| |
C © updated
16052005 - 12092002 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ricky-l |
|
| |
Nama:
Letjen TNI (Purn)Dr (HC) H Sutiyoso, SH
Lahir:
Semarang, 6 Desember 1944
Agama:
Islam
Jabatan:
Gubernur DKI Jakarta 1997-2007
Pangkat Militer terakhir:
Letnan Jenderal TNI
Alamat Kantor:
Gedung Balaikota
Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 8-9, Jakarta Pusat
Telp. (021) 345.6058 Pswt. 2200, Faks. 021-384.8653
Alamat Rumah:
Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat
Telepon (021) 314.4146 Pswt. 2800
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
==
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12 ==
Sutiyoso (07)
Pemilihan Staf dan Kliping Koran
Prinsip kepemimpinan bahwa seorang pemimpin harus siap dipimpin, juga
diterapkan kepada staf di bawahnya. Termasuk dalam proses perekrutan
staf. Bang Yos tak pernah mengintervensi pemilihan staf. Pemilihan staf
ia percayakan kepada badan yang ditunjuknya sendiri, Baperjaka (Badan
Pertimbang-an Pangkat dan Jabatan) dipimpin Wakil Gubernur di level
tertentu dan Sekda di bawahnya. Karena semua terlibat di situ, dia hanya
memberikan matriks saja.
Kalau ada satu jabatan Walikota kosong, siapa lima orang yang memenuhi
syarat, dinilai. Misalnya masa kerjanya berapa lama, pendidikannya
setingkat apa, prestasinya apa saja dan sebagainya. Penilaian terakhir
disampaikan Bawasda (Badan Pengawas Daerah). Misal, ada calon yang
paling tinggi nilainya, tapi kalau Bawasda ngomong, “Oh, Pak, waktu jadi
Camat pernah ada kasus korupsi begini,” serta merta calon itu pasti
rontok nggak jadi.
Begitu sudah menemukan calon Baperjaka, lalu ekspose kepada gubernur. Di
situ Bang Yos mulai bertanya berbagai hal kenapa yang bersangkutan
dipilih. Lalu setelah berdialog dan dijelaskan berbagai hal menyangkut
tugasnya, surat perintah dikeluarkan. Dan biasanya sebelum diresmikan,
dilantik, calon Kepala Dinas atau Walikota itu dipanggil dulu oleh
Sutiyoso bersama-sama. Di situ ia menegaskan dalam tempo enam bulan akan
mengadakan evaluasi. Jika selama diikuti enam bulan terus-menerus
hasilnya misalnya, ‘Ah, no thing to do, nggak bikin apa-apa,’ maka
esoknya sudah timbang terima.
“Jadi, saya nggak pernah menanyakan, ‘Wah, ini orang Jawa apa orang
Batak ya.’ Nggak ada cerita, ‘Ini Islam apa Kristen ya, apa Budha ya,’
oh, nggak ada cerita kaya gitu sama saya. Saya melihat pada kualitas
orang. Semua mempunyai hak yang sama anak buah saya. Tetapi kalau ia
nggak berbuat apa-apa, nggak berprestasi, nggak mau nunggu lama-lama,
harus ganti dia. Dia bukan orang yang tepat di situ,” kata Sutiyoso.
Dari Kliping Koran
Dari rumah dinasnya di Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta
Pusat, Sutiyoso setiap pagi hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit
perjalanan menuju kantornya di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan
Nomor 8-9, Jakarta Pusat. Namun waktu sesingkat itu sangat berharga dan
betul-betul dimanfaatkannya untuk membaca kliping koran.
Sehingga sebelum memasuki kantor dan ruangan kerjanya, terutama jika
dicegat wartawan yang membutuhkan klarifikasi langsung dari Sang
Gubernur tentang berbagai permasalahan warga Ibukota, Sutiyoso yang
akrab disapa Bang Yos sudah lebih dahulu mempersiapkan jawaban yang
tepat kepada setiap wartawan yang pasti akan bertanya.
Usai membaca kliping koran, Bang Yos terkadang harus segera menghubungi
sejumlah staf. Lewat telepon ia bertanya apa ini apa itu. Jadi, sama
seperti dirinya yang bekerja 24 jam untuk melayani 11 juta warga Jakarta
dan daerah penyangga, para staf itu secara tak langsung dibuatnya tak
sempat cuek atau apatis atas setiap permasalahan yang dihadapi kota
terbesar Indonesia ini.
Setiap masalah Jakarta, bagi Bang Yos adalah masalah bagi dirinya, dan
semua staf, termasuk menjadi masalah bagi semua warga Jakarta dan daerah
penyangga, bahkan menjadi masalah bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Kamu harus bisa menjelaskan pada saya, karena memang ada selentingan
kaya begini, jelaskan,” perintah Sutiyoso, yang kalau lewat telepon
sudah bisa ia menerima penjelasan maka selesai permasalahan. Namun jika
belum tuntas, staf-staf itu akan dipanggilnya untuk menjelaskan
langsung. Nah, begitu Sutiyoso sudah mengerti apa letak permasalahan,
saat ketemu wartawan ia sudah tahu kira-kira masalah apa saja yang akan
ditanyakan.
Gemar Olahraga Khas Laki-lakiBang Yos sangat mencintai olahraga. Ia gemar olahraga tenis, golf,
menembak, basket, sepakbola dan bulutangkis. Karakter sebagai pemimpin
bermental platinum tampak sangat mencolok pada kegemaran Sutiyoso
mengendarai motor besar, atau Moge merek Harley Davidson.
Biasanya, hanya manusia tipe pemberani-pemberani tertentu dan berani
gambling apakah menjadi the winner atau the looser saat mengambil
keputusan penting, yang menyukai dan memiliki kendaraan besar jenis
Harley ini.
Selain penggemar berat motor besar Sutiyoso juga menyenangi olahraga
keras lain seperti menembak dan terjun bebas. Bahkan, ia pernah menjadi
Ketua Umum Perbakin (1997-2001) dan Ketua Pelaksana Harian Perbakad.
Sutiyoso yang adalah Ketua Umum Damai Indah Golf, dan Ketua Umum
Independent Golf, ketika masih menjabat Ketua Umum Perbasi (basket)
terpaksa meninggalkan jabatan itu sebab Pembina Persija Jakarta ini
terpilih sebagai Ketua Umum PBSI yang baru menggantikan Chairul
Tandjung. Sebagai mantan Ketua Umum Perbasi, nama Sutiyoso pun dihormati
dengan penyelenggaraan Turnamen Bola Basket Kobatama dan Kobanita
memperebutkan Piala Sutiyoso.
Sebagai Pembina Persija Jakarta, nama Sutiyoso pun pernah disebut-sebut
sebagai calon kuat Ketua Umum PSSI. Namun tawaran itu ditampik, selain
karena tak mau merangkap jabatan juga menganggap menjadi Ketua Umum PBSI
masih lebih bergengsi. Sebab bulutangkis adalah satu-satunya olahraga
nasional yang bertaraf internasional hingga saat ini. ►ti/ht-sh-tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|