| |
C © updated 29072008-070222004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/atur |
|
| |
Nama:
Sjahrir, PhD
Lahir:
Kudus, 24 Februari 1945
Meninggal:
Singapura, 28 Juli 2008
Agama:
Islam
Istri:
Kartini Panjaitan (Ker)
Anak:
Pandu
Gita
Ayah:
Ma'amoen Al Rasyid (1904-1980)
Ibu:
Ny. Roesma Malik (1915-1984)
Jabatan:
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi (2005-2009)
Pendidikan:
- Tamat dari FEUI, tahun 1973
- Ph.D. dalam Political Economy and Government, Harvard University, 1983
Pengalaman Pekerjaan:
Direktur utama PT SYAHRIR SECURITIES, perusahaan sekuritas dan penjamin
emisi di Pasar Modal Indonesia.
Pengalaman Organisasi:
- Pendiri dan Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Baru (PIB).
- Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E)
KADIN Pusat.
- Dewan Pakar Asosiasi Emiten Indonesia. Pengurus Asosiasi Perusahaan Efek
Indonesia.
- Ketua Yayasan PADI & KAPAS, sebuah yayasan yang bergerak di bidang
pendidikan, penelitian dan kesehatan masyarakat.
- Ketua dan Pendiri Yayasan Pendidikan ROESMA, sebuah yayasan yang
bergerak dalam pemberian bea siswa pendidikan.
- Anggota ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia).
- Anggota AEA (American Economic Association).
- Anggota International Advisory Board, Bulletin of Indonesian Economic
Studies, Department of Economics, Research School of Pacific Studies,
Australian National University.
Buku-buku:
+ Buku-buku yang berasal dari disertasi doktor (PhD):
- Ekonomi Politik Kebutuhan Pokok Sebuah Tinjauan Prospektif, Penerbit
LP3ES, 1986
- Basic Needs in Indonesia: Economics, Politics and Public Policy, ISEAS,
1986
+ Buku-buku sejak tahun 1987 hingga 1993:
- Kebijaksanaan Negara, Penerbit LP3ES 1987, 1988
- Menuju Masyarakat Adil Makmur (ed), Penerbit PT Gramedia, 1989
- Pendewasaan Pasar Modal (ed), Penerbit Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia
Cabang Jakarta, 1991
- Analisis Ekonomi Indonesia, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1990,
1991 & 1992
- Dinamika Ekonomi Indonesia 1990-1992, Penerbit Penggebu Warta Ekonomi,
1992
- Ekonomi Politik Indonesia, Penerbit Yayasan Keluarga Bhakti, 1993
+ Buku-buku dalam perayaan usia setengah Abad, 1995:
- Ekonomi Enak Dibaca dan Perlu, Penerbit Pustaka Utama Grafiti, 1994
- Persoalan Ekonomi Indonesia: Moneter, Perkreditan dan Neraca Pembayaran,
Penerbit Pustaka Sinar Harapan, 1995
- Kebijakan Negara: Mengantisipasi Masa Depan, Penerbit Yayasan Obor
Indonesia, 1994
- Analisis Bursa Efek, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1995
- Pikiran Politik Sjahrir, Penerbit PT Pustaka LP3ES Indonesia, 1994
- Ekonomi Indonesia dalam Perspektif Bisnis, Penerbit PT Jurnalindo Aksara
Grafika, 1995
- Formasi Mikro-Makro Ekonomi Indonesia, Penerbit Universitas Indonesia
Press, 1995
- Catatan Ekonomi Indonesia, Penerbit PT Adhiprint Indonesia, 1995
- Spektrum Ekonomi Politik Indonesia, Penerbit Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, 1995
- Ekonomi Politik Konglomerasi Indonesia, Penerbit Warta Ekonomi, 1995
- Tinjauan Pasar Modal, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1995
- Meramal Ekonomi di Tengah Ketidakpastian, Penerbit PT Gramedia Pustaka
Utama, 1995
+ Buku-buku dalam masa reformasi:
- Masuk Krisis Keluar Krisis: Para Tokoh Menggugat, Penerbit Erlangga,
1999
- Krisis Ekonomi Menuju Reformasi Total, Penerbit Yayasan Obor Indonesia,
Yayasan Padi & Kapas, 1999
Profil Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB)
Asas: Keadilan, Demokrasi, dan Kemajemukan, serta Pancasila sebagai
landasannya
Didirikan: Jakarta, 23 September 2002
Alamat: JI Teuku Cik Ditiro No 31, Jakarta 10310
Telepon: (021) 3108057,3107058, 31902326, 31902725
Ketua Umum: Sjahrir
Sekretaris Jenderal: Amir Karamoy
Sesuai dengan asasnya, partai yang mengklaim 300.000 anggotanya di 26
provinsi ini mengedepankan sifat yang terbuka tanpa memandang etnis.
agama, atau profesi. Ini tercermin dari pengurus di tingkat pusat yang
beragam latar belakangnya.
Sumber:
Berbagai sumber, di antaranya Majalah Pantau
|
|
| |
|
|
|
|
Dr Sjahrir (1945-2008)
Ekonom Pendiri PIB
Ekonom Dr Sjahrir, yang akrab dipanggil Ciil,
pendiri Partai Indonesia Baru (PIB) meninggal dunia di RS Mount Elizabeth, Singapura, Senin 28
Juli 2008 sekitar
pukul 08.00 WIB. Aktivis Malari yang terakhir menjadi anggota Dewan
Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi, itu dimakamkan di
TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Selasa 29 Juli 2008.
Sjahrir meninggal akibat menderita penyakit kanker.
Jenazah tiba Senin pukul 20.55 dan disemayamkan di rumah duka Jalan Sukabumi Nomor 15, Menteng,
Jakarta Pusat. Sejumlah tokoh datang melayat. Di antaranya para rekannya di
Dewan Pertimbangan Presiden, seperti Ali Alatas, Rachmawati
Soekarnoputri, Adnan Buyung dan Emil Salim.
Sekitar pukul 22.00, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
didampingi Ny Ani Yudhoyono juga melayat di rumah duka. Juga beberapa
menteri, di antaranya Menteri Keuangan/Plt Menko Perekonomian Sri
Mulyani Indrawati, Gubernur BI Boediono, Mensesneg Hatta Rajasa, Menneg
LH Rachmat Witoelar. Juga Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan Akbar
Tandjung.
Ciil meninggalkan istri, Kartini, serta dua anak, Pandu dan Gita.
Sjahrir adalah anak tunggal pasangan mantan Bupati Magelang, Ma’moen Al
Rasyid (almarhum) dan Rusma Malik (almarhumah).
Semasa hidupnya, Sjahrir menggeluti berbagai gerakan
sosial-politik. Mulai dari aktivis mahasiswa, Gerakan Mahasiswa Menggugat
pada awal tahun 1970, mengakibatkan Ciil ditahan selama lima hari di markas brigade mobil di Jalan
Guntur, Jakarta. Kemudian akibat gerakan mahasiswa yang oleh pemerintah
disebut sebagai Malari (Malapetaka Limabelas Januari),
ia juga
dipenjara selama empat tahun pada masa Orde Baru.
Pada era reformasi, Sjahrir mendirikan sekaligus memimpin sebagai Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Baru (PIB).
Perhimpunan ini dikembangkan menjadi Partai Indonesia Baru (PIB). Presiden Yudhoyono
kemudian mengangkatnya sebagai anggota Dewan
Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi.
Ekonom lulusan Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1973 dan master dan doktor bidang
ekonomi, politik, dan pemerintahan Harvard University,
AS, tahun 1983, itu aktif sebagai anggota Ikatan Sarjana Ekonomi
Indonesia (ISEI), American Economic Association (AEA), dan International
Advisory Board, Bulletin of Indonesia Economics Studies, Department of
Economics, Research School of Pasific Studies, dan Australia National
University.
Dr. Sjahrir
Menyongsong Indonesia Baru
Pria tambun yang cerdas ini diangkat Presiden SBY menjadi Staf Khusus
Presiden Bidang Ekonomi. Mantan aktivis dan alumni FEUI (1973) ini
seorang ekonom yang juga merambah ke dunia politik dengan mendirikan Partai Perhimpunan Indonesia
Baru (23-9- 2002. Namun partainya yang tadinya diharap bisa menjadi penerang yang membuka jalan menyongsong Indonesia Baru,
Indonesia yang demokratis, berkeadilan dan majemuk, belum berhasil meraih
suara signifikan dalam Pemilu 2004.
Sebagai
ekonom, Ketua Umum Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB), ini banyak
menulis buku tentang masalah kemiskinan dan kebutuhan pokok, ekonomi
politik dan dunia pasar modal. Ia sudah menjadi berita sejak demonstrasi mahasiswa menentang korupsi pada
awal 1970-an. Namanya semakin tersiar setelah ia mendekam di penjara
selama tiga tahun sepuluh bulan lebih akibat Peristiwa Malari, 15 Januari
1974. Cikal bakal pendirian Partai PIB yang didukung oleh paling sedikitnya 34
orang tokoh negeri ini banyak didorong keinginan anggota dan simpatisan
Yayasan Padi dan Kapas - yayasan yang diketuai oleh Sjahrir sendiri - yang
berkeinginan melakukan hal konkret bagi bangsa ini. “Daripada sibuk
mengutuk kegelapan, lebih baik mulai menyalakan lilin, bisa jadi sinyal
untuk mengubah zaman Kaliyuga dengan turut meramaikan Pemilu 2004”
demikian sang deklarator mengemukakan alasan pendirian partainya.
Meskipun sudah jadi partai politik, namun Perhimpunan Indonesia Baru masih
tetap menjalankan fungsinya sebagai pemantau bagi parlemen dan pemerintah.
Hal mana sudah dibuktikan dengan usulan PIB sebelum menjadi partai politik,
dengan mengusulkan Rancangan Ketetapan Pemulihan Ekonomi kepada MPR.
Hasrat untuk bersikap oposan kepada penguasa sudah jadi tekad bulat mereka.
Sjahrir dilahirkan di Kudus, Jawa Tengah, 24 Februari 1945 dari ayah dan
ibu keturunan minang. Menurut horoskop Cina, dia bernaung di bawah shio
ayam (khe), pahlawan yang gagah berani, yang memberitahukan datangnya pagi
serta dimulainya hari, dan yang menatap ke bumi kalau sedang mencari makan.
Ayam tergolong binatang yang paling tidak dimengerti dan eksentrik dalam
siklus Cina. Hatinya konservatif dan kuno. Warga ayam yang laki-laki,
biasanya menarik. Dia adalah keluarga unggas yang berlagak bagai pangeran
dan bangga akan bulu-bulunya yang bagus, gemar berdebat, dengan stamina
yang mengagumkan.
Horoskop Cina itu memang cocok dengan dirinya, staminanya memang
mengagumkan. Dia bisa berbicara pada empat seminar dalam sehari. Ketika
hujan undangan seminar itu datang padanya, Sjahrir, yang punya kemampuan
mentertawakan dirinya sendiri, ini berkata, "Gue udah jadi Dorce sekarang."
‘Ciil’ nama kecil Sjahrir seorang pria yang ramah, pintar dan berapi-api
tetapi sekaligus jenaka. Bahkan Majalah Matra menulisnya " ... dalam derai
tawanya, ekonom kondang ini tetap mampu menyampaikan pikiran-pikirannya
dengan jernih dan jelas. Jenaka pun bisa!".
Ekonom bertubuh tambun yang digelari teman-temannya ‘si gendut’ ini memang
seorang periang dan hangat bila bicara. Wartawan-wartawan ekonomi yang
sering menyaksikannya tampil di seminar menyebut dia sebagai ‘orang
panggung yang menguasai forum’. Masalah yang dia bicarakan sering tambah
menarik karena keterampilannya mempertemukan fenomena ekonomi dan fenomena
politik. Juga kemampuannya melontarkan joke juga sering membuat "Sjahrir
Show" jadi berhasil.
Pria yang pandai menirukan aksen dan gaya orang berbicara ini, bisa lucu
kalau dia berniat untuk kocak. Tapi ketika dia tidak berniat melawakpun,
tingkah lakunya bisa dibuat jadi obyek tertawaan oleh kawan-kawannya,
bahkan sering jadi bulan-bulanan.
Ada banyak cerita yang menempatkannya menjadi obyek cerita yang
menggelikan. Satu di antaranya adalah pengalaman tahun 1993 silam ketika
sebuah seminar di Jakarta mengundangnya jadi pembicara. Dengan pakaian
lengkap: pakai jas dan berdasi dia berangkat. Di sana dia jadi salah
seorang pusat perhatian. Tapi tidak disadari ada sesuatu yang tak beres
pada dirinya. Ketika kembali ke kantornya di Jl. Teuku Cik Ditiro, tetap
belum disadari sesuatu yang tak beres tersebut. Sekembalinya dia ke
rumahnya di Pamulang dan berganti pakaian, disitulah tiba-tiba terdengar
teriakan Ciil memanggil isterinya, "Waaah, Ker ... Sepatu gue beda kiri
sama kanan."
Menurut cerita Ker, -panggilan Kartini, istrinya yang kemudian membocorkan
pengalaman tersebut- sepatu yang dipakainya itu sama-sama cokelat. Desain
sepatu itu hanya sedikit berbeda. Ketebalan tumitnya juga sedikit berbeda.
Perbedaaan-perbedaan itu tidak dilihat Sjahrir ketika mengambil sepatu
tersebut karena berangkat subuh sebagaimana biasa dengan terburu-buru.
Untuk meyakinkan dirinya apakah ada atau tidak orang yang memperhatikan
sepatunya, dia mengingat-ingat kembali pengalamannya sepanjang siang itu,
"Pantas, rasa-rasanya jalan gue kok nggak enak tadi," kata Kartini
menirukan Ciil. Dia menyesalkan betul, kenapa di kantornya tidak ada orang
yang melihat dan memberi tahu bahwa sepatu berbeda
Banyak cerita menggelikan mengenai dirinya. Ada yang direkam dan diedarkan
kawan-kawannya sendiri di "lingkungan terbatas". Ada lagi yang bersumber
dari bocoran-bocoran Kartini. Tapi tak sedikit pula yang dikarang, dan
menjadikannya sebagai tokoh konyol dalam cerita itu. Teman-temannya begitu
senang menjadikannya sebagai alasan untuk tertawa.
Kadang cerita itu bahkan menjadikannya sebagai orang bodoh. Seperti cerita
yang beredar dari lapangan sepakbola Gelanggang Mahasiswa Kuningan. Ketika
kesebelasan Betah (bekas tahanan) sering bermain bola di sana. Suatu kali
dia amat senang dan berjingkrak-jingkrak setelah menendang bola ke gawang
dan masuk. Padahal, kata cerita itu, gawang yang dibobolnya itu gawang dia
sendiri. Ketika kepadanya diberi tahu bahwa gawang itu adalah gawangnya
sendiri, dia malah ngotot, "Nggak bisa dong."
Sebenarnya dia tahu kelakuan kawan-kawannya ini, tapi agaknya dia tidak
hirau betul. Dia juga mengetahui istrinya sering jadi sumber bocoran. Oleh
karenanya, ketika di Yayasan Padi dan Kapas misalnya, jika dia memergoki
isterinya 'ngerumpi dengan kawan-kawannya, dia pasti bertanya sembari
cengar-cengir, "Cerita apa lagi, lu Ker? Lama-lama gue lihat, berbahaya lu."
Kartini tenang mendengar pertanyaan seperti ini, dan menjawab dengan, "Lu
kok curiga banget?!"
Lu dan gue adalah panggilan sehari-hari yang dipakai oleh suami-isteri ini.
Bisnis Indonesia Minggu pernah menulis: ‘Sjahrir dan Kartini adalah
pasangan yang seia dan serasi dalam kesuburan badan’.
***
Anak satu-satunya pasangan Ma'amoen Al Rasyid dan Ny. Roesma Malik ini
bersama kedua orangtuanya menghabiskan sebagian besar hidup mereka di
Pulau Jawa: di Jakarta, Kudus, Yogyakarta, Magelang dan Surabaya. Ayahnya,
Ma'amoen Al Rasyid (1904-1980), adalah pegawai BB (Binnenlandse Bestuur)
dengan jabatan akhir bupati diperbantukan di Magelang, dan pernah
mengenyam pendidikan kedokteran di Stovia, Jakarta. Ibunya, Ny. Roesma
Malik (1915-1984), adalah pegawai Inspektorat Pendidikan Kewanitaan,
Departemen P dan K, pernah mendapatkan pendidikan di Syracuse University,
New York pada awal 1950-an. Ibunya ini adalah seorang wanita yang tegar,
terpelajar, dan berdisiplin tinggi. Dalam hal disiplin, Sjahrir banyak
dipengaruhi oleh sang bunda ini.
Dalam hal disiplin, Kartini - istrinya, pernah mengeluh bahwa melakukan
perjalanan dengan suaminya itu bukan hal yang mudah, sekalipun untuk
bersenang-senang. Dia akan menetapkan, harus berada di airport dua jam
sebelum penerbangan, sekalipun itu untuk penerbangan domestik dan dilayani
oleh perusahaan penerbangan yang sering memakai jam karet. Begitu sampai
di tempat tujuan, dia biasanya segera melakukan konfirmasi pesawat untuk
perjalanan berikutnya meskipun dia dapat melakukannya keesokan harinya.
Keteraturan dan kepastian waktu dilakukannya sampai dalam menghadiri pesta
sekalipun. Kalau pesta dimulai pukul 19.00, bisa dipastikan dia berada di
sana persis pada jam tersebut. Karena itu pula dia sering menjadi tamu
pertama di pesta perkawinan, yang kadang-kala pengantinnya sendiri bahkan
belum tiba di tempat perhelatan.
Suatu kali, dengan agak mengomel, dia mengatakan bahwa orang Indonesia
merasa dirinya menjadi kurang penting kalau hadir atau datang tepat pada
waktunya. Makin tinggi jabatan atau makin menjadi tokoh publik, makin
besar kecenderungan untuk terlambat hadir. "Bagaimana mau maju? Bagaimana
bisa bicara teknologi tinggi yang memerlukan presisi yang begitu rupa?
Bagaimana bisa bersaing dengan luar?" katanya. Kalimat-kalimat ini
biasanya dia utarakan kalau ada koleganya yang tidak menepati janji tepat
pada waktunya.
Pria yang bicara dengan logat Betawi namun menurut isterinya, agak "Koto
Gadang", juga "Mentengist". Disebutkan warna Koto Gadangnya agak kentara,
dan " Mentengist" karena dia sering bangga akan dirinya, seperti ayam yang
menurut horoskop Cina tadi bangga akan bulunya yang elok. Sebagian besar
masa kecil dan remajanya memang dilewatinya dalam lingkungan keluarga
ayahnya, orang Koto Gadang, Bukittinggi, seperti halnya dengan orang Koto
Gadang lainnya pada 1950-an yang bertempat tinggal di Menteng mengikuti
posisi mereka sebagai pejabat atau pegawai pemerintahan. Dia tinggal di
rumah besar keluarga Dr.Zakir di Jl Prapatan yang sekarang menjadi Hotel
Aryaduta. Ketika rumah itu dijual untuk dijadikan hotel, dia ikut pindah
ke Jalan Sumbawa sampai dia menikah.
Walau disebut ‘Mentengist’, namun semasa kecil dan remaja, dia hanya anak
dan remaja sederhana. Sementara anak-anak Menteng lain sering naar boven,
Ciil kecil tinggal menunggu rumah. Ketika remaja Menteng mengendarai sedan
Dodge Dart atau Impala, Ciil hanya ikut nebeng.
Pada saat remaja Menteng menjadi pemuka dalam fashion, Ciil tampil dengan
celana khaki, kemeja putih dan sandal Bata. Kehidupan yang begitu
sederhana dan kontras dengan kehidupan Menteng-Buurt tidak membuat dirinya
bitter. Dia tetap ceria. Dia nikmati masa remaja dan masa mahasiswanya,
akrab dengan teman-temannya dari kalangan the haves dan tidak pernah
merasa kurang dari mereka.
Kementengannya itu pulalah yang
membawa Ciil masuk Imada (Ikatan Mahasiswa Djakarta) yang hingga akhir
1960-an populer dengan salam Ahoi-nya. Imada memang menyandang kesan
elite, apalagi para mahasiswa anggotanya punya motto "buku, pesta dan
cinta". Mereka yang cemburu pada ormas ini menyebut Imada sebagai "ikatan
mahasiswa dansa" atau "ikatan mahasiswa sepatu roda".
Sebagai aktivis mahasiswa Ciil mulai dari sini. Lewat Imada pula dia
kemudian terpilih menjadi Sekjen Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Ul,
tetapi kemudian kalah suara ketika mencalonkan diri untuk jadi Ketua Umum
Dewan Mahasiswa Ul.
Sehari-hari sekarang Sjahrir sibuk oleh pekerjaannya sebagai Managing
Director pada Institute for Economic and Financial Research (Ecfin),
lembaga riset yang dia rintis bersama-sama Dr. Slangor (almarhum), Dr.
Mari E. Pangestu dan Adril Sulaeman, MA. Sjahrir juga menjadi Ketua
Yayasan Padi dan Kapas, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan,
penelitian dan kesehatan masyarakat; menjadi konsultan dan penasehat pada
beberapa bank perusahaan publik dan media publikasi; serta juga bergerak
dalam usaha di pasar modal dan pasar uang. Sejak 1994 Sjahrir menjadi
narasumber pada Dewan Sosial Politik ABRI.
Selain jadi pengajar di FEUI, Sjahrir mengajar pula di Fakultas Pasca
Sarjana, UI, Jurusan Ekonomi; Program Magister Management, Universitas
Airlangga, Surabaya, dan pengajar di Lembaga Studi Ilmu Sosial. Sjahrir
tamat dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1973.
Setelah beristirahat di penjara selama tiga tahun sepuluh bulan lebih,
akibat Peristiwa 15 Januari 1974, dia menikah dengan Kartini Panjaitan
(1977) dan kemudian berangkat ke Boston, Amerika Serikat untuk program
pasca sarjana. Tahun 1980 dia mendapatkan gelar Master in Public
Administration (MPA) dari J.F. Kennedy School of Government, Harvard
University. Tiga tahun kemudian, 1983, masih dalam status tahanan politik
dia memperoleh gelar Ph.D dalam Political Economy and Government, dari
Harvard University, dan pulang ke Indonesia.
Ketika di Boston itu pulalah dua anak mereka lahir: Pandu dan Gita. Pandu
telah lulus dari University of Chicago dengan major economics dengan gelar
BA dan sekarang bekerja pada Lehman Brothers di Hong Kong. Gita telah
menamatkan SMU di Phillips Academy di Andover dan bahkan telah menjadi
mahasiswi di University of Chicago. Dari sikapnya terhadap kedua kedua
anaknya, kata Kartini, terlihat bagaimana dia melihat pendidikan, yang
menurut Ciil harus melahirkan manusia professional. Profesionalisme
menciptakan kompetisi. Kompetisi menghasilkan produk unggul dan inovasi.
Manusia Indonesia mendatang adalah manusia yang siap bertarung di pasar
tenaga kerja dunia.
Sejak dini dia tanamkan pada anak-anaknya bahwa yang akan mereka warisi
dari dirinya hanyalah pendidikan yang terbaik dan watak. Sikap tegasnya
ini cukup tampak pada kedua anaknya, yang percaya bahwa kelak mereka harus
mencari hidupnya sendiri. Pandu, misalnya, tumbuh menjadi anak yang sangat
sederhana, rendah hati dan apa adanya. Bagi Pandu tidak jadi soal ikut
orangtuanya ke pusat perbelanjaan dengan memakai kaus yang jahitan pada
bagian ketiaknya lepas. Karena dia memang begitu, ibunya hanya bisa
mengingatkan agar Pandu jangan sekali-kali mengangkat tangannya.
Isteri dan anak adalah inti kehidupan bagi Ciil. Ini mungkin datang dari
latar belakang kehidupannya di masa kecil, yang tidak mengalami
kebahagiaan seperti anak-anak lain pada masanya. Isteri dan kedua anaknya
mendapat perhatian yang khusus dalam pengertian yang sesungguhnya dari dia.
"Ini kerap membuat kami terharu," kata Kartini. Kartini, doktor dalam
bidang antropologi, adalah dosen pasca sarjana di Universitas Indonesia.
Anak-anaknya dia anjurkan membaca sebanyak mungkin. Gita, misalnya, diberi
PR antara lain membaca The Jakarta Post setiap hari. Si anak, yang sering
kali lupa membaca, kadang-kadang kelihatan agak jengkel setiap kali
ditanya. Begitupun, Ciil tetap saja pada pendapatnya, Gita mesti membaca
koran. Tidak cukup dengan itu, dia akan menyodorkan suratkabar itu ke
hadapan si anak.
Di samping memberi tugas seperti ini, dia juga senantiasa menyediakan
waktu berbicara mengenai apa saja, khususnya ilmu ekonomi dengan Gita. Ini
biasanya terjadi pada saat dia sedang duduk ngelonjor pakai sarung dan
mengenakan kaus oblong sembari menonton televisi. Gita duduk di
pangkuannya. Lalu dia mulai mengajar puterinya itu mengenai: sistem
ekonomi, mengenai perbankan, pasar dan koperasi. Cara penyampaiannya
dibuat begitu sederhana disertai dengan contoh-contoh kasus, sehingga
tidak mengherankan pengetahuan dan pemahaman Gita mengenai ilmu ekonomi
dan koperasi cukup mendalam.
Ciil tampaknya punya keinginan besar untuk mewariskan pengetahuannya
kepada Gita ketimbang Pandu. Itu mungkin karena dia melihat bahwa minat
Pandu yang terbesar hingga saat ini adalah matematika-fisika dan menulis
cerita pendek. Tapi Gita sendiri kalau ditanya ingin jadi apa kelak,
menjawab "ingin jadi pemain drama". Apakah punya cita-cita menjadi ekonom
seperti ayahnya? Jawabannya, "Tidak', selama dia masih mungkin jadi penari
atau pemain drama.
Dengan Pandu, Ciil banyak berbicara mengenai berbagai literatur dari kelas
sastra sampai dengan kelas picisan, juga tentang permainan basket NBA,
kegemaran mereka berdua. Ciil membiasakan kedua anaknya untuk sering
menulis apa saja yang dilihat, didengar dan dipikirkan. Agaknya,
kesukaannya menulis turun pada kedua anaknya, terutama Pandu.
Kegiatan menulis, lazimnya berpasangan dengan membaca. Dalam urusan
membaca ini, menurut cerita, pada usia delapan tahun Ciil sudah membaca
sembilan suratkabar setiap hari. Kini dia berlangganan sedikitnya 11 koran
dan selusin majalah, baik dalam maupun terbitan luar negeri.
Secara rutin dia membaca book review di The New York News dan New York
Times Review of Books, secara periodik membeli jurnal ilmiah seperti
Daedalus. Dia juga membaca dan mengumpulkan puluhan novel dari yang 'rada
picisan' sampai yang bernilai sastra. Tidak berhenti pada novel, Ciil
punya kegemaran khusus, mengumpulkan buku-buku yang berisi nasehat atau
lelucon, baik yang disajikan dalam bentuk syair maupun cerita.
Kumpulan buku nasehat yang disukainya dan tetap dibaca hingga sekarang,
ditaruhnya di salah satu rak di dekat meja mejanya: The Book of Virtues
karangan William Bennett dan Letter to Sabine.
Ciil juga gemar membeli majalah mengenai permainan basket, majalah
mengenai mobil dan motor. Begitu juga majalah ringan seperti
Jakarta-Jakarta, dan Humor. Kapan dia punya waktu untuk membaca semua itu?
Kapan-kapan saja, dan pada setiap tempat. Itu sebabnya, ke mana saja dia
bepergian, jauh atau dekat, ke kantor atau ke luar negeri bacaan selalu
ada di dekatnya. Buku itu belum tentu dibaca di tempat tujuan, apalagi
kalau dia terlalu lelah atau kekenyangan. Tetapi dia bagaikan terasa
menikmati sesuatu jika buku itu terus ada di dekatnya.
Siapa pun yang berkunjung ke rumah atau ke kantornya akan menemukan
tumpukan buku di mana-mana. Sekretarisnya --Poppy Soeyono-- selalu
khawatir kalau-kalau buku di rak di belakang dan di samping meja kerjanya
jatuh menimpa Ciil, karena rak tersebut sudah kelebihan beban.
Tumpukan buku yang mengelilinginya itu tak pernah dapat mengendurkan
niatnya untuk mengurangi kehausannya membeli buku. Yang paling runyam
adalah kalau dia pergi ke luar negeri, khususnya ke Boston. Dapat
dipastikan dia memborong 60 sampai 100 judul setiap kali pergi. Buku
baginya seperti pil Ecstacy. Begitu tiba di Jakarta, buku-buku dan majalah
yang baru dibelinya itu dia keluarkan dan dia susun rapi di lantai. "Lalu
ia duduk bersila memakai sarung," kata Kartini, "dan dengan mata berbinar
Ciil mengelus-elus buku yang baru dibelinya itu satu per satu."
Menurut Kartini, kesukaan Ciil mengoleksi buku bukanlah hal yang istimewa.
"Sama seperti kesenangan mengoleksi perangko, lukisan dan atau barang
kerajinan," katanya. Ker tidak pernah mengaitkan soal kesenangan
mengoleksi buku itu dengan bobot ilmiah seseorang.
Yang jelas, Ciil keranjingan akan buku, dan kembali ke horoskop Cina,
sebagai ayam dia adalah tukang diskusi yang bisa alot. Ketika bersekolah
di SMA Kanisius dia turut mendirikan kelompok diskusi. Semasa mahasiswa
dia sering mengganggu teman-teman wanitanya dengan pertanyaan, "Kenapa sih
lu nggak ikut diskusi?" Ciil punya penghargaan dan kekaguman khusus pada
wanita yang menuntut ilmu, berkarir dan bekerja. Dia menyadari akan adanya
ketidak-adilan sikap terhadap kaum wanita, dalam hampir setiap segi
kehidupan, seperti yang pernah dia lihat pada pengalaman ibunya.
Ciil akan bersuara rendah, berbicara agak pelan, dan terkadang terasa
seperti kiyai, jika dia berbicara menyangkut hal-hal yang filosofis.
Kelihatannya dia berbakat jadi dai. Suatu kali dia berkata, jangan suka
membuat ilusi mengenai diri sendiri dan masyarakat. "Sindroma tokoh",
katanya, "adalah musuh utama kerja produktif'. Seseorang yang dihinggapi
sindroma tokoh, menurut Ciil, sulit untuk bisa menerima perubahan yang
terjadi, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sindroma tokoh membawa
seseorang hanya ingin mendengar dan membenarkan dirinya sendiri, serta
mengharapkan untuk dilayani dan ingin kembali pada kejayaan masa lampau.
***
Ada hal yang "gawat" pada Ciil, yakni makan sebagai hobi beratnya. Orang
biasanya berkata "makan untuk hidup". Untuk Ciil ungkapan ini harus
dibalik. Kalau melihat 'load" makannya, orang akan berkesimpulan, dia
hidup untuk makan. Dia sangat suka makan, dan cenderung memaksa orang lain
yang makan bersamanya melahap porsi yang sama dengan yang dia makan.
Seorang stafnya yang agak kikuk dan merasa tidak enak untuk mengatakan "sudah
cukup", sampai meringis-meringis kekenyangan ketika mengikuti Ciil untuk
suatu pertemuan di Bali.
Ciil berbakat jadi pemandu di meja makan. Hanya saja kadang-kadang dia
bisa seperti teroris yang menghujani kawan makannya dengan kata; "Ini nih!
Udah coba ini? Enak nih! Ayo dong. Ambil aje semuanya!" Berbagai cara diet
yang disarankan teman-teman dekatnya hanya memperoleh tempat yang marginal
di hatinya. Jika dia terlambat makan atau makan di bawah "kapasitas
terpasang" perutnya, produktivitasnya anjlok. Itulah sebabnya makan dan
menulis bagi Ciil adalah dua hal yang saling melengkapi secara sempurna.
Setiap kali ada acara di rumah ataupun di kantornya, pasti ada kegiatan
makan bersama. Tidak ada satu masakan pun yang membuat dia terdengar
kecewa. Semua, enak! Masih untuk urusan yang satu ini, dia pernah mengeluh
pada Kartini, karyawan wanita di kantornya kurus-kurus. "Kayak jarum
pentul," katanya. Agar para karyawan ini lebih gemuk sedikit, dia
keluarkan "kebijaksanaan" baru, menyediakan makan pagi yang terdiri dari
roti, telur, susu, kacang ijo, dan nasi goreng bagi karyawan sekantor.
Hasilnya, mengejutkan. Para karyawan wanita itu malah makin kurus. Kenapa?
Stress, dipaksa makan pagi dengan menu 4 sehat 5 bengep.
Sebagai "sang ayam" yang agak konservatif Ciil memulai hari-harinya pukul
6 pagi, diawali dengan membaca suratkabar. Katanya, bangun pagi membuat
otak segar, dan periuk nasi cepat terisi. Sering terjadi, pada pukul 7 dia
sudah mulai mendiktekan tulisannya pada sekretarisnya, Poppy Soeyono, yang
merekamnya di komputer.
Sebetulnya belakangan ini Ciil tidak pernah menulis dalam arti
sesungguhnya, karena hampir semua makalahnya adalah hasil dikte. Satu
makalah bisa selesai dalam satu jam atau 90 menit. Dia menganggap cara ini
sangat efektif dan hasilnya jauh lebih memuaskan, karena apa yang
dipikirkannya keluar sama cepatnya dengan apa yang diucapkannya.
Selama ini dia merasa bahwa ide yang akan dituangkannya sering terhambat
karena dia harus menuliskannya sendiri, padahal kecepatannya menulis jauh
lebih rendah dari kecepatannya berpikir. Karena itulah dikte lebih
disukainya setiap membuat tulisan apakah itu berupa memo bagi masukan
suatu kebijakan atau makalah. Rata-rata ada 10 makalah dan 10 memo setiap
bulannya. Cukup sering terjadi dia menulis 3 makalah dalam sehari. Pernah
dalam perjalanan ke airport, dia masih mendiktekan tulisan ke
sekretarisnya melalui telefon. Pada puncak era pemekaran pasar modal, dia
pernah berseminar 25 kali dalam sebulan dan semuanya memerlukan makalah.
Ciil pernah berkata, "I write, I exist".
Sebelum 1992, dia menulis dengan mempergunakan kertas buram dengan
ballpoint atau pulpen. Biasanya kerja menulis ini diselingi oleh tidur di
kursi. Dia memang punya kebiasaan untuk tidur di mana saja, kapan saja,
meskipun untuk beberapa saat. Batas antara menulis-tidur-menulis ini
begitu tipisnya. Dia sanggup segera memegang pulpennya dan memulai kalimat
baru begitu terbangun, dan sebaliknya.
Ketika terbangun
pertanyaan yang sering dia ajukan adalah, "Gue ngorok nggak?" Pertanyaan
ini sulit untuk dijawab, walaupun Ciil mendengkur waktu tidur, di kursi
sekalipun. Kalau dijawab "tidak" dia akan menunjukkan reaksi tidak percaya.
Jika dijawab "ya", dia malah balik bertanya, "Masa .... coba tiruin kayak
apa gue ngorok".
Kini dia tak punya kesempatan tidur di saat mendikte. Kata Kartini,
sekarang dia bahkan lebih 'nekad', pulang ke rumah yang jaraknya hanya
lima menit perjalanan dari kantor untuk tidur siang, jika ada waktu.
Belakangan ini dia sangat suka dengan pulpen Mont Blanc dan kalau bisa
yang limited edition. Apa sebab Ciil begitu snob dalam soal pulpen?
Mungkin hal ini bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa dia tidak pernah
mampu mengetik, dan buta teknologi komputer. Dia begitu asing dengan kedua
teknologi ini. Seorang sahabatnya, pernah berkata, Ciil tak bisa mengetik
karena tuts mesin tik terlalu kecil untuk jarinya yang begitu besar.
Setiap kali dia menekan satu huruf, yang kena dua huruf sekaligus.
Dia memang buta teknologi, tapi kini dia asyik mempelajari mobil. Selain
berlangganan berbagai majalah otomotif dalam dan luar negeri, Ciil juga
rajin mendatangi pameran mobil yang menawarkan teknologi mutakhir.
Kesenangannya ini seringkali membuat orang-orang yang dekat dengan dia
geleng-geleng kepala, terutama isterinya. Kesenangan ini pula yang antara
lain menimbulkan sinisme dari sejumlah orang yang menganggap Ciil sudah "lupa
perjuangan", "materialistis", "gembel yang baru punya mobil", dan komentar
sumbang lainnya. Komentar itu sampai juga ke kupingnya, dan Ciil hanya
menjawab, "Kalau lu bukan apa-apa, jangankan dikomentarin, ditoleh pun lu
kagak!"
Dalam hal teknologi dan produk baru, dia paling mudah jadi korban. Suatu
kali Ciil dan Kartini pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Sebentar mereka
terpisah, dan setelah itu Kartini menemukan Ciil ada di toko kacamata.
Tampaknya, kata Kartini, dia sedang kena rayuan. Kacamata itu dia beli.
Mahal. Padahal, baik untuk membaca mau pun untuk menulis sampai kini dia
tak memerlukan benda itu. Keesokan harinya, kacamata itu dia bawa ke
kantor. Di kamar kerjanya, sekali-sekali kacamata itu dia pakai, dan
meminta komentar banyak orang, "Bagus nggak?!" Tapi itu hanya terjadi dua
hari. Setelah itu kaca mata tadi tinggal tersimpan di laci.
Pada hari yang lain, dia hilang dari kantornya. Stafnya tahu dia tak punya
acara apa pun di luar. Satu jam kemudian dia kembali. Dia baru saja dari
Jl. Sabang --daerah pertokoan-- dan di sana dia membeli kamera polaroid.
Ciil kemudian praktek memotret di kantor, dengan kagok, karena dia harus
mengingat-ingat kembali instruksi si penjual tentang cara memakai kamera
itu. Jepret! Pelan-pelan kertas foto itu keluar, didiamkan sebentar, ...
nah fotonya jadi. Ciil tersenyum puas, dan bagaikan terpesona betul oleh
teknologi polaroid itu, yang sebenarnya tidak lagi baru.
Belakangan ini dia masih sering tampil dalam berbagai seminar menularkan
semangat dan idenya bagi pemulihan dan kemajuan bangsa ini. Di usianya
yang ke-59 akhir bulan Februari 2004 ini, ia masih memiliki segudang
harapan sambil terus melangkah menyosong Indonesia Baru yang sudah lama
diimpikannya. ►atur/juka
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|