| |
C © updated 06062003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Ir. Soekarno
Nama Panggilan:
Bung Karno
Nama Kecil:
Kusno.
Lahir:
Blitar, Jatim, 6 Juni 1901
Meninggal:
Jakarta, 21 Juni 1970
Makam:
Blitar, Jawa Timur
Gelar (Pahlawan):
Proklamator
Jabatan:
Presiden RI Pertama (1945-1966)
Isteri dan Anak:
Tiga isteri delapan anak
Isteri Fatmawati, anak: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh
Isteri Hartini, anak: Taufan dan Bayu
Isteri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto,
anak: Kartika.
Ayah:
Raden Soekemi Sosrodihardjo
Ibu:
Ida Ayu Nyoman Rai
Pendidikan:
HIS di Surabaya (indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto,
politisi kawakan pendiri Syarikat Islam)
HBS (Hoogere Burger School) lulus tahun 1920
THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang
menjadi ITB) di Bandung lulus 25 Mei 1926
Ajaran:
Marhaenisme
Kegiatan Politik:
Mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927
Dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929
Bergabung memimpin Partindo (1931)
Dibuang ke Ende, Flores tahun 1933 dan Empat tahun kemudian dipindahkan ke
Bengkulu.
Merumuskan Pancasila 1 Juni 1945
Bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
=
Proklamator Soekarno (04)
105 Tahun Bung Karno
Oleh Tjipta Lesmana: Bertepatan dengan 105 tahun kelahirannya hari ini dan
35 tahun kematiannya sebentar lagi, apa kira-kira reaksi Ir Soekarno,
salah satu Proklamator Republik Indonesia jika ia diberikan kesempatan
untuk "bangkit kembali dari kuburnya" dan melihat situasi bangsa dan
negara?
Tidak salah lagi, air mata Soekarno akan mengucur tiada hentinya. Banyak
sekali yang akan ditangisinya, tetapi yang utama adalah hancurnya
persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia pada saat ini.
Soekarno mewariskan bangsanya dengan berbagai ajaran yang digalinya
sejak ia berjuang pada usia muda. Namun, jika kita teliti secara
saksama, ajaran pokok yang selalu didengung-dengungkan hingga menjelang
wafatnya adalah persatuan bangsa.
Tatkala memberikan sambutannya pada sidang kabinet 15 Januari 1966 di
Istana Merdeka, Presiden Soekarno bercerita, "Aku ini dari kecil
mula...yang menjadi gandrung saya bahkan yang saya derita untuknya, yang
saya dimasukkan dalam penjara untuknya, yang saya dibuang di dalam
pembuangan untuknya, bahkan pernah yang saya hampir-hampir saja didrel
mati di Brastagi...untuk bangsa, Tanah Air, kemerdekaan dan negara....
Bangsa harus menjadi bangsa yang kuat dan besar. Oleh karena itulah
belakangan ini selalu saya menangis, bahkan donder-donder, marah-marah.
He, bangsa Indonesia, jangan gontok-gontokan!"
Persatuan Indonesia. Itulah cita-cita paling mendasar yang diperjuangkan
oleh Soekarno. Ketika Pancasila masih dalam tahap draf, persatuan
Indonesia dijadikan sila pertama. Tanpa persatuan, kata Soekarno, suatu
bangsa mustahil bisa maju membangun dirinya. Ia kerap menyitir ucapan
Arnold Toynbee bahwa "A great civilization never goes down unless it
destroy itself from within". Atau ucapan Abraham Lincoln yang tersohor
itu, "A nation divided against itself, cannot stand". Mana ada bangsa
yang bisa bertahan jika terpecah belah di dalamnya?
Disintegrasi total
Ketika kita mengenang 105 tahun (Soekarno lahir 6 Juni 1901) kelahiran
Soekarno, Indonesia sesungguhnya sedang berjalan menuju kehancuran atau
disintegrasi total. Faktor pokoknya karena bangsa ini hidup dalam
situasi anomali atau valueless state. Di satu sisi kita sudah
meninggalkan Pancasila sebagai pandangan hidup, walau teoritis masih
mengakuinya sebagai ideologi, di sisi lain nilai penggantinya belum
diformalkan. Memang kita sedang bereksperimen dengan liberalisme (plus
kapitalisme sebagai anak kandungnya), tetapi banyak elemen masyarakat
yang menolak ideologi tersebut.
Soekarno pasti tahu bahwa para penggantinya telah mengobrak-abrik semua
jerih payah yang diperjuangkannya lebih dari setengah abad. Ketika ia
"memberikan" Supersemar kepada Jenderal Soeharto, diktum pertamanya
antara lain berbunyi "melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin
Besar Revolusi". Namun, Soeharto dengan bantuan para pemikir dari "Mafia
Berkeley", segera meninggalkan ajaran Trisakti Soekarno dengan merangkul
liberalisme dalam pembangunan ekonomi. Akibatnya, semakin lama membangun
dirinya, bangsa kita semakin bergantung pada utang luar negeri, suatu
realita yang nyata-nyata mencederai "sakti" kedua dari Trisakti.
Setelah Soeharto jatuh, Habibie naik panggung. Di mata Soeharto, Habibie
pun seorang pengkhianat. Semua orang tahu kalau Habibie anak didik
Soeharto. Namun, Soeharto kabarnya menangis karena menilai Habibie
menghancurkan apa yang sudah dibangunnya selama 30 tahun lebih. Dosa
paling besar Habibie di mata Soeharto ialah menjalankan konsep otonomi
daerah yang kebablasan. Menurut teori negara, dalam suatu unitary state
(negara kesatuan), kekuasaan atau kewenangan kepada daerah sepenuhnya
diatur oleh pemerintah pusat.
Ketika daerah tingkat II diberikan otonomi seperti diatur dalam UU
Otonomi Daerah yang dibuat pada rezim Habibie, kendali pusat terhadap
daerah pun lemah. Akibatnya, daerah kemudian menjadi "raja-raja" yang
setiap saat dapat menyepelekan perintah pusat. Nasionalisme kini
berganti menjadi regionalisme. Peraturan daerah (perda) kadang lebih
berkuasa daripada undang-undang sekalipun. Kini tidak kurang 20 daerah,
baik tingkat I maupun II, yang sudah mengeluarkan perda yang bernapaskan
asas lain dari Pancasila. Toh, pusat mendiamkan saja.
Pada era Habibie itu juga, persatuan Indonesia mulai digerogoti.
Sejumlah elemen radikal yang sebelumnya diburu oleh Soeharto diberikan
kebebasan untuk kembali ke Indonesia. Satu per satu organisasi
kemasyarakatan berasaskan ajaran radikal berdiri. Teror bom mulai
bermunculan di mana-mana.
Quasi negara federal
Liberalisme seolah mencapai puncaknya pada era Gus Dur. Nama Irian Jaya
diganti menjadi Papua. Gus Dur pun sempat menyatakan persetujuannya atas
referendum di Aceh. Istilah "rakyat Aceh", "rakyat Riau", "rakyat
Kalimantan Timur", dan "rakyat Madura" dipakai bebas tanpa menyadari
implikasinya terhadap pelaksanaan sila ke-2 Pancasila.
Ironisnya, Megawati Soekanoputri pun sebenarnya telah mengkhianati
bapaknya sendiri. Dosa paling besar Ibu Mega, dari perspektif Pancasila
dan ajaran Bung Karno, adalah sikapnya yang mendukung amandemen
Undang-Undang Dasar 1945. Hasil empat kali amandemen UUD 1945 adalah
puncak kemenangan dari unsur-unsur kekuatan, baik lokal maupun global,
yang memang ingin memecah belah bangsa Indonesia.
Di bawah naungan "UUD 2002", Indonesia sesungguhnya bukan lagi negara
kesatuan, tetapi quasi negara federal. Di bawah pemerintahan Megawati
juga, proses privatisasi digenjot habis-habisan. Hasilnya sudah
sama-sama kita ketahui, sebagian besar perusahaan unggulan kita, baik
swasta mupun BUMN, kini sudah dikuasai asing. Lagi-lagi suatu
pengingkaran telanjang terhadap "sakti" kedua dari ajaran Trisakti Bung
Karno.
Proses disintegrasi seolah mencapai momentum emas pada era pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono. Tindak anarkis dan menginjak-injak hukum yang
kerap dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat dibiarkan saja.
Penegakan hukum kian lemah. Tancapan pengaruh asing di bidang ekonomi,
antara lain dimanifestasikan dalam kasus Blok Cepu dan pencemaran
lingkungan oleh Newmont, semakin kokoh. Kedaulatan kita sebagai bangsa
juga merosot. Kita sungguh tidak mengerti mengapa bantuan kemanusiaan
Amerika untuk korban gempa Yogya harus dikawal oleh puluhan serdadu
marinir berseragam yang bersenjata lengkap layaknya mau bertempur.
Ya, Soekarno pada usianya yang 105 tahun sedang menangis dari liang
kuburnya karena melihat ajaran-ajarannya diinjak-injak oleh para
penerusnya! (Kompas, 6 Juni 2006, Tjipta Lesmana, Anggota Komisi
Konstitusi dan Mantan Dosen Pancasila di Berbagai Universitas) ► e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|