| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
PERSPRKTIF:
05
06
07
08 WAWANCARA:
09
DEPTHNEWS: 10
11
12
13 == Prof. Dr Suhardiman,
SE (10)
SOKSI Pencetak Kader Bangsa
SOKSI, Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia, sebuah
organisasi kemasyarakatan (ormas) pencetak kader bangsa, bukan kader
organisasi. Berasas Pancasila yang dalam melaksanakan perjuangannnya
berorientasi pada karya dan kekaryaan (doktrin karyawanisme). Bukti
sejarah kelahiran dan perjuangannya telah membuktikan peran Ormas ini
dalam mencetak kader bangsa yang mencintai bangsa dan negaranya di atas
kepentingan golongan.
Hal ini itu juga terpatri dalam asas, tujuan dan tugas SOKSI
yang digariskan oleh pendiri dan para pimpinannya dalam
anggaran dasar. SOKSI yang didirikan pada 20 Mei 1960 dan menjadi salah
satu Ormas pendiri Golongan Karya (disebut Trikarya bersama Kosgoro dan
MKGR) itu yang dalam melaksanakan perjuangannnya berorientasi pada karya
dan kekaryaan bertujuan:
(1) Mempertahankan, mengamankan serta mengamalkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945;
(2) Mewujudkan tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945;
(3) Mengembangkan sistem kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan yang
demokratis, konstitusional dan berdasarkan hukum;
(4) Meningkatkan kualitas manusia Indonesia sebagai manusia Pacasila;
(5) Menegakkan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia; dan
(6) Meningkatkan pengabdian bagi masyarakat melalui karya dan
kekaryaan untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan lahir dan
batin.
Dalam rangka mencapai tujuan itu, oleh pendirinya Prof Dr Suhardiman,
SE, menggariskan enam tugas SOKSI.
Pertama, meningkatkan penghayatan, pengamalan dan pembudayaan
Pancasila sebagai ideologi nasional dan satu-satunya asas dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kedua, mendorong dan meningkatkan peranserta anggota dan masyarakat
pada umumnya dalam menyukseskan pembangunan nasional sebagai pengamalan
Pancasila.
Ketiga, meningkatkan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
bagi anggota dan masyarakat pada umumnya.
Keempat, mendidik, melatih dan membimbing para anggota dan masyarakat
pada umumnya untuk meningkatkan integritas dan kualitas diri serta
kualitas karya dan kekaryaan.
Kelima, meningkatkan pelaksanaan karya nyata yang bermanfaat bagi
masyarakat, bangsa dan negara.
Keenam, mendirikan dan membina wadah pengabdian masyarakat sebagai
sarana bagi anggota atau masyarakat pada umumnya, menyalurkan karya
serta dharma baktinya sesuai dengan dan kemampuan masing-masing.
Menurut Prof Dr Suhardiman, SE, tokoh utama pendiri SOKSI yang sejak
berdiri 1960 sampai 1986 memimpin Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) dan
sampai saat ini menjabat Ketua Dewan Penasihat, dalam Sejarah kelahiran
SOKSI, ada beberapa momentum yang memiliki nilai sangat tinggi, dan
sangat menentukan langkah dan strategi perjuangan organisasi.
Dimulai momentum kehidupan politik di tanah air setelah pelaksanaan
Pemilihan Umum 1955 – Pemilu yang pertama kali dilaksanakan oleh Bangsa
Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Khususnya pada situasi
periode 1957 sampai 1965 sangat tidak menguntungkan bagi struktural
politik, sosial, budaya dan perekonomian Bangsa Indonesia.
Berbagai gejolak sosial politik yang bersifat kedaerahan seperti PRRI
dan PERMESTA, adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses
mencari bentuk sistem kehidupan politik, sosial, budaya, dan
perekonomian bangsa.
Berbagai keputusan politik yang sangat startegis telah pula dikeluarkan
oleh pemerintah Bung Karno pada 1957 sampai 1959, antara lain:
Perjuangan pembebasan Irian Barat; Pembatalan Konfrensi Meja Bundar;
Ambil alih (nasionalisasi) perusahaan-perusahaan milik Belanda; dan
Dekrit Presiden 5 Juli 1959; Konstituante dibubarkan dan Undang-Undang
Dasar 1945 diberlakukan kembali sebagai landasan konstistusional Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Sistem politik liberal ditinggalkan, dan
dimulai sistem politik yang dikenal dengan Demokrasi Terpimpin.
Kemudian, pada 1957, Badan Nasionalisasi (Banas) dibentuk untuk
melaksanakan ambil-alih atau nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik
Belanda, dengan Ketua Harian D Suprayogi (Mayjen), dan Suhardiman (Kapten
TNI-AD) sebagai sekretaris.
Sebagai Sekretaris Banas, Suhardiman berbekalkan naluri kejuangan dan
keyakinan yang kuat serta dari pengamatan, memelajari dan mengkaji
permasalahan yang dihadapi Bangsa Indonesia selama tiga tahun
(1957-1960), maka dari Ide Dasar Manusia Karya sebagai perwujudan dari
manusia Indonesia baru disampaikan kepada Ketua Harian Banas, dan
sekaligus mengusulkan agar dibentuk Persatuan Karyawan Perusahaan Negara
(PKPN). Konsep ini diyakini akan mampu mengimbangi dan menandingi PKI
serta seluruh jajarannya.
Tanggal 20 Mei 1960, Ketua Harian Banas menyampaikan ide dasar tentang
karyawan, atau Manusia Karya Swadiri (Karyawan Swadiri) yang diusulkan
oleh Suhardiman tersebut pada sidang kabinet. Sekaligus dilakukan
persiapan pembentukan organisasi PKPN yang kemudian diperingati sebagai
hari kelahiran SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia).
Kehadiran organisasi PKPN dengan cepat menyebar ke perusahaan-perusahaan
negara di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini sekaligus telah
menggelisahkan PKI karena mengancam keberadaannya. PKI melakukan protes
melalui berbagai media-masa atas kehadiran PKPN.
Untuk menindaklanjuti perkembangan PKPN, maka pada pertengahan 1961
diadakan rapat pleno seluruh pimpinan PKPN, dan menghasilkan keputusan
untuk mendirikan Badan Koordinasi Pusat Persatuan Karyawan Perusahaan
Negara (BKP-PKPN), dengan Ketua Umum Suhardiman dan Sekretaris Jenderal
Adolf Rachman.
Kemudian, 21 September 1962, Musyawarah Kerja Nasional I BKP-PKPN yang
diselenggarakan di Palembang, khususnya komisi organisasi tidak berhasil
memutuskan apa nama yang tepat bagi organisasi ke depan, karena nama
BKP-PKPN dianggap tidak mencerminkan ciri, dan misi yang jelas. Sebagai
Ketua Umum BKP-PKPN, Suhardiman mengusulkan nama SOKSI (Sentral
Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia). Mukernas I BKP-PKPN menerima
usul tersebut, dan bersepakat nama BKP-PKPN diganti menjadi SOKSI
sebagai nama sekaligus jati diri bagi perjuangan karyawan Indonesia.
Kata sosialis mengandung pengertian Sosialisme Pancasila yang bercirikan
manusia karya yang mandiri dan sejahtera.
Bulan berikutnya, tepatnya 17-22 Desember 1962, Musyawarah Besar (Mubes)
I BKP-PKPN, atau disebut juga sebagai MUBES I SOKSI di Gelora Bung Karno,
Jakarta, menghasilkan legitimasi bagi keberadaan organisasi SOKSI secara
nasional. Amanat Presiden Soekarno pada Mubes I SOKSI itu secara politis
benar-benar telah memberikan arti khusus dan legalitas bagi keberadaan
BKP-PKPN sebagai embrio SOKSI secara nasional.
Musyawarah Besar I BKP-PKPN, itu menetapkan keputusan strategis: (1)
Penetapan Nama Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia (SOKSI),
sebagai pengganti Badan Koordinasi Pusat Persatuan Karyawan Perusahaan
Negara (BKPPKPN); (2) Restu Bung Karno terhadap keberadaan dan misi
SOKSI; (3) Strategi Bung Karno terhadap keberadaan dan misi SOKSI; (4).
Memilih dan menetapkan Suhardiman sebagai Ketua Umum dan sekaligus Kuasa
Penuh Nasional (Kupenas) SOKSI; (5) Perluasan basis SOKSI yang
menjangkau seluruh sektor kehidupan di seluruh wilayah Indonesia, yakni
pemuda, pelajar, mahasiswa, cendikiawan, buruh, tani, wanita dan
seterusnya.
Sejak 1962 tersebut, berbagai organisasi sayap dibentuk pula oleh SOKSI
dengan mengambil nama “kontra” underbownya PKI seperti LEKRI vs LEKRA,
GERWASI vs GERWANI, RTI vs BTI, PELMASI, dstnya.
Kemudian, 23 Maret 1963, dilahirkan Doktrin Perjuangan SOKSI yaitu,
Karyawanisme sebagai ajaran yang diyakini kebenarannya dalam
melaksanakan perjuangan SOKSI. Semula disebut Manifesto Karyawan, dan
pada 1968 menjadi Doktrin Karyawanisme.
SOKSI bukan lahir sebagai organisasi kekuatan sosial politik, tetapi
sebagai organisasi kemasyarakatan yang berorientasi pada karya dan
kekaryaan. Sebagai organisasi perjuangan dan gerakan yang memiliki
wawasan ideologi, dan misi politik berupa Lima Komitmen Strategis.
Komitmen-komitmen tersebut adalah bersifat abadi, dan senantiasa
melahirkan ide, fikiran, gagasan dan konsep baru demi terwujudnya
pemahaman terhadap pola dan sistem kehidupan masyarakat, bangsa dan
negara di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Arah dan tujuannya
adalah Masyarakat Sosialis Pancasila, atau masyarakat sejahtera
lahiriyah dan bathiniyah.
Inilah hakekat jati diri SOKSI yang tak pernah tergoyahkan oleh
rintangan dan tantangan yang menghadang. Bahwa dengan Ide Dasar Manusia
Karya Swadiri, dan jati diri SOKSI inilah yang mewarnai Doktrin
Perjuangan Karyawanisme sebagai pengaman dan pengamalan Pancasila. Bahwa
sejak awal kelahirannya di tahun 60-an, SOKSI telah berjuang
habis-habisan melawan Partai Komunis Indonesia dengan ideologi
komunisnya sampai terkuburnya Partai Komunis Indonesia setelah
pemberontakan G 30 S/PKI, gagal tahun 1965.
Meskipun Partai Komunis Indonesia dengan mantel-mantel organisasnya
telah dibubarkan dan ajaran komunis (Marxisme-Leninisme) dilarang, namun
SOKSI senantiasa tetap waspada terhadap bahaya laten sisa-sisa G 30 S/PKI.
SOKSI merupakan salah satu organisasi cikal bakal yang turut membidani
kelahiran Golongan Karya (Golkar) pada 1964, dan terus memberikan
dukungannya untuk perkembangan dan pertumbuhan Golkar sebagai organisasi
kekuatan sosial politik yang semakin mandiri, dan berakar di
tengah-tengah masyarakat. ►
mti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|