| |
C © updated 18122005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
Nama Lengkap:
Sri Pannyavaro Mahathera
Nama Lahir:
Husodo
Nama Keagamaan:
Pannyavaro
Lahir:
Blora, 22 Juli 1954
Agama:
Buddha
Pendidikan:
- Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
(1972-1974)
Pentahbisan Bikkhu:
Bangkok, 1977
Jabatan:
- Kepala Vihara Mendut, Kota Mungkid, Magelang
- Kepala Vihara Dhamma Sundara, Solo
Alamat:
Vihara Mendut Kota Mungkid, Magelang (Near Borobudur Monument)
Jawa Tengah
Postal Address:
Kotak Pos No.7 Muntilan 56401 Tel/Fax: 0293-8236.
|
|
| |
Welcome
This
site is currently under construction. Please check back at a later time. |
|
|
|
Sri Pannyavaro Mahathera
Kepala Vihara Mendut
Sri Pannyavaro Mahathera, Kepala Vihara Mendut, Kota Mungkid, Magelang
ini berbicara pelan, kadang bahkan sangat pelan. Suaranya halus.
Kata-kata yang digunakan seperti dipilih secara ketat, yang membuat
kalimat-kalimat pria kelahiran Blora, 22 Juli 1954, ini memiliki daya untuk menyapa nurani banyak orang.
Suasananya hening dan
teduh. Banyak peserta meneteskan air mata. Batuk-batuknya yang sangat
mengganggu saat kami berbincang di Vihara Mendut, Magelang, sehari
sebelumnya, hilang.
Peristiwa itu terjadi dalam penutupan Sidang Agung Gereja Katolik
Indonesia (SAGKI) di Wisma Kinasih, Sukabumi, beberapa waktu lalu.
Pannyavaro adalah pembicara terakhir setelah beberapa tokoh agama
lainnya yang memberikan pemikirannya mengenai Habitus Baru.
Bagi Pannyavaro, Habitus Baru adalah ajakan bagi semua yang nuraninya
masih bisa berkata-kata. Ajakan itu menjadi amat sulit dipahami bagi
yang menganggap bahwa perilaku buruk bukan lagi hal buruk, bahkan bangga
melakukannya.
Meski begitu, tak ada alasan untuk tidak optimistis. Sekeras apa pun
batu, tetesan air kesabaran, ketekunan, kasih sayang, kejujuran, dan
kebijaksanaan akan membuat batu keburukan itu berlubang, tuturnya Itulah
kearifan Buddhis untuk kita semua, ujar Kardinal J Darmoatmodjo.
Melubangi batu keburukan adalah pekerjaan besar, dimulai dari dalam diri
dengan mengawasi gerak pikiran agar menuju kepada perilaku bajik. Dalam
kebajikan, keserakahan dan kebencian tidak mendapat tempat.
Wawancara dengan Pannyavaro berikut ini mudah-mudahan dapat menjadi
bagian dari perenungan ketika menapaki hari-hari di pengujung akhir
tahun 2005.
Menurut Anda, apa tantangan terbesar saat ini sebagai individu,
masyarakat, dan bangsa?
Yang menjadi keprihatinan kami, kalau semakin banyak saudara-saudara
kita melakukan hal-hal yang tidak baik; mencuri, korupsi, memanfaatkan
setiap kesempatan untuk kepentingan sendiri, melakukan kekerasan atau
perilaku-perilaku yang menurut keadaban bersama merupakan kekejaman,
tetapi tidak merasa bersalah, bangga, bahkan bersikap seolah-olah
seperti pahlawan. Yang lebih memprihatinkan, sikap mental seperti ini
mudah menular kepada yang lain.
Sikap mental seperti itu, di dalam pandangan Buddhis, diumpamakan asawa
atau racun, yang meracuni darah kita, pemikiran kita. Awalnya mengambil
kecil-kecilan. Lama-lama menjadi kebiasaan. Mencuri, korupsi, dan tindak
kekerasan lalu menjadi art.
Meskipun institusi-institusi baru dilahirkan, sistem diatur kembali
dalam sinar keadilan, perundangan dilengkapi, tetapi kalau moral masih
berorientasi pada kenikmatan indriawi, keserakahan akan menghancurkan
segala harapan baik.
Mengapa itu terjadi?
Kenikmatan indrawi itu begitu pentingnya bagi setiap orang, apalagi
dengan berkembangnya teknologi. Perilaku buruk adalah kenikmatan yang
membakar-bakar keinginan, membuat orang tak peduli cara mendapatkannya.
Kalau saya tidak senang kepada Anda, saya hancurkan Anda, lalu saya
merasa puas.
Kesenangan membakar kita menjadi serakah dan ketidaksenangan (kepada
yang lain) menjadi kebencian. Keduanya menciptakan penderitaan pada diri
sendiri dan orang lain.
Mengapa orang terjebak kenikmatan seperti itu?
Dunia saat ini didominasi oleh kebudayaan yang berpusat pada materi,
karena itu cenderung membakar-bakar keinginan. Kecukupan materi, bukan
hanya harta, tetapi terutama kedudukan, kekuasaan dijadikan parameter
keberhasilan. Itulah paradigma dunia modern tentang sukses dan bahagia.
Etos modernitas sekarang ini adalah etos kerakusan. Manusia modern sulit
melihat dimensi internal sebagai faktor terpenting keberhasilan. Orang
bisa menjadi sangat kejam karena tak bisa mengendalikan kebencian dan
keserakahan.
Di dalam diri setiap manusia
Nafsu keserakahan ada di diri setiap orang kata Pannyavaro. Keserakahan
tak memiliki batas kepuasan, tidak mengenal pertimbangan, kepedulian,
dan saat untuk berhenti. Nafsu serakah mudah berubah menjadi kebencian
dan menjadi benih kehancuran. Bila suatu saat keserakahan tak mampu
memberikan kepuasan sesaat, kebencian muncul ke permukaan, melahirkan
kemarahan, keinginan untuk menghancurkan, permusuhan, balas dendam,
bahkan pembunuhan.
Ketulusan tak bisa lahir dari keserakahan dan kebencian. Kalau bantuan
diulurkan, tetapi perilaku buruk tidak dihentikan, bantuan apa pun tak
banyak artinya.
Realitas awal kasih sayang yang sejati, menurut Pannyavaro adalah
kesanggupan mengendalikan diri dari segala perilaku tak bermoral.
Sekecil apa pun perilaku buruk itu, ia akan memberikan keburukan bagi
lingkungan karena ketergantungan merupakan keniscayaan dalam semesta
ini.
Apakah sumber dari keserakahan dan kebencian?
Sumbernya adalah egoisme keakuan. Self centreness. Egoisme keakuan ini
menyeret kita ke dalam inti kegelapan, membuat manusia tak bisa
membedakan yang baik dari yang buruk. Ia membutakan manusia dari Dharma.
Kegelapan tak hanya menjadikan gelap bagi jiwa seseorang, tetapi
menimbulkan keonaran dalam keluarga, kericuhan di masyarakat, kekerasan,
kekejaman, pelecehan hukum, dan pembunuhan. Kegelapan batin yang
bersekutu dengan kekuasaan, senjata, bahkan teknologi akan menghancurkan
tatanan dunia, peradaban, dan kemanusiaan.
Di sisi lain, ekspresi keberagamaan menguat.
Esensi realitas awal seseorang beragama adalah komitmen kuat untuk
melakukan perubahan sikap mental, moral dan perilaku pada setiap
pelakunya, lebih dapat membedakan yang buruk dan yang baik, lebih
peduli, lebih berbelas kasih, dan lebih menghargai kehidupan.
Keberagamaan menjadi tidak bermakna kalau tidak membawa perubahan.
Bagaimana menyikapi ini semua?
Punya komitmen kuat dan sungguh-sungguh untuk mengubah diri sendiri dulu
untuk menjadi lebih baik meskipun suliiiit sekali. Bersama itu juga,
kita mengajak yang lain dengan keteladanan. Pandai menuntut dan
menggugat pihak lain tanpa peduli pada perbaikan diri sesungguhnya telah
menanamkan kebencian pada dirinya dan juga orang lain.
Kesungguhan melakukan perubahan pada diri tentu berpengaruh pada
masyarakat. Pengaruh menuju perbaikan akan sangat besar kalau para
pemimpin mempunyai tekad kuat dan usaha keras untuk melakukan perubahan
terhadap pribadinya sendiri. Keteladanan akan perilaku bajik dan
kebijakan yang mengalir dari dirinya akan menyejahterakan masyarakat.
Bagaimana kalau membunuh karena meyakini suatu kebenaran?
Nurani yang masih bisa berkata-kata akan menghargai setiap kehidupan,
selemah dan sekecil apa pun kehidupan itu. Saya meyakini hukum
ketidakkekalan alam semesta, karena itu saya percaya orang selalu bisa
berubah. Yang jahat bisa menjadi baik, karena itu jangan membenci
mereka. Saya tidak setuju pada kejahatan, tetapi tak ada alasan untuk
menghancurkan orang yang melakukan kejahatan. Kekerasan akan beranak dan
bercucu kekerasan. Orang baik pun bisa menjadi jahat kalau ia terus
dibakar oleh keinginan-keinginan. Karena itu, yang paling penting adalah
mengawasi gerak pikiran kita sendiri.
Caranya?
Dengan melatih diri terus-menerus; dengan peduli pada penderitaan orang
lain, tidak membandingkan, dengan pengendalian diri dan meditasi untuk
memperkuat kesadaran. Kalau orang melakukan hal-hal berguna bagi orang
lain, tetapi kemudian mulai terpikir bagaimana dari situ ia bisa
mendapatkan sesuatu yang bersembunyi di dalam keakuan-nya, maka itu
bukan greatness.
Lalu, apa keberhasilan?
Inner success yang mampu memberikan kebahagiaan dan ketenteraman adalah
kepuasan hati. Kepuasan hati adalah kekayaan tertinggi, santutti
paramang dhanang. Mau mengurangi keserakahan, kebencian, mengurangi
saja, maka akan timbul kepuasan hati. Apalagi kalau tahu kapan saat
berhenti dari banyak keserakahan dan kebencian sebelum kematian tiba.
Kemudian menggunakan waktu yang tersisa untuk lebih menambah kehidupan
spiritual.
Membuang kemelekatan
Pannyavaro dilahirkan dari keluarga penganut Buddhis tradisional. Tiga
adiknya perempuan semua sehingga si sulung itu tak pernah diharapkan
menjadi bhikku. Kedua orangtuanya mengharapkan ia menjadi dokter, karena
itu ia diberi nama Husodo, yang artinya obat. Ia merasa tidak
mengecewakan orangtuanya karena ia juga menjadi dokter meski yang
diobati bukan penyakit medis.
Apa yang membuat Anda memutuskan menjadi bhikku?
Banyak faktor yang membawa saya ke sini. Itulah Dharma. Saya melihat
tidak ada kebahagiaan yang abadi di dunia. Saya pikir, dengan menjadi
bhikku, saya bisa mengambil jarak dengan fenomena kebahagiaan yang
sementara itu dan kalau bisa memberikan pengabdian saya.
Menurut Buddha, yang membuat kita menderita adalah kemelekatan
(attachment) dengan apa pun yang dicapai, yang dimiliki, sekalipun itu
didapat dengan cara yang baik. Orang tahu semua di dunia ini bersifat
sementara, tetapi ketika terjadi perubahan, misalnya kepergian
orang-orang tercinta, kita tetap sulit menerima.
Kekuatan pada kearifan untuk menolak kemelekatan bukan hanya dengan
belajar, tetapi dengan praktik mengendalikan diri, meditasi, berbuat
kebaikan sehingga kalau menghadapi perubahan bisa seimbang. Tidak
hanyut, marah, jengkel, sedih, kecewa, dan frustrasi. Intelektualitas
saja tak mampu menghantam kemelekatan yang membutakan.
Saya berharap kita terus berusaha melakukan kebajikan, berpikir baik,
dan mengeluarkan kata-kata yang baik dalam hubungan sehari-hari. Ada
cerita menarik tentang ini. Seorang pejabat yang dikenal culas dan tak
suka hal-hal yang spiritual, suatu hari mengunjungi seorang guru
meditasi. Ia bertanya, Menurut Anda, saya seperti apa. Sang guru
menjawab, Seperti Buddha.
Para murid terkejut. Lalu bertanya bagaimana sang pejabat melihat guru
mereka. Seperti kerbau, jawabnya.
Cerita ini bisa ditafsirkan macam-macam. Tetapi, menurut saya, kalau
orang dipenuhi oleh pikiran positif, hanya yang baik yang akan keluar
dari ucapannya. (Maria Hartiningsih dan Hariadi Saptono, Kompas 18
Desember 2005) ► e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|