| |
C © updated 11062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Pdt. Natan Setiabudi, STh,PhD
Lahir:
Magelang, 30 August 1940
Istri:
Elizabeth Anantatedjana .
Anak:
1. Danny Setiabudi
2. George Citrawira Setiabudi
3. Gita Kristi Setiabudi
Pendidikan Tinggi:
• Sekolah Tinggi Theologia Jakarta,1960 -1966, S.Th .
• Boston College Graduate School, USA, 1994, Ph.D
Penahbisan Pendeta:
April 1968 di Gereja Kristen Indonesia (GKI ),
Pelayanan:
• Enam tahun sebagai Pendeta Jemaat GKI Tangerang (1967-1973)
• Ketua BKKK (Badan Kerjasama Kegiatan Kristen) Tangerang (1970-1973)
• Ketua II BPMS GKI Jawa Barat (1970-1973)
• Duapuluh dua tahun sebagai Pendeta Jemaat GKI Kebonjati 1973 -1995 (Jemaat
terbesar GKI Jabar saat itu dengan keanggotaan 5000-an warga)
• Tiga periode sebagai Ketua Umum GKI Klasis Bandung (1978-1980;
1980-1982; 1992-1994)
• Ketua PGI-Wilayah Jawa Barat (1982-1984)
• Ketua Umum Sinode Am GKI (1992- 1998)
• Ketua Komisi Tata Gereja GKI (1993-1998)
• Ketua Umum (penuh waktu) GKI Sinode Wilayah Jawa Barat (1995- 2000)
• Penasihat "BPK Jabar" KPS Bandung (1977- 1979)
• Penasihat PIKI Jawa Barat (1990- 1995)
• Penasihat Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) (1995-1998;
1998-2002)
• Dosen Seminari Teologi Cipanas (1998)
• Ketua (Sosial Budaya) BAKOM PKB Provinsi Jawa Barat (1980 -1984) .
• Ketua BKSAG/ BAMAG Jabar (1982-1986)
• Ketua TIMNAS PP LDKG (1997-2000)
• Anggota WCC Central Committee (1998-2003)
• Salah satu pengurus Indonesian on Religion and Peace (IcomRP) (sampai
2004)
• Koordinator Forum Komunikasi Lembaga-Lembaga Gerejawi Aras Nasional
(Forum LGAN)
Pertemuan dan Pelatihan Internasional:
:: The International Training Institute for Church Renewal, Hongkong, 1970
:: The International Training Institute (advanced), Manila, 1975
:: The Urban Ministries of the CCA, New Delhi, 1973
:: Toward Full Humanity, Sri lanka, 1978
:: Seminar on Youth Christian Education, Virginia USA, 1985
:: National Meeting of American Ethicists, Boston USA, 1985
:: National Meeting of American Ethicists, Princeton USA, 1987
:: Meetings of Asian Theological Forum Boston and New York, 1983 -1989
:: General Assembly of WCC, Harare, 1998
:: WCC Central Committee Meeting, Geneva, 1999
Konferensi dan Seminar Nasional:
Selaku peserta maupun pembicara di pelbagai seminar, lokakarya, dan
konferensi di Indonesia.
Tulisan:
1. "The Christian Chinese Minority in Indonesia with Special
Reference to The Gereja Kristen Indonesia: A Sociological and Theological
Analysis" a dissertation. Submitted in partial fulfillment of the
requirements for the degree of Doctor of Philosophy
2. "Benih Yang Tumbuh: Sebuah Self-study GKI Jabar" (1975)
3. "Konsepsi Pembinaan Menyeluruh dan Sinambung" (1981)
4. "Penguasaan Diri: Buah Roh Yang Strategis untuk Pengembangan Manusia
Utuh" (1975/1989)
5. "Pelayanan: Pola Dasar Manusia Baru" (1980/1989)
6. "Core Business Gereja: Pengembangan Total Quality Gerejawi" (1997)
7. "Core Business Pendidikan Kristen: Pengembangan Total Quality
Management Pendidikan Kristen" (1998)
8. Banyak artikel
9. "Mewujudnyatakan Gereja Kristiani Yang Esa Sambil Mengatasi
Penyalahgunaan Narkoba" (2002)
10. "Bergereja dan Beroikoumene di Era Reformasi" (2002)
11. " Pola Dasar Hidup Beriman” (2002)
12. "Bunga rampai Tentang GKI” (2002)
13. "Enam Fungsi Jemaat GKYE Melawan Tipu Muslihat Iblis" (2003)
14. "Sikap dan Pemikiran Kritis Pdt. Natan Setiabudi Ketum PGI Menjelang
dan Pasca Pemilu (2004) .
Dll:
• Keesaan gereja dan relevansinya bagi dunia.
• Konsep core business gereja (CBG) sebagai penentu hidup gereja sebagai
gereja, dan penerapannya secara konsisten di seluruh tubuh gereja dan
badan- badan pelayanannya di segala bidang, terutama bidang pendidikan
Kristen. Mengembangkan total quality control/ management gerejawi untuk
meningkatkan kinerja gereja sepenuh potensinya.
• Konsep manusia utuh dan pewujudannya. Sebuah pendekatan holistik untuk
mengapresiasi seluruh aspek manusia dan kemanusiaan.
Hobi:
1. Dengar dan bermain musik (gitar)
2. Belajar dan Membaca
3. Latihan Tai Chi
Visi untuk Gereja dan Masyarakat:
Sesuai dengan naskah "Dokumen Keesaan Gereja 2000, PGI 2000-2005;
dan Aktivis Oikoumenis Gerejawi" |
|
| |
|
|
|
|
Pdt. Natan Setiabudi, STh,PhD
Pelayan Lintas Waktu dan Ruang
Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) periode 2000-2005
ini seorang pekerja keras yang bersifat timeless dan spaceless. Baginya
waktu dan ruang adalah hampa selama bekerja. Tiada hari tanpa berpikir
dan menulis. Ide dan gagasan mengalir terus bagai gelombang susul
menyusul di kepalanya. Waktu dan tempat seakan tidak bisa mengaturnya
jika sedang mencari atau sedang menemukan sesuatu ide.
Mengenai waktu, baik siang maupun malam bahkan hari libur seolah tiada
baginya. Begitu pula soal tempat, baik di rumah, di kantor, bahkan di
mobil sekalipun sama baginya dalam bepikir. Begitulah barangkali
gambaran yang paling tepat dari Pendeta Natan Setiabudi STh, PhD, jika
memperhatikan kesehariannya.
Natan Setiabudi kelahiran desa Blabak, Magelang, Jawa Tengah tanggal 30
Augustus 1940 adalah alumnus Sekolah Tinggi Theologia Jakarta,
1960-1966, dengan gelar S.Th. (lulus dengan predikat "cum laude") dan
Boston College Graduate School, USA, 1994, dengan gelar Ph.D.
Natan beristrikan Elizabeth Anantatedjana dan memiliki tiga putra: Danny
Setiabudi, George Citrawira Setiabudi, Gita Kristi Setiabudi. Ketiga
anak bersama mantu dan cucunya menetap di Amerika Serikat.
Pengerja GKI SW Jabar ini, mencuat kepermukaan ajang nasional karena
sikap, gagasan dan pemikiran-pemikirannya yang menurut beberapa orang
tidak klise tapi memiliki roh modernisasi moderat, yang mampu menembus
bidang untuk melakukan perubahan dan pembaharuan.
Ketua Umum PGI masa layanan 2000-2005 dan Koordinator Forum Komunikasi
Lembaga-Lembaga Gerejawi Aras Nasional (Forum LGAN), ini seorang yang
tenang, cerdas, berwibawa dan berwawasan luas. Dia menguasai banyak
persoalan di mana dan kapan saja. Baginya tiada hari tanpa berpikir dan
menulis. Ide dan gagasan mengalir terus bagai gelombang susul-menyusul
darinya. Karena kebiasaannya yang selalu mencari ide itu sehingga tidak
jarang kelihatan apabila ada yang menegurnya, dia tidak segera menyahut
bahkan sepertinya dia berada dalam keadaan ‘linglung’ karena pikirannya
sedang bekerja keras mencari pemecahan persoalan yang belum bisa
diterabasnya.
Pendeta yang duduk sebagai dewan penasihat pada organisasi ‘Jala Damai’,
suatu organisasi hukum yang ingin membantu para pekerja Tuhan yang
bermasalah dengan hukum, ini dalam perjalanan hidupnya sesekali
terbentur juga pada beberapa persoalan. Seperti, adanya gosip-gosip yang
kurang enak mengenai dirinya. Tapi gosip-gosip miring itu tidak pernah
ditanggapinya secara berlebihan. Untuk hal-hal seperti itu dia hanya
mengatakan, "Jangan layani orang bodoh agar kamu tidak ikut bodoh".
Dalam hidup kesehariannya, bila diperhatikan, pendeta ini tidak pernah
memakai jam tangan alias arloji. Kebiasaan itu dikarenakan dirinya
memang seorang pekerja keras yang bersifat timeless dan spaceless. Waktu
dan uang seolah hampa baginya selama dia bekerja. Jadi, tidak
mengherankan bila melihatnya suatu ketika dalam suatu perjalanan,
tiba-tiba menghentikan mobilnya dan segera mencari sehelai kertas apa
saja, kemudian menulis ide yang baru muncul dalam benaknya.
Begitu banyak kegiatan yang dilakukan suami dari Elisabeth Anantatedjana
ini, namun dia tetap tidak pernah merasa terlalu banyak. Di usianya yang
sudah 64 tahun ini, dia masih mampu mengurus berbagai kegiatan rohani di
samping kegiatannya di PGI dan yang lainnya yang sudah seabrek-abrek. Di
bidang kegiatan rohani ini, dia menjadi dewan penasihat pada beberapa
jaringan kerja rohani seperti: Jaringan Doa Nasional (JDN), Kelompok Doa
2000, Kelompok Doa Bagi Bangsa, Yayasan Kartidaya, Suara GKYE Peduli
Bangsa dan masih banyak kelompok/jaringan rohani lainnya.
Di samping itu, kakek yang masih bugar, ini juga masih salah satu
pengurus Pelkesi yaitu suatu pelayanan kesehatan bernuansa kristiani.
Dan secara ex officio, dia juga menjadi anggota pengurus Rumah Sakit
Yayasan PGI Cikini.
Pendeta yang satu ini juga terkenal sungguh peduli kepada masa depan
anak Indonesia. Dalam hal pembangunan anak bangsa ini, dia bersama Jesse
Monintja, Jahenos Saragih, Sonny Sompotan dan lainnya, sedang membina
dan membangun proyek pencontohan Pusat Penanggulangan Masalah Narkoba (PPMN)
atau proyek Gereja Kristiani Yang Esa Mengatasi Penyalahgunaan Narkoba (GKYE
- Narkoba) di wilayah Jakarta Barat.
Dalam bidang pendidikan, pernah menjadi dewan Penasihat Universitas
Kristen Krida Wacana (UKRIDA) dan dosen tamu pada STT Cipanas. Dalam
bidang ilmiah, Natan seringkali diminta untuk melakukan orasi ilmiah
pada beberapa perguruan tinggi theologia di seluruh Indonesia. Tahun
2004, Natan juga diminta untuk duduk dalam Majelis Pembimbing Nasional (Mabinas)
Gerakan Pramuka 2003-2008 yang diketuai oleh Presiden Republik
Indonesia.
Dalam bidang politik, Natan diangkat oleh Menko Bidang Kesejahteraan
Rakyat dan Menko Bidang Politik dan Keamanan sebagai Komisi Pemantau
Pelaksanaan Deklarasi Malino untuk Poso tahun 2002. Selain itu, Badan
Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA) yang lintas agama, memasukkan Natan
sebagai Dewan Pengurus Pusat dalam kegiatannya.
Kemenonjolan lain yang dimilikinya adalah kemampuan bermain catur yang
luar biasa. Bila tidak menjadi seorang pendeta saat ini, mungkin orang
akan
mengenal Natan sebagai jago catur andalan Indonesia di dunia
Internasional.
Hal aneh lain yang dimilikinya adalah bisa belajar sambil mengayuh
sepeda. Dia bercerita bahwa pada waktu mahasiswa, kuliah dekat bioskop
Megaria di Salemba Jakarta. Bila ada film bagus tapi esok hari ada ujian,
maka dia akan membawa buku catatannya dan belajar di atas sepeda yang
sedang berjalan menuju gedung bioskop.
Selain itu, visi pribadinya tentang keesaan gereja dan relevansinya bagi
dunia tidak pernah pudar. Natan berkata: "Jabatan Ketua Umum PGI
memberikan saya peluang dan kesempatan luar biasa untuk berdiskusi dan
berdialog dengan aktivis-aktivis oikoumene gerejawi dan oikoumene
kemasyarakatan. Peristiwa langka ini telah mempertajam dan menguak batas
keterpikiran saya dalam hal menggali doa Tuhan Yesus Kristus: ‘agar
semua menjadi satu'. Selalu ada terobosan baru!"
Demikian pula konsep manusia utuh dan pewujudannya yaitu sebuah
pendekatan menyeluruh/holistik untuk mengapresiasi seluruh aspek manusia
dan kemanusiaan tetap diapresiasinya terus menerus. Dalam hal manusia
utuh ini dia memiliki konsepsi menyeluruh, serentak dan sinambung (KPMS)
yang telah disusun dan ditawarkan sebagai program pembinaan jemaat GKI.
Pada masa remajanya, Natan begitu tertarik pada seorang remaja putri
sehingga bila dia memompa ban sepedanya atau memompa air untuk mandi,
Natan remaja hanya akan berhenti memompa bila hitungan telah sampai pada
nomor rumah gadis yang ditaksirnya, yang kemudian menjadi isterinya.
Natan sejak umur delapan tahun telah dilatih kepekaannya dalam berdagang
dengan berjualan permen di depan kios ibunya. Dalam bidang musik, Natan
memiliki kemampuan bermain gitar klasik yang piawai “Berkat ayahku, aku
selalu menikmati suara gitar lebih daripada suara alat musik apa pun.
Ayahku melentingkan suara dawai gitar ke telingaku tiap hari sejak aku
terlahir ke dunia fana ini dan hal ini membentuk selera musikku."
Ditahbiskan sebagai Pendeta di Gereja Kristen Indonesia (GKI ), April
1968. Sejak itu, karir Natan mulai berkembang. Natan merupakan salah
satu pelaku sejarah di GKI yang mempersatukan GKI SW Jabar, GKI SW
Jateng dan GKI SW Jatim menjadi Satu GKI
Namun sebelum ditahbiskan sebagai pendeta ia sudah melayani di Jemaat
GKI Tangerang, satu Jemaat kecil dengan anggota jemaat lebih seratus
orang, pada tahun 1967. Pelayanannya di sana berlangsung sampai enam
tahun (1967-1973). Di samping itu, dia juga dinobatkan memegang beberapa
kepengurusan organisasi yang masih berkaitan dengan pelayanan sebagai
pendeta. Sejak 1970, dia terpilih sebagai Ketua BKKK (Badan Kerjasama
Kegiatan Kristen) Tangerang serta sebagai Ketua II BPMS GKI Jawa Barat.
Kepengurusan itu diegangnya sampai masa pelayanannya berakhir di sana.
Selepas dari Tangerang, pendeta ini kemudian melayani jemaat di GKI
Kebonjati, gereja GKI Jabar terbesar saat itu dengan keanggotaan
5.000-an jemaat. Di gereja ini dia melayani selama duapuluh dua tahun
(1973 – 1995).
Selagi melayani di Jemaat Kebonjati itu, Dia terpilih sebagai Ketua Umum
GKI Klasis Bandung sampai tiga periode yakni pada periode 1978-1980;
1980-1982; dan periode 1992-1994. Pada saat itu, dia pun terpilih
sebagai Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI)-Wilayah Jawa
Barat periode 1982-1984.
Pada tahun 1992 sampai tahun 1998, dia terpilih sebagai Ketua Umum
Sinode Am GKI. Dan setahun berikutnya, dia juga diberi tugas sebagai
Ketua Komisi Tata Gereja GKI (1993-1998). Di sela-sela tugasnya tersebut,
tahun 1995, dia juga kemudian terpilih sebagai Ketua Umum (penuh waktu)
GKI Sinode Wilayah Jawa Barat. Pelayanan ini diembannya sampai tahun
2000.
Pelayanannya tidak hanya pada lingkup PGI atau GKI, tapi dalam banyak
bidang yang bernafaskan pelayanan umat. Pelayanan tersebut antara lain
seperti sebagai Penasihat BPK Jabar KPS Bandung (1977-1979), serta
sebagai Penasihat PIKI Jawa Barat (1990-1995).
Demikian halnya dalam bidang akademik, dia juga pernah melayani sebagai
Penasihat Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) pada tahun 1995
sampai 2002, dan sebagai Dosen Seminari Theologi Cipanas (1998).
Berorganisasi baginya bukan merupakan hal yang baru. Pengalamannya dalam
bidang organisasi memang sudah begitu mapan. Kegiatan organisasi itu
sudah dilakoninya sejak mahasiswa bahkan sebelumnya. Ketika masih
mahasiswa, dia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa STT Jakarta tahun
1965-1966-an. Karena pada waktu itu pemberontakan PKI sedang meletus,
maka dia dan kawan-kawan mahasiswanya dilibatkan oleh TNI untuk
‘menyisir’ kekuatan PKI di kampung-kampung Jakarta. Ketika itu dia
diangkat sebagai komandan pleton mahasiswa dalam pelatihan keprajuritan.
“Suatu pengalaman luar biasa bagi seorang calon pendeta,” katanya
mengenang.
Dalam aktivitasnya yang demikian sibuk sebagai pendeta, dia juga masih
membagi waktunya sebagai Ketua (Sosial Budaya) BAKOM PKB Provinsi Jawa
Barat (1980-1984), Ketua BKSAG/ BAMAG Jabar (1982-1986) dan Ketua TIMNAS
PP LDKG (1997-2000)
Terakhir, disamping sebagai Ketua Umum PGI, dia merupakan Anggota WCC
Central Committee sejak tahun 1998 sampai 2004. Selain aktif di
organisasi, dia juga salah satu pengurus perseroan yang berurusan dengan
administrasi keuangan diakonia gereja, PT Trustee Diakonia.
Kemampuan atau kearifan dalam memimpin memang bukanlah suatu yang datang
dengan sendirinya, tapi merupakan suatu hasil dari proses perjalanan
hidup dari seseorang yang mungkin cukup panjang. Sadar dengan hal itu,
maka pendeta yang dijuluki orang sebagai sosok demokrat yang memiliki
ketajaman visi dan misi, ini pun sering mengikuti pertemuan dan
pelatihan yang bersifat nasional maupun internasional untuk pembinaan
diri. Beberapa pelatihan atau pendidikan lanjut di dalam maupun luar
negeri sering dihadirinya baik hanya sebagai peserta maupun sebagai nara
sumber.
Di antara pelatihan dan pertemuan internasional tersebut yaitu: The
International Training Institute for Church Renewal Hongkong, pada tahun
1970; The International Training Institute (advanced), Manila, pada
tahun 1975; The Urban Ministries of the CCA, New Delhi, pada tahun 1973;
Toward Full Humanity, Sri lanka, pada tahun 1978; Seminar on Youth
Christian Education, Virginia USA, pada tahun 1985; National Meeting of
American Ethicists, Boston USA, pada tahun 1985; National Meeting of
American Ethicists, Princeton USA, pada tahun 1987; Meetings of Asian
Theological Forum Boston and New York, pada tahun 1983 -1989; General
Assembly of WCC, Harare, pada tahun 1998; WCC Central Committee Meeting,
Geneva, pada tahun 1999; dan Reimagining Rhe Religion, AS, pada tahun
2004.
Sementara pelatihan dan pertemuan nasional yang sangat erat hubungannya
dengan kiprahnya yang sebagai Dewan Penasihat PIKI. Dia sering diundang
sebagai peserta maupun pembicara atau nara sumber di pelbagai kegiatan
seminar, pelatihan, lokakarya, diskusi panel diskusi terbatas dan
konferensi di seluruh wilayah Indonesia. Begitu pula dalam kapasitas
sebagai Ketua Umum PGI, dia memiliki mobilitas yang tinggi untuk
memenuhi undangan umat kristiani yang tinggal di pelbagai pelosok tanah
air guna untuk bertemu sekaligus berdialog.
Pendeta yang merupakan salah satu anggota badan pengurus Indonesian on
Religion and Peace (IcomRP), ini merupakan seorang intelektual yang
gemar membaca buku. Mengenai hal yang satu ini, dia tidak hanya fokus
pada bacaan sesuai disiplin ilmu theologia yang dikuasainya, tapi buku
bertema apa saja dibacanya dengan serius dan mendalam. Sehingga tidak
mengherankan jika mendengar pendeta yang satu ini dapat berbicara
tema-tema di luar bidang disiplin ilmu yang dikuasainya sefasih tentang
ilmu theologia, ilmu yang memberikannya gelar Ph.D.
Dalam penulisan buku juga, dia termasuk produktif. Dia telah
menghasilkan beberapa buku yang dipersembahkannya bagi umat kristiani
dan masyarakat umum. Beberapa buku buah pikirannya tersebut antara lain
berjudul: (1) "The Christian Chinese Minority in Indonesia with Special
Reference to The Gereja Kristen Indonesia: A Sociological and
Theological Analysis" a dissertation, Submitted in partial fulfillment
of the requirements for the degree of Doctor of Philosophy"; (2) "Benih
Yang Tumbuh: Sebuah Self-study GKI Jabar",1975 ; (3) "Konsepsi Pembinaan
Menyeluruh dan Sinambung", 1981; (4) "Penguasaan Diri: Buah Roh Yang
Strategis . untuk Pengembangan Manusia Utuh" (1975/1989); (5) "Pelayanan:
Pola Dasar Manusia Baru" (1980/1989).
Kemudian buku yang berjudul: (6) "Core Business Gereja: Pengembangan
Total Quality Management Gerejawi" (1997); (7) "Core Business Pendidikan
Kristen: Pengembangan Total Quality Management Pendidikan Kristen" (
1998); (8) "Mewujudnyatakan Gereja Kristiani Yang Esa Sambil Mengatasi
Penyalahgunaan Narkoba" (2002); (9) "Bergereja dan Beroikoumene di Era
Reformasi" (2002); (10) “Pola Dasar Hidup Beriman" (2002); (11) "Bunga
rampai Tentang GKI (2002); (12) "Enam Fungsi Jemaat GKYE Melawan Tipu
Muslihat Iblis", (2003); (13) "Sikap dan Pemikiran Kritis Pdt. Natan
Setiabudi Ketum PGI Menjelang dan Pasca Pemilu” (2004).
► juka
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|