|
|
ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA |
|
| Search |
|
|||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||
| :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka :: | ||||||||||||||||
|
|
R up date 200502 | ||||||||||||||||||||||||||||
|
|
![]() Nama : Tgk. H. Nashiruddin Daud Lahir : Padang Keuneuleh, Manggeng, Aceh Selatan, 31 Desember 1942 Wafat: 1 Februari 2000 Agama : Islam Istri : Rosniar Anak : Abdul Rauf, 1974 Qushairi, 1975 Nuriati, 1978 Husna, 1980 Yusra, 1982 Sahrati, 1984 Muhammad Fadhil, 1989 Nurbaiti, 1992 Pendidikan: Sekolah Rakjat, Manggeng, 1958. Iptidaiyah Darussalam, Labuhan Haji, 1961 Tsnawiyah Darussalam, Labuhan Haji, 1964 Aliyah Darussalam, Labuhan Haji, 1967 Aliyah Banda Aceh, 1969 Organisasi: 1970-1972, pengurus Partai Islam Perti, Aceh 1974-Sekarang: Imam mesjid Baitul 'Alam, Kuta Alam Banda Aceh 1980-1994-ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Alam Jaya, Kuta Alam 1981-1990, ketua Perti Kodya Banda Aceh 1982-1987: Anggota DPRD Banda Aceh 1985-1990, Wakil ketua DPC PPP Banda Aceh 1988-1993, Wakil ketua DPD Perti, Aceh 1990-1995, Wakil Sekretaris DPW PPP Aceh 1995-Sekarang: Wakil ketua Inshafuddin, Aceh 1998-Sekarang: Pimpinan Daya Inshafuddin 1999-2004: Wakil ketua DPW PPP Aceh 1999-sampai wafat: Anggota DPR/MPR-RI Alamat : Jl Puda 5 Kuta Alam, Banda Aceh Tel. (0651) 27128 Komplek DPR-RI Blok A6-98 Kalibata Jakarta Selatan Hp 0811182254 |
Tgk Nashiruddin Daud Sosok Pendiam tapi LugasYa Allah, mengapa ada manusia yang sekeji ini? Mengapa Tgk Nash yang selurus ini dibunuh dan dianiaya? Apa yang diharapkan dari orang yang tidak memiliki ambisi pada jabatan dan tidak gila harta, yang sampai akhir hayatnya hidup sangat sederhana ini...?"Ucapan yang berisi doa ini keluar dari mulut Tgk Muhammad Yus, ketua DPRD Aceh yang juga ketua DPW PPP ini, saat memberikan sambutan akhir pemakaman Tgk Nashiruddin Daud, hari Selasa (1/2/2000) siang. Barangkali, ucapan Abu Yus ini bisa sedikit memberi gambaran awal mengenai sosok Tgk Nash. Ulama dan politisi PPP kelahiran Manggeng, Aceh Selatan, 31 Desember 1942 ini, di tengah keluarga maupun pergaulan hidupnya, memang dikenal sebagai orang yang lurus, jujur, tidak ambisius, pendiam, tetapi memiliki sikap keras dan serius dalam bekerja. Tgk Nashiruddin, yang sering disapa dengan Abu Nash atau Tgk Nash, dalam kesehariannya tampil sangat sederhana dan terbilang bersahaja. Hidup sederhana sepertinya memang menjadi cita-cita hidup Tgk Nas. Buktinya, hingga akhir hayatnya ia masih tinggal di rumah sangat sederhana untuk ukuran tokoh sekaliber dia, di Jalan Puda No. 5, Banda-aceh. Sebagai dai laris yang jam terbangnya lumayan tinggi, belum lagi keterlibatannya di banyak organisasi, perusahaan dan koperasi, sebenarnya dia bisa memiliki banyak fulus di kantongnya. "Abu nggak punya banyak uang. Makanya saya ikut membantu membiayai keluarga dengan cara berjualan nasi gurih," ujar Rosniar. TEMPO Interaktif yang berkesempatan mengunjungi rumahnya juga tidak melihat adanya perabotan yang memadai. Malah kursi tamu, kata Rosniar, sudah berkali-kali diperbaiki, dan diganti kainnya. Mantan anggota DPRD Banda Aceh di era 80-an yang suka naik becak ini, konon tidak memiliki mobil pribadi. Yang membanggakan, meskipun keluarga Tgk Nash tak punya uang, tetangga sebelah rumah tidak tahu. Hal itu bisa terjadi, selain karena memang begitulah pola yang diterapkan dalam keluarganya , juga karena sikap pendiam Tgk Nash. "Dia memang pendiam, sejak muda sudah begitu," papar Nyonya Rosniar, sang istri satu-satunya yang dinikahi Tgk Nash sejak 1971 dan telah memberinya 3 putra dan lima putri ini. Dan hal ini pula yang menyebabkan keluarganya tidak mengetahui, urusan apa yang ingin diselesaikan Tgk Nash di Medan, sampai ia memisahkan diri dari rombongan Tim Forka, pada hari keberangkatannya ke Jakarta. Abdul Rauf , putra pertama Tgk Nash, menyebutkan, tidak ada yang istimewa dan tanda-tanda aneh yang diperlihatkan ayahnya menjelang keberangkatan ke Jakarta pada Minggu (23/1), -- yang merupakan keberangkatan terakhir dan tak akan pernah kembali lagi. "Dia hanya tertawa-tawa, memberi nasehat, dan meminta agar saya segera menyelesaikan kuliah," kata mahasiswa angkatan 1992 Teknik Elelektro Universitas Iskandar Muda yang juga aktivis Koalisi Aksi Reformasi Mahasiswa Aceh (KARMA) itu. Yang menjumpai tanda-tanda aneh, hanyalah Nyonya Rosniar. Misalnya, ketika dia mengelap kaca meja tamu rumahnya, tanpa sentuhan benda keras kaca meja itu pecah sendiri. Tgk Nashiruddin telah mengabdikan ilmu yang didapatnya di pesantren dan aliyah pada pendidikan politik dan penyiaran Islam. Sepanjang hidupnya, dia sangat banyak menghabiskan waktunya untuk pengajian dan berkiprah di organisasi Islam. Selama 27 tahun, dia mengabdi di mesjid Baitul 'Alam sebagai imam shalat dan guru ngaji, hingga nasib membawanya ke Senayan dan hidupnya berakhir dengan tragis. Kepada TEMPO Interaktif dia pernah berkata, "Saya terpilih berangkat ke Jakarta bukan karena kepintaran, pengaruh ataupun harta, melainkan karena nasib. Rakyat memilih saya dan saya harus bersungguh-sungguh memperjuangkan mereka." Yang membuat kebanyakan rakyat di Aceh kecewa dengan apa yang terjadi padanya adalah, bukan saja karena dia dibunuh secara keji, tetapi juga karena rakyat belum melihat hasil perjuangannya. Meskipun tentu saja rakyat Aceh telah memiliki catatan khusus, bahwa Tgk Nashiruddin Daud sudah memperjuangkan nasib rakyat dan Tanah Aceh yang dicintainya.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari
Tempo Interaktif |
||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
| Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |