|
C © updated
26062006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
|
► e-ti/jil |
|
| |
Nama:
M Syafi'i Anwar
Lahir:
Kudus, Jawa Tengah, 27 Desember 1953
Agama:
Islam
Jabatan:
Direktur International Centre for Islam and Pluralism (ICIP)
Pendidikan:
- S-3 Universitas Melbourne, Australia, 2005 (disertasi berjudul Negara
dan Islam Politik di Indonesia: Sebuah Studi Politik Negara dan Perilaku
Politik Pemimpin Muslim Modernis di Bawah Rezim Orde Baru Soeharto
1966-1998)
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERITA:
01
02
03
04
05 06 ==
M Syafi'i Anwar (04) Politisi Hendaknya Menjadi Negarawan
Jakarta, Kompas - Politisi diharapkan bisa menjadi negarawan. Berbeda
dengan seorang politisi yang hanya memikirkan jangka pendek, seorang
negarawan justru memikirkan panjang ke depan.
Pandangan itu disampaikan Dr M Syafi’i Anwar, Direktur Eksekutif
International Center for Islam and Pluralism (ICIP), dalam diskusi
bertajuk "Mengembangkan dan Memperkuat Pranata Demokrasi" yang
diselenggarakan Yayasan Paramadina, Sabtu (24/6). Dalam diskusi juga
hadir mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Akbar Tandjung dan Rektor
Universitas Paramadina Yudi Latif.
"Politisi itu hanya bicara the next position, sedangkan seorang
negarawan bicara the next generation," ujar Syafi’i yang dalam diskusi
banyak mengungkapkan pemikiran-pemikiran almarhum Nurcholish Madjid (Cak
Nur), yang tertuang dalam buku Indonesia Kita.
Syafi’i merasa prihatin dengan fenomena dewasa ini, di mana banyak
muncul peraturan yang dikeluarkan yang tidak lagi mencerminkan semangat
menghargai kemajemukan.
Menurut Syafi’i, Nurcholish memiliki pandangan teologi inklusif. Ia
telah mengintegrasikan Islam dengan keindonesiaan dan kemodernan.
"Pancasila pun dijadikan sebagai platform bersama karena menyadari benar
bahwa Indonesia sangat majemuk, yaitu terdiri dari 17.000 pulau dan
sekitar 400 suku," katanya.
Akbar dalam kesempatan itu juga menegaskan, dirinya termasuk orang yang
mengagumi pemikiran Nurcholish. Pemikiran Nurcholish itu pula yang
mendorong dirinya, setelah memimpin Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa
Islam tahun 1973, terjun ke politik dan memilih Golkar sebagai alat
perjuangan.
Menurut Akbar, salah satu substansi mendasar dari demokrasi adalah
menjunjung tinggi toleransi dalam masyarakat yang majemuk. "Saya juga
mencemaskan Golkar, jangan-jangan Partai Golkar kini semakin jauh,"
ucapnya.
Menurut Akbar yang mantan Ketua Umum Partai Golkar itu, prinsip-prinsip
Golkar adalah memegang teguh ideologi negara, menghormati kemajemukan,
mendukung kehidupan demokrasi, dan menciptakan kesejahteraan rakyat.
Dalam menyejahterakan rakyat, Partai Golkar bukan berdasarkan pada
pendekatan etnis atau agama, melainkan pada fungsi-fungsi dan pencapaian
karier, seperti pekerja, nelayan, petani, dan guru. "Demokrasi meski
ditentukan oleh suara mayoritas, bukan berarti demokrasi tidak
menghormati suara minoritas," katanya.
Yudi Latif mengingatkan bahwa musuh terbesar demokrasi adalah kekerasan.
Dia berpandangan bahwa berbagai perbedaan pandangan harus diselesaikan
dengan dialog. (sut) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia |
|