| |
C © updated
08092006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/esero |
|
| |
Biodata
Nama:
Prof. Dr Suhardiman, SE
Lahir:
Surakarta, 16 Desember 1924
Agama:
Islam
Jabatan:
Ketua Dewan Penasehat Depinas SOKSI
Isteri:
Sapartinah
Anak:
6 (enam) orang
Pendidikan:
- SD Solo (1941)
- SMP Blitar (1945)
- SMA Jakarta (1956)
- Sarjana FE.UI Jakarta (1962)
- Akademi Militer Yogyakarta (1954)
- Sekolah Infantri Fort Benning, AS (1971)
- Seskoad (1969)
- Doktor dari Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta (1971)
Karier:
- Anggota Polisi Tentara, Kediri (1945)
- Anggota Kiwal PB Jenderal Sudirman (1947)
- Ketua Umum SOKSI (1960-1998)
- Anggota Dewan Pembina Golkar (1973-1998)
- Anggota DPR/MPR (1983 1988)
- Kaset KSAP, Dosen SSKAD
- Staf Ahli Menteri Urusan Stabilitas Ekonomi dan Menteri Produksi
- Sekretaris BANAS
- Dirut PN Jaya Bhakti, 1960
- Dirut PT. Berdikari
- Penasehat Menperdag
- Komisaris Utama PT Bank Duta Ekonomi
- Wakil Ketua DPA-RI (1993 1998)
- Ketua MPPO SOKSI (1998 2005)
Bintang Penghargaan:
- Bintang Mahaputra
- Lebih 13 bintang lainnya
Alamat Rumah:
Jalan Kramat Batu Nomor 1, Cipete, Jakarta Selatan
- Jalan Iskandarsyah Raya 97, Jakarta Telp: 713731- 734913
Alamat Kantor:
SOKSI
Gedung Basmar Plaza , Lt 3
Jl. Mampang Prapatan Raya No 106
Jakarta Selatan 12760
Telp. (021) 798 1883
Faks. (021) 797 0985
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
PERSPRKTIF:
05
06
07
08 WAWANCARA:
09
DEPTHNEWS: 10
11
12
13 == Prof. Dr Suhardiman, SE (01)
Futurolog Politik Indonesia
Pendiri satu-satunya dan Ketua Dewan Penasihat Depinas SOKSI (Sentral
Karyawan Swadiri Indone-sia), ini kami juluki futuris politik Indonesia.
Personifi-kasi SOKSI ini juga seorang tokoh pencetak kader bangsa.
Mantan Wakil Ketua DPA-RI (1993-1998) kelahiran Gawok, Solo, 16 Desember
1924, yang juga dijuluki dukun politik, itu memiliki kecerdasan dan
ketajaman intuisi, insting (indera keenam) mempre-diksi perkembangan
politik Indonesia jauh ke depan.
Prof Dr Suhardiman, SE adalah tokoh politik berjiwa negarawan. Visi
dan misi politiknya tercermin dalam dinamika perjuangan organisasi
kemasyarakatan SOKSI, yang didirikan dan dipimpinnya puluhan tahun. Dia
adalah personifikasi SOKSI. Suhardiman, melalui SOKSI, adalah pencetak
kader bangsa. Kaderisasi dalam SOKSI bukan dimaksudkan mencetak kader
organisasi, melainkan mencetak kader bangsa, yang berjiwa kebangsaan dan
negarawan. (Selengkapnya baca: SOKSI Pencetak Kader Bangsa).
Penulis buku Pembangunan Politik Satu Abad (1996), ini memiliki insting
yang jauh lebih peka dan lebih tajam dibanding pemikiran rasionalnya.
Seringkali dia melakukan sesuatu atas dorongan intuisinya yang kemudian
dianalisis secara rasional oleh nalarnya. Intuisi politik yang
ditindaklanjuti dengan nalar (analisis secara rasional) politiknya
memiliki daya jangkau jauh ke depan. Aneka pemikiran tentang pembentukan
kekuatan bangsa sebagai tujuan yang kedua dari pemba-ngunan politik,
yang oleh Suhardiman disebut sebagai Trisula Politik, yakni: Power,
Hukum dan Demokrasi. (Baca juga: Menuju Indonesia Raya Ketiga 2045,
halaman 24)
Dia mendorong adanya upaya modernisasi, rasionalisasi dan dinamisasi
diterapkan dalam berbagai kelembagaan politik, pendidikan politik dan
pimpinan politik sebagai prasarana dalam pembangunan politik. Prasarana
kelembagaan ini tidak bisa diartikan secara sempit hanya sebagai sosok
fisik organisatoris, melainkan harus diartikan secara luas menyangkut
sosok sosio-kulturalnya. (Baca juga: Regenerasi Kepemimpinan Bangsa,
halaman 20).
Dia mengeluhkan, terancamnya jati diri Indonesia saat ini. Reformasi
yang berlangsung sejak 1988, dalam pengamatan Prof Dr Suhardiman, SE,
belum menampakkan jati diri dan arah tujuan Indonesia masa depan. Sistim
dan struktur politik masih harus ditata supaya lebih jelas dan terarah.
Dia melihat perlunya reformasi jilid dua untuk lebih mempertegas jati
diri dan tujuan masa depan Indonesia. (Baca juga: Perlu Reformasi
Jilid Dua, halaman 30 dan Etos Nasionalisme Baru, halaman 18)
Suhardiman yang sukses di bidang karir, bisnis dan menonjol dalam bidang
politik itu menamatkan pendidikan SD di Solo (1941), SGL Blitar (1945),
SMA Jakarta (1956) dan Sarjana ekonomi dari FEUI Jakarta (1962). Sambil
bertugas dia terus belajar hingga meraih gelar doktor Ilmu Administrasi
Niaga dari Universitas 17 Agustus, Jakarta (1971), dengan disertasi
Pembaharuan Struktur Sosial sebagai Prasyarat Pembangunan Niaga Nasional.
(Selengkapnya baca: Tolak Carik Desa Jadi Dukun Politik, halaman
8)
Selain pendidikan umum, dia alumni Akademi Militer Yogyakarta (1948),
Sekolah Infantri Fort Benning, AS (1971) dan Seskoad (1969). Suhardiman,
bungsu dari tujuh bersaudara, itu memulai karier sebagai Anggota Polisi
Tentara di Kediri (1945). Kemudian Anggota Kiwal PB Jenderal Sudirman
(1947). Setelah lulus Akademi Militer Yogyakarta (1948) dia bertugas
sebagai komandan Subkomando Distrik Militer Yogya Selatan sampai dia
menjabat Kaset KSAP dan Dosen SSKAD.
Pada 1960-an, dia menjabat perwira pembantu utama Menteri Utama Ir H
Juanda, mengurusi perusahaan-perusahaan negara. Tahun 1960 itu dia
bersama rekan-rekan mendirikan SOKSI (Sentral Karyawan Swadiri
Indonesia) sebagai imbangan SOBSI/PKI, dengan ide dan konsep kekaryaan
yang kemudian juga diwujudkan dalam wadah Golkar. Di SOKSI dia menjabat
Ketua Umum sejak berdiri 1960 sampai 1998). Kemudian melepas jabatan
Ketua Umum dan menjabat Ketua MPPO SOKSI (1998 2005). Sejak 2005
menjabat Ketua Umum Dewan Penasihat SOKSI.
SOKSI adalah salah satu dari tiga ormas pendiri Golkar. Suhardiman
sendiri aktif sebagai Anggota Dewan Pembina Golkar (1973-1998). Dia juga
sempat berkiprah di Senayan sebagai Anggota DPR/MPR (1983 1988).
Selain itu, Suhardiman pernah menjabat Staf Ahli Menteri Urusan
Stabilitas Ekonomi dan Menteri Produksi, Sekretaris Banas dan Penasehat
Menperdag. Jabatan terakhir yang diembannya di lembaga tinggi negara
adalah Wakil Ketua DPA-RI (1993 1998).
Dia juga pernah menjabat Dirut PN Jaya Bhakti, Dirut PT Berdikari,
Direktur PT Evergreen Hotel dan Komisaris Utama PT Bank Duta Ekonomi. Di
bidang olahraga dia lama memimpin Perguruan Bela Diri Tangan Kosong
Indonesia sebagai Ketua Umum. Dia seorang yang rajin melakukan latihan
pernapasan, silat dan main catur.
Atas berbagai pengabdiannya, Suhardiman dianugerahi penghargaan Bintang
Mahaputra dan lebih 17 bintang penghargaan lainnya. Universitas
Muhammadi-yah di Medan mengangkatnya sebagai guru besar. Masyarakat
Simalungun memberinya marga Saragih saat dia menjabat anggota DPR
mewakili Sumatera Utara hasil Pemilu 1982.
Dalam usia berkepala delapan Suhardiman masih membagikan pemikiran dan
gagasan cerdas untuk bangsanya. Suhardiman yang sudah pernah terancam
meninggal dunia akibat penyakit jantung yang dideritanya, merasa yakin
akan hidup lebih lama lagi. (Selengkapnya baca:Yakin Hidup 100 Tahun,
halaman 14).
Penampilannya memang masih terlihat gagah, wajahnya berseri dan
pemikirannya masih tajam. Dia mengasah pikirannya (mencegah pikun)
dengan membaca,berdiskusi dan main catur dengan sahabat-sahabatnya,
selain secara rutin melakukan senam jantung.
Dia tinggal di Jalan Kramat Batu Nomor 1, Cipete, Jakarta Selatan. Rumah
yang terdiri dari tiga bangunan, satu bangunan utama dan dua bangunan
lebih kecil lengkap dengan kolam renang dan taman yang luas yang dihiasi
suara aneka jenis burung piaraan seperti anis, poksai dan cucak rawa. ►
mti-ch robin simanullang
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|