merupakan bentuk persiapan kami dalam
menghadapi masa depan Kukar. Seandainya sumber daya alam yang sekarang
kami andalkan, minyak bumi, gas alam, itu habis atau berkurang, jadi
bisa ditransformasi ke dalam tiga sektor. Karena itu infrastruktur yang
menunjang tiga sektor kami penuhi. Jadi itu bentuk komitmen kami untuk
menjaga sustainable development dan tanggungjawab kepada anak cucu ke
depan.
MTI: Proses lahirnya konsep Gerbang Dayaku ini murni dari Anda?
SHR: Murni dari saya.
MTI: Bagaimana sampai pemikiran demikian komprehensif dan aplikatif
itu bisa lahir?
SHR: Hidayah Tuhan. Pengalam-an. Harus bisa dibuktikan, bukan sekedar
NATO, No Action Talk Only, tapi kami implementasikan. Itulah kami
mensyukuri yang namanya otonomi daerah. Kalau dulu kita jadi penonton,
sekarang kita bisa ber-buat. Kalau dulu istilahnya memba-ngun daerah
dikendalikan orang, diatur orang, istilahnya oleh pihak ketiga kita
harus diseragamkan semua Indonesia, tapi sekarang di era otonomi yang
namanya daerah membangun.
Daerah yang punya kreasi, daerah yang punya inisiatif, daerah yang
mengetahui sikonnya sendiri. Sehingga dia membangun daerahnya
berdasarkan prakarsanya sendiri. Itulah otonomi daerah.
Kalau dulu kami jadi penonton karena semua hasil kami diangkut ke
Jakarta. Tapi saat ini di era otonomi daerah ada yang namanya
tetesan-tetesan melalui perimbang-an keuangan pusat daerah. Tanpa
perimbangan pusat daerah, pemerintahan kita sungguh tidak berkeadilan.
Masa daerah kita diobok-obok, hancur total daerah kita tapi yang
menikmatinya di Jakarta. Hutan kita habis dipindah jadi hutan beton ke
Jakarta. Sementara daerah kami masih becek kalau hujan, atap masyarakat
masih bocor kalau hujan. Masak kami tidak bisa mendorong masyarakat
untuk sejahtera.
MTI: Dengan adanya otonomi daerah, ada pembagian perimbangan
keuangan, tapi tanpa konsep yang baik, tidak mungkin melahirkan gerakan
pembangunan yang demikian baik?
SHR: Itulah komitmen kami, itulah semangat kami, itulah tang-gung jawab
kami. Karena amanah kan harus dipertanggunjawabkan dalam bentuk yang
terarah, terpadu, dan betul-betul aplikatif, bisa diterapkan. Kalau
tidak bisa diterapkan, muluk-muluk namanya.
MTI: Konsep GD ini membutuhkan sumber daya manusia sebagai
aplikatornya?
SHR: Sumber daya manusia dan sumber daya uang. Seperti misalnya saya
membangun Pulau Kumala. Dulu pulau itu kan delta saja, tempat kera saja
di sana. Sejuta setengah kubik pasir saya masukkan ke sana, baru bisa
dibangun. Dulu saya disebut orang gila, mau membangun pulau itu. Saya
disebut mau menenggelamkan pulau, kare-na memasukkan pasir, dikira pasir
itu akan menenggelamkan pulau itu.
Singapura itu, saya bilang, tanahnya kurang, kok mendatangkan pasir dari
Indonesia, nguruk daerahnya, bisa dijadikan pencakar langit. Masak kita
di sini tidak bisa membangun seperti itu. Malah saya dituding perusak
lingkungan. Lingkungan apa? Sekarang kan lima ribu pohon saya tanam di
pulau itu. Sekarang kan sudah mulai hijau, fakta kan, termanfaatkan,
paling tidak unik. Nggak ada daerah lain yang di tengah sungai ada pulau
yang bisa dimanfaatkan karena di depan kota. Strategis untuk hiburan
keluarga.
Kalau saya tidak membangun hiburan menarik di Tenggarong, saya khawatir
orang-orang Tengga-rong rame-rame ke Samarinda, karena ada jembatan saya
bangun. Jembatan yang saya bangun ini mempercepat, dari satu jam menjadi
setengah jam ke Samarinda. Saya bangun lagi jalan yang bagus ke sana.
Itu supaya arus Samarinda, arus Balikpapan ke Tenggarong, bukan
sebaliknya. Karena itu di Tenggarong harus tercipta obyek-obyek menarik.
Saya bangun hotel, obyek-obyek, supaya orang mau tinggal di sini. Dulu
nggak ada orang yang mau tinggal di Tenggarong.
Ke depan, Pulau Kumala akan saya benahi betul-betul, jembatan gantung
akan saya bangun, jalan lingkungan pulau akan saya benahi lagi. Kemudian
ada beberapa obyek yang akan saya bangun lagi di sana, wahana-wahana,
water park akan saya bangun. Itu untuk hiburan keluarga, family
entertainment.
Kemudian saya akan membangun lagi bandar udara sebagai pintu gerbang.
Juga akan membangun lapangan golf internasional. Saya mendatangkan
Thompson dari Australia, sebagai desainer sekaligus pelaksananya karena
saya mau membangun tidak mau kepalang, internasional. Ada 10 hektar yang
saya siapkan, sudah ada lahannya. Sudah ditinjau, bagus sekali. Lengkap
dengan club house, hotel, air bersih, dan sebagainya. Sebagai salah satu
tujaun wisata kan harus begitu.
Di tengah percakapan itu, tiba-tiba listrik padam.
Aneh di Kaltim ini, tempat keluarnya minyak, gas, batu bara, energi
semua keluar, tapi PLN padam. Daerah lain yang nggak punya energi, tidak
pernah mati. Jakarta nggak pernah mati. Dikorban daerah penghasil
minyaknya. Karena itu saya berpikir power plan mesti bagus, saya invest
power plan, ada 100 mega. Kemudian air bersih kita bangun juga, kemudian
telekomunikasi. Sampai kami menerapkan nanti yang namanya e-government,
pakai komputer sistem pemerintahan kita dan menjurus nanti ke sistem
pendidikan e-learning, e-education.
MTI: Dalam rencana Anda akan tercapai tahun berapa?
SHR: Sampai 2010. Tahun 2010 Kutai Bersinar, artinya bersinar dari jauh
sudah kelihatan. Setelah itu Kutai Emas. Kalau orang luar negeri kenal
Indonesia dengan Bali, seakan-akan di Bali saja Indonesia. Saya nggak
usah sampai Indonesia, kalau orang luar ditanya kenal Kalimantan, oh
Kutai Kartanegara, nah itu saja. Karena itu saya ingin membuat image,
Kutai ini harus dikenal untuk mempersiapkan diri menjadi salah satu
daerah tujuan wisata. Kenapa tujuan wisata? Karena industri ini
multiplayer effect-nya dirasakan langsung masyarakat.
Teori TTI, Tourism Trade Investment. Apabila suatu daerah dikembangkan
pariwisata maka perdagangan akan berkembang. Apabila perdagangan
berkembang tentu akan banyak investor masuk ke sana. Kalau invest masuk
berarti pertumbuhan ekonomi akan meningkat, menyerap tenaga kerja,
meningkatkan pendapatan masyara-kat, mengurangi pengangguran.
Itulah. Tujuan saya hanya satu, ingin melihat standard of living
masyarakat saya meningkat, di kota maupun di desa. Nggak lebih, nggak
kurang itu saja. Semua usaha kita padukan, baik yang namanya peningkatan
sumber daya manusia, kemudian pertanian dalam arti luas, kemudian
tourism, itu tujuannya pengentasan kemiskinan.
Peningkatan SDM melalui pendidikan terus digalakkan sebagai langkah
pengentasan kemiskinan jangka panjang. Pengentasan kemiskinan jangka
panjang karena pendidikan ini mungkin 15 sampai 25 tahun baru kita lihat
hasilnya.
Kenapa terjadi kemiskinan struktural dan kultural di Indonesia, dan di
Kutai? Karena tadi, pendidik-an rendah, kesehatan rendah, produktivitas
menjadi rendah. Kalau produktivitas rendah, pendapatan masyarakat
menjadi rendah, dia tidak bisa memenuhi kebutuhan. Itulah kemiskinan
struktural.
Karena kultur orang sini malas-malas mungkin, karena struktural antara
kota dan desa, antara sektor industri dan sektor yang lain, itu yang
menyebabkan kemiskinan. Sekarang mata rantainya harus dipotong.
Pendidikan harus ditingkatkan, kesehatan harus baik, sehingga
produktivitas meningkat, pendapatan masyarakat meningkat, lalu dia bisa
memenuhi kebutuhan, baik primer maupun sekunder.
MTI: Langkah-langkah Anda untuk meningkatkan pendidikan?
SHR: Ada tiga task force yang kita laksanakan. Tiga task force
ini yang saya bentuk, saya pidatokan awal tahun waktu menyambut tahun
baru. Pertama adalah penguatan dan pengawasan penegakan supre-masi
hukum, artinya menciptakan good and clean government dan law
enforcement kita tegakkan.
Kedua, peningkatan sumber daya manusia, pendidikan dan kesehatan. Jadi
tegas sebagai think tank, sebagai pemikir, ada terobosan yang lebih
bukan sekedar makhluk biasa tapi ada crash programnya.
Ketiga, pengembangan potensi daerah berbasis pada peningkatan pendapatan
masyarakat. Jadi kami ingin mengembangkan potensi daerah, seperti
memanfaatkan lahan untuk kelapa sawit, jarak, pertam-bangan, tapi harus
meningkatkan pendapatan masyarakat. Investor masuk harus melibatkan
masyara-kat, ada inti, ada plasma, dan lain sebagainya. Sehingga
peningkatan pendapatan masyarakat signifikan, dengan jaminan induknya.
Penegakan supremasi hukum dan pengembangan potensi daerah ini, merupakan
langkah jangka pendek dan jangka menengah untuk mengentaskan kemiskinan,
karena banyak program terobosan. Semen-tara pendidikan dan kesehatan
merupakan langkah pengentasan kemiskinan jangka panjang.
Kalau semua sudah berkualitas masyarakat kita nggak ada miskin nanti.
Nggak ada orang pendidikan tinggi yang miskin, pasti dia berpikir
bagaimana mengatasi masalah.
Karena itu wajib belajar 12 tahun di Kutai sudah kami canangkan.
Kalau di daerah lain baru 9 tahun, kami wajib belajar 12 tahun. Tidak
ada alasan orangtua untuk tidak meyekolahkan anaknya, malah ada sanksi
hukum nanti. Ada juga program Zona Bebas Pekerja Anak (ZBPA), subsidi
pendidikan, insentif guru dan perbaikan sarana pendidikan. Untuk
pendidikan dan peningkatan SDM ini, mulai tahun 2006 ditetapkan anggaran
20 persen.
MTI: Kabupaten Kukar terdiri dari 18 kecamatan, mungkin masih ada
kecamatan-kecamatan yang terbelakang dan terisolir sehingga perlu
percepatan pembangunan?
SHR: Untuk menerobos keterbe-lakangan dan keterisolasian, kita telah dan
akan terus membangun infrastrukturnya. Di Tenggarong kita bangun
jembatan seperti Golden Gate di San Fransisco. Satu lagi jembatan
Martadipura, seperti Sidney bridge, Sidney harbour, telah selesai
dibangun. Jembatan itu di daerah pedalaman dapat ditempuh melalui sungai
Mahakam selama dua jam naik speedboat dari Tenggarong. Sudah selesai
dibangun cuma jalan penghubungnya yang masih akan dilanjutkan, sekitar
40-50 kilo meter.
Jembatannya untuk menembus, membuka lima kecamatan yang terisolasi.
Kalau sekarang mau ke sana itu 2 hari 2 malam tapi dengan adanya
jembatan yang kami bangun pulang pergi satu hari bisa ditem-puh. Jadi
ini membuka peluang ekonomi yang luar biasa. Dan ini sudah dilakukan.
MTI: Semua itu muaranya meningkatkan pendapatan masyarakat. Bagaimana
target perkapitanya tahun 2010?
SHR: Saya kalau teori kurang hapal. Karena banyak teori tapi tidak bisa
dilaksanakan, biasanya. Saya kan maunya yang praktis, yang bisa
dilaksanakan. Sebenarnya hitungan perkapita itu tidak penting, tidak
realistis. Karena mengukur perkapita kan pendapatan bruto, gross
national product dibagi jumlah penduduk. Tapi masalahnya penye-baran
pendapatan ini tidak merata. Sektor industri terpusat di kota-kota,
sementara masyarakat banyak yang di sektor agraris. Saya pikir tidak
realistis. Pendapatan perkapi-ta kita besar, benar tapi penebaran dan
pemerataannya perlu.
Tapi kami kan tidak mungkin membangun rumah bagi setiap orang, nggak
mungkin mengisi tiap rumah dengan kulkas, tv dan sebagainya. Itu harus
mereka sendiri yang membangunnya. Karena itu kita cerahkan, kalau mau
kesejahteraan naik, rakyat harus mensejahterakan dirinya sendiri. Kita
hanya memberi pancing, memberi peluang, membangun infrastruktur
pendukung.
MTI: Kemudian masalah hubungan (transportasi) ada rencana membangun
bandara dan kereta cepat dari Balikpapan ke Tenggarong?
SHR: Saya tidak bikin kereta cepat dari Balikpapan ke Tengga-rong, hanya
bandara. Kemudian kereta api mungkin perlu tapi dari Samarinda ke
Bandara supaya Samarinda mudah ke sana. Kalau bang Yos ada monorel,
monorel kami pendek, hanya beberapa belas kilo saja.
MTI: Setelah sekian tahun menjabat Ketua Golkar di Kutai, sekarang
menjadi ketua Golkar Provinsi Kaltim?
SHR: Itukan kepercayaan saja. Tidak ada orang lain yang mau, ya saya.
Apa boleh buat. Karena tujuan saya hanya ingin bagaimana berbuat yang
terbaik. Kalau dari partai, ini salah satu sarana untuk mencapai tujuan.
Kan banyak sarana. Itu betul-betul bermanfaat kalau kita ingin
menggolkan program-program kita. Memang harus menguasai yang namanya
legislatif, dan dilaksanakan secara konsisten oleh eksekutif. Semua
partai sama saja.
MTI: Jadi bagaimana proses-nya sampai terpilih menjadi ketua?
SHR: Ya itu tadi, itu mungkin pada orang lain. Saya dipilih apa boleh
buat.
MTI: Tampaknya sudah banyak elemen masyarakat yang mendaulat Anda
untuk jadi Gubernur Kaltim pada Pilkada 2008?
SHR: Memang banyak. Bukan hanya di sini, di Jakarta juga setiap saya
seminar ada suara yang mendukung. Tapi saya selalu mengatakan saya
manusia biasa, manusia mana yang tidak mau meningkat harkat derajatnya,
pasti, termasuk saya. Tapi saya juga harus introspeksi diri.
Kalau dulu saya mau jadi guber-nur mungkin bukan Pak Suwarna ini
(Gubernur Kaltim saat ini) yang terpilih. Karena saya ditantangin semua
fraksi DPRD Kaltim untuk bersedia menjadi gubernur. Waktu itu belum
pemilihan langsung, tapi pemilihan oleh anggota DPRD. Dulu saya menolak
karena belum waktu-nya, karena saya masih memegang amanah lima tahun,
kontrak dengan rakyat Kutai. Sebagai Bupati Kutai, saya belum bisa
berbuat banyak. Baru dua tahun setengah saya waktu itu. Saya masih
sedang semangatnya membangun Kutai Kartanegara di mana saya lahir.
Soal jabatan itu, Insya Allah di mana saja sama saja pengabdian-nya,
yang penting saya bilang silahkan cari yang berpengalaman saja. Saya
dukung dulu Pak Suwarna supaya tetap melanjutkan yang pernah
dilaksanakan.
Kemudian untuk yang akan datang, saya juga baru memegang amanah yang
kedua sebagai Bupati Kukar (2005-2010), baru satu tahun. Masih ada waktu
tiga tahun, sampai 2008 masa jabatan gubernur berakhir. Selama tiga
tahun, sampai 2008 nanti, saya ingin berbuat yang banyak untuk Kutai.
Kalau hasilnya diakui oleh masyarakat, dirasakan masyarakat, dengan kata
lain saya sukses memimpin, baru saya mau maju. Kalau saya dinilai nggak
becus, nggak mampu, memimpin diri saja nggak mampu, apalagi provinsi.
Tahu dirilah. Harus ada penilaian masyarakat, saya baru mau, dan
masyarakat yang menilai saya. Kalau nggak, saya nggak mau. Kan jabatan
di mana saja sama.
MTI: Kembali ke sektor pariwisata, selain infrastruktur yang tadi
Anda sudah jelaskan, mungkin ada juga dukungan faktor budaya. Bagaimana
Anda memelihara atau melestarikan kebudayaan karena di sini kerajaan
yang tertua?
SHR: Saya yang mendirikan kembali kerajaan Kutai Kartanegara. Saya
mendirikan itu bukan untuk feodalnya tapi untuk budayanya sebagai salah
satu aset pariwisata. Dulu kan tidur puluhan tahun, hampir 30-40 tahun
tidur. Saya datangkan sampai menemui Presiden Abdurrahman Wahid dulu,
sampai lima menteri mengesahkan prasasti berdirinya kerajaan ini. Saya
hidupkan kembali.
Di Solo dan Jogja kok bisa, masak sih nggak bisa, kita masih ada
situsnya, masih ada kerabatnya, budayanya, seninya dan adat istiadatnya.
Tapi saya memandang bukan untuk feodalnya melainkan untuk kelestarian
adat-istiadat budayanya, sebagai salah satu daya tarik pariwisata. Jadi
bagi kerabat kerajaan ini silahkan saja, tapi nggak boleh melewati
batas-batas yang sudah saya berikan. Seperti di Jogja, daerah istimewa.
Dulu di sini juga daerah isitmewa tapi sudah dibekukan. Kalau daerah
istimewa berarti bupatinya sultan. Dulu pernah di sini bupati pertamanya
sultan, tapi kemudian sudah terintegrasi.
Selain itu, saya pernah menda-tangkan festival keraton se Nusanta-ra.
Sebanyak 34 kerajaan se Indone-sia ngumpul di Kutai. Waktu mereka kirab,
luar biasa, Indonesia ini kaya budayanya. Lima ribu lebih datang dengan
pasukan-pasukan kerajaan itu. Dengan budayanya, macam-macam. Menunjukkan
kesaktiannya. Budaya Indonesia ini luar biasa.
MTI: Di daerah ini juga ada pesta budaya Erau?
SHR: Erau itu pesta budaya, biasanya memperingati kelahiran sultan. Tapi
sekarang ini kita lihat saja, mereka harus mandiri, jangan tergantung
kepada pemerintah. Saya mendorong pihak swasta mungkin ada yang mau jadi
sponsor. Jangan terus menggunakan dana Pemda.
Saya ingin mereka mandiri, karena kalau mereka bisa mengelola secara
baik, seperti di Solo, mereka tidak tergantung pada pemerintah. Nanti
manja terus. Saya mau mereka mandiri, saya sengaja, memberi pihak swasta
menangkap peluang ini, supaya pariwisata ini jalan. Kalau pemerintah
terus, pemerintah habis duitnya. Lebih baik kan bangun sekolah-sekolah.
MTI: Salah satu filosofi atau prinsip hidup Anda itu adalah filosofi
lebah, kebersamaan menjadi kekuatan. Bagaimana penggalangan kepada
masyarakat yang terdiri dari beberapa etnis, golongan dan agama.
Bagaimana Anda menggalang kerukunannya?
SHR: Di sini memang pernah ada benturan antara etnis. Karena itu saya
terus menganjurkan harus saling menghormati. Saya sendiri tidak pernah
membedakan, apakah dia penduduk asli, apa dia penda-tang, asal mau
berusaha di sini, berdomisili di sini, beranak-pinak di sini, mencari
nafkah di sini, dia saya anggap saudara Kutai. Nggak ada beda. Itu
sebabnya rukun semua. Jadi semua bisa enjoy di sini.
Tanya pejabat saya, ada yang dari Aceh, ada yang dari Toraja, ada yang
dari Madura, ada yang dari Dayak, macam-macam sukunya.
MTI: Pada era otonomi daerah ini banyak daerah menyikapi bahwa semua
stafnya harus putera asli daerah?
SHR: Itu otonomi pengertian sempit. Otonomi itu harus diartikan luas,
seperti misalnya pengertian putera bangsa. Putera bangsa itu siapa pun
dia, dari mana pun dia, suku apa pun dia, agama apa pun dia, kalau dia
berbakti, berkorban, berjuang untuk negara dia adalah putera bangsa.
Begitu pula putera daerah. Dari mana pun dia, suku apa pun dia, agama
apa pun dia, kalau dia berbakti, berjuang, berkorban untuk daerah, dia
putera daerah. Jangan diartikan sempit, harus suku tertentu, harus lahir
di sini, tidak. Jadi harus diubah image. Nggak ada sukuisme di sini.
Cermin Pancasila di sini, cermin Indonesia di sini. Di Jakarta saya
lihat kalau menterinya Suku A, hampir semua bawahan dari Suku A. Itu
tidak boleh.
MTI: Tapi di beberapa daerah pemahaman sempit tentang otonomi daerah
memang terjadi?
SHR: Itu banyak terjadi, sukuisme, orang Jawa, orang Sumatera, orang
Sulawesi. Kalimantan saja yang tidak. Tanya saja, kalau di Jawa ada
tidak orang Kutai, tidak ada kan. Tapi di Kutai ini banyak orang Jawa
yang jadi pengelana. Di Sumatera sana ada nggak orang lain. Kalau di
sini Pancasila.
MTI: Dalam hal otonomi daerah, proses otonomi daerah antara pusat
dengan daerah masih tarik menarik. Sepertinya Pusat belum rela melepas
sebagian kekuasaannya. Bagaimana Anda merasakan dan menyikapinya?
SHR: Saya mengharapkan, hanya mengharapkan, tidak mau komentar. Saya
mengharapkan supaya lebih baik. Masih banyak hal-hal yang perlu
disempurnakan dan pusat jangan berpikir untuk resentralisasi. Karena
yang menentukan itu political will dari pemimpin kebijakan di sana.
Political will-nya jangan di resentralisasi, itu saja. Jadi otonomi
sudah lahir, kalau sudah lahir masak mau dimasukkan lagi dalam perut.
Bayi dan ibunya bisa mati.
MTI: Sebagai seorang putra bangsa yang berpikir tentang kepentingan
bangsa secara keseluruhan, apa visi Anda?
SHR: Visi saya begini. Pada era otonomi daerah ini, beri kesempatan
daerah untuk berkembang, berkreasi. Kalau daerah makmur, negara kita
makmur. Kalau daerah kuat, NKRI kita kokoh. Kalau pusat makmur, belum
tentu daerah makmur. Kalau pusat kuat, belum tentu daerah kuat.
Yang namanya rakyat itu di daerah, dan nggak mungkin 1.504 pulau
dikendalikan hanya dari Jakarta. Negara-negara maju dan makmur, coba
lihat sistem pemerintahannya, pasti fine well. Pasti otonominya betul.
Amerika, siapa bilang Amerika tidak makmur, siapa bilang Amerika
terpecah belah, siapa bilang Amerika bukan negara kesatuan. Itu kesatuan
koq, United State of America. United itu kesatuan kan, negara bersatu.
Kita ini negara kesatuan tapi masak tidak boleh otonomi. Beri
kepercayaan kepada daerah untuk berkembang. Kalau di Amerika itu
betul-betul otonom, bisa mengatur rumah tangganya sendiri. Bukan daerah
yang menengadah ke pusat, sentral itu, tapi daerah yang memberi pusat.
Anterin jatah pusat.
Tapi otonomi di sini tidak, terbalik. Hasil dari daerah, tapi daerah
menunggu tetesan dari pusat, mana bagian kami. Bedanya tangan telentang
dengan tangan telungkup, otonomi Indonesia ini. Kita otonomi tapi masih
minta dengan pusat, jatah kita sendiri. Masih tergantung pusat,
sedangkan yang namanya otonomi harus mandiri, tapi di sini kita dibuat
tergantung.
Jangan dicurigai daerah mau disintegrasi, tidak ada. Kita cinta koq
dengan NKRI. Karena kita bukan mengejar kekuasan tapi kemakmur-an. ►m-ti/crs-mlp-ms-dw
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|