| |
C © updated 01092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/wes |
|
| |
Biodata:
Nama:
Drs HN Serta Ginting
Lahir:
Desa Munte, Tanah Karo, Sumut, 28 Maret 1947
Agama:
Islam
Jabatan:
- Anggota DPR (Komisi IX)
- Anggota Panitia Anggaran DPR
Isteri:
Hj. Zainar Harahap, BSc.
Anak:
- Drs Iman Swadiri Ginting
- Irma Julita Ginting
- Indra Batara Ginting
- Sri Ayona Ginting, SE
- Akp. Ramon Zamora Ginting
Pendidikan:
- SR Tanah Karo
- SMP Negeri Tanah Karo
- SMEA Negeri Rantauprapat
- Sarjana Ekonomi (S1) Universitas Amir Hamzah Medan
Karier:
- Karyawan PTP Nusantara III Medan, 1969 - 1999
- Anggota DPRD Tkt II Kab. Labuhan Batu (1971-1987)
- Anggota DPRD Tkt I Prov. Sumatra Utara (1997-1999)
- Wakil Ketua DPRD Tkt I Prov. Sumatera Utara (1999-2004)
Anggota Partai:
Partai Golongan Karya
Daerah Pemilihan Sumatera Utara I (Medan, Tebing Tinggi, Kab. Deli
Serdang, Kab, Serdang Bedagai)
Pengalaman Perjuangan:
- Ketua Periodik Komando Aksi Pemuda Pengganyangan G 30 S PKI
Pengalaman Organisasi:
- Ketua KNPI Kab. Labuhan Batu (1973-1979)
- Ketua DEPICAB SOKSI Labuhan Batu (1997-1987)
- Wakil Ketua KNPI Provinsi Sumatera Utara (1979-1982)
- Wakil Ketua DPD Golkar Labuhan Batu (1977-1987)
- Ketua KONI Kab. Labuhan Batu (1979-1984)
- Wakil Ketua DPD Partai Golkar Prov. Sumatera Utara (2002-2006)
- Ketua Pembina Pemuda Panca Marga Prov. Sumatera Utara
- Ketua DEPIDAR SOKSI Prov.Sumatera Utara (2002-2006)
- Ketua DEPINAS SOKSI (2005-sekarang)
- Ketua AMPG (Angkatan Muda Partai Golkar) Prov. Sumut (2002-2004)
- Anggota Departemen Pendidikan dan Ristek, DPP Partai Golkar
Penghargaaan:
- Piagam penghargaan dari Veteran RI
- Piagam Perjuangan dari Forum Exponen 66, Sumatera Utara
- Penghargaan masa kerja 25 tahun dari PTP Nusantara III
- Penghargaan masa kerja 30 tahun dari PTP Nusantara III
Seminar/Pelatihan:
- Diskusi Publik tentang “Demokratisasi & Globalisasi Pendidikan
Nasional” yang diselenggarakan oleh DPP Partai Golkar, 17 April 2006 (sertifikat)
- Seminar Nasional “Penataan Sistem Agribisnis untuk Meningkatkan
Pendapatan Nasional”, Fak. Ekonomi dan Fakultas Pertanian Univ. Amir
Hamzah Medan, Medan, 28 Agustus 2004 (sertifikat)
- Seminar Sehari “Pengentasan Kemiskinan Daerah Tertinggal di Sumatera
Utara”, Medan, 18 Nopember 1993
- Seminar Nasional “Penataan Sistem Agribisnis untuk Meningkatkan
Pendapatan Nasional”, Fak. Ekonomi dan Fakultas Pertanian Univ. Amir
Hamzah Medan, Medan, 28 Agustus 2004 (sertifikat)
- Seminar Sehari “Pengentasan Kemiskinan Daerah Tertinggal di Sumatera
Utara”, Medan, 18 Nopember 1993
- Seminar Sehari “Menciptakan Peluang Kerja Melalui Proyek Mandiri Usaha
Kecil dan Menengah (UKM), Generasi Muda Islam Karo, Medan, 27 Oktober
2001
- Pekan Orientasi (up-grading) anggota DPRD Tk II dari Golkar ABRI dan
Non ABRI Sumatera Utara oleh Staf Kekaryaan Daerah-B (Skarda –B) 13 s/d
23 Desember 1971 (sertifikat)
- Pelatihan PMT/GKM Tingkat Fasilitator PT Perkebunan III, Kanwil
Depnaker Prov. Sumut, Medan, 26 April s/d 1 Mei 1993 (sertifikat)
- Pelatihan Instruktur Perkaderan Partai Golkar, Jakarta, 11 -12 Juli
2005 (sertifikat)
- Perkemahan Antar Satuan Karya Tingkat Nasional, 1 s/d 10 Juli, dalam
rangka Pra Comdeca, The 1st World Community Development Camp 1993 di
Lebakharjo, Malang tahun 1993 (sertifikat)
- Appresiasi Kehumasan PT Perkebunan, Jakarta 27-28 September ; Bandung
29 – 30 September 1993 (sertifikat)
- Diklat Juru Kampanye Daerah Tkt I Golongan Karya Sumatera Utara, Medan
2 Maret 1997 (sertifikat)
Penghargaaan:
- Piagam penghargaan dari Veteran RI
- Piagam Perjuangan dari Forum Exponen 66, Sumatera Utara
- Penghargaan masa kerja 25 tahun dari PTP Nusantara III
- Penghargaan masa kerja 30 tahun dari PTP Nusantara III
Hobi/Olah Raga:
- Tenis Lapangan
- OR Beladiri Tangan Kosong (TAKO)
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04 WAWANCARA:
05
=
PERSPEKTIF:
06
07
=
Drs H Serta Ginting (01)
Vokal, Namun Hargai Orang Lain
Dia anggota DPR yang tergolong vokal. Kritiknya terkadang sangat tajam,
menyengat, sehingga memerahkan kuping para menteri dan pejabat yang
menjadi mitra kerja Komisi IX DPR RI (Kependudukan, Kesehatan, Tenaga
Kerja dan Transmigrasi). Tapi seperti diakuinya, semua itu dilakukan
dengan tulus.
Semata-mata dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan
pelaksanaan pembangunan. Sama sekali tidak ada niatnya untuk
menjelek-jelekkan apalagi untuk menjatuhkan nama baik seseorang.
Saya hanya mengkritik kebijakan, bukan menyerang pribadi atau individu,”
tandas Drs H Serta Ginting dengan gaya Medannya yang khas, saat
diwawancarai Tokoh Indonesia di Gedung DPR beberapa waktu lalu.
Serta Ginting, mantan Ketua Federasi Serikat Pekerja Perkebunan
(SP-BUN), ini mengakui bahwa sikap kritisnya itu sudah merupakan
pembawaan lahir. Kapan pun dan di mana pun, terlebih dalam kapasitasnya
sebagai wakil rakyat, sikap kritisnya akan muncul secara spontan.
Anggota DPR dari daerah Pemilihan Sumut I (Kota Medan, Kota Tebing
Tinggi, Kabupaten Deli Serdang dan Serdang Bedagai) ini akan gerah
setiap kali melihat sesuatu yang menurutnya kurang tepat. Terutama yang
menyangkut program pembangunan, kebijakan, atau implementasinya di
lapangan.
Ini misalnya terlihat ketika pemerintah memutuskan untuk menyalurkan
paket bantuan kompensasi BBM kepada masyarakat miskin beberapa waktu
lalu. Ketidaksetujuannya terhadap program ini langsung diungkapkan lewat
pers dengan argumentasi yang cukup meyakinkan.
Menurut Serta Ginting, masyarakat kita pada dasarnya adalah pekerja
keras. Karena itu, pemerintah harus menjaga agar etos kerja keras ini
jangan sampai rusak akibat kebijakan pemerintah sendiri. Pemberian
paket-paket bantuan, terlebih berupa uang, misalnya berupa dana
kompensasi BBM justru kontraproduktif dan akan memanjakan masyarakat.
Tidak merangsang masyarakat untuk bekerja keras (beretos kerja tinggi).
Ia mengingatkan bahwa dana tersebut diperoleh dari hasil kenaikan harga
BBM. Sementara kebijakan ini (pengurangan subsidi/menaikkan harga BBM)
telah membangkrutkan banyak perusahaan, sehingga mendorong PHK. Karena
itu, Ginting berpendapat bahwa dana yang berjumlah triliunan rupiah
tersebut semestinya dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja baru.
Misalnya, untuk mengembangkan perkebunan sawit dalam skala besar-besaran
di daerah-derah. Dengan demikian, selain dimanfaatkan untuk usaha
produktif, upaya ini sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang
signifikan.
Demikian pula ketika Serta Ginting mengkritisi prosedur pengiriman
tenaga kerja ke luar negeri yang menurutnya masih berbelit-belit. Ia
mengecam penanganan sejumlah kasus tenaga kerja yang masih sangat lamban.
Termasuk ribut-ribut di seputar draft amandemen UU Ketenagakerjaan,
hasil godokan pemerintah, yang menurutnya sebagai akibat dari kelambanan
pemerintah sendiri. Ia bahkan pernah menyebut cara kerja Departemen
Kesehatan ala pemadam kebakaran. Fenomena busung lapar beberapa waktu
lalu sudah mewabah, tapi dengan mudahnya Menteri Kesehatan
mengalokasikan dana untuk pembangunan prasarana dan sarana fisik,
tudingnya seperti dikutip oleh pers ibukota beberapa waktu lalu.
Serta Ginting memang tipe manusia yang tegas dan lugas. Ia tidak bisa
berindah-indah kata. Apa yang diyakininya kurang tepat, sikap
penolakannya terlontar begitu saja.
Namun, terlepas dari sikap kritisnya itu, Serta Ginting tetaplah pribadi
yang hangat dan menyenangkan. Mantan wakil ketua DPRD Tk I Sumut itu
juga dikenal humoris, humanis, rendah hati, terbuka, merakyat serta jauh
dari sikap feodal. Siapa pun teman bicaranya, humor-humor segar akan
terlontar secara spontan, menghangatkan suasana. Keterbukaan dan sense
of humor-nya itu menjadi salah satu daya tarik Bang Ginting, panggilan
akrabnya, di mata orang lain.
Merakyat dan Membumi
Ia selalu ingat akan wejangan sang ayah: Jangan sombong! Dan itu memang
dipraktekkannya dalam keseharian. Ia tetap ramah dan bergaul dengan
siapa saja, mulai kalangan pejabat hingga rakyat biasa. Bercanda atau
menepuk-nepuk bahu sopir waktu ia masih aktif di PT Perkebunan Nusantara
III, baginya bukanlah perbuatan tabu. Walau sikap kerakyatan ini
ternyata kurang bisa diterima kultur perkebunan yang waktu itu masih
sangat feodal.
Ia pernah diperingatkan pimpinannya bahwa sikapnya itu sudah melanggar
norma yang berlaku. Ibarat di kemiliteran, dia dinilai sebagai perwira
yang tidak mampu menjaga wibawa. Tapi Ginting tidak peduli. Ia tetaplah
sosok Ginting yang merakyat dan membumi. Dan pembangkangan terselubung
ini harus dia bayar dengan mahal. Kenaikan pangkatnya untuk menjadi staf,
selama bertugas di Rantauprapat, sempat tersendat.
“Setelah satu periode keanggotaan saya di DPRD, seharusnya saya sudah
bisa jadi staf,” ujarnya mengenang. Hampir saja ia mengundurkan diri.
Tapi sekitar tahun 1987, direksi yang baru menyadari bahwa Serta Ginting
termasuk tipe yang sangat dibutuhkan perusahaan. Ia pun langsung ditarik
ke kantor direksi dan dipercayakan sebagai humas.
Waktu itu, pengembangan perkebunan dengan Pola PIR tengah
gencar-gencarnya dilakukan oleh BUMN Perkebunan termasuk oleh PTP III.
Serta Ginting menunjukkan kelasnya sebagai jago lobi, khususnya dalam
urusan hubungan kelembagaan, koordinasi dengan instansi terkait, masalah
pertanahan, dan sebagainya.
Serta Ginting cukup lama bertugas sebagai Humas di perusahaan negara itu
sambil merangkap sebagai anggota DPRD. Bahkan pada periode 1999-2004,
Ginting menjadi Wakil Ketua DPRD Tkt I Provinsi Sumatera Utara. Di
sinilah salah satu keunikan perjalanan karier Serta Ginting. Sebagai
karyawan, ia memang tidak apa-apa dibanding anggota direksi. Ibarat di
ketentaraan, ia hanyalah seorang perwira berpangkat kapten yang harus
berhadapan dengan para jenderal berbintang dua,tiga dan empat. Tapi
sebagai anggota dewan, ia memiliki kapasitas untuk memanggil dan meminta
keterangan dari direksi. Termasuk saat menjadi anggota DPRD Tkt II
Kabupaten Labuhan Batu, di mana sejumlah unit usaha PTP III berada.
Namun, direksi sering kurang bisa memahami kedudukan masing-masing.
“Biar pun sudah di gedung DPRD, mereka masih merasa bahwa saya adalah
anak buah mereka,” katanya. Namun, ia tetap konsisten dengan posisinya
sebagai anggota dewan yang harus membela kepentingan rakyat.
Di DPR, selain angggota Komisi IX, Ginting juga termasuk anggota Panitia
Anggaran DPR. Panitia yang tugas utamanya mencermati dan mengkritisi
angka-angka APBN. Merupakan lembaga prestisius dan sering dikonotasikan
sebagai tempat basah.
Tapi Ginting, alumnus Universitas Amir Hamzah Medan, itu hanya merendah.
“Manusia macam saya ikut menghitung-hitung anggaran negara yang
berjumlah ratusan triliun rupiah? Merupakan karunia dan sama sekali tak
pernah terbayang di benak saya,“ ujarnya. Tentang istilah “basah” yang
diarahkan ke panitia ini, ia hanya terkekeh. “Kita wajar-wajar sajalah,”
katanya seraya mengingatkan bahwa sebagian besar masyarakat kita tengah
dilanda kesusahan.
Pernyataan ini paling tidak meneguhkan prinsipnya untuk tetap berada di
jalan yang lurus. Ia begitu mensyukuri apa yang telah diperolehnya
selama ini. Sebagai seorang anggota dewan, ayah dari lima anak dan 11
cucu ini secara ekonomis sudah cukup mapan. Semua anak-anaknya (3 putra
dan 2 putri) sudah berkeluarga dan mandiri. Dua putranya memilih jadi
wiraswasta, sementara putra paling bungsu perwira menjadi polisi (lulusan
Akpol), kini bertugas di Bengkulu.
Dengan sukses anak-anaknya itu, plus karier politiknya yang terus
berkibar, serta karakternya yang periang, tidak mengherankan Bang
Ginting tampak 10 tahun lebih muda dari usianya yang sebenarnya, sudah
60 tahun.
Betul-Betul dari Bawah
Ginting mungkin sudah ditakdirkan untuk menghabiskan sebagian besar usia
produktifnya menjadi wakil rakyat. Masa pengabdiannya di bidang ini
sejak anggota DPRD Kabupaten Labuhan Batu hingga anggota DPR, sudah
sekitar 22 tahun. Ia benar-benar menapak karier dari bawah. Karena
seperti diakuinya sendiri, dia tak memiliki siapa-siapa, misalnya
keluarga, yang bisa mengatrol atau mengarahkan perjalanan kariernya.
Tanah kelahirannya, Desa Munte, sebuah desa yang waktu itu dijadikan
sebagai tempat pengungsian penduduk, terkait dengan revolusi fisik di
negeri ini. Desa itu sangat terpencil, sekitar 50 kilometer dari
Kabanjahe, ibukota Kabupaten Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara. Desa
itu tak ada lagi di peta bumi karena memang sudah dihapuskan. Kalau
Kecamatan Munte masih ada sampai sekarang.
Kariernya benar-benar dimulai dari nol. Ayahnya hanyalah seorang kepala
Sekolah Rakyat dan ibunya jadi pedagang kue di kampungnya. Pada masa
kanak-kanaknya, di tahun 50-an, Ginting kecil lebih banyak bermain-main,
cenderung santai. Maklum, selain orang tuanya kepala SR (jabatan yang
cukup disegani waktu itu), ia juga merupakan paling bungsu dari enam
bersaudara.
Namun, sifat kepemimpinannya waktu itu mulai terlihat. Dialah yang
selalu jadi pemimpin di antara kawan-kawannya. Tempat bertanya, ke mana
mereka akan bermain.
Sebagai bungsu, di tengah keluarga ia seorang anak yang dimanjakan. Tapi
kemanjaan itu hanya terlihat pada masa kanak-kanak. Mendekati masa
remaja, Serta Ginting berubah total. Selepas SMP di Kabanjahe, ia sudah
mencoba merantau ke luar daerah. Penyebabnya, seperti diakuinya sendiri,
setelah berkelahi dengan anak-anak di kampungnya. Untuk menghindari
perkelahian yang lebih parah, ia memilih minggat untuk sementara,
setelah itu kembali lagi ke kampung. Tapi perantauan di usia yang masih
sangat muda itu justru mengasikkannya.
Pertama kali ia ke Prapat dan sempat mencoba-coba jadi kenek bus.
Setelah itu ke Rantauprapat. Sejarah kehidupannya mencatat bahwa justru
di kota inilah bintangnya bersinar dan mengantarkannya menjadi pahlawan
keluarga.
Menjelang meletusnya G-30-S/PKI, ia mencoba mewujudkan cita-cita yang
lama terpendam: menjadi tentara. Peluangnya untuk diterima waktu itu,
cukup besar. Mereka sudah memasuki tahap ujian akhir di Pematang Siantar.
“Kepala saya sudah dibotaki,” kenangnya.
Tapi tiba-tiba pemberontakan G-30-S/PKI meletus. Proses penyaringan
masuk tentara dibatalkan. Mereka dipulangkan ke daerah masing-masing.
Panggilan untuk mengikuti seleksi masuk ke tentara masih ia terima
beberapa tahun kemudian. Tapi tak mungkin lagi bisa dipenuhi karena
Serta Ginting sudah berkeluarga. Padahal, umurnya waktu itu baru sekitar
22 tahun.
Selanjutnya, ia berkecimpung di dunia keras. Ia menjadi jagoan terminal
bis, dan bioskop yang ada di Rantauprapat. Ia termasuk yang sangat
disegani. Pihak perkebunan, PTP III pun merekrutnya menjadi karyawan
dengan tugas utama sebagai centeng untuk mengamankan kebun dari para
pencuri TBS (Tandan Buah Segar) dan karet.
Pada masa itu, Serta Ginting juga aktif di berbagai organisasi
kepemudaan. Ketika KNPI terbentuk tahun 60-an, untuk Sumut, pembentukan
cabang pertama justru di Kabupaten Labuhan Batu, dengan Serta Ginting
sebagai ketuanya. Semula ia sempat ditantang tokoh pemuda setempat.
Alasan mereka karena Ginting bukan putra asli daerah tapi kok tiba-tiba
jadi ketua. Tapi akhirnya penolakan itu bisa diredam setelah Ginting
menunjukkan kemampuan dalam berorganisasi.
Ketika meletus pemberontakan G-30-S/PKI, ia terpilih menjadi salah satu
Ketua Periodik Komando Aksi Pemuda Pengganyangan G-30-S/PKI untuk
Kabupaten Labuhan Batu.
Sebelumnya, Ginting pun sudah aktif dalam pendirian dan organisasi SOKSI
tahun 1964 dan kemudian Sekber Golkar Kabupaten Labuhan Batu. Karena
aktivitasnya di organisasi dan ketokohannya di dunia organisasi pemuda
tersebut, ia terpilih menjadi anggota DPRD. Selama 16 tahun, 1971 –
1987, atau 3 periode, ia menjadi anggota DPRD Tk II Kabupaten Labuhan
Batu, merangkap sebagai karyawan PTP III. Suatu prestasi yang luar biasa
waktu itu. “Sangat jarang pemuda yang bisa menjadi anggota sampai tiga
periode,” ujar Ginting mengenang.
Tahun 1987, masih merangkap sebagai anggota DPRD Kabupaten Labuhan Batu,
Serta Ginting ditarik ke kantor direksi PTP III di Medan. Namun
Kabupaten ini sudah begitu melekat di hatinya karena sebagian besar
perjalanan hidupnya dihabiskan di daerah perkebunan itu.
Demikian juga sebaliknya, masyarakat Kabupaten Labuhan Batu menganggap
Ginting sebagai putra asli daerah. Ini misalnya terlihat saat pengajuan
nama calon untuk anggota DPRD Tk I Sumatera Utara, sekitar 1997. Ginting
didaulat mewakili daerah ini dan langsung ditempatkan di urutan nomor
satu. Calon lain berpangkat kolonel justru menduduki urutan nomor dua.
SOKSI dan Golkar
Di kantor direksi, Serta Ginting dipercayakan menangani kehumasan. Ia
merasa sangat cocok dengan tugas ini. Alasannya, naluri organisasi dan
politiknya tetap bisa tersalurkan. Ini membuka kesempatan luas baginya
untuk bergaul dengan berbagai kalangan mulai dari wartawan, pejabat,
tokoh masyarakat, hingga petani/pekebun dan sebagainya. Kegiatannya
dalam berorganisasi, khususnya di SOKSI dan Golkar juga bisa berjalan
secara simultan. Tak mengherankan, ketika masih menjabat humas
perusahaan, ruang kerjanya tak pernah sepi dari kunjungan tamu dari
berbagai latar belakang, khususnya dari kalangan ormas politik dan
organisasi kepemudaan.
Sejumlah jabatan dalam beberapa organisasi politik telah dijalaninya
antara lain sebagai Wakil Ketua KNPI, wakil ketua DPD Partai Golkar
Provinsi Sumatera Utara, Ketua Depidar SOKSI Sumatera, Ketua Federasi
Serikat Pekerja Perkebunan Seluruh Indonesia (1999 – 2004) dan Ketua
Depinas SOKSI (Bidang Ketenagakerjaan) sampai sekarang.
Sementara di lembaga legislatif, selain anggota Komisi IX DPR dan
anggota Panitia Anggaran DPR, Ginting juga termasuk Anggota Grup
Kerjasama Bilateral DPR-RI dengan Parlemen Belgia, anggota Pansus RUU
tentang PERPU No. 1 Thn 2005, Anggota Pansus RUU tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) dan anggota Pansus RUU tentang
Narkotika (lihat Biodata)
Dalam kancah politik, pertarungan alias rivalitas memang sering
mendebarkan. Tapi menurut Ginting, semuanya harus diterima dengan dada
lapang dan jiwa besar. “Menerima kekalahan dengan sportif justru
menunjukkan kelas kita sebagai politisi,” ujarnya. Ini misalnya
dibuktikan saat ia maju memperebutkan posisi kursi Ketua DPRD Tkt I
Sumatera Utara 2001 lalu.
Waktu itu kekalahannya cukup dramatis. Ia hanya tertinggal satu suara
dari calon PDIP yang kemudian terpilih menjadi ketua. Serta Ginting
meraih 40 suara sementara saingannya 41 suara. Namun demikian, ia tetap
berjiwa besar sekaligus memberikan contoh kedewasaan dalam berpolitik
dengan tetap menghargai hasil pemilihan yang sangat demokratis itu. Ia
juga menunjukkan kematangan politiknya dengan tetap menjalin kekompakan
dan kerjasama yang baik bersama seluruh unsur pimpinan DPRD Tkt I selama
periode 1999 -2004.
Sikap yang sama juga, ia tampilkan tatkala gagal dalam perebutan kursi
Wakil Gubernur Sumut untuk periode 2003-2008. Waktu itu, Ginting
berpasangan dengan mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumut. Namun,
pasangannya kalah oleh duet Rizal Nurdin-Rudolf Pardede.
Tapi, sebagai politikus yang sudah matang, ia tetap tegar menerima
kekalahan dan tetap menghargai keputusan masyarakat Sumut. Sebagai wakil
ketua DPRD Tkt I Sumut kala itu, ia tetap menjalin hubungan yang baik
dengan gubernur terpilih.
Kemudian, selesai masa bakti DPRD Tk I Sumatera Utara sekitar awal 2004,
ia pun didaulat oleh sejumlah kader Golkar Sumut untuk bertarung
memperebutkan salah satu kursi di Senayan. Akhirnya, ia memang terpilih
dan menjadi salah satu dari 6 utusan Partai Golkar Sumut. Ia mewakili
daerah pemilihan (Dapil) Kota Medan, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Deli
Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai.
Namun dengan merendah, ia mengakui bahwa keberhasilannya ke Senayan juga
berkat peran dan jasa Drs H Wahab Dalimunthe. Dalimunthe selaku Ketua
DPD Golkar Sumut memilih berkiprah sebagai Ketua DPRD Tkt I Provinsi
Sumut. Ia pun mendukung agar Serta Ginting lolos menjadi “Orang Senayan”.
Sukses dalam karier politik, diakuinya berkat doa seluruh anggota
keluarga dan sahabat-sahabatnya. Dari 6 orang bersaudara, hanya Ginting
yang berkiprah di bidang politik sekaligus mengangkat nama keluarga.
Pesan ayahnya yang tetap diingat sampai sekarang yakni: dalam perantauan,
carilah dulu ayah angkat, jangan pernah sombong dan jangan melawan
tentara. Urusan apa dengan tentara? Ternyata, sebelum menekuni profesi
sebagai guru, kepala SR, ayah Bang Ginting, ini pernah juga menjadi
anggota militer dengan pangkat terakhir sersan. Karena pesan itu juga
barangkali, ia mengaku risih menghadapi pasangan Rizal Nurdin-Rudolf
Pardede dalam perebutan kursi gubernur dan wakil gubernur Sumut beberapa
waktu lalu.
Seperti diakui sendiri, Serta Ginting memang tidak pernah berkelahi
dengan tentara. Justru sebaliknya yang terjadi, dia banyak memiliki
sahabat dari kalangan militer, baik saat bertugas di Labuhan Batu,
hingga sekarang. Setelah menjadi orang Jakarta pun, yang menjadi sentrum
kekuasaan dan politik republik tercinta ini, sebagian besar dari
sahabat-sahabatnya berasal dari kalangan militer.
Seni Berpolitik
Peluang untuk menggapai puncak karier, terlebih di bidang politik,
tidaklah mudah. Seperti yang lain, Serta Ginting pun telah melalui
persaingan yang ketat dan jalan berliku. Intrik, jegal-menjegal
merupakan hal lumrah dalam dunia politik. Artinya, tanpa kharisma yang
menonjol, seseorang akan mudah terpental.
Tapi di sinilah kelebihan Bang Ginting. Dengan sense of humor,
keramah-tamahannya, serta humanisnya, ia mampu merangkul kawan dan lawan
sekaligus. Inilah hakekat seni berpolitik dan Bang Ginting termasuk
seniman di bidang itu.
Sebagai pribadi yang rendah hati, terkadang Serta Ginting melihat
perjalanan hidupnya ibarat mimpi. Ia menggapai posisinya sekarang dengan
memulainya dari nol. Keluarga memang tidak ada yang bisa diharapkan.
Salah satu abangnya hanya pernah jadi kepala desa. “Ia menjabat sampai
26 tahun, sampai-sampai dia bosan sendiri,” ujar Ginting tersenyum.
Perjalanan hidup, suratan tangan memang terkadang sangat misterius. Dan
inilah yang dilakoni Serta Ginting. Walau merupakan anak paling bungsu,
justru dialah yang menjadi bintang dan pengangkat citra keluarganya. ►
mti-tumpal siburian
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|