| |
C © updated 01062006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/setneg |
|
| |
Nama :
Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir :
Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Jabatan:
Presiden Republik Indonesia
Istri :
Kristiani Herawati,
putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Pangkat terakhir :
Jenderal TNI (25 September 2000)
Alamat Rumah:
Jl. Alternatif Cibubur Puri Cikeas Indah
No. 2 Desa Nagrag Kec. Gunung Putri Bogor-16967
|
|
| |
|
|
|
|
Istana Nilai Inkonstitusional
Demo Cabut Mandat
Wapres Jusuf Kalla
menilai unjuk rasa yang menyerukan pencabutan mandat Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla karena dinilai gagal memenuhi
janjinya terlalu dini disampaikan. Sementara, Juru Bicara Kepresidenan
Andi Mallarangeng mengatakan, demonstrasi di Istana Negara, yang
bertujuan mencabut mandat Presiden Yudhoyono yang baru menjalankan
pemerintahan selama dua tahun lebih, adalah inkonstitusional.
Demo yang menuntut pencabutan mandat rakyat terhadap Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Senin (15/1/2007) di
Jakarta, berlangsung tertib. Unjuk rasa itu antara lain diikuti mantan
aktivis mahasiswa Malari (15 Januari 1974) Hariman Siregar, ekonom
Sjahrir, WS Rendra, Sri-Bintang Pamungkas, Eggi Sudjana, dan aktivis
buruh Dita Indah Sari. Unjuk rasa itu mengambil momentum peringatan 33
tahun Malapetaka 15 Januari (Malari).
Menanggapi unjuk rasa itu, Wapres Jusuf Kalla menilainya terlalu dini.
“Pemerintah mendengarkan pesan pengunjuk rasa. Pemerintah juga tetap
teguh bekerja dan melaksanakan tugas yang dianggap benar. Janji
pemerintah itu lima tahun. Tidak pernah SBY-JK berjanji dua tahun. Kalau
kami tidak dapat memenuhi janji itu dalam lima tahun, boleh mengatakan
berhasil atau tidak berhasil. Silakan bicara dalam lima tahunan," ujar
Kalla.
Yudhoyono-Kalla yang menjanjika perubahan, pengentasa kemiskinan dan
pembukaan lapangan kerja, terpilih sebagai presiden dan wapres dalam
pemilu langsung tahun 2004. Mantan Menteri Koordinator Politik dan
Keamanan serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat pada Kabinet
Gotong Royong itu mendapat 60,62 persen suara, sementara Megawati
Soekarnoputri 39,38 persen suara dalam pemilihan presiden tahap kedua.
Cabut Mandat
Unjuk rasa dimulai dari Bundaran Hotel Indonesia sekitar pukul 11.00,
dimeriahkan sejumlah aktivis, kesenian rakyat, seperti barongsai dan
musik dangdut. Dari Bundaran HI, pengunjuk rasa bergerak melewati
kawasan Thamrin, Sudirman, Medan Merdeka Barat, menuju Istana Merdeka di
Jalan Medan Merdeka Utara.
Pengunjuk rasa meminta agar mandat rakyat kepada Presiden Yudhoyono dan
Wapres Jusuf Kalla dicabut. Menurut pengunjuk rasa masa kepemimpinan
Yudhoyono-Kalla yang sudah mencapai 2,5 tahun merupakan waktu yang cukup
untuk memperbaiki nasib rakyat. Namun kenyataannya, rakyat masih harus
hidup dalam kemiskinan. Aset bangsa, sumber daya alam, masih dikuasakan
kepada pihak asing. Akibatnya, kekayaan alam yang melimpah belum
memberikan kontribusi bagi kesejahteraan rakyat.
Hariman Siregar menyatakan aksi tersebut untuk menunjukkan sikap rakyat
atas kepemimpinan Yudhoyono-Kalla yang tidak amanah dengan mandat yang
diberikan. Para aktivis akan menunggu pascapawai tersebut, apakah ada
perbaikan yang dilakukan pemerintah terhadap nasib rakyat. Jika tidak,
massa siap turun ke jalan lagi untuk memperjuangkan nasib rakyat.
Aksi itu memunculkan banyak tanggapan, sebagaimana dilaporkan Kompas
(16/1/2007). Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, aksi
itu wajar dalam perspektif demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar
ekspresi itu tidak berlebihan, seperti mengarah pada impeachment. Din
mengatakan, jika dilakukan tanpa alasan konstitusional kuat, impeachment
akan menjadi preseden buruk bagi pembangunan demokrasi Indonesia.
Sosiolog Kastorius Sinaga berpendapat Presiden harus mendengar pesan
yang disampaikan pengunjuk rasa. "Memang permintaan cabut mandat itu
inkonstitusional, tapi dalam politik yang tidak konstitusional itu bisa
menjadi konstitusional jika gerakan kekecewaan itu bertambah besar,"
ucapnya.
Ketua Litbang Partai Amanat Nasional Sayuti Asyathri mengatakan,
Presiden harus punya keberanian bertindak lebih konkret. Mantan Ketua
DPR Akbar Tandjung menilai langkah politik pencabutan mandat itu tidak
akan bisa berhasil.
Bagi bekas aktivis mahasiswa Fadjroel Rachman, aksi cabut mandat kurang
mendapat sambutan karena pengunjuk rasa bukan representasi kekuatan
politik demokrasi alternatif; isu yang diusung tidak orisinal dan
terlalu dekat dengan isu jenderal-jenderal Orde Baru, serta adanya
kelelahan politik di masyarakat terhadap elite politik.
Presiden Bantah Hanya Berwacana
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mengawali sambutan sebelum
melakukan panen raya dan menanam padi hibrida di Desa Pulubula, Kota
Gorontalo, Senin (15/1/2007) menegaskan, pemerintahannya tidak hanya
berwacana, apalagi sekadar beretorika. Presiden menegaskan, pemerintah
justru telah membuktikan komitmennya bagi peningkatan taraf hidup rakyat
Indonesia.
Menurutt Presiden SBY, pemerintah juga sangat bertanggung jawab dan
melakukan langkah nyata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui
peningkatan ketahanan pangan dan produktivitas pertanian serta sejumlah
langkah lainnya yang konkret. "Jadi, bukan sekadar berwacana, apalagi
retorika," ujar Presiden Yudhoyono yang kemudian bersama Ibu Negara Ani
Yudhoyono, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Mendagri M Ma'ruf, serta
Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, terjun langsung ke sawah tanpa alas
kaki untuk menanam bibit padi hibrida. Presiden SBY menancapkan bibit
tersebut satu per satu ke sawah. Penanaman padi ini berlangsung di Desa
Pulubala, Gorontalo, sebagai bagian dari kunjungan kerjanya ke Gorontalo
untuk mencanangkan program 2 juta ton beras.
Sebagai contoh, kata Presiden dalam sambutannya, pemerintah telah
memberikan bantuan kepada petani untuk mengatasi hama dan pemberian
bibit hingga lahan. Bahkan, pemerintah juga memikirkan dan melindungi
petani jika harga beras sedang anjlok serta hal lainnya.
Presiden menyebut pemerintah juga telah berhasil memperjuangkan dalam
forum perdagangan dunia (WTO) sehingga empat komoditas pertanian, yaitu
beras, jagung, kedelai, dan tebu, sebagai produk khusus yang dilindungi
untuk kepentingan petani kita.
►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
BIOGRAFI ==
01
02
03
04
05
06
07 ==
|
|