| |
C © updated
14032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/pu |
|
| |
Nama:
Dr. (Hc) Ir. Siswono Yudo Husodo
Lahir:
Long Iram, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943
Agama:
Islam
Isteri:
Ratih Gondokusumo (Notaris)
Anak:
Mutiara, Savitri, Emeralda (meninggal dunia saat berusia 11 tahun),
Rubyeta, dan Pirousi
Ayah:
Dr. Soewondo
Pendidikan:
Tamat Jurusan Sipil ITB - Tahun 1968
Pekerjaan:
Direktur Utama PT. Bangun Tjipta Sarana 1969 - 1988
Menteri Negara Perumahan Rakyat RI 1988 - 1993
Menteri Transmigrasi dan PPH RI 1993 - 1998
Komisaris Utama PT. Bangun Tjipta Sarana 1998 - sekarang
Organisasi:
Ketua Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) 1973 - 1977
Ketua Umum Persatuan Pengusaha Real Estate Indonesia (REI) 1983 - 1986
Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta DPP Golkar 1983 - 1988
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia 1985 - 1988
Dewan Pembina Golkar 1988 - 1998
Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) 1999 - sekarang
Pengalaman Legeslatif:
Anggota MPR - RI utusan daerah DKI Jakarta 1982 - 1987
Anggota MPR - RI Golkar Kalimantan Timur 1987 - 1992
Anggota MPR - RI Golkar Sulawesi Tenggara 1992 - 1997
Anggota MPR - RI Golkar N.T.B. 1997 - 1998
Anggota MPR - RI utusan golongan mewakili petani 1999 - sekarang
Aktivitas Sosial:
Bendahara Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila 1987 - 2002
Anggota Majelis Nasional Pembina Harian Pramuka 1988 - 1998
Ketua Dewan Penyantun Universitas Diponegoro 1994 - 1998
Anggota Dewan Penyantun Universitas Andalas 1996 - 2000
Anggota Dewan Penyantun Universitas Bengkulu 1997 - 2002
Ketua Jakarta Golf Club 2001 - 2003
Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila 2002 - sekarang
Anggota Majelis Wali Amanah Institut Pertanian Bogor 2002 - sekarang
Karya Tulis
Novel:
Warga Baru (Kasus Cina di Indonesia)
Ilmiah Populer :
- Rumah Untuk Seluruh Rakyat
- Transmigrasi, Kebutuhan Negara Kepulauan Berpenduduk Heterogen dengan
Persebaran yang Timpang
Politik:
- Semangat Baru Nasionalisme Indonesia.
- Nasionalisme Indonesia Dalam Era Globalisasi.
Penghargaan:
- Bintang Mahaputera Adi Pradana dari Presiden Republik Indonesia
1992
- Lencana Melati Gerakan Pramuka 1998
Alamat :
Jl. H. Abd. Majid No. 48, Cipete, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
==
1 2
3 4 5 6 7 ==
Dr. (HC) Ir. H. Siswono Yudo Husodo
Pilih Berpasangan dengan Amien
Atas dasar pertimbangan untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan
negara yang sangat saya cintai ini, akhirnya saya berketetapan hati untuk
maju menjadi Calon Wakil Presiden RI bersama Sdr. Prof DR. Amien Rais,
seorang tokoh reformis yang telah dicalonkan oleh Partai Amanat Nasional
(PAN) sebagai Calon Presiden RI periode 2004-2009, membentuk Dwi Tunggal
kepemimpinan pemerintahan dan negara.
Demikian Dr. (HC) Ir. H. Siswono Yudo Husodo pada ada Acara Deklarasi
Sikap Politiknya Mengenai Pemilu Presiden 2004, di rumah kediamannya Jalan
Abdul Majid No.$8, Cipete, Jakarta Selatan, Sabtu malam 8 Mei 2004. Acara
itu dihadiri sejumlah pimpinan partai yang mendukung pencalonan Siswono
sebagai Capres atau Cawapres. Antara lain, Ketua Umun PNI Marhaenisme
Sukmawati Sukarnoputri, Ketua Umum Partai Penegak demokrasi Indonesia
Dimmy Haryanto dan Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia Rahardjo
Tjakraningrat. Juga dihadiri Sekjen DPP PAN Hatta Rajasa.
Selengkapnya, berikut sambutan Dr. (HC) Ir. H. Siswono Yudo Husodo:
Sebagai negara kebangsaan, kita baru saja menyelesaikan kegiatan politik
amat penting, Pemilu Legislatif. Hasil Pemilu tersebut, dengan segala
kekurangsempurnaannya juga telah ditetapkan oleh KPU. Hasil Pemilu itu
telah memberikan pesan yang jelas kepada kita, bahwa rakyat menginginkan
perubahan.
Indonesia memang memerlukan perubahan kekuasaan politik, karena kekuasaan
politik yang terbentuk melalui Pemilu 1999 telah terbukti tidak mampu
memenuhi harapan masyarakat luas.
Kesempatan untuk melakukan perubahan kekuasaan politik secara damai sekali
lagi terbuka melalui Pemilu Presiden pada tanggal 5 Juli 2004 yang akan
datang. Dengan perubahan kekuasaan politik itu diharapkan akan dapat
terbentuk kehidupan politik yang lebih sehat, kehidupan ekonomi yang lebih
berpengharapan dan kehidupan sosial yang damai, serta kehidupan budaya
yang lebih kreatif dan inovatif.
Pada waktu ini, Indonesia menghadapi masalah yang amat berat, berupa
dekadensi moral politik yang ditengarai dengan maraknya money politics
dalam berbagai proses politik, merosotnya moral penyelenggara negara
berupa korupsi yang merajalela, meningkatnya penyelundupan, pencurian
kayu/illegal logging, pencurian ikan, membengkaknya utang negara,
merosotnya kualitas lingkungan hidup yang telah mengakibatkan bencana,
meningkatnya impor pangan yang sebenamya dapat kita penuhi sendiri,
meningkatnya ketergantungan kita kepada negara lain, merosotnya toleransi
sosial dan merosotnya kemampuan masyarakat untuk dapat menyelesaikan
perbedaan-perbedaan dan friksi-friksi sosial yang ada secara santun,
munculnya separatisme, serta membengkaknya angka pengangguran. Itulah
hal-hal besar yang memerlukan penanganan secara sungguh-sungguh.
Tugas memimpin negara bangsa ke depan menjadi sangat berat. Pemimpin
negara ini harus memiliki kecakapan dan kearifan untuk merumuskan
langkah-Iangkah yang efektif bagi kemajuan bangsa dan negara. Siapa pun
yang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden harus mampu merumuskan
langkah-Iangkah yang efektif untuk mengatasi berbagai persoalan besar tadi
dan membangun peradaban bangsa yang lebih baik dan lebih maju, yang
merupakan dambaan dari seluruh rakyat.
Karenanya dalam pandangan saya, untuk menghadapi tugas amat berat
tersebut, duet Presiden dan Wapres selayaknyalah merupakan dwitunggal yang
harmonis. Pasangan yang, saling mengisi dan saling memperkuat, mampu
menanggalkan kepentingan kelompok masing-masing dan bekerja keras hanya
untuk kepentingan negara dan seluruh bangsa.
Saya sebagai anggota masyarakat yang tidak berpartai dan merupakan calon
independen, bersyukur bahwa Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberi
peluang kepada saya dalam posisi untuk memilih. Pertama, ada peluang untuk
maju menjadi Calon Presiden RI dari gabungan partai-partai politik yang
pada Pemilu 2004 ini masing-masing tidak mencapai electoral treshold atau
tidak lolos verifikasi faktual KPU.
Saya sampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh jajaran
partai-partai, yaitu Partai PDKB, PNI BK 1927, PKPI, PSI, PPDI, dan PNI
Marhaenisme atas dukungannya mencalonkan saya sebagai Calon Presiden, dan
atas usahannya untuk mengajak partai-partai lain agar memenuhi ketentuan
untuk ikut mencalonkan saya. Saya memandang, bahwa jika maju dengan
dukungan yang terbatas akan sangat berat untuk mencapai hasil optimal, di
tengah suasana kompetisi politik yang demikian ketat.
Kedua, ada pula peluang untuk menjadi Calon Wakil Presiden mendampingi
Calon Presiden dari tokoh-tokoh partai politik yang partainya lolos
electoral treshold. Saya sampaikan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya atas pertimbangan tokoh dan kader partai politik yang
bersangkutan.
Ketiga, juga ada peluang untuk mengabdi kepada masyarakat, negara dan
bangsa yang amat saya cintai ini, dalam kapasitas sebagai pengusaha,
pimpinan organisasi tani, dan warga negara biasa.
Pilihan lain yang ada yang merupakan harapan dari banyak pihak yang
mendukung saya adalah menunggu keputusan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Tetapi sayang sekali, manuver Gus Dur terlalu tinggi dan canggih,
complicated dan terlalu sulit bagi saya untuk mengikutinya. Saya juga
khawatir bila pola manuver berpolitik seperti ini berkelanjutan akan
membawa suasana politik di Indonesia jauh dari kepastian dan tidak memberi
sumbangan pada pendidikan politik yang sehat bagi rakyat.
Sebulan terakhir, saya melakukan kontemplasi, perenungan, dan memohon
petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tentang berbagai aspek; juga
menyangkut diri saya pribadi. Saya menimbang betul kepantasan dan
kepatutan serta kemampuan saya untuk mengemban tugas amat berat, amat
penting sekaligus amat mulia untuk menjadi Presiden atau Wakil Presiden,
memimpin negara dan bangsa serta rakyat Indonesia yang demikian besar dan
beragam dengan segala permasalahan besarnya atau justru memilih menjadi
rakyat biasa. Hidup ini memanglah berisi serangkaian pilihan.
Dari berbagai pilihan-pilihan yang ada tersebut, atas dasar pertimbangan
untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara yang sangat saya
cintai ini, akhirnya saya berketetapan hati untuk maju menjadi Calon Wakil
Presiden RI bersama Sdr. Prof DR. Amien Rais, seorang tokoh reformis yang
telah dicalonkan oleh Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai Calon Presiden
RI periode 2004-2009, membentuk Dwi Tunggal kepemimpinan pemerintahan dan
negara.
Sikap politik saya dalam menetapkan pencalonan ini adalah untuk memberikan
peluang yang seluas-luasnya kepada seluruh rakyat Indonesia agar dapat
memberikan pilihannya pada putra terbaik bangsa untuk menjadi Presiden dan
Wakil Presiden RI melalui Pemilu Presiden/Wapres 2004. Saya mengharapkan
agar pada Pemilu Presiden 2004 ini, rakyat memiliki kesempatan untuk
memilih calon yang merupakan Primus Inter Pares, calon yang terbaik di
antara yang baik-baik.
Berpasangan dengan Sdr. Prof. DR Amien Rais saya pilih berdasarkan
beberapa alasan:
Pertama, saya dan Pak Amien Rais memiliki kesamaan platform untuk
membangun bangsa dan memantapkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dengan memberikan otonomi daerah yang
luas kepada masing-masing daerah untuk membangun daerahnya dan
mensejahterakan rakyatnya sesuai dengan potensi masing- masing. membangun
kesetaraan diantara seluruh warga bangsa dan mengusahakan secara maksimal
kehidupan yang damai dan membuat setiap warga negara merasa dilindungi
oleh negara.
Kedua, saya dan pak Amien Rais juga memiliki kesamaan visi untuk membangun
kemandirian bangsa dalam rangka menjadikan bangsa kita berdiri sama tinggi
dengan bangsa-bangsa lain yang maju dan sejahtera.
Ketiga, saya dan Pak Amien Rais memiliki latar belakang yang berbeda; yang
dapat bekerja sama. Beliau tokoh organisasi keagamaan; mantan Ketua Umum
Muhammadiyah, saya ketua Umum HKTI, organisasi tani. Beliau akademisi,
mantan dosen, saya berlatar belakang pengusaha. Pak Amien tokoh organisasi
Islam, saya berasal dari organisasi berasas kebangsaan. Saya memiliki
profesi sebagai pengusaha dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga
nasionalis, sedangkan pak Amien Rais adalah seorang guru besar di dunia
akademik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang religius. Perbedaan
latar belakang itu dapat saling melengkapi dan memperkuat kelebihan
masing-masing. serta mengeliminir kekurangan masing-masing.
Dalam kegiatan politik yang selama ini saya geluti, saya menemui banyak
tokoh-tokoh yang dicitrakan sebagai tokoh Islam, Kristen, Katholik, Hindu
atau Buddha yang setelah saya mengenalnya secara mendalam, yang
bersangkutan ternyata sangat nasionalistis. Demikian pula tokoh-tokoh yang
dicitrakan tokoh nasionalis, ternyata sangat agamis dan religius. Amien
Rais adalah tokoh Islam yang nasionalistis, dan saya pribadi terus
berusaha menjadi seorang nasionalis yang religius. Ini adalah Dwitunggal
Religius- Nasionalis dan Nasionalis-Religius.
Hadiri yang saya hormati,
Demikianlah hal-hal yang dapat saya sampaikan pada acara yang diharapkan
akan dapat memberi arti yang besar bagi bangsa dan negara kita. Semoga
Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan bimbingannya dan
memberkati kita sekalian. Atas perhatian hadirin sekalian, saya sampaikan
terima kasih yang tak terhingga.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, 8 Mei 2004
►tsl ►KEMBALI
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|