| |
C © updated
08092006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/esero |
|
| |
Biodata
Nama:
Prof. Dr Suhardiman, SE
Lahir:
Surakarta, 16 Desember 1924
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua Dewan Penasehat Depinas SOKSI
Isteri:
Sapartinah
Anak:
6 (enam) orang
Pendidikan:
- SD Solo (1941)
- SMP Blitar (1945)
- SMA Jakarta (1956)
- Sarjana FE.UI Jakarta (1962)
- Akademi Militer Yogyakarta (1954)
- Sekolah Infantri Fort Benning, AS (1971)
- Seskoad (1969)
- Doktor dari Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta (1971)
Karier:
- Anggota Polisi Tentara, Kediri (1945)
- Anggota Kiwal PB Jenderal Sudirman (1947)
- Ketua Umum SOKSI (1960-1998)
- Anggota Dewan Pembina Golkar (1973-1998)
- Anggota DPR/MPR (1983 – 1988)
- Kaset KSAP, Dosen SSKAD
- Staf Ahli Menteri Urusan Stabilitas Ekonomi dan Menteri Produksi
- Sekretaris BANAS
- Dirut PN Jaya Bhakti, 1960
- Dirut PT. Berdikari
- Penasehat Menperdag
- Komisaris Utama PT Bank Duta Ekonomi
- Wakil Ketua DPA-RI (1993 – 1998)
- Ketua MPPO SOKSI (1998 – 2005)
Bintang Penghargaan:
- Bintang Mahaputra
- Lebih 13 bintang lainnya
Alamat Rumah:
Jalan Kramat Batu Nomor 1, Cipete, Jakarta Selatan
- Jalan Iskandarsyah Raya 97, Jakarta Telp: 713731- 734913
Alamat Kantor:
SOKSI
Gedung Basmar Plaza , Lt 3
Jl. Mampang Prapatan Raya No 106
Jakarta Selatan 12760
Telp. (021) 798 1883
Faks. (021) 797 0985
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
PERSPRKTIF:
05
06
07
08 WAWANCARA:
09
DEPTHNEWS: 10
11
12
13 == Prof. Dr Suhardiman, SE (02)
Tolak Carik Desa Jadi Dukun Politik
Ayahnya yang menjabat kepala desa bercita-cita menempa Suhardiman
remaja menjadi juru tulis atau carik desa. Suhardiman menolaknya secara
halus karena ingin melanjutkan sekolah. Dia pun menjadi tentara dan
lulus Akademi Militer tahun 1949. Namun, dalam karir, dia banyak
bergumul dalam dunia politik. Intiusi politiknya sangat peka dan
menjangkau jauh ke depan, sehingga dia digelari dukun politik.
Dalam soal agama, ayah dan ibunya, meskipun penganut kepercayaan
Kejawen, tidak memaksakan putera-puteri mereka mengikuti kepercayaan
mereka. Suatu hari ayahnya bilang pada Suhardiman: “Kamu ikuti bapak,
tetapi kalau tidak mampu masuk saja Islam.” Suhardiman lebih memilih
Islam daripada kepercayaan Kejawen.
Suhardiman kecil secara tak sengaja masuk sekolah dasar swasta. Tetapi
setamat sekolah rakyat, dia ingin meneruskan pendidikannya ke sekolah
pemerintah. Sayang, tidak berhasil. Tidak berarti dia berhenti sekolah.
Dia harus menerima kenyataan, menjatuhkan pilihan pada sekolah swasta,
masuk ke HIS (SMP) Muhammadiyah. Meskipun bersekolah di SMP Muhammadiyah,
salah satu organisasi terbesar Islam, tidak secara otomatis mendorong
Suhardiman rajin shalat.
Di antara anggota keluarganya, hanya dia dan kakak perempuan ayahnya
yang memilih agama Islam. Suatu hari, di dalam perenungannya tentang
Tuhan, di depan mata Suhardiman tiba-tiba muncul bayangan uaknya yang
sedang menunaikan shalat. Lantas Suhardiman terus berpikir dan merenung,
bahwa sebagai muslim dia harus menunaikan shalat. “Itulah tekad yang
muncul di pikiran saya waktu itu,” kata Suhardiman.
Suhardiman yang lahir di Solo, Jawa Tengah, tanggal 16 Desember 1924,
ketika menyelesaikan sekolah menengah pertama, penjajah Belanda bertekuk
lutut pada penjajah Jepang, tahun 1941. Tak lama kemudian, Suhardiman
menamatkan HIS, lantas dari Solo berangkat ke Blitar untuk menempuh
pendidikan sekolah guru laki-laki. Di Blitar terdapat dua macam sekolah
guru, yakni untuk laki-laki dan perempuan. Setelah tamat sekolah guru
empat tahun, Suhardiman merantau ke Jakarta (1945) untuk meneruskan
pendidikannya di perguruan tinggi. Tetapi karena pergolakan bersenjata
berkecamuk tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945,
Suhardiman tidak sempat menyelesaikan pendidikan SMA. Padahal dia
berniat masuk sekolah tinggi olahraga.
Pendidikan Suhardiman terbengkalai karena masuknya tentara Sekutu (Gurkha,
Inggris) yang dibonceng oleh tentara NICA Belanda. Maka terjadi konflik
bersenjata secara sporadis antara pasukan Sekutu dan para pejuang
kemerdekaan yang dipersenjatai dengan senjata-senjata api yang dirampas
dari Jepang. Suhardiman bersama teman-temannya terseret di dalam
pergolakan, tetapi mereka tidak memiliki ilmu berperang. Sementara itu,
Suhardiman bersama lima kawannya—dia lupa nama-nama mereka—mendengar di
Yogyakarta dibuka Akademi Militer. Mereka pun berangkat ke Yogya untuk
mengikuti ujian masuk. Tetapi kelima-limanya tidak ada yang lulus. Lalu
Suhardiman dipercaya oleh ke empat temannya sebagai koordinator untuk
menanyakan, kenapa mereka tidak lulus. Waktu itu, Suhardiman ingin
menemui pimpinan AM, tetapi dia diterima oleh Letkol Ismail. Suhardiman
menanyakan perihal tersebut kepada Letkol Ismail, dan dijawab, mereka
memang tidak lulus.
Setelah mendapat kepastian tersebut, mereka mengambil keputusan untuk
berangkat ke Kediri, Jawa Timur, untuk menemui paman salah seorang
temannya yang berpangkat Mayor TNI. Setelah bertemu dengan sang Mayor,
mereka malahan dikirim ke medan perlawanan rakyat di Surabaya dengan
pangkat masing-masing Kopral. Mereka bertugas di sana selama tiga tahun.
Tetapi ketika bertugas di divisi Surabaya, selain menghadapi aksi
polisional Belanda, mereka harus melawan pemberontakan PKI yang meletus
di Madiun, tahun 1948. Waktu itu,
Suhardiman bergabung dalam Kompi Sayidiman yang diperbantukan di
Batalyon Nasuhi. Di dalam batalyon tersebut kemudian dibentuk lagi satu
kompi, diberi nama Kompi II, Suhardiman dan dua temannya bergabung di
Kompi II. Tak lama kemudian, Suhardiman dan dua temannya, Himawan,
Sutanto dan Urip Widodo, dikirim oleh divisi Surabaya untuk belajar ke
Akademi Milter Yogya. Selama menempuh pendidikan militer, Suhardiman,
bersama teman-temannya, juga terlibat di dalam peperangan mempertahankan
kemerdekaan Republik Indonesia, sampai dia lulus AM tahun 1949.
Hadapi PKI
Ketika menempuh pendidikan di AM, Suhardiman memimpin Kompi Suhardiman,
dan pernah mengalami kejadian unik ketika berhadapan dengan kaum komunis.
Dalam perjalanan naik gunung menuju Wonosari, kompi Suhardiman mendapat
laporan dari rakyat bahwa lurah mereka tokoh PKI. Lalu Suhardiman
meminta pertimbangan dari para taruna, kemudian mengambil keputusan
untuk menetapkan tiga taruna yang dilibatkan di dalam penangkapan lurah
tersebut. Padahal sosok fisik lurah tersebut, tinggi besar. Tanpa
mengalami perlawanan berarti, lurah itu ditangkap, kemudian digelandang
ke kantor wedana.
Ketika digelandang ke kantor wedana, sang lurah mengenakan celana hitam
sebatas lutut dan kaos oblong putih. Di dalam perjalanan kedua tangan
lurah itu diikat. Mendapat pukulan bertubi-tubi dari warganya, lurah itu
tidak melawan, tidak menjerit, diam saja. Seorang warga membakar sabut
kelapa, kemudian dilempar ke tubuh sang lurah, tetapi dia tidak terbakar
ataupun luka. Warga semakin marah sehingga mendesak, sang lurah harus
dihukum mati. Lantas Suhardiman meminta nasihat dari seorang kolonel,
dan dijawab, “terserah Suhardiman, sebab kamu yang berkuasa.” Kolonel
itu membubuhkan tanda tangan hukuman mati, diperkuat oleh Suhardiman.
Akhirnya lurah tersebut dikenakan eksekusi tembak mati.
Di dalam pelaksanaan eksekusi tersebut, kembali terjadi keanehan. Di
tembak dari segala sudut, lurah tersebut tidak tembus peluru. Kemudian
disabet dengan celurit, dia tidak luka. Lantas ada seorang warga yang
menyeletuk: “Dia punya aji-aji (pegangan).” Tanya Suhardiman:
“Pegangannya apa?”
“Aji-aji itu ada di celana kolornya,” kata warga tersebut lebih lanjut.
Lalu aji-aji itu diambil dari celana kolor lurah. Kemudian dia ditembak
lagi, langsung mati. Percaya atau tidak, kata Suhardiman, kawan-kawannya
yang melakukan tugas eksekusi, di antaranya Suwardi, menderita gangguan
jiwa atau stres berat.
Kemudian Kompi Suhardiman melanjutkan perjalanan. Tetapi sebelum masuk
ke Jimbaran, mereka bertemu dengan tentara PKI yang melarikan diri. Maka
pertempuran pun tak terelakkan. Di dalam pertempuran tersebut, dua
taruna anak buah Suhardiman, gugur. Selaku petinggi AM, Letkol Ismail
datang mengontrol. Dia marah-marah lantaran ada taruna yang tewas.
Tetapi Suhardiman ingin menjaga kewibawaannya di hadapan anak buah,
menantang Letkol Ismail. Kata Suhardiman: “Anda pulang saja, saya yang
berkuasa di sini.” Lantas Letkol Ismail kembali ke Yogya.
Saat itu (tahun 1948), Suhardiman belum tamat AM, sedang menunggu
pengumuman hasil ujian akhir. Setelah dia lulus, Letkol Ismail bilang
kepadanya: “Suhardiman walaupun kamu sudah lulus kamu harus tambah
pendidikan teori.” Sebenarnya ketika menempuh pendidikan di Akademi
Militer, Suhardiman belum tamat SMA. Namun setelah menyelesaikan AM, dia
dikirim ke Amerika untuk menunaikan pendidikan tambahan selama tiga
bulan. Sepulang dari AS, dia ditugaskan menjadi instruktur di Sekolah
Staf Komando Darat (SSKD), Bandung. Selain menjadi instruktur, dia juga
bertugas di kesatuan. Suhardiman masih sempat menyisihkan waktu untuk
menyelesaikan pendidikan SMA-nya. Setelah lulus SMA, dia melanjutkan ke
pendidikan tinggi di Akademi Perniagaan Parahiyangan, Bandung.
Saat itu Markas Besar Angkatan Darat memintanya bertugas di Jakarta,
tetapi Suhardiman meminta penangguhan karena harus menyelesaikan
kuliahnya. Berkat ketekunannya, Suhardiman menyandang gelar sarjana muda
pertama di APP. Setelah itu dia melapor ke MABAD, malah disuruh memilih:
tugas di Bandung atau di mana. Suhardiman tidak segera memberi jawaban,
meminta waktu untuk berpikir dan kembali ke Bandung. Tiga hari kemudian,
Suhardiman berangkat ke Jakarta, dan meminta diperbantukan pada Mayjen
Suprayogi, Menteri untuk Urusan Stabilisasi Ekonomi. Lantas dia
ditugaskan sebagai perwira TNI yang diperbantukan pada kantor
sekretariat menteri.
Tidak berapa lama setelah Suhardiman menempati tugas barunya, pemerintah
menerapkan kebijakan untuk menasionalisasi semua perusahaan milik
Belanda. Semua perusahaan milik Belanda, meskipun sahamnya hanya tiga
persen, diambil alih. Sebagai pelaksana kebijakan tersebut, pemerintah
membentuk Badan Nasionalisasi (Banas). Suhardiman juga diperbantukan
sebagai sekretaris Banas yang dipimpin oleh PM Juanda, tetapi ketua
harian dipegang oleh Suprayogi.
Saat itu, meskipun pangkatnya masih rendah, Suhardiman sudah bergaul
dengan menteri-menteri. “Sopo aku sopo koe (siapa saya siapa dia), sudah
begitu.” Lama Suhardiman bertugas di situ. Setelah itu, dia disuruh
memilih mau dikaryakan di mana. Dia memilih bertugas di USINDO, lalu
menjadi Presiden Direktur PN Jaya Bhakti. Belum sampai dua tahun
memimpin perusahaan milik negara tersebut, Suhardiman menerima perintah
tidak langsung dari Jenderal AH Nasution, supaya dia menjauhkan diri
dari Presiden Soekarno (Bung Karno). “Wah itu tidak bisa,” jawab
Suhardiman. Suhardiman hampir dua minggu sekali bertemu Bung Karno. Dia
sering dipanggil ke Istana Bogor untuk berbicara tentang banyak hal
dengan Bung Karno.
Ketika Suhardiman memimpin PN Jaya Bhakti, Departemen Perdagangan
dipimpin oleh Adam Malik, bekas Dubes RI di Moskow. Untuk memberantas
tindak korupsi, dibentuk Operasi Budi. Pagi sekali, ke kantor Suhardiman
datang rombongan beranggotakan tujuh orang jaksa. Salah seorang di
antara mereka, Gautama, meminta Suhardiman mengisi formulir. Sebelum
mengisi, Suhardiman mengusulkan agar di dalam formulir itu dicantumkan
pertanyaan: “Asal-usul kekayaan dari mana?” Tetapi dijawab oleh Gautama:
“Ya sudah, isi saja nilai kekayaannya.” Padahal kekayaan itu, asalnya
dari mana harus jelas; bisa dari warisan, hasil usaha atau dari mana.
Usulan Suhardiman tidak digubris. Akhirnya dia tulis saja jumlah
kekayaannya.
Masalah ini berkepanjangan. Hampir setiap dua hari sekali, Suhardiman
dipanggil ke Kejaksaan Agung, dan diperiksa. Tetapi setiap dipanggil
kejaksaan, dia selalu optimis. Ketika diperiksa di Kejagung, Kolonel
Mukito berjalan mondar-mandir di depannya. “Kurang ajar nih orang,” kata
Suhardiman dalam hati. Dia diperiksa oleh dua jaksa. Ternyata, Jaksa
Gautama, satu dari kedua jaksa tersebut, berindikasi PKI. Rupanya,
anggota-anggota Operasi Budi kesusupan PKI. Suhardiman, pada malam
harinya dibawa oleh Letjen Suadi ke rumah Brigjen Sutoyo. Brigjen Sutoyo
mengatakan, kesalahan tersebut hanya miss management. Saat itu istilah
itu masih baru, sehingga Suhardiman menanyakan, “apa sih artinya miss
management? “ Dia juga ingin dijelaskan tentang perbedaan antara miss
management dan good management. “Pokoknya, saya bantah,” kata Suhardiman.
Kemudian, perkara Suhardiman sampai juga di pengadilan. Di situ, dia
berkenalan dengan seorang hakim. Intinya, hakim itu memberi saran:
“Nanti Mas Hardiman, jika diperiksa di pengadilan katakan yang itu-itu
saja, tidak usah ditambah dan tidak dikurang.” Hakim itu berterus terang
bahwa dia mendapat instruksi untuk menjebloskan Suhardiman ke dalam
penjara, tetapi itu bertentangan dengan hati nuraninya sebagai hakim.
Suhardiman meminta tolong kepada hakim tersebut agar dia dibebaskan dari
semua tuntutan.
Tatkala menjalani pemeriksaan di pengadilan, Letjen Suadi (almarhum),
membisikinya: “Dik, ayo kita ke Pak Nas. Operasi Budi dibentuk oleh Pak
Nasution. Suhardiman, ketika itu masih berpangkat Mayor, malah menolak.
Kemudian Letjen Suadi datang lagi mengajaknya bertandang ke Jalan Teuku
Umar, rumah kediaman Jenderal Nasution. Suhardiman akhirnya tidak bisa
mengelak. Mereka pergi ke Teuku Umar, dan Suhardiman tetap mengatakan
kepada Jenderal Nasution bahwa dia telah dinyatakan oleh pengadilan
tidak terbukti bersalah. Lalu Suhardiman meminta Pak Nasution
mengumumkan di surat-surat kabar, menyatakan secara terbuka bahwa dia
tidak bersalah. Sebab dia terus mendapat tudingan dan hujatan dari PKI.
Tetapi Jenderal Nasution tidak pernah mengumumkannya.
Di era itu, PKI menjadi partai super. Pasukan Pengawal Presiden (Cakrabirawa)
yang dipimpin oleh Letkol Untung, kemudian menjadi pemimpin G-30-S/PKI
dan Dewan Revolusi Pusat, gagal melakukan kudeta tanggal 30 September
1965. Di bawah komandan lapangan Letkol A. Latief, G-30-S/PKI membunuh
enam jenderal yang mereka tuding sebagai anggota Dewan Jenderal dukungan
Barat yang akan mengkudeta Bung Karno (presiden) yang sedang
sakit-sakitan. Saat itu, Suhardiman berseragam militer, sedang sarapan
pagi di Hotel Indonesia. Dia didekati Pak Mujono (kemudian menjadi Ketua
Mahkamah Agung), sembari berbisik di telinganya: “Mas Hardiman apa sudah
dengar para jenderal diculik?” Secara spontan Suhardiman berkomentar:
“Ini pasti perbuatan PKI. Dan benar, memang PKI.”
Dukun Politik
Suhardiman melanjutkan pendidikan tingginya di perguruan tinggi sangat
bergengsi—Universitas Indonesia—mengambil jurusan Ekonomi Perusahaan.
Dia meraih gelar sarjana ekonomi. Kemudian melanjutkan ke program
doktoral di Universitas 17 Agustus, mengambil jurusan bisnis
administrasi.
Suhardiman memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain.
Tuhan memberikan bekal kepada setiap manusia—pikiran dan naluri. Pada
Suhardiman, nalurinya lebih tajam dari pikirannya. Misalnya, tiba-tiba
saja hatinya terketuk ingin pergi ke Sogo, Grand Hyatt, Jakarta.
Sepanjang perjalanan, otaknya terus berpikir dan menganalisa, “kenapa
saya harus ke Sogo?” Tiba-tiba, dia menemukan jawabannya. Besok dia
harus main tenis, padahal sepatu tenisnya rusak. Jadi dia harus ke Sogo
untuk membeli sepatu tenis. Jika dia sudah merasa yakin dan pikirannya
membenarkan, dia tidak peduli apakah orang lain setuju atau tidak.
Kedekatannya dengan Presiden Soeharto, akrab dipanggil Pak Harto, tidak
sedekat seperti dengan Bung Karno. Dia merasa seperti ada jarak dengan
Pak Harto. Tetapi pernah dua kali dimarahi Pak Harto. Dalam perjalanan,
ketika Pak Harto masih Pejabat Presiden, Suhardiman berkantor di Merdeka
Barat, menjadi sekretarisnya Mensesneg Alamsyah Prawiranegara (almarhum).
Suatu saat, ajudan Bung Karno, Letkol Polisi Sumirat, menelpon: “Pak
Suhardiman di panggil Bapak ke Istana, harap cepat datang.
“Saya sedang rapat, belum bisa ditinggalkan,” jawab Suhardiman.
“Kira-kira berapa lama?” tanya Sumirat.
“Satu jam,” jawab Suhardiman.
Tetapi Sumirat meminta telepon tidak ditutup karena harus melapor ke
Bung Karno. Kemudian, Suhardiman melapor lebih dulu ke Pak Alamsyah
bahwa dia dipanggil Bung Karno. Saat itu, Suhardiman baru saja kembali
dari menjalani misi rahasia di Taiwan.
Suhardiman lalu dijemput oleh Soemirat dengan jip hard top. Jip tersebut,
tahun 1960-an, dianggap jip paling hebat. Turun dari jip, Suhardiman
bertanya: “Bapak di mana?”
“Di sana,” jawab Soemirat. Suhardiman tidak mengenalnya, karena Bung
Karno mengenakan pakaian kebesaran, tidak pakai kopiah, hanya bersarung
dan kaos oblong. Bung Karno duduk di kursi, Suhardiman ingin menuju ke
kursi di depan mejanya. Bung Karno melarangnya. “Jangan, kamu di sini,
di samping saya.” Soalnya, Suhardiman takut bersikap sembarangan
terhadap Bung Karno. Lalu dia duduk di kursi di samping Bung Karno.
Setelah itu, Bung Karno bilang, “Har, kamu sebagai generasi muda, Bapak
ingin tanya kepada kamu.” Suhardiman saat itu merasa bangga sekali
karena seorang presiden yang sangat dihormati ingin bertanya kepadanya.
“Ada apa rame-rame di situ?” tanya Bung Karno. Lalu Suhardiman menjawab:
“Ada demonstrasi-demontrasi, antara lain menuntut Bapak turun.”
“Tidak bisa. Saya diangkat oleh MPRS,” sergah Bung Karno.
“Tapi tuntutan itu sudah melembaga, Pak.,” komentar Suhardiman.
“Melembaga?” sela Bung Karno dalam nada tanya. “Saya dipilih langsung
oleh wakil rakyat yang menjatuhkan saya harus rakyat atau MPR yang akan
datang,” jawab Bung Karno.
Dalam hati Suhardiman mengiyakan. Bung Karno yang mengatakan dia akan
mempertanggungjawabkan semuanya di depan sidang umum MPRS.
Kemudian, Bung Karno menyampaikan pidato pertanggungjawaban di depan SU-MPRS,
tetapi ditolak. Pidato tersebut dipotong-potong yang tinggal hanya
Nawaksara. Bung Karno turun dari panggung politik, dan Suhardiman berada
di dekatnya ketika Bung Karno meninggal tahun 1970.
Lalu, ketika Pak Harto menjadi Pejabat Presiden, Suhardiman dikirim ke
Jepang, Taiwan dan Israel untuk menjalani misi rahasia. Di Taiwan, dia
membicarakan hubungan bisnis antara Indonesia dan Taiwan. Kemudian, dia
ke Israel. Saat itu, bahkan sampai sekarang, Indonesia tidak punya
hubungan diplomatik dengan Israel. Dia masuk ke Israel memakai nama
samaran Suhardi, paspornya diubah. Di sana, dia bertemu dengan Jenderal
Mose Dayan. Mereka membicarakan tentang bentuk hubungan dengan Israel.
Akhirya, dari segi intelijen, ada pembukaan hubungan perwakilan dengan
Israel. Suhardiman diberi senjata oleh penguasa militer Israel. Namun
lima senjata milik Suhardiman disita dan dikembalikan ke TNI (ABRI)
sewaktu dilancarkan Operasi Sapujagad.
Lepaskan Rokok
Suhardiman, memperoleh gelar profesor (guru besar) dari Universitas
Muhammadiyah, Medan, Sumatra Utara. Kadang-kadang dia diminta mengajar
di Universitas Muhammadiah, Medan. Suhardiman juga memperoleh
kepercayaan menjadi guru besar bela diri Tangan Kosong (Tako) yang
dipimpinnya. Gelar itu diberikan oleh pemegang Dan Tujuh Sahrun Isak (alm)
yang menjadi suhu Tako. Dia tiga kali kena stroke, tetapi tidak sampai
meninggal.
Sahrun Isak, seorang warga negara Thailand, sering datang ke rumah
Suhardiman di Cipete. Suhunya itu perokok berat. Suatu hari Suhardiman
menyarankan suhunya (guru) agar berhenti merokok. Tetapi dia jawab:
“Akh, masa’ karena merokok mati.” Tak lama kemudian, sang suhu me-ninggal
karena stroke yang keempat kalinya. Suhardiman sendiri tadinya perokok
berat, tetapi melepaskan diri dari kecanduan nikotin sejak mendapat
serangan jantung sepuluh tahun lalu. ►
mti-sahbuddin hamzah
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|