|
|
 |

Nama:
Slamet Effendy Yusuf
Lahir:
Purwokerto, Jawa Tengah, 12 Januari 1948
Istri:
Dra. Siti Aniroh
Anak:
Lulu Diany Zuhdiyya, Syarief Hidayatullah Az-Zaky, Ridlo Mohammad
Fahmi
Ayah:
KH. Yusuf Azhari
Ibu:
Hj. Umi Kulsum
Pendidikan :
S1 Fakultas Syarah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
S2 Pasca Sarjana Universitas Indonesia Bidang Politik.
Organisasi/Karir :
Ketua Anak Cabang IPNU Kecamatan Ajibarang
Anggota Front Pancasila/Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu, KAPPI
Purwokerto
Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ( 1973-1975 )
Ketua PMII Cabang Yogyakarta (1972-1973)
Ketua Umum GP Ansor dua periode (1985-1995)
Ketua Departemen Pemuda DPP Golkar (1988-1993)
Pemimpin Redaksi Majalah ARENA (1975-1978)
Wartawan harian umum Pelita (1977-1998)
Ikut mendirikan dan memimpin majalah Forum Keadilan (1989}
Anggota MPR-RI ( 1988-1993)
Anggota DPR-RI sejak 1992
Ketua Yayasan Islam Duta Yumika, Purwokerto
Ketua Yayasan Pendidikan Fajar Dunia, Jakarta
Karya Tulis :
“Reformasi Konstitusi Perubahan Pertama UUD 1945”
“Dinamika Kaum Santri”
“Pendidikan Kependudukan untuk Pesantren” dll.
|
|
== 1
2 3
4 5 6 ==
Wawancara Slamet Effendy Jusuf (4)
Kemenangan Golkar Kebutuhan Nasional (2)
MTI: Dalam rangka independensi dan objektifitas itu, bagaimana kemungkinan
campur tangan Ketua Umum DPP sendiri yang notabene mengikut konvensi
terhadap panitia konvensi sendiri?
SEJ: O.. Itu kami akan menolak. Kami tegas, baik kepada ketua umum juga
kami bilang. Kalau ketua umum ingin mengikuti konvensi, maka ketua umum
harus mengikuti semua proses yang ada, termasuk ia juga harus berkampanye
ke daerah. Dia harus mengikuti sosialisasi di daerah sampai di tingkat
pusat.
Dengan demikian, tentu saja keseluruhan proses-proses konvensi akan ia
lalui. Dan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan konvensi, berarti ia
tidak ikut serta, karena ada kode etiknya di situ. Pengambilan-pengambilan
keputusan di mana ketua umum secara organisatoris harus ikut menjadi tidak
ikut, karena ia terlibat di situ. Itu akan dengan sendirinya berjalan.
MTI: Tadi secara inklusif Anda juga sudah menjelaskan apa yang menjadi
target dari konvensi, mungkin secara lebih jelas bisa diuraikan?
SEJ: Target konvensi dalam jangka pendek, menghasilkan putra terbaik
bangsa untuk menjadi calon presiden dari Partai Golkar. Sedangkan untuk
jangka panjang adalah membangun tradisi baru partai politik di dalam
memproses orang untuk calon presiden.
Sehingga bisa membedakan posisinya ketika terjadi proses penjaringan (rekrutmen)
politik kepentingan partai atau kepentingan jabatan-jabatan partai dengan
jabatan-jabatan publik. Jadi ketika Anda itu ikut sebagai ketua DPD, ya
anda harus ikut sebagai ketua DPD. Tapi ketika suatu hari terdapat
lowongan bupati, Anda harus berkompetisi juga dengan yang lain dalam
memperebutkan bangku bupati. Bukan oleh karena Anda ketua DPD, secara
otomatis menjadi calon bupati dari Partai Golkar. Begitu juga Ketua Umum
DPP tidak otomatis menjadi calon presiden.
MTI: Panitia konvensi memberikan keleluasaan bagi setiap warga negara
untuk mengikut konvensi, adakah platform dari panitia konvensi sendiri
yang dipersyaratkan?
SEJ: Ada! Syarat-syarat itu dibagi atas dua garis besar, yaitu syarat umum
dan syarat khusus. Syarat umumnya itu sesuai dengan yang disebutkan
konstitusi dan undang-undang Pemilu. Misalnya, dia tidak pernah menjadi
warga negara asing atas kemauan sendiri.
Syarat khusus di antaranya terdapat 3 hal penting. Pertama, setuju
terhadap platform, visi dan misi Partai Golkar. Di dalam paltform yang
terpenting bahwa organisasi ini adalah organisasi terbuka, partai ini
adalah partai pluralis bukan partai ekslusif, baik dari sudut suku, agama
dan sebagainya. Berarti partai ini tidak boleh menjadi partai ekslusif
hanya untuk orang dengan agama tertentu atau suku tertentu. Oleh karena
itu orang yang masuk Golkar adalah harus orang yang Pancasilais. Misinya
selain mempertahankan dan mengamalkan Pancasila, juga mempertahankan
negara kesatuan RI. Karena itu seorang calon presiden yang ingin mengikuti
konvensi memilki konsep negara federal, pasti kami tolak, karena berbeda.
Kedua adalah ikut memenangkan Partai Golkar dalam Pemilu 2004. Walaupun
dia orang luar, ia harus berjuang untuk kemenangan Partai Golkar. Karena
calon presiden Partai Golkar – apakah berasal dari dalam atau dari luar
partai – hanya bisa masuk ke dalam bursa capres jika Partai Golkar
berhasil dalam Pemilu. Sebab jika perolehan suara Partai Golkar tidak
signifikan, maka tidak pantas untuk Partai Golkar mengusulkan capres dan
wapres. Partai memperoleh suara 10% ke bawah tidak pantas mengusulkan nama
capres. Sehingga kami menargetkan untuk menang dalam Pemilu badan
legislatif.
Ketiga adalah orang tersebut harus mempunyai komitmen dalam membesarkan
partai di masa-masa mendatang. Yang dimaksud membesarkan partai adalah
ikut membangun partai ini menjadi sebuah institusi yang dapat mendewasakan
kehidupan politik masyarakat.
Kita percaya bahwa Partai Golkar masih menjadi satu-satunya partai yang
memiliki infrasruktur yang lengkap sampai ke daerah, mempunyai pengalaman
yang cukup bagus, yang sudah dewasa dalam berpolitik. Dan kita menganggap
keberadaan Partai Golkar dan kemenangannya itu menjadi national need atau
kebutuhan nasional untuk sekarang. Karena itu kita ingin siapa pun yang
menjadi calon presiden dari Partai Golkar harus membesarkan partai ini.
MTI: Jadi yang ditentukan dalam Konvensi Partai Golkar itu apakah capres
saja atau juga cawapres?
SEJ: Kita hanya mengajukan capres saja. Tetapi dalam pra-konvensi, kita
menentukan lima orang. Lalu di Rapim diputuskan bahwa jika Partai Golkar
tidak memperoleh suara yang signifikan, akan membangun koalisi dan apabila
Partai Golkar hanya bisa menempatkan cawapres dalam koalisi itu, maka
penentuan capres Golkar diambil dari keranjang lima orang tadi. Kalau yang
terjadi seperti itu Jusuf Kalla bisa menjadi pilihan bahkan dari partai
lain.
MTI: Bagaimana kemungkinan Partai Golkar akan memilih calon presiden yang
tidak hanya disenangi oleh Partai Golkar?
SEJ: Itu semua tergantung dari daerah. Sebab suara terbanyak kami (Partai
Golkar) berada di daerah. Di daerah itu DPD-DPD II masing-masing memilki
suara masing-masing 1, sedangkan DPD-DPD I masing-masing 3, DPP sendiri
terdapat 18 suara namun itu block suara artinya 18 itu hanya mengajukan
satu nama. Jadi akan mengambil pilihan di DPP dahulu.
Pak Jusuf Kalla saya lihat sebagai orang yang mempuyai peluang dan
kesempatan, namun pada akhirnya itu semua tergantung daripada konvensi.
Karena saya panitia tentu saya tidak dapat berbicara banyak.
MTI: Bertolak dari hasil jajak pendapat yang terakhir dilakukan oleh
LP3ES-Cesda dan Danareksa kelihatannya Partai Golkar berpeluang tampil
sebagai pemenang Pemilu 2004. Pertanyaan adalah bagaimana secara internal
Partai Golkar mengonsolidasikan organisasinya?
SEJ: Konsolidasi dalam di lingkungan Partai Golkar selalu dibagi tiga,
yakni pertama adalah konsolidasi wawasan, kedua adalah konsolidasi
kelembagaan atau organisasi, dan yang ketiga adalah konsolidasi kader dan
program. Kita selalu bergerak di dalam kerangka itu. Di dalam kerangka
konsolidasi itu, terutama yang pertama, kami mengadakan perubahan yang
sangat besar. Karena dulu Golkar adalah hanya sebuah mesin politik
kekuasaan, sekarang harus kita ubah menjadi kekuatan rakyat, tempat
aspirasi politik rakyat teragregasikan.
Oleh karena itu konsolidasi yang terberat adalah konsolidasi wawasan
termasuk juga merubah wawasan para pemimpin Golkar mulai dari atas sampai
ke bawah. Para pemimpin Golkar yang tiba-tiba seperti tidak bisa berbuat
apa-apa, karena bupati bukan orang Golkar atau gubernurnya bukan orang
Golkar. Ini terjadi karena dulu biasa disusui (ditetein) oleh bupati dan
gubernur. Itu yang harus kami ubah habis-habisan, terutama di
daerah-daerah Golkar kalah, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sehingga orang DPP harus turun ke daerah-daerah. Seperti saya sebagai
Korwil Jawa Tengah hampir setiap minggu berkunjung ke daerah-daerah hingga
di kecamatan-kecamatan bersama Pak Akbar Tandjung. Jadi konsolidasi
wawasan ini kami kembangkan adalah untuk menanamkan doktin Partai Golkar
yang sesuaikan platform visi dan misi baru Partai Golkar.
Kemudian dari segi keorganisasian, konsolidasi itu kami lakukan adalah
untuk membangun kembali Partai Golkar yang telah diporak-porandakan pada
Pemilu 1999. Kami pada waktu itu memiliki kader yang cukup besar, tapi
data kami cukup banyak yang hilang karena pada waktu itu banyak aktifis
yang lari. Bahkan cukup ironis orang-orang yang pada waktu itu mempunyai
kegiatan di pusat-pusat pengkaderan Golkar, tiba-tiba menyeberang ke
partai lain. Saya tidak perlu menyebut nama. Bahkan ada aktifis-aktifis
kami yang pindah lalu mencaci-maki.
Yang kita kuatirkan adalah ketika perahu yang besar itu sedang oleng
menghadapi badai, penumpang-penumpangnya bahkan awak kapal bukan saja
berpindah ke kapal yang lain tetapi malah ikut melubangi perahu sendiri.
Itu yang harus kita kerjakan sekarang termasuk ke daerah. Jadi kalau kita
lihat sekarang beberapa pemimpin partai di daerah dahulu adalah pemimpin
Partai Golkar. Jadi kalau kita ibaratkan dengan kehidupan perbankan di
Indonesia, itu seperti City Bank, banyak banker di Indonesia alumni City
Bank.
Kemudian Konsolidasi Kader. Pada Pemilu yang terakhir Partai Golkar
mendapat suara sebesar 23,9 juta padahal dulunya kader (anggota) Golkar
sebanyak 30 juta orang. Bayangkan saja kalau kadernya 30 juta berarti
simpatisannya berlipat dari itu kan? Tetapi kenyataannya tidak demikian,
malah runtuh. Dan itu yang harus kita bangun lagi. Organisasi yang ada
kita strukturkan kembali sedemikian rupa. Bahkan struktur organisasi
Golkar walaupun yang semestinya hanya berada sampai desa, kami membangun
apa yang disebut Pokka atau Kelompok kader.
Kelompok Kader ini ditempatkan di struktur-struktur desa yang paling
rendah yang kemungkinan adanya TPS di situ. Tapi pokka-pokka ini kita
maksudkan bukan hanya untuk kepentingan Golkar. Namun juga menjadi
agen-agen yang menyelesaikan masalah baik itu keamanan, ekonomi dan
lain-lain yang dibutuhkan di daerahnya secara praktis dan dengan
tindakan-tindakan yang nyata. Contohnya bantuan-bantuan kepada masyarakat
seperti penyediaan air bersih, pembuatan jalan beraspal, bantuan
korban-korban bencana alam. Jadi jika ditanyakan tentang survei yang
dilakukan oleh LP3S salah satu pertanyaan yang mereka buat adalah “Menurut
Anda Partai manakah yang paling banyak memperhatikan kesejahteraan
masyarakat”. Jawaban masyarakat sudah pasti adalah Golkar.
MTI: Sebagaimana Anda sebutkan bahwa dulu ada 3 jalur di dalam Golkar.
Masih adakah hubungan tradisonal antara Partai Golkar dengan ketiga jalur
tersebut?
SEJ: Jelas tidak ada hubungannya ketiganya lagi.
MTI: Lalu dengan Trikarya dan Hastakarya?
SEJ: Kita memiliki istilah yang formal di dalam Partai Golkar yaitu
organisasi yang didirikan dan mendirikan Golkar. Mereka menghimpun diri
dalam istilah Trikarya dan sekarang muncul Hastakarya. Mereka adalah
sejumlah himpunan organisasi yang mendirikan dan didirikan Partai Golkar.
Yang mendirikan misalnya seperti Soksi, MKGR, Kosgoro dan masih banyak
sekitar kurang lebih 200 organisasi, kemudian organisasi yang didirikan
seperti MDI, Laskar Ulama, AMPI, Al-hidayah, itu sebagian yang tergabung
dalam Hastakarya.
Tetapi yang berhubungan dengan militer dan birokrasi sudah tidak ada.
Tetapi keluarga besar mereka secara informal memang lebih banyak ikut kita,
misalnya FKKI banyak dari kadernya yang ikut kita, kemudian pemuda
Pancamarga, kemudian dari mantan-mantan tentara dan pejuang kita. Tetapi
hubungan yang formal itu tidak ada sama sekali. Bahkan di beberapa daerah
dalam pemilihan Gubernur, seperti di Sumut Fraksi TNI DPRD Sumut memilih
calon dari PPP, dan ketika di Jawa Barat, walaupun calon Gokar yang menang,
tapi Fraksi TNI waktu itu lebih memilih abstain. Jadi Fraksi TNI/Polri di
berbagai daerah bertindak sesuai kondisi lokal, tapi sebagian besar
menunjukan bahwa antara TNI/Polri dan Partai Golkar tidak ada hubungan
formal.
MTI: Dalam tiga jalur tadi ABRI sangat dominan sehingga pada waktu itu ada
istilah Golkar adalah perpanjangan tangan ABRI dalam politik?
SEJ: Sebenarnya dalam sistem politik Orba pilar utamanya adalah militer.
Kemudian militer pada waktu itupun oleh karena dominasi Pak Harto,
sehingga strateg-nya (dalang) dan sumber kekuatannya adalah Pak Harto. Pak
Harto menggunakan militer sebagai kekutan utamanya. Jadi ada mutual-simbiose
antara kepentingan Pak Harto dengan kepentingan militer.
Memang sudah lama, sejak tahun 50-an merancang memegang kekuasaan oleh
karena kegagalan politisi sipil. Di mana puncak kegagalan kekuasaan sipil
adalah menciptakan keseimbangan kekuatan yang kemudian menjadi dinamis dan
pertengkaran ideologis hingga dibubarkannya konstituante.
Lalu muncul G-30-S/PKI. Ternyata komunis pada waktu mencoba mengambil
kekuasaan, muncullah Pak Harto dan militer. Tetapi kita juga tahu di dalam
tingkat yang paling tinggi tetap Pak Harto yang memainkan kartu-kartu yang
intinya adalah militer. Kartunya ada di Pak Harto. Ketika pimpinan militer
sudah mulai berbeda dengan Pak Harto, pasti akan tersingkir. Tetapi ketika
masih sama akan terus dimainkan kartunya. Karena itu orang-orang yang
berada di bawah Pak Harto ganti-ganti saja, seperti Alamsyah dengan Ali
Murtopo, kemudian Ali Murtopo dengan Darmono, kemudian Darmono dengan
Murdani dan sebagainya hingga ke Habibie.
MTI: Ada kesan ketika tahun 1999 Golkar lebih banyak dipengaruhi oleh ICMI
daripada militer?
SEJ: Saya kira yang terjadi tetap saja dominasi Pak Harto. Kalau Pak Harto
menggunakan isu yang lain hanya untuk dapat mengendalikan keadaan,
termasuk dengan menggunakan isu Islam. Untuk membendung kritik kepadanya
yang datang dari intelektual Islam, sehingga dirangkul. Efek sampingnya
adalah kecemburuan di antara kalangan intelektual non-muslim dan militer
non-muslim atau juga kecemburuan militer muslim yang berwawasan kebangsaan.
MTI: Kalau di Partai Golkar yang sekarang bagaimana, apakah masih sangat
kuat pengaruh militer atau ICMI?
SEJ: Itu sudah selesai. Baik pengaruh Pak Harto juga sudah tidak ada. Tapi
bahwa ada orang-orang yang menaruh simpatik kepada Soeharto atau Habibie
itu dalam lingkup pribadi bukan politik. Seperti adanya tokoh harus
melapor dulu kepada Habibie sebelum mengikuti konvensi Golkar.
MTI: Traget Golkar untuk Pemilu 2004?
SEJ: Ya, menjadi pemenang. Menjadi pemenang berarti harus mengisi
badan-badan legislatif. Alasannya oleh karena kualitas badan legislatif
kita menurun terutama yang berada di daerah. Menang juga berarti
memenangkan pimilihan presiden.
MTI: Kualifikasi seperti apa yang Partai Golkar tentukan dalam penjaringan
calon legislatif?
SEJ: Mengenai kualifikasi sudah ditentukan Rapim Partai Golkar. Kalau dari
segi pendidikan kita mengharapkan minimal dari S1, kalau bukan S1 masih
bisa kita pertimbangkan jikakalau orang itu betul-betul berjasa kepada
partai. Karena bisa saja bukan S1 tapi seperti Adam Malik yang hanya tamat
dari Madrasah di Pematang Siantar, tetapi coba siapa yang berani membantah
kualitas dia. Doktor-doktor pun dilibas kalau bicara dengannya.
Kemudian dari segi kualitas, sehingga orang yang kita pandang bisa untuk
dicalonkan itu jika tugaskan ke daerah, harus mampu membantu memecahkan
masalah-masalah yang di daerah tertentu dan dinilai sendiri oleh daerah.
MTI: Anda yakin Partai Golkar akan memenangkan Pemilu 2004?
SEJ: Bagi saya, kini kemenangan Golkar itu sudah menjadi national need (kebutuhan
nasional). Bangsa ini sangat memerlukan suatu kekuatan yang bisa membangun
kembali stabilitas politik dan keamanan, sebagai prasyarat untuk dapat
membangun kembali perekonomian Indonesia yang memungkinkan tersedianya
kembali lapangan kerja, hadirnya kembali ketenangan hidup, rasa aman dan
optimisme akan masa depan yang lebih baik. Itu sangat diperlukan bangsa
ini, dan itu dapat ditemukan dalam Golkar. Semua kebutuhan itu adalah
Partai Golkar.
Mungkin ada partai lain secara konsepsional juga baik di atas kertas,
tetapi tidak cukup memiliki jaringan dan sumber daya manusia yang baik
untuk melaksanakan itu semua. Sedangkan Partai Golkar memiliki itu semua.
Tentu saja Partai Golkar juga harus menyadari kelemahan-kelemahan pada
masa lalunya, memperbaiki dan belajar dari kesalahan masa lampau.
Memanfaatkan kelebihan masa lampau tetapi membuang kekurangan-kekurangan
masa lampau. Misalnya jika ada yang korup itu harus dibuang.
MTI: Pada masa reformasi ini, menurut Anda bagian atau hal-hal mana yang
menjadi kebablasan?
SEJ: Dari sudut konsep sudah benar. Konstitusi sudah diubah. Hanya tinggal
eforianya yang harus diakhiri. Jadi menurut saya implementasinya yang
kebablasan. Bukan di pengaturan-pengaturannya.
Kini terjadi sebuah eforia dari orang yang tertekan menjadi orang yang
bebas. Kebebasan sekarang digunakan tanpa tanggung jawab terhadap makna
kebebasan bagi orang lain. Tidak seperti negara-negara di mana kebebasan
sudah lebih dimengerti dengan lebih baik. Malah ketika seseorang
menggunakan haknya dengan bebas, selalu ia sadar bahwa orang lain punya
haknya juga.
Contohnya, Anda merasa berhak untuk merokok, tetapi Anda juga harus
menghargai hak orang lain untuk menikmati kebebasan bernafas tanpa asap
rokok. Sehingga ketika Anda merokok, Anda mencari ruang di mana Anda bebas
untuk merokok. Tapi coba sekarang, saya orang yang anti rokok, saya yang
harus mencari tempat di mana saya bisa bernafas lega, bahkan di tempat
dilarang merokok pun saya merasa tidak nyaman.
Kebebasan orang atau pers seharusnya jangan sampai membuat orang-orang
terbunuh karakternya. Saat ini ada pers kalau beritanya tidak menyakiti
orang, tidak bisa merasa puas. Saya juga ‘kan pernah menjadi wartawan.
Waktu dulu tidak seperti sekarang, saya harus mengkritik orang tetapi
dengan cerdas dan pantun dong. (Bersambung)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), mlp,ys,sri
|
|