A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Mabes TNI
 ► Mabes Polri
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
  B E R A N D A
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 27012006  
   
  ► e-ti/ht  
  Nama:
Drs. Setia Simangunsong, MM
Lahir:
Balige, 11 Oktober 1949
Jabatan:
Direktur Standarisasi dan Akreditasi, Departemen Kelautan dan Perikanan RI
Alamat Kantor:
Departemen Kelautan dan Perikanan RI
Jalan Medan Merdeka Timur No. 16, Lt. 17
Jakarta 10110
Telp. (021) 351.9070, Ext. 8700, Faks. (021) 350.0149
E-mail: mutu@indosat.net.id

Alamat Rumah:
Jalan Kepala Hijau IX Blok Q2 No. 14, Billy Moon, Pondok Kelapa, Jakarta Timur
Telp. (021) 864.2905, Email: setiamm@yahoo.com
 
     
 
BIOGRAFI

 

BIOGRAFI:   01  02  03  04   05  06  07  08  09  =

 

Setia Mangunsong (02)

Pernah Gagal Karena “Sesuatu”

 

Dahulu, setamat SMA tahun 1969 Setia Mangunsong pernah mencoba masuk Akabri bagian Kepolisian namun kalah. Seandainya saja setelah itu ia bersedia mengikuti saran mantan penguji, untuk mau mengulang kembali testing masuk Akabri di tahun berikutnya (1970), setelah pada kesempatan pertama (1969) dinyatakan tidak lulus, mungkin ia menjadi tak memiliki kesempatan untuk mendesain, merancang, hingga melahirkan sebuah konsep terpadu tentang sistem manajemen mutu pengolahan hasil perikanan.

Atau, kalaupun menerima saran si penguji dan masuk Akabri, maka, paling tidak pemilik postur tubuh tinggi tegap dan atletis, yang rajin berolahraga sepeda setiap pagi hari mengelilingi komplek rumah tinggalnya di bilangan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, mungkin akan lulus seangkatan dengan Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY, kini Presiden RI), Jenderal Polisi Sutanto (Kepala Polri), Laksamana Slamet Soebijanto (Kepala Staf TNI Angkatan Laut), dan Marsekal TNI Djoko Soeyanto (Kepala Staf TNI Angkatan Udara, yang kemudian terpilih menjadi Panglima TNI). Keempat petinggi negara ini adalah lulusan Akabri tahun 1973, masuknya sama-sama tahun 1970.

Cerita tentang hal ini memang menarik, dimulai ketika ia yang, bisa-bisanya, bertemu kembali dengan mantan penguji saat berkunjung ke Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia, ketika itu hendak meminta kembali berkas-berkas lamaran, setelah pada Januari 1969 dinyatakan tak lulus testing Akabri Bagian Kepolisian. Pemuda perantauan ini memang berjiwa idealis, sehingga dadanya terasa sangat sesak sekali tatkala dinyatakan tak lulus masuk. Ia lalu bermaksud menggunakan kembali berkas-berkasnya untuk mendaftar ke Akademi Usaha Perikanan (sebuah akademi kedinasan milik Departemen Pertanian, yang kini berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta).

Petugas yang melayaninya di Mabes ternyata adalah mantan penguji di Sukabumi. Kepada Setia, penguji itu memberikan saran agar mencoba lagi ikut testing tahun depan, dan masuk dari wilayah DKI Jakarta, pasti akan diterima. Karena, kata penguji lagi, ketidaklulusan pria yang rajin memelihara kerapihan kumis ini hanya karena psikotes saja.

Benar tidaknya janji tentang tahun depan, ia sesungguhnya sangat mengetahui betul dirinya dinyatakan tidak lulus hanyalah karena “sesuatu”. Seorang instruktur sudah mengadakan dialog dengannya, di hari terakhir testing tepatnya pada malam Pengujian Tahap Akhir (Pantaphir), sebelum esok diumumkan nama-nama siswa yang lulus dan berhak mengikuti pendidikan lanjutan Akabri Bagian Kepolisian.

Setia sempat ditanya apakah kedatangannya ke Sukabumi diberangkatkan keluarga. Mulanya dijawab “Iya, tentu, diberangkatkan keluarga”. Lama termenung barulah ia mengerti maksud pertanyaan adalah, apakah diberangkatkan dengan “sesuatu”. Dengan polos pemuda pandai asal Desa Lumban Bul-Bul, Balige, yang berangkat dari Belawan menuju Tanjung Priok pada 30 Desember 1969 menaiki kapal Airud 513, sehingga harus melewati malam tahun baru di atas kapal, ini kontan berkata tidak.”Saya bilang, saya dengar kalau masuk ke sini kan nggak perlu ‘itu’.”

Anak petani yang cerdas dan selalu tampil sebagai juara sekolah sepanjang SD, SMP, SMA, dan semuanya diselesaikan dengan tepat waktu di Balige, ini tertarik masuk Akabri karena merupakan ikatan dinas di mana biaya sekolah selama pendidikan ditanggung penuh oleh pemerintah. (ti/ht)

Jenjang Karir Seorang Birokrat Sejati


Setia Mangunsong selama 14 tahun (antara tahun 1985-1998) berkutat sebagai Kepala Seksi, dipercaya memegang sejumlah jabatan penting terutama yang bersentuhan dengan pengawasan mutu. Hanya setahun pernah ditugaskan di luar pengawasan mutu, yakni antara 1996-1997 sebagai Kepala Seksi Data Perizinan Usaha Perikanan, dan berhasil menorehkan jejak sukses berupa sistem inspeksi langsung terhadap setiap kapal perikanan.

Mungkin, karena sudah terlalu lama menjabat sebagai Kepala Seksi, ketika “dipulangkan” ke habitat asli di bidang pengawasan mutu tahun 1997, ia sekaligus mendapatkan promosi pangkat dan jabatan. Sejak 1998 hingga Maret 2001 ia adalah Kepala Sub Direktorat Pengolahan Hasil, pada Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil. Tugas utamanya mencakup sertifikasi dan standarisasi bidang perikanan.

Ia terus saja berprestasi hingga akhirnya sejak bulan Maret 2001 berkesempatan menjadi pejabat eselon dua, dipromosikan menjadi Direktur Mutu dan Pengolahan Hasil, pada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi pada Agustus 2005 melakukan reorganisasi terbaru di lingkungan Departemen Perikanan dan Kelautan, dengan memekarkan Direktorat Mutu dan Pengolahan menjadi dua direktorat. Pertama, Direktorat Standarisasi dan Akreditasi, yang dipimpin oleh Setia Mangunsong, dan kedua Direktorat Pengolahan dan Pemasaran. Keduanya di bawah naungan Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil-Hasil Perikanan (P2HP).

Direktorat Standarisasi dan Akreditasi tampak sudah semakin lebih menukik untuk mengarah kepada spesialisasi tugas di bidang pengawasan mutu. Dengan demikian, sudah lebih dari lima tahun Setia Mangunsong menjadi pejabat eselon dua, memegang posisi sebagai Direktur di dua pos berbeda namun tetap di bidang sama yaitu pengawasan mutu.

Sebagai insan perikanan Setia Mangunsong sangat obsesif Indonesia bisa menghasilkan produk perikanan berkualitas prima agar bisa bersaing di pasar internasional, yang produknya bisa ditemukan di mana-mana. (Baca Visi Misi Setia Mangunsong: OBSESI: PRODUK PERIKANAN BERKUALITAS PRIMA).

Cara untuk mencapai produk perikanan Indonesia yang berkualitas prima sesungguhnya sederhana dan mudah. Yakni, melakukan sejumlah perubahan dalam bentuk pembenahan mulai dari skala kecil hingga besar, pembelian ikan dalam skala kecil hingga besar, pengolahan ikan dalam skala kecil hingga besar, sampai kepada pengolahan ikan dalam skala kecil hingga besar.

Satu mata rantai yang bisa mengikat keseluruhan perubahan itu adalah perbaikan mutu perikanan dengan menerapkan secara disiplin Sistem Manajemen Mutu Terpadu Pengolahan Hasil Perikanan. Terdapat tiga jaminan yang merupakan kata kunci di dalamnya, yaitu Quality Management System (sistem jaminan manajemen mutu), Food Safety System (sistem jaminan keamanan pangan), dan Traceasebility System (sistem jaminan ketertelusuran seluruh produk perikanan).

Banyak dampak positif yang bisa kita raih jika mampu membangun industri perikanan nasional yang tangguh dengan melakukan perbaikan di sisi pengawasan mutu. (Baca Eksklusif Wawancara Setia Mangunsong: PERBAIKAN MUTU, KUNCI SUKSES PERIKANAN DI PASAR GLOBAL).

Jika semua orang mengetahui bahwa di suatu tempat mutu perikanannya dikenal bagus, bikin sehat, tidak terlalu mahal, harga bersaing, tentu mereka akan mencari ke tempat yang bernama Indonesia itu. "Jadi, itu juga bisa meningkatkan pendapatan masyarakat perikanan, nelayan, pembudidaya, pengolah, meningkatkan devisa hingga menyerap banyak tenaga kerja. Itu, dari sisi mutu saja bisa diraih," kata Setia Mangunsong.  ►mti/ht


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)