| |
C © updated 21042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/mlp |
|
| |
Nama:
Dra. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum
Lahir:
Jombang, 8 Maret 1948
Gelar:
First Lady (Ibu Negara) ke-4
Suami:
KH Abdurrahman Wahid
Menikah:
11 September 1971
Anak:
1. Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa)
2. Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny)
3. Anita Hayatunnufus (Nita)
4. Inayah Wulandari (Ina),
Pendidikan:
Program S-2 Studi Kajian Wanita, Universitas Indonesia, Depok
Pekerjaan:
Pendiri dan Pimpinan Yayasan PUAN Amal Hayati, didirikan 3 Juli
2000 dan mulai beroperasi Maret 2001
Penguasaan Bahasa:
Inggris, Arab dan Perancis
Alamat:
Jl. Warung Sila No. 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid
Kembang Setaman Perkawinan
TANGGAL 20 April lalu di Jakarta berlangsung peluncuran buku Kembang
Setaman Perkawinan, Analisis Kritis Kitab ’Uqud Al- Lujjayn’. Buku ini
adalah kajian kritis atas kitab ’Uqud Al-Lujjayn’, kitab fikih tentang
hubungan suami-istri karya Syekh Nawawi al-Bantani (lahir 1813 M) yang
masih diajarkan di pesantren.
YANG menarik, kajian kritis ini dilakukan Forum Kajian Kitab Kuning yang
didirikan dan diketuai Ny Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid sejak tahun
1997. Dalam peluncuran buku itu, Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI,
hadir memberi sambutan kunci sekaligus mendukung apa yang dilakukan
istrinya.
Buku ini adalah versi akademis setelah tiga tahun sebelumnya diluncurkan
versi populer dan versi bahasa Arab dari kajian yang sama. Sedang
direncanakan untuk menerbitkan versi bahasa Inggris dan versi komik.
"Masih mencari penyandang dana," papar Sinta Nuriyah.
Buku itu secara kritis mengupas setiap dalil dan interpretasi pemuka
agama kelahiran Banten tersebut. Tantangannya tidak sedikit karena
Kembang Setaman membongkar ajaran agama yang telanjur diyakini banyak
orang selama lebih satu abad.
Sampai awal tahun 1990-an tidak banyak orang mendengar kegiatan Sinta
Nuriyah yang memberi pengaruh begitu luas. Namanya seperti tertelan
kiprah suaminya yang amat aktif memimpin Nahdlatul Ulama. Perubahan
terjadi ketika Sinta melanjutkan pendidikan ke Program Kajian Wanita
Universitas Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Indonesia
(selesai tahun 1997) dengan tesis "Perkawinan Usia Muda dan Kesehatan
Reproduksi".
Di sana, Sinta Nuriyah yang menamatkan pendidikan S1-nya dari Fakultas
Syariah IAIN Yogyakarta, terbuka cakrawalanya mengenai ketidaksetaraan
relasi perempuan dan laki-laki yang merugikan perempuan. Dalam masa
menyusun tesis terjawab pula pertanyaan yang dia pendam saat belajar di
Pesantren Putri Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, selulus sekolah
dasar, mengapa ada perlakuan tidak adil pada perempuan dalam relasi
suami-istri.
Setelah itu, aktivitas publik perempuan kelahiran Jombang, 8 Maret 1948,
itu tak terbendung lagi, terutama yang berhubungan dengan isu perempuan.
Ibu empat anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lisa), Zanuba Arifah
Chafsoh (Yeni), Anita Hayatunufus (Nita), dan Inayah Wulandari (Ina),
ini melakukan kerja dalam dua tataran sekaligus: membongkar fikih yang
tidak lagi sesuai zaman dan aksi lapangan dengan mendirikan Yayasan
Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan (Puan) Amal Hayati bekerja sama
dengan sejumlah pesantren.
Percakapan berikut dilakukan di rumah pasangan Abdurrahman Wahid-Sinta
Nuriyah di Ciganjur, di selatan Jakarta, akhir April. Siang itu, Sinta
Nuriyah yang ingin melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang S3 itu
tampak cerah dalam balutan baju tradisional Korea warna merah jambu.
Kecelakaan mobil pada tahun 1993 yang memaksanya duduk di kursi roda
tidak mampu melumpuhkan semangat baja perempuan bersuara lembut yang
kini mampu berjalan 2-3 langkah ini.
APA sebenarnya yang melatarbelakangi pendirian Forum Kajian Kitab
Kuning?
Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) itu berawal ketika saya menulis tesis S2
tentang pernikahan usia muda dikaitkan dengan kesehatan reproduksi.
Respondennya dari yang pendidikannya pesantren dan nonpesantren.
Ternyata ada pengaruh dari Kitab Kuning. Pembimbing saya, Ibu Saparinah
Sadli dan Ibu Atas Hendartini Habsyah, menganjurkan untuk meneliti kitab
itu. Tetapi, saya belum tahu harus mulai dari mana dan bagaimana. Mereka
bicara dengan Ford Foundation minta dibiayai. Ford setuju, tetapi
syaratnya saya jadi ketua.
Saya bikin FK3 tahun 1997, tetapi belum tahu formatnya seperti apa.
Akhirnya setelah 2,5 tahun saya diperkenalkan oleh Mbak Badriyah Fayumi
(dari Nahdlatul Ulama) pada ahli hadis, orang Indonesia, Dr Luthfi
Fathullah, yang belajar di Siria (dan membantu di dalam FK3).
Kenapa memilih kitab ’Uqud Al-Lujjayn?
Tadinya saya sudah belajar kitab itu di pesantren. Saat itu hanya
bertanya sendiri, "Kok begini jadi perempuan?" Kemudian hilang begitu
saja karena saya masih kecil.
Yang saya jadikan responden (tesis) adalah teman di pesantren dulu
karena mereka punya banyak anak, ada yang 9 orang, ada yang 18 anak. Itu
terungkap saat saya diajak ke sana oleh Mas Dur. Kebetulan ada pengajian
Muslimat dan saya diminta ceramah. Saya mengamati dua hal yang saling
terkait: Pendidikan dan perkawinan usia muda. Perkawinan usia muda
menyebabkan pendidikan tidak bisa tinggi karena masih muda sudah
dikawinkan. Akibat berikutnya anak-anak menjadi banyak. Itu yang menarik
saya untuk dibahas dalam tesis, dan ternyata ada kaitan keadaan itu
dengan kitab ’Uqud Al-Lujjayn’.
Tidak semua pihak bisa menerima kajian kritis tersebut?
Memang ada yang marah. Di Jember ada kiai muda bertanya, apa kedatangan
Puan Amal Hayati dan FK3 itu seperti Yahudi yang mau menghancurkan
Islam. Ketika itu darah saya rasanya naik sampai di sini (sambil
menunjuk ubun-ubun), rasanya marah sekali. Akhirnya saya minta kiai
pengasuh Puan di sana menjelaskan. Saya takut karena marah nanti saya
jadi salah bicara.
Risiko seperti itu sudah disadari?
Karena itu saya melakukannya dalam satu tim, banyak ahli yang bukan
orang sembarangan di dalamnya.
Dukungan dari Gus Dur?
Sangat penting, tokoh itu masih sangat dibutuhkan. Tanpa dukungan itu,
kiai-kiai sudah langsung menolak. Bahkan waktu saya melakukan safari
(untuk sosialisasi) dari Jember sampai Situbondo, satu hari di tujuh
tempat, saya bicara poligami walau disarankan tidak bicara poligami.
Menurut Ibu Khofifah (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ketika itu),
kalau bukan Ibu (Sinta) yang bicara sudah langsung disambet oleh
kiai-kiai.
Poligami isu sensitif?
Justru di kitab itu tidak ada masalah poligami karena dianggap poligami
sudah wajar. Kitab ini hanya membicarakan hubungan suami dengan istri
atau istri-istrinya. Kami tidak membongkar masalah poligami di situ.
Dalam kitab kuning itu relasi itu antara lain seperti ini. Kalau seorang
istri dipanggil suami untuk melayani (hubungan intim dengan) suami dan
tidak bergegas-gegas datang, dia akan dilaknat malaikat. Itu yg harus
diluruskan. Bahkan ada yang lucu, seperti harus bisa melihat ke mana
mata suami melihat, ke mana arah hidungnya jatuh, semacam itu.
Lucu-lucu.
Pendapat Anda tentang poligami?
Dalam setiap dialog publik atau bedah buku saya selalu mengatakan itu
kesalahan interpretasi atas ajaran agama. Salah pemahaman.
Tercermin antara lain ketika Anda menolak kebijakan panitia Muktamar NU
di Boyolali November lalu yang memakai jasa katering Wong Solo dengan
membuat dapur antipoligami?
Tidak langsung dalam kaitan penolakan terhadap poligami, tetapi dalam
kaitan organisasi besar kenapa harus menghidangkan makanan dari yang
menganjurkan poligami. Organisasi besar seperti NU itu kan harus memberi
contoh yang baik kepada masyarakat luas.
Setelah kajian kitab kuning, apa lagi?
Kami akan melakukan revisi terhadap kitab fikih yang dipakai di
pesantren dari tingkat ibtidaiyah hingga aliyah. Untuk itu kami butuh
riset ke pesantren di seluruh Indonesia. Kami harus tahu bagaimana kitab
fikih itu diajarkan dan bagaimana penerimaannya. Materinya sangat bias
jender.
Keberhasilan ini tergantung dari para kiai. Bagaimanapun kiai itu yang
akan memberi ceramah, sampai ke desa-desa. Bila isi ceramah itu bias
jender, maka akan sangat berpengaruh.
Kalau begitu, kiai memang perlu didekati?
Karena itu kami mendirikan Puan Amal Hayati, bermitra dengan pesantren
(ada di 11 tempat). Tidak semua pesantren bisa kami terima menjadi
mitra, ada persyaratan yang harus dipenuhi. Misalnya, di tempat itu
tidak ada yang melecehkan perempuan.
Sejauh mana upaya melalui Puan dan FK3 dapat memperbaiki situasi
perempuan?
Dengan melakukan terobosan, mendirikan Puan Amal Hayati di
daerah-daerah, otomatis kami memperkenalkan juga kesetaraan jender di
sana. Bila mereka sudah bisa menerima kesadaran jender, maka saat mereka
memberi ceramah atau ada orang datang minta nasihat, bisa diberikan
secara berkeadilan jender.
Karena itu kami dirikan Puspita, Pusat Perlindungan bagi Wanita. Bahasa
Inggrisnya, WCC, woman crisis center. Nah karena kita orang Indonesia
saya menggantinya dengan bahasa Indonesia. Lho, sama kan, malah lebih
cantik.
Dikaitkan dengan Hari Kartini, setelah 100 tahun kepergian Kartini,
tantangan apa yang dihadapi saat ini?
Antara lain seperti itu tadi, juga dari perempuan sendiri. Apalagi yang
namanya ibu nyai. Mereka menganggap yang benar seperti itu, boleh
dimadu, boleh diperlakukan sebagai orang kedua (the other-Red).
Resistensi justru datang dari para perempuan sendiri yang sejak lahir
sudah dicekoki dengan pandangan bahwa diskriminasi sebagai sesuatu yang
terberi. Misalnya, akikah untuk anak laki-laki adalah dua kambing
sedangkan anak perempuan satu kambing. Apa dengan begitu artinya
perempuan sama dengan setengah kambing dan laki-laki satu kambing?
KETIKA Reformasi bergulir pada tahun 1998, Sinta Nuriyah bersama
sejumlah perempuan bergabung dalam Forum Seruan Perempuan untuk
Perdamaian. Salah satu kegiatan forum ini adalah berdemonstrasi setiap
Jumat menolak kekerasan yang terjadi di berbagai tempat. Tahun 1999 dia
menggelar forum Mendengar Perempuan Bicara yang memberi ruang kepada
korban kerusuhan Mei 1998 memaparkan pengalaman mereka. Untuk semua
kegiatannya itu, Sinta Nuriyah mendapat penghargaan khusus dari
Pemerintah Jepang pada bulan Desember 2000.
Apakah masih aktif dalam gerakan untuk perdamaian?
Tidak lagi. Kegiatan yang masih saya jalani setiap bulan puasa adalah
sahur keliling. Sekarang tidak hanya di Jawa, tetapi juga di
Banjarmasin, Bali, Lombok. Itu ternyata menarik minat orang. Saat itu
saya jadikan ajang forum kerukunan antarumat beragama. Kepanitiaannya
perwakilan dari semua agama.
Pernah ada rasa capai mendampingi Gus Dur yang sekarang bahkan aktif
sekali dalam dunia politik?
Ya saya ikuti, santai-santai saja. Politik kan tidak boleh diikuti
dengan tegang. Patah nanti… jadi dengan santai…
Orang melihat Gus Dur kadang emosional dalam berbicara. Di rumah
bagaimana?
Kadang-kadang suka terbawa. Kalau sudah begitu jangan dekat-dekat…
menyapanya dengan yang lembut-lembut yang tidak ada sangkut pautnya
dengan itu semua.
Mesti banyak sabar?
Oh iya, berlipat-lipat.
Dalam tulisan di berbagai media, Gus Dur menyebut mengagumi dan
menghormati Anda?
Masak sih? Ya, rumah tangga, apalagi bila sudah ada anak-anak, kalau
sampai terjadi clash atau kepatahan dalam rumah tangga, yang jadi korban
bukan hanya suami dan istri, tetapi juga anak-anak. Jadi, bukan karena
saya perempuan lalu harus mengalah, tetapi mengalah untuk membangun
rumah tangga yang baik, menjaga kelangsungan rumah tangga.
Buat kebanyakan perempuan mengalah itu diartikan diapakan saja manut?
Untuk saya, dia bicara apa saja saya dengarkan, saya ingat-ingat, enggak
usah dijawab, enggak usah dibantah. Nanti suatu saat kalau ada apa, saya
bilang dulu kan omong begini-begini… Nah, enggak bisa bantah kan? Jadi,
enggak usah dibantah dulu.
Sepanjang pengalaman saya rasanya laki-laki itu memang enggak mau
dijawab (ditimpali), apalagi dibantah.... Mungkin itu sifat laki-laki.
Kalau begitu kita kan harus punya strategi. Saya catat saja omongan dia
dalam hati, nanti suatu saat kita lempar balik.
Dengan cara itu pernikahan jadi langgeng?
Insya Allah, September tahun ini akan 34 tahun. Dulu memang sebagai
orang muda, darah muda, kalau suami omong rasanya ingin marah. Tetapi,
saya menyadari perempuan itu kalau sudah omong (berselisih dengan suami)
pasti sambil nangis. Kalau sudah begitu enggak bisa semua keluar kan?
Untuk menghindari itu, semua unek-unek saya tulis, lalu saya taruh di
tumpukan baju Bapak paling atas. Nanti kalau datang ambil baju, dia
lihat ada surat. Itu untuk menghindari konfrontasi yang hebat tetapi
unek-unek kita enggak sampai. Alhamdulillah, efektif. Nanti dia
menjelaskan begini, begini. Kan dia membacanya sudah dengan kepala
dingin. Ya begitulah perempuan memang harus punya strategi jitu.
Gus Dur romantis?
Kadang, kalau ingat, he-he-he. Kalau ingat, mau pergi cium mata saya.
Kalau lagi enggak ingat, aduhhh… pamit saja enggak… Itu dari dulu,
paling enggak sejak jadi Ketua PB NU. Kalau waktu pertama kali menikah
ya tidak.
Gus Dur berbeda dari kebanyakan laki-laki di pesantren. Gus Dur mau
mengganti popok anak-anaknya?
Waktu melahirkan anak kedua, kami sudah di rumah sendiri. Kalau malam
bayi nangis dia mengganti popoknya. Bayinya diangkat, dikasih ke saya,
saya tinggal menyusui. Kalau bayinya sudah tidur, Bapak yang mengangkat
lagi si bayi, dipindahkan ke boks.
Itu karena kemauan sendiri?
Iya, kesadaran sendiri. Saat awal-awal berumah tangga, kalau tidak ada
pembantu, Bapak bantu-bantu pekerjaan rumah yang ada unsur airnya karena
Bapak gemuk. Jadi, Bapak mencuci, saya menyetrika. Kalau saya masak,
Bapak yang cuci piring. Saya yang menyapu, dia mengepel. Tetapi, di
kalangan pesantren itu dinilai merendahkan martabat laki-laki.
Kenapa Gus Dur mau?
Itu kesadarannya sendiri. Sekolahnya kan di luar negeri. Di sana semua
pekerjaan rumah tangga dikerjakan laki-laki.
Di Indonesia saja semua ajaran agama salah dipahami. Semua urusan rumah
tangga, urusan anak, suami, mengatur rumah, mencuci, menjadi kewajiban
istri. Kalau tidak dilakukan akan dosa dan masuk neraka, iya kan?
Padahal di Arab, justru laki-laki yang melakukan, enggak ada perempuan
bekerja. Itu budaya saja. Perempuan di sana seperti ratu lebah, hanya
beranak.
Kalau begitu, Gus Dur bisa disebut feminis?
Saya rasa bisa. Itu saya rasa karena pengaruh keluarga. Keluarga Bapak
kan ditinggal ayahnya pada waktu anak-anak masih kecil. Jadi, mereka
melihat figur ibu sebagai orangtua tunggal di mana ibu itu melakukan
segala-galanya. Saya kira itu juga sangat berpengaruh.
Dalam pernikahan ada pasang-surut, termasuk ketika ada kasus Aryanti
(2000)?
Yang saya lihat, ya enggak. Sudah enggak bisa dipercaya (berita itu).
Sudah mudah terlihat kebohongannya (kabar itu). Kok, seleranya seperti
itu?
Sempat tanya kepada Gus Dur?
Ya enggak, wong sudah mudah terlihat enggak benar (berita itu). Wong
datang ke Kantor PB NU ya hanya sekali, kok langsung begitu.
Bagaimana bila Anda disebut feminis?
Asalkan feminis itu tidak dilihat seperti yang di Barat. Bila ada yang
tanya selalu saya tekankan, apakah penggunaan istilah feminis itu
berarti jalan pikiran Anda mengarah ke Barat. Di sana, feminisme itu
perjuangan untuk fight dengan laki-laki, berebut kekuasaan. Di sini
adalah kesetaraan, laki-laki adalah mitra sejajar perempuan, bukan
saling mengalahkan, memperebutkan. Bersama-sama membangun bangsa, rumah
tangga. Dan itu memang yang dianjurkan agama.
Pilihan belajar kajian wanita di Universitas Indonesia karena sadar ada
ketimpangan di masyarakat?
Saya tidak sengaja masuk Program Kajian Wanita. Tetapi, karena waktu itu
yang masih membuka pendaftaran jurusan itu, ya saya coba saja. Jadi, itu
kebetulan. Saya rasa itu dituntun Tuhan.
Kunci (kesetaraan) menurut saya adalah pendidikan. Perempuan dengan
pendidikan tinggi akan meminimalisir kekerasan terhadap dirinya karena
tahu hak-haknya, kewajibannya. Kalau mengalami kekerasan dia tahu
bagaimana membela dirinya apakah di rumah tangga, di tempat kerja, atau
karena tafsir agama.
Saya sering bilang kepada perempuan jangan menikah dengan orang yang
kamu cintai, tetapi dengan orang yang mencintai dirimu karena akan
di-eman-eman (disayang).
Berdasarkan pengalaman sendiri?
Saya kira…
Kalau anak-anak yang tiga orang nanti akan menikah, apa akan disaring
dulu calon suami mereka? Harus punya pemahaman jender yang baik?
Selama dia orang baik, bertanggung jawab. Pokoknya saya hanya
mengatakan, saya tidak ingin dia menyakiti hati anak saya. Itu saja. Itu
artinya banyak, kan? (Kompas,
Minggu, 08 Mei 2005, Pewawancara:
Sarie Febriane dan
Ninuk Mardiana Pambudy) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|