A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Buku
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 12012008  
   
  ► e-ti/  
  Nama:
H. Muhammad Soeharto
Lahir:
Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Jabatan Terakhir:
Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Alamat:
Jalan Cendana No.8, Menteng
Jakarta Pusat
 
     
 
BERITA

 

HM Soeharto

Dalam Kondisi Sangat Kritis

 

Jakarta, 12/01/2008: Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina hingga, Sabtu (12/1) pagi masih kritis karena mengalami kegagalan multiorgan. Kondisi ini terjadi sejak pukul 17.00 ditandai dengan penurunan kesadaran, pernapasan yang memburuk, serta tekanan darah yang menurun. Bahkan sempat beredar kabar burung via SMS bahwa Pak Harto telah menghembuskan nafas terakhir.


Informasi itu membuat banyak tokoh dan wartawan berupaya mendapat informasi pasti. Akibatnya suasana di lobi RSPP sangat riuh. Terutama saat kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Mensesneg Hatta Rajasa yang diduga datang untuk memastikan kondisi terakhir Pak Harto. Para wartawan, juru kamera dan fotografer berebut berdesakan meliput keterangan Jusuf Kalla. Namun Wapres JK tidak memberi keterangan apa-apa. Suasana gaduh sempat terjadi saat Wapres turun dari lantai lima tempat Pak Harto dirawat, sampai-sampai kaca meja computer pecah.


Sesuai keterangan Ketua Tim Dokter Kepresidenan dr Mardjo Soebiandono SpB didampingi anggota dokter lainnya, pernapasan Pak Harto menjadi cepat dan dangkal, serta tekanan darahnya turun hingga mencapai 90/45 mm Hg. Sebelumnya, Jumat pagi, tekanan darah masih mencapai 110-120/50 mm Hg. Menurut Mardjo, secara medis kegawatan tersebut disebabkan oleh kegagalan multiorgan, antara lain otak, jantung, paru dan ginjal.


Dalam keterangan pers Sabtu 11/01 pukul 21.00, itu Ketua Tim Dokter Kepresidenan mengatakan untuk mengatasi kegawatan yang terjadi, tim dokter memasang alat bantu pernapasan atau ventilator. Juga diberikan beberapa jenis obat. Dijelaskan, setelah dilakukan pertolongan dengan resusitasi, tekanan darah Pak Harto kembali naik menjadi 130/70 mm Hg. “Namun, kondisi ini masih labil dan belum diketahui sampai kapan kondisi labil ini akan berakhir, yang ditandai dengan pelepasan ventilator,” kata anggota Tim Dokter Kepresidenan, dr M Munawar SpJP.


Menurut Munawar, perkembangan jantung Pak Harto pada hari kedelapan perawatannya di RSPP seharusnya menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Namun, kegawatan yang terjadi membuat tim dokter harus melakukan penyelamatan dengan memasang ventilator dan melakukan resusitasi agar Pak Harto bias bernapas secara normal, yaitu 18 kali per menit dan dapat memenuhi kebutuhan oksigen sehingga proses pemulihan segera terjadi.


Diakui pemasangan alat CRT ini CRT bukanlah satu-satunya upaya untuk meningkatkan kerja jantung. Sebelumnya, pada siang hari, tim dokter menilai pemasangan alat tersebut jauh berisiko dibandingkan manfaatnya bagi Pak Harto. Menurut Munawar, pemasangan CRT akan berisiko tinggi.


Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono mengatakan, kondisi umum Pak Harto lemah, kritis. Meskipun tingkat kesadaran meningkat dan sesak napas berkurang, tapi kondisinya masih kritis. Kadar oksigen dalam darah hanya mencapai 9,9 gram persen dan meskipun foto paru-paru memperlihatkan ada perbaikan dibandingkan sebelumnya, namun faal paru masih belum sepenuhnya membaik.


Sementara itu, Prof Hadiarto ahli paru-paru yang menjadi anggota tim dokter, mengatakan membaiknya hasil foto paru-paru karena dokter mengeluarkan makin banyak cairan yang ada di paru-paru. Namun, menurutnya, makin berkurangnya cairan dalam jaringan di luar pembuluh darah di paru-paru itu belum cukup menggembirakan. Diwaspadai juga bias timbulnya infeksi paru-paru dengan melihat adanya tanda-tanda awal peradangan. Hal ini diupayakan dicegah dengan memberikan obat antiradang dan antibiotik.


Kondisi kritis Pak Harto juga berkaitan dengan usianya yang sudah 87 tahun. Namun menurut dr Marjo, Tim dokter masih berupaya semaksimal mungkin untuk kesembuhan Pak Harto. Tim Dokter terus berupaya untuk meningkatkan kondisi Pak Harto, memperbaiki keseimbangan cairan, obat-obatan, dan tetap menggunakan continuous veno-venous hemodiafiltration (CVVHD).


Sementara itu Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam SMS-nya kepada wartawan, menyebutkan bahwa pemasangan ventilator justru akan membuat ”susah” pasien. Menurut Menkes, seperti dilansir berbagai media, dalam keadaan yang sudah demikian payah, dipasang ventilator akan susah karena bisa terjadi kehidupan ’palsu’, yaitu penderita seperti hidup.

“Alat-alat yang dipasang dan obat-obatan diberikan, padahal penderitanya sebenarnya dalam keadaan koma. Menurut saya, kasihan penderitanya, kasihan Pak Harto, mudah-mudahan Pak Harto diberi kemudahan menghadap-Nya,” demikian pesan Menkes. Bahkan Menkes juga mengatakan, sekitar pukul 18.00, pihaknya diberi tahu bahwa Pak Harto sudah berhenti bernapas, tetapi kemudian pukul 21.00 mendapat laporan bahwa alat sudah dipasang. ►ti/rbh

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

`