| |
C © updated 05022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
DR. Ir. Nurdin Tampubolon
Lahir:
Siabal-abal, Pematang Siantar, Sumatera Utara, 29 Desember 1954
Istri:
Berliana br. Tobing
Anak:
Lima orang putra-putri
Orangtua:
Ayah Umar Tampubolon, Ibu Rupina Sianipar
Jumlah saudara:
Anak ketiga dari 10 bersaudara
Pendidikan:
1. Sarjana Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (FT-USU)
2. Menerima gelar Doktor Kehormatan dari USA,
tahun 1999
Kursus:
1. Technical training dan management selama 13 bulan (1980-1981) di tokyo,
Jepang
2. Management of energy resources and energy saving selama 3 (tiga) bulan
di Turin, Italy, 1985
3. Management course
Pengalaman Kerja:
1. Di Sumitomo, Jepang, tahun 1980
2. Di PT Inalum, Kuala Tanjung, tahun 1981
3. Di PT Astenica, Jakarta, tahun 1982-1984
4. Kepala Seksi di Departemen Pertambangan dan Energi, Jakarta tahun
1984-1988
5. Chairman & Chief Executive Officer (CEO) Sonvaldy Group
6. Bakal Calon Gubermur/Wakil Gubernur Sumatera Utara, periode tahun
2003-2008
7. Anggota MPR RI mewakili Sumatera Utara, 2003-2004
8. Ketua Umum Dewan Presidium Pomparan Sapala Tua Tampuk Na Bolon se Indonesia
9. Ketua Umum IKTM USU (Ikatan Alumni Teknik Mesin USU) se Jabotabek
Anak Perusahaan Sonvaldy Group:
1. PT Sonvaldy Utama Permata
2. PT Aersupindo Abadi
3. PT Tomtam Hitekindo
4. Rintan PTE/LTD
5. PT Sonvaldy Agrotama
6. PT Bangkit Giat Usaha Mandiri
7. PT Bintang Sakti Lenggana
Penghargaan:
1. 1999-200, Who’s Who of The World Global Edition (Barons Who’s Who, USA)
2. 1999-2000, Who’s Who of The Asian Pacific Rim International Edition
(Barons Who’s Who, USA)
3. 1998, Profile 50 Pengusaha Muda Indonesia
4. 1998, Citra Karya Pembangunan Indonesia ‘98
5. 1997-1998, Asean Development Citra Awards (Asean Programme Consultant
Indonesia Consortium)
Lain-lain:
1. Profile di Harian Kompas tanggal 20 April 1998 berjudul “Nurdin
Tampubolon: Sebuah Perjalanan Orang Mandiri”
2. Tulisan Sumbangan Pemikiran di Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) Medan,
tanggal 7 dan 8 Desember 2000
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3 ==
DR. Ir. Nurdin Tampubolon (1)
Berpolitik Demi Rakyat
Pria paruh baya DR. Ir. Nurdin Tampubolon kelahiran desa Siabalabal, Tanah
Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara 29 Desember 1954, ini setelah
sukses berbisnis sebagai pengusaha dengan berbagai karya nyata, ia
merambah ke dunia politik. Tekadnya sebagai politisi ingin
berjuang dan mengabdi menyejahterakan rakyat. Anggota MPR RI 2003-2004 ini berhasil meraih
kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Sumatera Utara periode 2004-2009.
Dia dinominasikan menjadi Wakil Ketua DPD. Namun dalam pemilihan dia
hanya berada dalam posisi kedua dengan meraih 25 suara, diungguli Irman
Gusman yang meraih 50 suara. Calon lainnya, Kasmir Tri Putra (23
suara), Malik Raden (14 suara), Bambang Suroso (delapan suara), dan
Mediati Hafni Hanum (satu suara). Sementara mewakili wilayah timur,
terpilih La Ode Ida.
Sebagai anggota DPD dia konsisten bersikap netral menghadapi Pemilu
Presiden. Nurdin menegaskan hal itu usai bertatap muka dengan Megawati
Soekarnoputri, calon presiden dari empat partai besar anggota Koalisi
Kebangsaan pada Rabu, 25 Agustus 2004 di kediaman Megawati Jalan Teuku
Umar 27-A, Menteng, Jakarta.
Dia pun kini dinominasikan berbagai kalangan akan terpilih menjadi
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mewakili wilayah Barat
sekaligus keterwakilan golongan yang mencerminkan pluralisme. Dia memang
dikenal seorang yang berjiwa kebangsan dan diterima semua golongan.
Pengusaha sukses pendiri, pemilik, sekaligus chairman & chief
executive officer berbagai perusahaan yang tergabung dalam Grup
Sonvaldy, ini mulai menampakkan kegesitan meraih sukses semenjak
mengundurkan diri dari ikatan dinas di PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum),
di Kuala Tanjung, Asahan, Sumatera Utara di awal tahun 1980-an.
Dia dengan berat hati meninggalkan Inalum, perusahaan patungan
Pemerin-tah RI-Jepang yang pernah memberinya kesempatan beasiswa
Association Overseas Technical Scholarships (AOTS) Jepang, untuk
memperdalam ilmu bidang Electro Mechanical Engineering & Metallurgi
selama 15 bulan, ditambah masa bekerja setahun di Sumitomo, Jepang.
Anak “Siantar Men” ini mengundurkan diri hanya untuk membuktikan bahwa
dia mempunyai kemampuan dan kapasitas lebih serta sanggup bersaing di
pasaran.
Tujuannya adalah Jakarta. Jakarta atau Bandung yang mempunyai
perguruan tinggi ternama Universitas Indonesia (UI) Jakarta dan Institut
Teknologi Bandung (ITB), adalah dua kota rantau idaman Nurdin yang
pernah tertunda sebelumnya. Ketika tamat SMA ayahnya, Umar Tampubolon
tidak mengijinkannya mengambil kuliah kesarjanaan kecuali setingkat
akademi, itupun Akedemi Tekstil di kota Medan.
Alasan ayahnya yang hidup dari bertani dan mengelola sebuah pabrik
padi di Siabal-abal, masih ada kakak dan abang Nurdin berstatus
mahasis-wa membutuhkan biaya besar. Nurdin, anak ketiga dari sepuluh
bersaudara -yang di kemudian hari ke-10 anak bersaudara itu menamatkan
pendidikan hingga tingkat sarjana semua, merasa “dipaksa” masuk akademi
agar cepat selesai dan langsung bekerja.
Dalam batinnya timbul “pemberontakan”. Sebab dalam keyakinan hati dia
merasa mempunyai kesanggupan bersaing memasuki UI Jakarta atau ITB
Bandung. Maklum, sepanjang Sekolah Dasar, SMP dan SMA dia selalu
juara-juara umum tingkat sekolah. Semenjak SMP minatnya akan soal-soal
keteknikan dan teknologi sudah mulai bersemai.
Tanpa sepengetahuan keluarga apalagi ayahnya dia mendaftarkan diri ke
Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (FT-USU), Medan, dan diterima.
Menginjak kuliah tahun ketiga dia sudah sanggup membiayai sendiri hidup
dan perkuliahan dari hasil mem-berikan les dan bimbingan tes di
berba-gai tempat. Bahkan, di FT-USU dia diangkat Ketua Bimbingan Tes FT-USU.
Menjelang akhir studi yang sudah empat setengah tahun dijalani masih
menyisakan satu tugas akhir, dia memperoleh kesempatan beasiswa dari
AOTS Jepang dan bekerja di Sumitomo. Berdasar ikatan dinas, dia harus
bekerja di Inalum sepulang dari Jepang di tahun 1981. Kesempatan bekerja
di kawasan Sumatera Utara itu dimanfaatkannya untuk menyeselaikan kuliah
agar paripurna memperoleh gelar sarjana teknik atau insinyur.
Di Inalum dia sangat disenangi teman-temannya. Nama dia tercatat
sebagai salah seorang karyawan pertama bagian produksi yang bekerja di
industri peleburan aluminium terbesar di Asia Tenggara, yang baru
beroperasi di Kuala Tanjung awal tahun 1980-an itu. “Produksi aluminium
pertama Inalum, saya yang kerjakan,” kata-nya bangga. Dia, selain
memper-oleh gaji yang relatif cukup besar untuk seorang lajang, Rp
500.000 perbulan ketika itu, ditambah fasilitas rumah dan mobil berikut
supir. Tetapi dia meninggalkan semua kemewahan itu sebab merasa belum
menemukan cita-cita ideal yang sesungguhnya bisa dicapainya berdasarkan
kemampuan dan skill yang dimiliki.
Nurdin mengajukan surat pengunduran diri. “Bos, dan anak buah saya di
Inalum waktu saya keluar menangis semua,” kenangnya lagi. “Karena, saya
juga kadang-kadang terlalu berani mengambil keputusan.” Konsekuensi
mundur adalah dia harus mengganti semua biaya beasiswa yang pernah
diterimanya selama di Jepang. Namun, tabungan yang terkuras itu telah
berganti dengan selembar surat pengalaman kerja dari PT Inalum yang
merekomendasikan dia sebagai karyawan yang “memuaskan”.
Pegawai Negeri
Keputusan berani itulah yang membulatkan tekadnya untuk mencoba
menaklukkan rimba Jakarta. Dan sikap itu pula yang mewarnai kehidupannya
di kemudian hari. Hari-hari awal di Jakarta diisinya dengan membaca
koran, memicingkan mata terhadap setiap bunyi iklan lowongan kerja, lalu
mengirim surat lamaran ke berbagai instansi.
Sebuah perusahaan kontraktor, konsultan, dan engineering
swasta yang merupakan rekanan Pertamina memanggilnya untuk tes, lalu
diterima. Di kemudian hari diketahui perusahaan itu PT Astenica adalah
milik Grup Salim.
Dua tahun di sana dirasakannya cukup enjoy bekerja. Akan
tetapi, lagi-lagi itu harus ditinggalkan untuk “sekadar” memuaskan
permintaan orangtua yang sejak lama menginginkannya harus menjadi
pegawai negeri. Kembali, bukti bahwa dia mempunyai track records
yang bagus, tuturnya, “Bos saya di Salim juga merasa kehilangan.”
Dia lalu mengajukan lamaran ke berbagai institusi pemerintah dan
mengikuti tes, seperti Departemen Pekerjaan Umum (PU), Departemen
Pertambangan dan Energi (Deptamben), Perusahaan Listrik Negara (PLN),
dan Bank Bumi Daya (BBD). Uniknya, semuanya bersedia menerimanya sebagai
pegawai. Karena harus memutuskan salah satu maka dia pilah-pilah. Di PU
dia tolak padahal sudah harus berangkat ke Sorong, Irian Jaya sebab
tiket dan segala macam fasilitas sudah disediakan. Di kepalanya masih
terngiang kuat keinginan menaklukkan rimba Jakarta.
Dengan alasan sama tidak bersedia tugas ke luar kota panggilan dari
PLN pun ditolaknya. Pilihan akhirnya jatuh ke Deptamben dengan
pertimbangan sebab dia akan bisa bekerja sampingan untuk memanfaatkan
potensi maksimal yang dimiliki. Bank Bumi Daya sebelumnya juga ditolak
sebab jadwal kerja perbankan tidak memungkinkannya untuk melakukan
pekerjaan sampingan.
Di Deptamben dia dimasukkan di Bagian Perencanaan Program, Direktorat
Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi (LPE). Dia mulai mengikuti
prajabatan tahun 1984. Hanya dalam tempo satu tahun dia langsung
dipromosikan menjadi pejabat Kepala Seksi Evaluasi Pembangunan dan
Perencanaan Kelistrikan Nasional, Ditjen LPE, golongan III-C dan pangkat
Eselon-IV. Sehingga, untuk memenuhi persyaratan adminitratif kepegawaian
pejabat kepala seksi setiap dua tahun sekali golongan dan kepangkatannya
dinaikkan oleh atasannya.
Beberapa kesempatan training ke luar negeri dijalani. Seperti selama
lima bulan ke Italia mengikuti pelatihan UNDP (United Nation Development
Program). Romantisme perjalanan hidup di Italia ditorehkannya dengan
memberi anak keduanya nama Valentino. Lengkapnya Dimpos Diarto Valentino
Tampubolon lahir ketika dia sedang berada di Italia.
Sambil bekerja sebagai pegawai Deptamben dia memanfaatkan waktu luang
mengajar atau menjadi dosen di Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag)
Jakarta maupun UPN Veteran. Termasuk sebagai pekerja paruh waktu di
sebuah perusahaan swasta milik Yudo Sugama, anak Kabakin ketika itu Yoga
Sugama. Dengan segala kesibukan dan prestasi yang diraih batinnya
kembali mulai berbisik, “Saya merasa, kayaknya saya bisa bersaing di
luar.”
Semua menjadi berbalik ketika di tahun 1988 dia memutuskan
mengundurkan diri dari Deptamben. Peristiwa ini dirasakannya sangat
berat sebab banyak tantangan. Dari keluarga, sahabat, dan sesama kolega
termasuk atasan di Deptamben yang masih menawarkan fasilitas dan program
menggiurkan agar betah bekerja dan tidak jadi keluar.
Bukan hanya menertawakan, ada pula yang menganggap dia ‘sudah lari
uratnya’. Opini di lingkungan keluarga mulai terbentuk, ‘orang berani
menyogok besar-besar asal masuk menjadi pegawai negeri. Ini, malah
ditinggalkan’. Ayahnya terbang dari Medan hanya untuk mengadakan rapat
keluarga membahas dan mempertanyakan keputusan terbaru Nurdin.
Istrinya sendiri, Berliana br. Tobing termasuk yang tidak setuju.
Dalam dialog diantara keduanya. “Ini, apalagi yang mau dicari. Sudah
kepala seksi, golongan III-C, masih muda, kok, ditinggalkan. Orang
berlomba menjadi pegawai negeri, bahkan menyogok pun mau, kenapa Anda
tinggalkan,” gugat istrinya yang ketika itu telah memberinya tiga orang
anak. “That’s way my way, saya harus coba dulu di luar. Saya
melihat di pegawai negeri begitu-begitu saja. Jadi, saya coba dulu
berusaha” elaknya singkat. “Tapi, kerjaan ‘kan belum ada,”. “Yah, kita
berusahalah bagaimana caranya.” Dialog malam itu berakhir putus dengan
kesepakatan bahwa keduanya sama-sama tidak sepakat.
Nurdin meyakinkan diri sendiri bahwa dia mampu membangun usaha. Dia
lalu mulai membangun bisnis. Pilihannya jatuh ke bisnis berbasis
teknologi canggih atau hi-tech (high technology).
Pengalaman bekerja di Inalum menangani aluminium membuat ilmunya merasa
pas di situ, terutama saat bekerjasama sebagai mitra PT Industri Pesawat
Terbang Nusantara (IPTN), kini PT Dirgantara Indonesia (DI). Industri
pesawat terbang ini menggunakan banyak material aluminium.
“Jadi, saya pilih di sana, kebetulan cocok,” cetusnya. Bendera usaha
yang dibangunnya adalah PT Sonvaldy Utama Permata. Sonvaldy, singkatan
tiga nama anak pertamanya. Son dari anak pertama Sondang, Val
dari anak kedua Valentino yang lengkapnya Dimpos Diarto Valentino, dan
Dy dari nama anak ketiga Randy. Sementara kata Utama Permata
adalah terjemahan dari konsep orang Batak tentang anak dimana anak
adalah segala-galanya atau, anakhonki do hamoraon di ahu.
Demi Rakyat
Sonvaldy Utama Permata kini berubah menjadi holding company
setelah berhasil melahirkan berbagai anak perusahaan baru. Cakupan usaha
beraneka ragam dari hi-tech, perdagangan, hingga perkebunan
kelapa sawit dan perkayuan. “Sampai sekarang perkebunan kita sudah luas,”
katanya ringkas.
“Dan, karena saya melihat, dari segi perusahaan juga sudah mulai
berkembang, maka, saya inginnya sekarang bagaimana mensejahterakan
masyarakat banyak. Itulah target utama saya sekarang, kalau masih
diperlukan,” cetus mantan kandidat calon gubernur Sumatera Utara pada
pemilihan 2003.
Mensejahterakan masyarakat. Itu sudah dimulai Nuridn dari perusahaan
yang kini telah menghidupi ribuan orang karyawan, belum termasuk anggota
keluarga karyawan. Konsep mensejahterakan rakyat itu dirumuskannya
menjadi visi perusahaan. Visi Sonvaldy, menurutnya, harus menjadi
perusahaan yang bisa dibanggakan oleh bangsa. Dan, bersamaan itu
Sonvaldy juga harus bisa memperoleh pengakuan internasional. Dalam
desainnya perusahaan ini harus bisa menyumbang devisa, menampung tenaga
kerja, membayar pajak ke pemerintah, dan mampu mengekspor produk-produk
yang dihasilkan.
Ikhtiar Nurdin menyejahterakan masyarakat tidak berhenti di situ.
Bermodalkan track records sebagai pengusaha sukses yang telah
menghasilkan karya nyata dalam proses pembangunan bangsa, dia mulai
memasuki area publik yang lebih luas. Sejak Desember 2003 dia adalah
anggota MPR RI mewakili propinsi Sumatera Utara.
Di awal tahun 2003 atas saran dan permintaan teman-temannya sesama
alumni FT-USU dia mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara
periode 2003-2008, sayang belum berkesempatan terpilih. Nurdin adalah
Ketua Ikatan Alumni FT-USU se Jabotabek.
Walau demikian dia tetap berikhtiar mensejahterakan masyarakat banyak,
terutama rakyat Sumatera Utara. Dia semakin intens memasuki wilayah
politik. Pada Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 5 April 2004, sebagai
calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dia muncul dengan jargon
menarik: Pembangunan dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat.
Hasilnya adalah kemenangan suara terbesar kedua.
Nurdin ingin agar pembangunan kokoh maka harus berbasis sumberdaya
lokal. Artinya, memanfaatkan segala sesuatu yang memang dimiliki oleh
masyarakat Sumatera Utara. Seperti, basis pertanian dan pariwisata. Yang
melaksanakan pembangunan harus pula orang lokal yaitu masyarakat yang
ada di Sumatera Utara.
“Dengan demikian, tujuan pembangunan yaitu menjadikan masyarakat
Sumatera Utara aman sejahtera dan tuan rumah di negerinya sendiri,
menjadi bisa tercapai,” ujar penerima gelar doktor kehormatan (honoris
causa) dari sebuah perguruan tinggi dari Amerika Serikat tahun 1999.
Sebelumnya, Desember 1997 pengagum Presiden Amerika Serikat George W
Bush dan Presiden RRC Xu Rongji memperoleh penghargaan sebagai ASEAN
Development Citra Awards dari ASEAN Programme Consultant Indonesia
Consortium. ►
haposan tampubolon ►LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|