| |
C © updated 26012006-30012005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/setneg |
|
| |
Nama:
Letnan Jendral TNI (Purn) Sudharmono SH
Lahir :
Gresik, Jawa Timur, 12 Maret 1927
Meninggal:
Jakarta, 25 Januari 2006
Agama:
Islam
Jabatan Terakhir:
Wakil Presiden Republik Indonesia (1988-1993)
Isteri:
Emma Norma
Anak:
Tiga Orang
Pendidikan:
= HIS
= SMP
= SMA
= Akademi Hukum Militer (SmHk 1956)
= Perguruan Tinggi Hukum Militer (SH., 1962)
= Sekolah Perwira Cadangan
= Kursus Perwira Lanjutan Dua (Kupalda)
= Seskoad
Karir:
= Komandan Pasukan Divisi Ronggolawe (1945-1949)
= Perwira Staf Pusdik Perwira AD (1950-1952)
= Jaksa Tentara, merangkap Perwira Staf Penguasa Perang Pusat, Medan
(1957-1961)
= Jaksa Tentara Tinggi, merangkap Perwira Staf Penguasa Perang Tertinggi (Peperti)
= Asisten Bidang Sosial Sekretariat Pembantu Pimpinan Revolusi
= Wakil Ketua II Gabungan 5 Koti
= Ketua Tim Penertiban Personil Pusat (1962-1966)
= Sekretaris Kabinet, merangkap Sekretaris Dewan Stabilisasi Ekonomi
(1966-1972)
= Menteri Sekretaris Negara (1973- 1988)
= Wakil Presiden RI (1988-1993)
Organisasi:
= Ketua Umum DPP Golongan Karya (1983-1988)
= Koordinator Yayasan-yayasan yang didirikan Pak Harto (1998- sekarang)
Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Senopati I/44, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
Sudharmono (1927-2006)
Bersama Pak Harto Sampai Akhir
Letnan Jenderal (Purn) Sudharmono SH, Wakil Presiden Kabinet Pembangunan
V (11 Maret 1988-11 Maret 1993), meninggal dunia di Rumah Sakit
Metropolitan Medical Centre (MMC), Kuningan, Jakarta, Rabu 25 Januari
2006 pukul 19.40. Tokoh kelahiran Gresik, Jawa Timur, 12 Maret 1927 yang
menjabat Menteri Sekretaris Negara tiga kali berturut-turut (1978-1988),
itu meninggal akibat infeksi paru dan komplikasi penyakit lain.
Dia menderita infeksi paru, disusul sejumlah komplikasi. Sebelumnya
jenderal pekerja keras itu beberapa lama dirawat di Singapura. Setahun
sebelumnya juga menjalani perawatan di Jepang. Saat itu, almarhum
dinyatakan mengalami gejala parkinson.
Saat-saat terakhir di unit perawatan intensif RS MMC, Ny Emma Norma
Sudharmono, dengan kursi roda, bersama seluruh anggota keluarga
menungguinya. Kemudian jenazah disemayamkan di kediaman Jalan
Senopati 44B. Sejumlah tokoh datang melayat, di antaranya mantan
Persiden Soeharto.
Menurut Zaenal Abidin, sekretaris pribadi Pak Dhar, keluarga
menghendaki almarhum dimakamkan sebelum (shalat) dzuhur atau sekitar
pukul 10.00, Kamis 26 Januari 2006. Direncanakan dimakamkan di Taman
Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan
bertindak sebagai inspektur upacara pemakaman.
Setelah tidak aktif di pemerintahan, Sudharmono selalu setia bekerja
bersama Pak Harto. Dia dipercaya mengordinir
tujuh yayasan yang didirikan Pak Harto, yakni Dharmais, Supersemar,
Dakap, Damandiri, Amal Bhakti Muslim Pancasila, Gotong Royong, dan
Trikora.
Bangkit Bersama Pak Harto
Wakil Presiden Republik Indonesia ke-5 periode 1988-1993, ini cukup
lama mendampingi Presiden Soeharto saat berkuasa sampai sesudah lengser,
baik sebagai Menteri Negara Sekretaris
Negara dan Wakil Presiden maupun Koordinator Yayasan-yayasan yang
didirikan Pak Harto. Pak Dar, panggilan akrabnya, terpilih menjadi
Wapres setelah berhasil memimpin DPP Golkar dengan kemenangan mutlak pada
Pemilu 1987.
Pria bertubuh ceking dan enerjik ini, masih tampak bugar pada usia
tuanya. Lulusan Akademi Hukum Militer (1956) kelahiran Gresik, Jawa Timur,
12 Maret 1927, masih aktif mengorganisir kegiatan yayasan-yayasan yang
didirikan Pak Harto. Sejak muda, di tengah kesibukannya, dia gemar
berolahraga, telah menjadi salah satu penyebab kebugarannya.
Pada periodenya sebagai Wapres, dia membentuk Tromol Pos 5000 sebagai
sarana pengawasan masyarakat. Selain itu dia memulai kunjungan kerja Wakil
Presiden RI ke tiap Propinsi, serta ke Departemen, Kantor Negara dan
Lembaga Departemen Non Pemerintah. Pada periode ini juga Rapat Koordinasi
Pengawasan diselenggarakan setiap tahun.
Saat pemilihan Wakil Presiden pada Sidang Umum MPR Maret 1988,
sempat terjadi ketegangan antara yang menjagokan Sudharmono dan Try
Sutrisno. Sudharmono yang saat itu menjabat Mensesneg merangkap Ketua Umum
DPP Golkar dijagokan Golongan Karya unsur sipil (jalur G) dan birokarasi (jalur
B). Sementara Jenderal TNI Try yang menjabat Panglima Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia (Pangab), dijagokan Golongan Karya unsur
militer (jalur A) yang dimotori Menkopolkam LB Moerdani.
Masing-masing, punya kepentingan dalam kancah politik nasional.
Puncaknya, Sudharmono malah dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).
Namun, tuduhan itu ditepis. Presiden Soeharto akhirnya menunjuk Sudharmono
untuk dipilih MPR jadi wakil presiden.
Saat itu, orang-orang yang dianggap "tak bersih lingkungan" di instansi
pemerintahan diberhentikan. Ibarat epidemi, orang-orang media pun tak
luput dari serangan. Harmoko, menteri penerangan ketika itu, gencar
mengampanyekan "bersih diri" dan "bersih lingkungan." Pernyataan resminya
dikutip koran-koran, "Ada PKI dalam tubuh pers kita." Momok komunisme
terus dihidupkan.
Terpilihnya Sudharmono jadi Wakil Presiden tak terlepas dari
keberhasilannya memimpin DPP Golongan Karya. Pada periode kepemimpinannya,
Golkar makin mendominasi (mayoritas mutlak) politik Indonesia dengan
meraih suara 72 persen pada Pemilu 1997.
Sudharmono terpilih menjadi ketua Umum DPP Golkar periode 1983-1988
pada Musyawarah Nasional III Golongan Karya (Golkar), Oktober 1983. Dia
menggantikan Amir Moertono.
Tak salah bila disebut bahwa dia orang kepercayaan Pak Harto. Sangat lama
dia mendampingi Presiden Soeharto. Jabatan sekretaris negara, yang
kemudian menjadi Menteri Sekretaris Negara, dipercayakan padanya sejak
1970 hingga tahun 1988, sampai menjadi Wakil Presiden.
Dia benar-benar bangkit sejak kebangkitan Orde Baru. Tuduhan
keterlibatannya dalam organisasi PKI, dinilai beberapa pihak tak beralasan.
Sebab, konon pada 12 Maret 1966, sehari setelah keluarnya Surat Perintah
11 Maret 1988, bahwa Sudharmono yang ketika itu mengetuai Tim Operasionil
Pusat Gabungan-V Komando Operasi Tertinggi (Koti) bahkan memerintahkan
pengetikan naskah yang menyatakan PKI sebagai partai terlarang.
Sebagai militer, suami dari Emma Norma dan ayah tiga anak, ini memulai
kiprahnya sejak zaman Perang Kemerdekaan, di daerah Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Dia bergabung dengan Divisi Ronggolawe berpangkat kapten. Seusai
perang, Pak Dhar menimba ilmu di Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM),
hingga meraih gelar Sarjana Hukum. Setelah itu, dia sempat bertugas
sebagai jaksa tentara.
►e-ti/crs, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|