| |
C © updated 20062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/juka |
|
| |
Nama:
H PROBOSUTEDJO
Nama Kecil:
Suprobo
Lahir:
Yogyakarta, 1 Mei 1930
Agama:
Islam
Isteri:
Ratmani (Menikah, 11 Juni 1961)
Anak:
Dinarti, Septanto, Rita, Wati, Rani dan Priasto
Ayah:
Purnomo (R Atmoprawiro)
Ibu:
Rr Soekirah
Alamat Rumah:
Jalan Diponegoro 20, Jakarta Pusat
Alamat Kantor:
Jalan Menteng Raya No.29
E-mail:
probosutedjo@tokoh.net |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI ==
01
02
03
04
05
06
07
08
09 ==
H Probosutedjo (08)
Orang Tua Asuh
Begitu pula ketika Probosutedjo menjadi orang tua asuh bagi 100 anak
yatim akibat musibah tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Gurita
yang menewaskan ratusan jiwa. Sedikitnya 250 anak yang menjadi yatim
piatu karena orang tua mereka tewas dan hilang, mendapat orang tua asuh
yang bersedia menyekolahkan dan membiayai hidup mereka. Anak yatim piatu
yang jumlahnya cukup banyak itu, 180 dari Sabang dan 80 di luar Kota
Madya Sabang, ditampung di asrama orang tua asuh yang ada di Medan dan
Yogyakarta.
Dari peristiwa tersebut, cerita yang menarik adalah dari Rini (11) dan
Dahlia (11). Dua anak yatim asal Sabang yang masih duduk di kelas V SD
ini mengaku, setelah ayah mereka hilang bersama tenggelamnya KPM Gurita,
keduanya tak tahu harus bagaimana. Namun, Rini dan Dahlia bersyukur
karena dari keikhlasan hati pengusaha nasional Probosutedjo menjadi
orang tua asuh anak-anak yatim yang orang tuanya tewas dalam musibah KPM
Gurita di Teluk Balohan, perairan Pulau Weh, 19 Januari 1996, mereka
masih memiliki harapan untuk dapat melangsungkan pendidikan.
Menghadapi peristiwa tersebut, penguasa di wilayah itu, Wali Kota Sabang,
Aceh, Bustari Mansyur, akhirnya mencari jalan keluar untuk mengatasi
hajat hidup dan pendidikan bagi anak-anak yang ditinggal oleh orang
tuanya. “Tolonglah carikan donatur, saya wali kota yang paling miskin,”
katanya.
Ternyata jeritan ketidakberdayaan itu didengar dan mendapat tanggapan
dari pengusaha Probosutedjo dan Kepala BKKBN/Menteri Negara Kependudukan
Prof Dr. Haryono Suyono. Sesuai dengan program pendataan anak untuk
Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA), Probosutedjo menyatakan siap
menjadi orang tua asuh bagi 100 anak sekolah tingkat SD sampai SMA.
Pendidikan merupakan salah satu sasaran kegiatan pokok bagi GN-OTA yang
diketuai Halimah Bambang Tri dan ditujukan pada anak- anak di bawah umur
15 tahun, yang terkena program wajib belajar. Dengan terjadinya
peristiwa tersebut, pengurus GN-OTA terus berusaha untuk mencari orang
tua asuh yang dapat membiayai kehidupan mereka. Daerah Istimewa Aceh,
salah satu provinsi yang memiliki cukup banyak penduduk, termasuk ke
dalam kategori prasejahtera.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan akan menambah keluarga-keluarga yang
lebih miskin di masa datang. Peristiwa itu menumbuhkan kesadaran
kesetiakawanan sosial yang membuktikan adanya semangat gotong royong
masyarakat kita.
Apa pun namanya, kegiatan sosial keagamaan, GN-OTA, ataupun
kesetiakawanan sosial, adik Presiden Soeharto itu tidak pernah tinggal
diam atau tutup mata. Panggilan itu merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dalam sikap hidupnya yang senantiasa mengedepankan nilai
daripada urusan keduniawian. Bagi Probosutedjo, saling mengasihi dan
menghargai orang lain merupakan bagian dari ibadah dan cinta akan sesama.
Tidak Suka Pembohong
Di dalam hidup ini, Probosutedjo sangat membenci orang yang tidak jujur
dan suka membohongi orang lain, terutama kepada orang tua. Sewaktu kecil,
kita sering secara tidak sadar, membohongi atau melawan orang tua. Namun,
setelah menjadi orang tua, kita baru menyadari manakala anak kita
melawan kepada kita. Kita tentu akan merasa tidak senang lalu menggurui
mereka, bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku agar kesalahan
serupa tidak diulangi lagi.
Oleh karena itu, kadang-kadang Probosutedjo merasa menyesal karena dulu
sering melawan orang tua. Pengalamannya ini memberi hikmat bagaimana
menghadapi para karyawan dengan baik. Seperti di dalam perusahaan,
misalnya, Probo benci terhadap orang yang seharusnya menjaga tetapi
malah merongrong. Jika dibiarkan, hal itu bisa merugikan perusahaan
karena dia mengambil keuntungan dari ketidakjujurannya. Dengan demikian,
di dalam mencari karyawan, Probo mengutamakan mereka yang loyal terhadap
perusahaan dan bertanggungjawab.
Kalau orang Jawa bilang, karyawannya harus rumongso melu andarbeni yang
artinya bertanggung jawab secara keseluruhan. Bekerja itu jangan hanya
menjual tenaga saja. Bekerja saja, kalau habis waktunya, terus pulang.
Kebanyakan sikap hampir semua orang itu begitu. Ini yang tidak disukai
oleh Probosutedjo. Oleh karena itu, mereka yang sudah menjadi staf,
karena gaji sudah tinggi, di luar dinas pun juga harus kerja, tidak
hanya delapan jam. Tidak ada baginya istilah overwork.
► mti/ht-ms-tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|