| |
C © updated
26102004 -08102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kib |
|
| |
Biodata:
Nama:
Saifullah Yusuf
Lahir:
Pasuruan, 28 Agustus 1964
Agama:
Islam
Jabatan:
- Ketua Umum GP Ansor (2000-2005 dan 2005-2010)
Istri:
Umu Fatma
Anak:
- Selma Halida
- Falichudin Daffa
Rayhan Hibatullah
Ayah:
Yusuf Cholil
Ibu:
Sholichati Yusuf Hasbullah
Pendidikan:
- Madrasah Ibtidaiyah Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar,
Jombang, Jawa Timur (1978)
- Tsanawiyah (SMP) Mambaul Maarif Denanyar, Jombang, Jawa Timur (1981)
- SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan), di Jombang, Jawa Timur
(1985)
Fisip Unas Jakarta (tidak selesai)
Karir:
- Wartawan tabloid Detik (1994)
- Sekjen IPNU (1993-1996)
- Wakil Sekjen GP Ansor (1996-1998)
- Pejabat Sementara Ketua GP Ansor (1999-2000)
- Ketua Umum GP Ansor (2000-2005)
- Anggota DPR dari FPDI-P
- Ketua Harian/Sekjen PKB (2002-2004)
- Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kabinet
Indonesia Bersatu
Organisasi:
Ketua Umum Senat Fisip Unas
Ketua HMI Cabang Jakarta
Ketua PP IPNU (2 periode)
Wasekjen Ansor
Sekjen AMNU
Ketua Umum GP Ansor
Sekjen DPP PKB
Alamat Rumah:
Jalan Warung Sila 31, Ciganjur, Jakarta Selatan Telepon 78886313
HP 0818726738
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02 03 == Saifullah Yusuf
(01)
Simbol Hidupnya
Demokrasi di PKB
Dia terpilih kembali secara aklamasi menjabat Ketua Umum GP
Anshor periode 2005-2010 dalam Muktamar 3/4/2005 di Asrama Haji Pondok
Gede, Jakarta. Mantan Sekjen/Ketua
DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini memilih mendukung SBY-JK pada
Pemilu Presiden putaran kedua 2004. Pilihan itu telah mengantarkannya menjabat Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal Kabinet Indonesia Bersatu. Namun, pada Mei 2007 dia
digantikan Muhammad Lukman Edy. Kemudian, setelah
sempat terjadi perdebatan tentang keberadaan fungsionaris DPP PKB yang merangkap jabatan di Kabinet Indonesia
Bersatu, rapat pleno DPP PKB yang digelar Selasa malam 26 Oktober 2004,
memutuskan, Ketua Umum PKB Alwi Shihab (yang menjadi Menko Kesra KBI)
dan Ketua PKB Saifullah Yusuf diberhentikan dari jabatannya di PKB.
Sekretaris Dewan Syura DPP PKB Arifin Djunaedi yang memimpin rapat
menjelaskan, keputusan pemberhentian Alwi yang kini menjabat Menko Kesra
dan Saiful yang menduduki jabatan menteri negara percepatan pembangunan
daerah tertinggal sudah sesuai dengan AD/ART PKB, peraturan partai,
serta keputusan rapat gabungan Dewan Syura dan Dewan Tanfidz pada 21
September 2004.
Politisi muda ini tak mudah didikte oleh Gus Dur. Ia satu-satunya
“penentang terbuka” Gus Dur yang bisa bertahan di posisi strategis PKB.
Padahal, secara pribadi, Gus Dur itu selain sebagai paman juga guru
baginya. Tapi sebagai Sekjen PKB, prinsip dan sikap-tindaknya sering
berseberangan dengan Gus Dur yang membuatnya sempat terancam direposisi.
Ternyata, Ketua Umum GP Anshor ini sangat kuat. Ia kini telah menjadi
simbol kebebasan berpikir dan masih hidupnya demokrasi di PKB.
Ia kuat kerena didukung sejumlah kyai Nahdlatul Ulama, pendiri Partai
kebangkitan Bangsa (PKB). Keinginan Gus Dur, lewat keputusan Dewan Syuro
PKB mereposisi Saifullah dari jabatan Sekjen PKB ditentang para kiyai NU.
Para kyai itu menilai kesewenangan para petinggi PKB mereposisi
Saifullah merupakan puncak akumulasi “pembangkangan” PKB kepada para
kyai NU itu.
Para kiai NU sampai mengadakan tiga pertemuan untuk menyikapi berbagai
“pembangkangan” PKB kepada para kiyai pendiri partai itu, termasuk soal
reposisi Saifullah. Yakni, pertama tanggal 9 September di Lirboyo,
Kediri, Jawa Timur, kedua tanggal 14 September di Pati, Jawa Tengah, dan
pertemuan ketiga tanggal 19 September di Jember, Jawa Timur. Tiga kali
pertemuan itu melahirkan rekomendasi yang disampaikan kepada para kader
NU yang ada di PKB.
Akhirnya, keinginan Gur Dur untuk mereposisi Saifullah dari jabatan
Sekjen DPP PKB dimentahkan Rapat Pleno DPP dengan voting 18 suara
menolak reposisi dan 17 suara setuju reposisi. Saifullah Yusuf ternyata
sangat kuat. Ia satu-satunya “penentang” Gus Dur yang bisa bertahan di
posisi strategis PKB. Keputusan ini telah pula menyelamatkan PKB dari
dari dugaan telah matinya demokrasi di tubuh partai itu.
Nahdliyin kelahiran Pasuruan, Jatim, 28 Agustus 1964 ini menampakkan
sosok yang berbeda dengan beberapa fungsionaris Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB) lainnya yang selalu patuh kepada Gus Dur, selaku Ketua
Dewan Syuro DPP PKB. Suatu jabatan yang secara realitas tampak mempunyai
kekuasaan tertinggi di PKB.
Hembusan angin reposisi yang menerpa Saifullah bertiup semenjak Ketua
Umum GP Anshor ini dianggap terlalu banyak ‘berbuat dosa’ dan dinilai
berulangkali mengedepankan prinsip dan sikap yang berbeda dengan Gus Dur
dan para penurut setia mantan presiden itu di DPP PKB. Di antaranya,
sikapnya yang menolak rencana pendirian PKN (Partai Kebangkitan Nasional)
sebagai jalan keluar seandainya PKB pimpinan Gus Dur-Alwi kalah dalam
perseteruannya dengan PKB pimpinan Matori Abdul Djalil. Ia lebih memilih
rekonsiliasi daripada membentuk partai baru.
Perseteruan lain adalah soal keinginan Gus Dur memuktamarluarbiasakaan (MLB)
KH Hasyim Muzadi dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(PB NU) hanya karena adanya suara yang menyebut nama Hasyim Muzadi
sebagai calon presiden. Gus Ipul, panggilan Saifullah, menentang
keinginan Gus Dur ini. Apalagi Gus Ipul juga tak sepaham dengan
penetapan Gus Dur sebagai calon presiden tunggal PKB pada Mukernas lalu.
Perseteruan semakin tajam manakala Gus Dur menolak pencalonan Saifullah
untuk merebut jabatan gubemur Jawa Timur yang direkomendasikan beberapa
kiyai. Gus Dur malah mendukung A.M. Kahfi dan ternyata kalah.
Berbagai perbedaan prinsip ini, telah menggiring Saifullah pada posisi
“tersangka” melakukan berbagai pelanggaran termasuk diduga korupsi dalam
pembangunan kantor PKB. Dalam Rapat Pelno Dewan Syuro dan DPP PKB atas
prakarsa Gus Dur dibentuk Tim Tiga untuk mengusut kesalahan Saifullah.
Lalu, berdasarkan laporan Tim Tiga yang sebenarnya tidak menemukan
pelanggaran berat, Dewan Syuro DPP PKB, lewat pemungutan suara (9 setuju
dan 7 menolak), Senin 1/9/03 malam, mereposisi Saifullah Yusuf sebagai
Sekjen DPP PKB. Selanjutnya, Gus Dur mengusulkan jabatan Sekjen
diberikan kepada Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Muhyidin
Arubusman.
Menurut Sekretaris Dewan Syuro PKB Arifin Djunaidi, Rapat Dewan Syuro
sepakat bahwa Gus Ipul memang telah melanggar AD/ART partai berdasarkan
fakta-fakta yang dilaporkan oleh Tim Tiga (yang beranggotakan Noer
Iskandar Albarsanny, Mahfud MD, dan AS Hikam).
Segera, berbagai reaksi keras muncul menentang keputusan Dewan Syuro itu.
Pertama-tama dari Wakil Sekjen DPP PKB Yahya Staquf yang mengatakan
keputusan Dewan Syuro itu tidak sesuai dengan AD/ART partai. Menurut
Yahya, keputusan Dewan Syuro belum final, harus dibawa ke rapat pleno
gabungan dengan Tanfidz. "Kalau forum ini menetapkan harus ada reposisi,
saya kira baru clear. Jadi, masih ada hari esok," katanya.
Hal senada dikemukakan, sejumlah pengurus DPP PKB. Mereka mengajukan
keberatan terhadap keputusan Dewan Syuro itu. Menurut mereka, yang bisa
mencopot jabatan itu adalah kesepakatan antara Dewan Syuro dan Dewan
Tanfidziyah dalam rapat pleno. Sedangkan Dewan Syuro sifatnya hanya
memberi rekomendasi.
Saifullah sendiri juga secara tegas menolak dan tidak menerima keputusan
Dewan Syuro yang mencopot posisinya sebagai Sekjen DPP PKB itu.
Penolakan itu dikemukakannya dalam konferensi pers di Press Room MPR/DPR,
Senin (8/9/03). Ia didampingi Wakil Sekjen DPP PKB Yahya Cholil Staquf
dan Ketua GP Ansor Ni’am Salim.
Ia menyatakan akan tetap berada di PKB dan meminta PKB tetap
melaksanakan konsolidasi mempersiapkan Pemilihan Umum 2004. Ia juga
meminta agar basis PKB dan GP Ansor tetap tenang menyikapi keputusan
tersebut. Khusus kepada keluarga besar GP Ansor, ia minta untuk menahan
diri dan tidak ikut melibatkan diri dalam konflik di PKB.
Menurutnya, keputusan final tentang keberadaannya sebagai Sekjen DPP PKB
harus diputuskan secara resmi oleh partai. Tim Tiga yang dibentuk DPP
PKB untuk menyelidiki sejumlah dugaan dan tuduhan dari sejumlah pihak
kepadanya belum bisa menunjukkan alasan yang kuat dengan bukti yang
cukup untuk dinyatakan sebagai fungsionaris yang melanggar anggaran
dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART).
Dengan alasan itu ia menolak dan tidak menerima keputusan itu. “Di
samping tidak sesuai AD/ART, yang penting adalah tidak ada alasan yang
bisa saya terima, baik secara rasional, hukum partai maupun hukum
agama," katanya.
Saifullah masuk orbit politik nasional setelah terpilih menjadi anggota
DPR dari Fraksi PDI-P. Ketika tokoh-tokoh NU mendeklarasikan PKB,
Saifullah sudah masuk ke PDIP. Ia dinilai sebagai simbol dukungan NU
pada partai politik pimpinan Megawati, yang ketika itu mendapat serangan
bertubi-tubi dari kelompok yang menggunakan simbol-simbol Islam. Oleh
pendukungnya, Saifullah yang saat itu duduk sebagai anggota Fraksi PDI
Perjuangan di DPR dianggap sebagai "jembatan" dua kelompok massa besar,
PDI-P dan NU.
Namun, awal 2002, Saifullah keluar dari PDI-P, meninggalkan kursi
anggota DPR, dan langsung masuk bursa kandidat Ketua Umum DPP PKB dalam
Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB di Yogyakarta, Januari 2002. Dalam MLB ini
keberseberangan antara Saifullah dengan Gus Dur sebenarnya sudah
menonjol. Dalam pertarungan memperebutkan kursi yang ditinggalkan Matori
Abdul Djalil (dipecat Gus Dur) itu, Saifullah bersaing ketat dengan Dr.
Alwi Shihab yang dijagokan Gus Dur. Namun akhirnya ditemukan solusi
terbaik, Saifullah mendapat jabatan sebagai Sekjen PKB.
Sebenarnya kiprah politik Saifullah tidak terlepas dari pengaruh Gus Dur.
Gus Dur sebagai paman adalah juga guru politiknya. Ia sangat mengenal
dan mengikuti langsung sepak terjang pamannya itu, semenjak ia tinggal
di rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan tahun 1985.
Orangtuanya menitipkan Saifullah kepada Gus Dur yang waktu itu ingin
meneruskan kuliahnya. Gus Dur, cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, itu
mencukupi kebutuhan Saifullah mulai dari urusan makan, minum, uang jajan
dan SPP. Bukan hanya itu, bahkan sampai mengurusi Saifullah membentuk
rumah tangga. Ketika itu Gus Dur berupaya meyakinkan calon mertua
Saifullah yang saat itu masih ragu menerimanya sebagai menantu.
Tentang semua itu, dengan jujur Saifullah mengakui bahwa ia mendapat
banyak sekali ilmu, akses, kesempatan, uang dan sebagainya dari Gus Dur.
Ia menganggap Gus Dur adalah guru sekaligus orang tuanya. Gus Dur yang
dianggap mempunyai sejumlah kekuatan dan kelebihan yang tidak dimiliki
warga nahdliyin lain ini rupanya menjadi figur teladan juga bagi
Saifullah. Ia semakin kagum kepada Gus Dur ketika melihat Gus Dur tetap
tabah ketika dilengserkan dari kursi kepresidenan. Baginya, Gus Dur
menjadi teladan dalam soal ketahanan menghadapi ujian.
Lulusan Fisipol Universitas Nasional Jakarta ini pernah bekerja sebagai
wartawan tabloid Detik. Sebelum di GP Ansor, ia aktif di Ikatan Pelajar
NU (IPNU). Ia menjadi Pejabat Ketua Umum GP Ansor, ketika Ketua Umum
Iqbal Assegaf meninggal dunia.
Setelah menuai kritik dari sejumlah politikus karena sepak terjangnya
yang terlalu pragmatis, Saifullah mengatakan bahwa semua yang telah
terjadi akan dijadikannya sebagai bahan koreksi dan peringatan untuk
memperbaiki kesalahan dan kekurangannya. Saifullah berjanji tetap akan
berusaha melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan partai yang
dilahirkan kaum nahdliyin itu menghadapi Pemilu 2004.
►e-ti/Atur
Lorielcide Paniroy *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),
Drs. Saifullah Yusuf
(lahir 28 Agustus 1964 di Pasuruan, Jawa Timur) adalah Menteri Negara
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal pada Kabinet Indonesia Bersatu
dari Oktober 2004 hingga Mei 2007. Ia menyelesaikan pendidikan
sarjananya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas
Nasional, Jakarta pada tahun 1985.
Saifullah Yusuf
Bersama Eros Djarot, Saifullah Yusuf turut melahirkan tabloid Detik.
Melalui profesi sebagai wartawan tabloid itu pada 1994, ia kenal banyak
tokoh, baik tokoh politik maupun militer. Kerap mewawancarai Mega,
akhirnya ia akrab dengan tokoh PDI tersebut. Di kemudian hari, setelah
Detik dibredel dan Kang Iful—demikian panggilan akrabnya—terjun di ormas
Nahdlatul Ulama (NU), dari Sekjen IPNU sampai Ketua Umum GP Ansor, hasil
lobi tersebut cukup berguna.
Tapi ia menampik jika dikatakan jago lobi. “Itu terlalu berlebihan,”
ujarnya. Ia sendiri mengumpamakan diri sebagai tukang pos, kurir.
Sebagai kurir, ia punya peran dalam berbagai lobi politik, antara lain
pertemuan Ciganjur I (1998), Ciganjur II (2000). Prestasi lain: Iful
bisa menghadirkan Megawati di Istighotsah Kubro II di Senayan, 2001. Itu
semua berkat pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan, tanpa
melihat perbedaan agama, garis politik, dan partai.
Di saat NU mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kang Iful
bukannya masuk PKB, tetapi menjadi kader PDI Perjuangan yang
mengantarkannya ke Senayan sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PDIP.
Namun, pada akhirnya, ia keluar dari PDIP dan bergabung dengan PKB, dan
menjadi Ketua Harian/Sekjen PKB, 2002 sampai sekarang.
Dua hal tersulit dalam menjalani profesi politisi adalah ketika Gus Dur
terpilih sebagai presiden, mengalahkan Megawati yang ketua partai
pemenang pemilu. “Gus Dur paman saya, sedangkan saya di PDIP. Itu
rasanya satu hari seperti 20 tahun,” ujarnya. “Juga sebaliknya, ketika
Gus Dur digantikan oleh Mbak Mega,” katanya lagi. Untuk menghadapi
situasi tersebut, Iful berusaha tetap tenang, menahan diri, dan
meyakinkan diri apa yang perlu diyakinkan.
Sebenarnya cita-cita Iful ingin menjadi guru madrasah, karena melihat
kondisi madrasah yang menyedihkan. Cita-cita tersebut tampaknya juga ada
pengaruh dari ayahnya, pegawai Departemen Agama, seorang guru agama di
SD, SMP, dan pernah menjadi pegawai Kantor Urusan Agama. Ibunya,
Shalichati, juga bekerja di Departemen Agama. Demi cita-cita mulia itu,
Iful menempuh pendidikan dasar dan menengah di pesantren di Jombang
sampai lulus sekolah menengah atas.
Waktu itu, ia sudah terbiasa bergaul dengan banyak orang dari berbagai
kalangan, bahkan yang berbeda agama sekalipun. Ia pun berkawan dengan
anak kepala sekolah Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan, di Jombang,
yang beragama Kristen, dan pernah mengadakan perayaan rohani bersama.
Baginya, kesempatan bergaul dengan orang beragama lain itu: “Semakin
memperdalam rasa kebangsaan saya,” ujarnya. Kalau saja pamannya,
Abdurrahman Wahid, tidak menyuruh dia kuliah di Jakarta selepas SMA,
barangkali cita-cita Iful menjadi guru madrasah sudah terwujud. Atas
saran pamannya itu, ia kuliah di Universitas Nasional, tapi tidak
selesai. Di Ciganjur—tempat kediaman Gus Dur—Kang Iful menimba ilmu
langsung dari Ketua Umum (waktu itu) PB NU tersebut.
Pertemuannya dengan Eros Djarot mengantarkannya jadi wartawan. Ketika
Eros menerbitkan tabloid Detik, sampai tabloid tersebut dibredel bersama
Tempo dan Editor.
Mengenal Ummu Fatma, sesama aktivis NU, pemilik sebuah hotel, pada 1995.
Suatu ketika, ia menginap di Hotel Fatma. “Saya kira dia petugas front
office, malah dia yang punya,” kenang Kang Iful. “Saya jatuh cinta pada
pandangan pertama,” ujarnya. Setahun kemudian, Iful menikahi Ummu Fatma,
yang kini dikaruniai dua anak. Walau sering ditinggal ke luar kota, sang
istri cukup memahami.
Dalam hal pendidikan anak, “Saya menyerahkan semuanya kepada mereka, apa
yang mereka inginkan, karena saya sendiri jarang ketemu. Mereka
berangkat sekolah, saya belum bangun; dan saya berangkat, mereka belum
pulang,” tuturnya. Pengagum Gus Dur, yang pamannya sendiri, ini biasa
tidur sehabis subuh dan bangun pukul 09.00.
Saat luang, Iful biasa membaca buku yang ringan-ringan, misalnya cerita
pendek, atau buku biografi. Kalau menonton TV, ia lebih suka yang
lucu-lucu, tak suka yang tegang-tegang. Karena sehari-harinya ia sudah
tegang. Kini, Iful tak sempat menyalurkan hobi di masa remajanya:
sepakbola, bulutangkis, dan catur; ia cukup joging.
Moto hidupnya: “Saya menjalani hidup, kalau orang Jawa bilang, glundung
semprong, seperti air mengalir saja,” tuturnya. Alasannya, “Karena di
dalam hidup ini, hanya ada dua cara orang hidup. Pertama; orang yang
berpikir tertib dalam hidupnya, perencanaannya dan sebagainya. Kedua;
orang yang menjalani hidup dengan motivasi, kalau tidak jadi, ya, tidak
apa-apa,” kata pengagum Wahid Hasyim, Hamka, dan pemikir Islam Ali
Syari’ati itu. ► ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|