| |
C © updated 04092007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/oposan |
|
| |
Nama:
Ong Hok Ham
Lahir:
1 Mei 1933
Meninggal:
Jakarta, 30 Agustus 2007
Agama:
Budha
Ibu:
Tan Siang Tjia
Pekerjaan:
Sejarawan
Pendidikan:
- HBS Surabaya
- SMA di Bandung
- Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI)
- Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI selesai tahun 1968
- Universitas Yale, Amerika Serikat
Alamat Institut Onghokham:
Jalan Cakrawijaya IX
Blok D No 11, Kompleks Diskum TNI Angkatan Darat, Cipinang Muara,
Jakarta Timur
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03 04 ==
Ong Hok Ham (1933-2007) - 3
Penderitaan Telah Berakhir
Oleh Toeti Kakiailatu: Penelitiannya tentang sejarah masyarakat Jawa,
sejarah revolusi Perancis, dan sejarah Eropa secara umum sangat
reflektif. Sejarawan yang membujang ini terkena stroke sejak 2001. Namun,
nafsu makan enaknya tetap digemarinya. Kegemarannya akan makan telah
mendorongnya untuk meneliti kajian makanan Indonesia.
Petang itu, sekitar jam 17.00, adalah jam makan malam Onghokham. Kamis,
31 Agustus, Rochmat, salah seorang yang mengurus Ong semenjak sakit,
yang melayani makan malam. Menunya, kentang goreng dan bistik kakap
merah. Semuanya dimakan habis. Setelah itu kursi roda Ong pun disorong
ke kamar tidurnya, menghadap ke televisi. Sekitar jam 18.00, kepala Ong
miring ke kiri dan menunduk. Ternyata Ong telah meninggal. Tanpa pesan
dan rasa sakit.
Ong lahir pada 1 Mei 1922 di Surabaya. Almarhum adalah cucu dari seorang
kapitan China di Pasuruan. Han, begitu nama keluarga ibunya, terkenal
dari golongan elite yang mungkin jadi konglomerat pertama waktu itu.
Ayahnya, setamat dari Hogere Burger School (HBS), berjalan-jalan ke
Eropa dan setelah itu bekerja pada kantor asuransi. Dari pasangan ini,
lahir empat bersaudara, tiga laki-laki dan seorang perempuan,
masing-masing diasuh oleh pengasuhnya. Ong sendiri mengaku diasuh oleh
seorang embok yang mengajarinya sedikit tentang budaya Jawa. Adapun
orangtuanya yang berkelimpahan uang, sepanjang hari asyik main mahyong.
Baru pada malam hari orangtua dan anak-anak berkumpul untuk makan malam.
Makan bersama ini menjadi peristiwa istimewa karena ruang makan yang
mewah dan makanan yang melimpah. Para pelayan sibuk melayani makan malam
gaya Belanda dengan konversasi antara mereka juga dalam bahasa Belanda.
Keluarga Ong hidup bergaya Belanda. Bicara, makanan, dan cara berpakaian,
semua bergaya Belanda. Ong sendiri sewaktu kecil dipanggil Sinyo Hansje.
Gaya hidup yang serba Blandis ini kurang begitu disenanginya. Keluarga
kaya yang kebelanda-belandaan dan hanya hidup bergaul untuk keluarga
saja. Oleh karena itu, Ong kurang akrab.
Hanya kegemaran makan enak dan berpesta yang diturunkan dari kebiasaan
keluarganya kepada Ong. Jadi semasa masih sehat, tidak ada undangan
pesta dari orang-orang kaya di Jakarta yang Ong lewatkan begitu saja.
Ong sendiri gemar mengundang beberapa temannya untuk makan malam. Dia
sendiri yang belanja dan memasak makanan yang akan dihidangkan. Dengan
naik kendaraan umum, karena tidak punya mobil, dia pergi belanja. Ong
tahu daging babi yang baik ada di Pasar Senen, daging sapi berkualitas
di Blok M, dan ikan bandeng segar di Pasar Pagi. Dengan berpanas-panas,
tak segan dia menyeberang jalan dengan menenteng belanjaan.
Baru pada malam hari Ong berpakaian bersih, melayani tamu yang
diundangnya. Sitting dinner dengan menggelar tatanan meja bertaplak
indah, penuh dengan garpu pisau perak, porselen antik, serta bunga dan
tebaran bunga melati. Di rumahnya yang bergaya Bali, di samping ruang
makan yang terbuka tumbuh sebatang pohon melati gambir yang kalau malam
hari mengeluarkan bau harum. Masakan yang digemarinya adalah sambal
gandaria, bandeng bakar, dan babi hong. Yang terakhir, tentu saja tidak
disuguhkan bagi pemakan nonbabi.
Lebih-lebih kalau pada HUT-nya, setiap 1 Mei. Undangannya selalu dimulai
dengan sebutan Mayday, mayday… dan itu pasti undangan dari Sinyo Hansje.
Pesta ulang tahun Sinyo Hansje ini selalu ramai. Rumahnya penuh sesak
oleh berbagai tamu yang datang, mulai orang-orang kedutaan, tokoh
nasional, sampai ke artis-artis, berjejalan. Makanan dan berbagai
minuman memeriahkan pesta ulang tahun Onghokham.
Namun, mulai kapan Ong menjadi ahli masak? Dia menjadi kuliner terkenal
ketika kuliah untuk mengambil gelar doktornya di Universitas Yale
(1968-1974). Disertasinya cukup terkenal, yang berjudul The Residency of
Madiun, Priyayi and Peasant during the Nineteenth Century. Kemudian
ketika berkunjung ke Eropa, dia mencoba bereksperimen dengan makanan
Italia, Perancis, dan China. Di Italia, Ong berteman baik dengan Ruth
McVey, sejarawati yang mempunyai kastil di dekat Roma. Sekembalinya ke
Indonesia pada tahun 1975, Ong berkata kepada David Reeve, sejarawan
Australia, yang tengah menulis biografi Onghokham, "Saya kembali dengan
dua keahlian. Gelar PhD dan memasak. Namun, memasak rasanya lebih
penting."
Dosen "killer"
Kegemarannya akan Ilmu Sejarah mulai saat dia di HBS. Entah mengapa
untuk pertama kali dia memilih Fakultas Hukum Universitas Indonesia
(UI), baru kemudian pindah ke Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UI.
Setamatnya dari Jurusan Sejarah, Ong sempat mengajar di fakultas.
Sebagai dosen, Ong terkenal killer. Tidak senang dengan mahasiswa
belajar asalan saja. Kalau jengkel, dia melempar apa saja yang ada di
genggamannya ke mahasiswa. Para mahasiswi yang berdandan menor terpaksa
harus menghapus make-up-nya karena kalau si mahasiswi dianggap bodoh,
Ong mengomel dengan ucapan, "Huuh, waktumu dihabiskan dengan berpupur
dan bergincu saja."
Tahun 1989 Ong pensiun. Usianya baru 56 tahun. Sekitar setahun Onghokham
jadi Direktur Sekolah Tinggi dan Akademi BUDDI di Tangerang. Namun, Ong
bukan tipe orang yang senang jabatan atau duduk di belakang meja jadi
budak manajemen. Sekitar satu tahun saja dia minta berhenti. Ong
kemudian bebas menulis di berbagai media antara lain di Kompas, Tempo,
atau Prisma.
Unik dan orisinal
Pada 14 Februari 2001 Ong mendapat serangan stroke di Yogyakarta ketika
hadir dalam perayaan ulang tahun ke-80 Prof Sartono Kartodidjo. Sebulan
kemudian sekelompok teman dekat Ong berniat mendirikan Yayasan Lembaga
Studi Sejarah Indonesia (LSSI), yang didukung oleh Freedom Institute,
majalah Tempo, dan QB World Books. Pada HUTnya yang ke-68 diresmikanlah
yayasan itu dalam sebuah pesta di Gedung Arsip, Jalan Gajah Mada 111,
Jakarta. Dua tahun kemudian, pada usia yang ke-70, ia meluncurkan dua
bukunya di Auditorium Perpustakaan Nasional (Wahyu yang Hilang Negeri
yang Guncang dan The Thugs, the Curtain Thief and the Sugar Lord).
Namun, penyakitnya semakin payah. Bicaranya sulit dimengerti, Ong tidak
disiplin dalam hal makan dan minum. Wines masih diminumnya, tetapi
perutnya tak kuat lagi meneguk whiskey. Ong tak mungkin lagi pergi ke
pesta, sedangkan teman-temannya semakin berkurang. Pesta ulang tahunnya
yang terakhir, 1 Mei 2007, kurang meriah. Dan Ong sendiri juga tampak
sedih.
Adalah Hardi Halim (teman Yoop Ave), Andi Achdian, dan Ardi Apian,
Agustus 2006 mendirikan OngHokHam Institute (OHHI). Berkat nama
Onghokham, institut berhasil mendapat sumbangan sebesar 100.000 dollar
AS dari Ford Foundation. Tiga atau empat orang kini setiap harinya
bekerja di ruang studi Ong. Karena dalam pengelolaan oleh OHHI ruang
studi Ong harus memakai AC, pintu harus ditutup. Ong merasa tidak bebas
lagi di rumahnya. Dia tidak bisa melewati ruang studinya untuk duduk di
teras depan. Tentu agak sulit untuk memutar dengan kursi rodanya menuju
teras. Si pemilik rumah cuma bisa berada di kamarnya yang di depannya
ada taman seluas sekitar 2 x 3 meter. Ong menjadi seorang jaba tengah di
rumah Bali-nya sendiri. Tempat favoritnya ialah teras depan dan yang
biasa dilakukan Ong sambil tiduran, dekat kolam ikan dan beberapa pohon
bunga, tak bisa dijamahnya. Hanya kalau akhir minggu, saat staf OHHI
libur, barulah Ong boleh berada di teras depan.
Konon Yayasan LSSI nasibnya ada di ujung tanduk. Yayasan yang nonprofit
dan nonpartisan ini konon akan dibubarkan oleh OHHI. Dapatkah?
Dalam suasana berkecamuk seperti itulah, sejarawan yang mempertahankan
ketionghoannya, tokoh yang unik dan orisinal, pergi untuk selamanya.
Sebelum dikremasi, Ong dibaringkan dalam peti dengan memakai baju China
berwarna merah maroon hadiah dari perancang pakaian Peter Sie di ulang
tahun terakhirnya. Pada bibirnya diselipi sebutir mutiara. Menurut
kepercayaan Buddha, itu agar Ong "nun di sana" tidak akan mengeluarkan
kata-kata kotor. Upacara pemakaman di Rumah Duka Rumah Sakit Dharmais,
Jakarta, dilakukan dengan upacara Buddha, Katolik, dan Khonghucu pada
Minggu malam. Senin, 3 September, jenazahnya dikremasikan di Tangerang.
Terimalah Onghokham seadanya, dengan segala kebiasaannya, segala
keunikan dan keanehan, serta segala keistimewaan dan kekhususannya.
Amien. (Kompas, Selasa, 04 September 2007) * Toeti Kakiailatu,
Sahabat Onghokham
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|