| |
C © updated 01072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kcm |
|
| |
Nama:
Sutanto
Lahir:
Comal, Pemalang, Jawa Tengah, 30 September 1950
Alamat Kantor:
Jalan Trunojoyo No 3 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp 021-3848537 - 7260306 - 7218010
Fax 021-7220669
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Jenderal Pol Sutanto
Janji Berantas Judi dan Narkoba
Oleh: Adi Prinantyo dan Abun Sanda
Kompas 10/7/2005: Polisi yang bersih. Kesan itu yang selama ini melekat
pada Jenderal (Pol) Sutanto (54), pejabat Kepala Kepolisian Negara RI
yang dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Jumat (8/7/2005)
lalu. Orang banyak menghubungkan label bersih dengan ketegasan Sutanto
memberantas judi saat ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah
Sumatera Utara dan Jawa Timur.
Soal kesejahteraan polisi, jangan menjadi alasan pemaaf. Kalau apa-apa
dijadikan alasan pemaaf, kan repot.... Sebab, tiap orang sudah diatur
rezekinya oleh Yang Mahakuasa. Jalan keluarnya tidak harus dengan cara
seperti itu,” katanya, saat ditemui di rumahnya, Jalan Pinang Perak II
PA-2, Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Berikut perbincangan dengan Sutanto, yang berlangsung pada Kamis malam
lalu. Ia diwawancara di tengah rimbunan kembang ucapan selamat yang
dikirim para sahabatnya.
Apa yang menjadi prioritas dalam masa kepemimpinan Anda, di tengah
banyaknya masalah Polri kini?
Buat saya, yang menjadi prioritas untuk ditangani adalah kejahatan yang
meresahkan masyarakat, seperti perjudian. Itu selalu dikeluhkan
masyarakat, anggota Dewan pun demikian. Berkali-kali, dalam berbagai
kesempatan rapat dengar pendapat dengan DPR, itu yang selalu dikeluhkan.
Hal lainnya adalah penegakan hukum serta berbagai hal yang terkait
narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya—Red) karena
narkoba sekarang sudah merambah ke mana-mana. Jadi saya berharap supaya
daerah-daerah serius menangani masalah ini. Tentu tidak bisa Polri
sendiri yang mengatasi, tetapi juga aparat hukum yang lain. Ini penting,
agar terhadap tersangka yang kita tangani diberikan sanksi yang
seberat-beratnya.
Sebagai penyidik tunggal, polisi berhak juga menyidik kasus korupsi.
Akan tetapi, apa tidak lebih baik jika polisi berkonsentrasi ke
kasus-kasus tertentu karena toh sudah banyak lembaga lain yang menangani
korupsi?
Kalau menurut saya tidak masalah. Untuk korupsi kan lebih banyak
ditangani tingkat atas, dalam hal ini, misalnya, oleh penyidik Markas
Besar Polri atau di polda-polda.
Tetapi, untuk judi dan narkoba, saya yakin tingkat polwil (kepolisian
wilayah—Red) dan polres (kepolisian resor— Red) pun bisa menangani.
Tidak perlu oleh polda (kepolisian daerah).
Kita kan tidak sulit untuk membuktikan bahwa masih ada perjudian di
suatu kota karena masyarakat dapat mudah mengetahui dan pasti mereka
akan mengadukan kepada kita. Singkat kata, judi ada di mana-mana,
tinggal polisinya mau atau tidak memberantas judi.
Sebenarnya bagaimana konsep Anda mengatasi perjudian? Karena bisnis
gelap ini kan melibatkan dana besar sehingga pasti ada polisi yang
terlibat, tak terkecuali perwira menengah dan bahkan perwira tinggi?
Ya semua wilayah harus bersih judi ini. Karena undang-undangnya kan
mengatakan itu. Di tengah masyarakat jangan sampai ada perjudian dalam
tingkat paling sederhana dan merakyat, seperti toto gelap atau yang
biasa disebut togel. Perjudian di hotel- hotel juga harus diberantas.
Saya serius, tidak ada kompromi untuk judi.
Sebenarnya separah atau seminim apa tingkat kesejahteraan polisi
Indonesia saat ini?
Sebagai misal, gaji polisi berpangkat bintara hanya satu seperempat juta
rupiah. Sementara dia harus hidup di Jakarta, waduh itu kan sangat minim
sekali. Idealnya untuk mencukupi kebutuhan minimal, sesuai penelitian
Deputi Perencanaan Pengembangan Polri, ya Rp 7 juta per bulan.
Tentu pemerintah, dengan kemampuan yang ada sekarang ini, belum mampu
langsung menaikkan sebesar itu. Tetapi bertahap. Dalam pikiran saya,
kalau kepastian hukum benar-benar diciptakan, penyelundupan bisa dicegah,
korupsi juga dicegah karena koruptor ditindak tegas sehingga menimbulkan
efek jera, jelas akan meningkatkan APBN.
Dan jika APBN meningkat, tentu akan kembali pada peningkatan
kesejahteraan tadi. Ini yang sedang kita usahakan. Penyelundupan,
misalnya, kan merugikan negara sampai triliunan rupiah. Kalau bisa kita
cegah, paling tidak akan berpengaruh positif terhadap APBN.
Di sisi lain, saya akan memperjuangkan pembangunan perumahan bagi polisi.
Saya suka tercenung melihat polisi yang sepanjang hidupnya mengabdi pada
negara, tetapi masih tidur di rumah kontrakan atau menumpang di rumah
keluarganya.
Kontrak kerja
Sutanto merencanakan adanya surat kontrak kerja bagi pejabat Polri,
termasuk para kepala polda. Setelah masa kontrak habis, si pejabat akan
dievaluasi. Jika kebanyakan tugas yang tertera di kontrak belum
terealisasi, yang bersangkutan kemungkinan besar akan diganti.
Seperti apa surat kontrak kerja itu nantinya?
Dalam kontrak kerja kita akan memberikan target-target. Misalnya untuk
kepala polda, tentu ada target sesuai dengan karakteristik daerah
masing-masing. Ini perlu karena setiap polisi, ketika dia bertugas,
harus berprinsip bahwa dia mesti dapat mengamankan daerahnya, sesuai
dengan harapan masyarakat dan pemerintah daerah.
Nah kalau nanti dia terbukti tidak dapat memenuhi aspirasi daerah
setempat, ya patut dipertimbangkan. Karena itu, penilaian layak-tidaknya
seorang kepala satuan wilayah Polri, selain dari internal Polri, juga
sangat tergantung pada bagaimana penilaian masyarakat. Apakah dia bisa
memenuhi aspirasi masyarakat. Tentu saja aspirasi yang terkait dengan
tugas-tugas polisi.
Misalnya, bagaimana kinerja pelayanannya, juga bagaimana cara mengatasi
kejahatan di daerah tersebut. Kalau sampai batas waktunya dia tidak bisa
melaksanakan, ya harus siap digantikan oleh yang lain. Untuk masalah
waktu dalam kontrak kerja, tentu melihat kondisi tiap daerah. Tidak akan
sama antara daerah yang satu dengan yang lain.
Untuk mekanisme pengawasan tugas-tugas itu, saya akan melakukan
sidak-sidak nanti ke bawah. Ya tentu tidak akan diberitahukan. Kalau
diberitahukan mereka akan siap-siap.
Kalau sidak, berarti tidak pakai banyak pengawal?
Tidak, tidak.... Saya akan turun dalam jumlah terbatas. Dan sebisa
mungkin tidak diketahui. Saya minta juga kepada level pimpinan
kepolisian agar turun ke bawah. Jangan hanya memerintah di belakang meja.
Tetapi, dia harus benar-benar tahu kondisi daerahnya dan juga kondisi
anggotanya.
Sebelum menjadi Kepala Polri, Anda menjabat Kepala Pelaksana Harian
Badan Narkotika Nasional (BNN). Apa yang akan Anda garap lebih lanjut
terkait dengan kejahatan narkoba?
Jenis narkoba yang menjadi prioritas dalam penanganan adalah ganja, lalu
ekstasi, kemudian yang ketiga adalah heroin berikut sabu. Mengapa ganja,
ya karena ternyata jenis narkoba inilah yang terbanyak dipakai, yaitu
menurut survei kita, 71 persen pengguna narkoba di Indonesia memakai
ganja. Pemakaian yang banyak ini terjadi karena harganya yang murah.
Untuk ladang ganja, beberapa sudah dioperasi di Aceh (Nanggroe Aceh
Darussalam/NAD). Kita akan teruskan itu supaya tidak ada lagi tanaman
ganja di sana. Karena berdasarkan survei kita, ada belasan titik
pembudidayaan ganja di NAD. Jadi kita tidak hanya mencari atau
mengoperasi ganja yang didistribusikan ke Jawa, misalnya. Ya kita harus
basmi sejak dari ladangnya, harus di Aceh-lah.
Dan yang harus diingat, negara kita bukan seperti Laos, yang penduduknya
miskin, dan kebanyakan sangat tergantung pada budidaya tanaman opium.
Sehingga untuk memberantas narkoba di Laos, harus ada program
alternative development, berupa budidaya tanaman pengganti, untuk
menghidupi mereka.
Di Indonesia kan tidak begitu. Artinya, tanpa harus menanam ganja orang
Aceh pun masih bisa menghidupi dirinya sendiri. Dan saya yakin
pemberantasan ladang ganja tidak akan mengakibatkan gejolak sosial yang
serius.
Untuk ekstasi, kita terus cari pabrik-pabrik gelapnya. Termasuk tempat
peredarannya di diskotek-diskotek. Saya akan memerintahkan agar diskotek
terus dirazia, terutama untuk yang disinyalir di dalamnya ada peredaran
ekstasi. Sebab di Singapura atau Malaysia, sekadar menyebut contoh,
tanpa ada peredaran ekstasi diskotek tetap ramai kok. Kita kan banyak
yang berargumen, katanya nanti jumlah turis akan menurun. Pertanyaannya,
berapa sih turis yang datang ke diskotek?
Kalau demi kedatangan turis di diskotek, tetapi kita lantas mengorbankan
anak bangsa dengan menyediakan ekstasi, ya tidak benar juga kan....
Sedangkan untuk heroin, kita akan perketat jalur-jalur masuknya, melalui
udara maupun laut. Dan juga mengintensifkan kerja sama tukar-menukar
informasi dengan negara-negara produsen narkoba sehingga kita tidak
hanya menunggu kemungkinan narkoba yang datang ke sini. Kalau hanya
menunggu, yang kita tangkap paling ”hanya” sepuluh kilogram.
Kasus narkoba—begitu pula judi—kan melibatkan bandar kakap yang bermain
dengan modal besar?
Terus kenapa? Kenapa lantas enggak berani? Judi dan narkoba ini kan
menjadikan anak bangsa sebagai korban... Ya kita harus bangkitlah.
Tolong sampaikan kepada publik agar jangan terus terlena dengan keadaan
ini.
Terkait pergantian ini, apakah dalam waktu dekat akan ada mutasi pejabat
Polri, untuk membuat percepatan tugas Anda lebih maksimal?
Kita akan memberikan kontrak kerja dulu untuk kesempatan mereka bekerja
dan membuktikan. Mereka dianggap sebagai kertas putih, dianggap baik
semua. Kalau nanti terbukti tidak mampu, ya mereka harus bertanya kepada
diri sendiri, mengapa kok mereka tidak mampu. ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|