| |
C © updated 06102005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/sub |
|
| |
Nama:
Raden Panji Mohammad Noer
Lahir:
Sampang,13 Januari 1918
Agama:
Islam
Isteri:
Mas Ayoe Sid Rachma
Anak:
8 orang (4 Pria & 4 Wanita)
Pendidikan:
1. HLS lulus tahun 1932
2. MULO lulus tahun 1936
3. MOSVLA. lulus tahun 1939
Jabatan:
- Mantan Gubernur Kdh Tingkat I Jawa Timur
- Mantan Duta Besar RepuUlik Indonesia untuk Perands
Riwayat Pekerjaan:
1. Juli 1939 -Agustus 1949, Pamong Praja
2. Agustus 1949-Maret 1950, Kapten TNI
3. Maret 1950-Januari 1976, Pamong Praja terakhir Gubemur Kdh Tingkat I
Jawa Timur mulai Desember 1967-Januari 1976
4. 1973 -1978, Anggota MPR RI
5. Oktober 1976-Oktober 1980, Duta Besar R.I untuk Perancis
6. Agustus 1981-1983, Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
7.1983-11 Maret 1988, Anggota DPA Periode II
8. 1987, Anggota MPR RI
9. 1989-1997, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN)
10. 1989-Sekarang, Ketua Dewan Penyantun seluruh Univ Negeri di SuraUaya
dan beberapa Univ Swasta di Surabaya, Jember dan Madura
11. 1980-Sekarang, Ketua Yayasan Jantung Cab. Utama Jawa Timur
12. 1984-sekatang, Ketua Yayasan Asma Wilayah Jawa Timur
13. 1985-sekarang, Ketua Yayasan Aji Dharma Bhakti (bergerak di bidang
Sosial Pendidikan) Pemberian beasiswa
14. 2005-sekarang, Dewan Kurator Universitas Al-Zaytun
TandaJasa/Penghargaan:
1. Bintang Gerilya
2 Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
3. Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
4. Satya Lencana Penegak
5. Tanda Kehormatan Bhayangkara
6. BintangYalasena
7. Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama III
8. Dlari Pemerintah Perancis : Odre National Du Merite (Grand Officer)
9.Tanda Pengharg•aan Lencana "MELATI" dari Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka
10. Satya Lencana Kebaktian Sosial
11. Manggala Karya Kencana dari BKKBN
12. Tanda Penghargaan dari Menteri Pemuda & Olah Raga
13. Tanda Penghargaan dari Menteri Keuangan "Pembayar Pajak Penghasilan
Perorangan"
14. Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia
15. Piagam Penghargaan Rektor Univ. Airlangga "WIIDYA AIRLANGGA KENCANA"
Atas Jasa Prestasinya ikut memajukan dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan,
Teknologi, Kemasyarakatan dan Kebudayaan (S.K. Rektor Universitas
Airlangga No.3748/PT03.H/P/1993) Tertanggal 13 Nopember 1993
Hobby:
Olah Raga (berenang)
Alamat Rumah:
Jl. Ir. Anwari No. 11 Surabaya 60264 Telp. (031)567-5458 568-2725 Fax.
(031)56211400
Alamat Kantor:
Yayasan Jantung Indonesia Cab. Utama Jatim
Jl. Mulyorejo Surabaya. Telp. (031) 3810365
|
|
| |
|
|
|
|
| M NOER HOME |
|
|
 |
Mohammad Noer
Sang Pamong Abdi Rakyat
Pada usia hampir 90 tahun, M. Noer tak pernah berhenti berpikir dan
berkarya. Tujuan utamanya meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui
pendidikan sumber daya manusia. Sebab, tujuan kemerdekaan adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat, membuat wong cilik biso minggo
kemuyu (orang kecil bisa sejahtera).
Bencana datang silih berganti. Rakyat menjerit lantaran tertindih
kesulitan demi kesulitan ekonomi. Kenyataan pahit ini mengingatkan H.
Muhammad Noer yang bergelar bangsawan Raden Panji pada kemiskinan
masyarakat Madura tahun 1926. Kemarau panjang di P. Madura berlangsung
setiap tahun dari Juli sampai Oktober, kekeringan yang menggoreskan
paceklik berpuluh-puluh tahun.
Saat itu, M. Noer masih duduk di kelas III HIS, Sampang. Pria yang
dilahirkan di Kampung Beler, Desa Rong Tengah, pinggiran kota Sampang,
tanggal 13 Januari 1918 ini, dalam usia yang sangat belia (8 tahun),
terpana melihat iring-iringan pria dan wanita berobor dengan beban berat
di pundak dan punggung. Mereka berjalan kaki berkilo-kilometer, menembus
gelap malam, menuju pantai selatan. Kenyataan yang terjadi
berulang-ulang tersebut, baginya menjadi misteri selama lima tahun.
Pada suatu malam, rasa ingin tahu M. Nur kecil tak terbendung lagi.
Dalam gelap malam, ia diam-diam menguntit iring-iringan yang berhenti di
pelabuhan Sungai Sampang itu. Di bawah penerangan obor yang meliuk-liuk
diterpa angin, mereka menaiki perahu berkelompok-kelompok. Kemudian
iring-iringan perahu melempar sauh, mengembangkan layar. Perahu-perahu
itu berlayar semakin jauh, sampai tak terlihat lagi. Ia memendam misteri
itu sendirian, dan ingin menemukan sendiri jawabannya.
M. Noer menemukan jawabannya lima tahun kemudian, setelah ia berusia 13
tahun. “Deraan kemiskinan dan ancaman kelaparan setiap musim kemarau
mendorong mereka mencari sesuap nasi di tanah seberang.” Eksodus
masyarakat Madura saat itu: dari Sampang ke Probolinggo atau Pasuruan,
dari Bangkalan ke Surabaya sampai Malang, dari Pamekasan ke Probolinggo,
Jember dan Lumajang, dari Sumenep ke Situbondo, Panarukan dan Bondowoso,
sedangkan yang ke Kalimantan dari Madura bagian Tengah. Kenangan di masa
kecil ini melekat erat dalam kehidupan M. Noer. Dari sini timbul
obsesinya untuk memakmurkan Madura. Ia ingin mendalami bidang pertanian
untuk memperbaiki nasib masyarakat Madura yang daerahnya gersang.
(Mohammad Noer: Pamong Mengabdi Desa).
M. Noer putra ketujuh dari 12 anak pasangan Raden Aria Condropratikto
dan Raden Ayu Siti Nursiah, dua-duanya keturunan bangsawan Madura. M.
Noer menikahi Mas Ayu Siti Rachma, tahun 1941. Mereka dikaruniai empat
putri dan empat putra. Putra Madura ini memulai karir pangreh prajanya
tahun 1939, magang di Kantor Kabupaten Sumenep, begitu tamat dari MOSVIA
Magelang. Sejak itu sampai menjadi gubernur, M. Noer mengabdikan dirinya
sebagai pamong praja. Ia pernah menjadi anggota MPR dan DPA. Tahun
1976-1980, M. Noer mendapat tugas menjadi Duta Besar RI di Prancsis.
Sekarang, dalam usianya yang menginjak 87 tahun, M. Noer tak pernah
berhenti berpikir dan berbuat untuk memakmurkan, tidak hanya masyarakat
Madura, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Sebab, tujuan kemerdekaan
adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selaku Ketua Penguasa
Daerah, M. Noer, dalam sebuah forum resmi di tahun 1970, dengan lantang
mengatakan bahwa tujuan kemerdekaan: membuat wong cilik biso minggo
kemuyu (orang kecil bisa sejahtera).
M. Noer, dari 1939 sampai 1980, menjadi abdi rakyat. Ia telah
berkeliling dunia, kecuali Rusia dan Afrika Selatan, membandingkan
negara-negara lain dengan Indonesia. Negara ini kaya dan besar. Di
tanahnya, lautnya, semuanya ada. Tetapi, kenapa rakyatnya miskin?
“Inilah yang betul-betul tidak kita pahami,” kata M. Noer di dalam
sebuah pidato menyambut rombongan Ma’had Al-Zaytun pimpinan Syaykh AS
Panji Gumilang, di Surabaya, Sabtu (17/9). Pada kesempatan itu, Syaykh
Panji Gumilang mengangkat M. Noer sebagai anggota Dewan Kurator
Universitas Al-Zaytun yang diresmikan bulan Agustus, 2005. M. Noer juga
menjadi anggota Dewan Kurator pelbagai perguruan tinggi di Surabaya,
seperti Airlangga, ITS, Muhammadiyah, Bayangkara dan UBN. Padahal
pendidikannya hanya setingkat SMA.
Meskipun melihat kenyataan yang sangat bertolak belakang, M. Noer tetap
berdoa bagi keselamatan para pemimpin bangsa, baik dari kalangan
pemerintah maupun masyarakat dan ulama agar mereka terus berbuat untuk
mensejahterakan rakyat. Inilah cita-citanya, mulai dari Kepala Desa di
Sampang sampai menjadi Gubernur Jawa Timur dan Duta Besar RI di Prancis.
Empat tahun bertugas di sana, ia berupaya keras meningkatkan hubungan
Indonesia dan Perancis guna meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
M. Noer bertekad untuk bisa mengamalkan ilmunya, bersyukur karena
dikaruniai umur panjang dan kesehatan. Sebab umur panjang, tapi tidak
sehat tidak ada artinya. Yang penting umur panjang, sehat dan berguna.
Untuk apa? Ya, untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Ketika menjabat Gubernur Jawa Timur (1967-1976), M. Noer selama 20 hari
berada di desa-desa, hanya 10 hari dikantornya, untuk melihat keadaan
rakyat. “Saya berorientasi ke desa karena saya abdi rakyat,” kata M.
Noer kepada Berita Indonesia.
Ia selalu dekat dengan rakyat karena ingin tahu apa yang mereka rasakan,
dan apa kekurangan, kebutuhan, keluhan dan keinginan mereka. Mungkin
mereka masih ada yang buta huruf, tapi tidak buta hati. M. Noer sadar
bahwa sebagai gubernur atau kepala daerah yang meniti karir sebagai
pamong praja, tetap menjadi abdi rakyat. Ia tidak bisa hanya memerintah
dari kantornya, tetapi selama 20 hari berada di desa-desa, berkeliling
dari satu ke lain kabupaten.
“Saya perioritaskan desa-desa miskin,” kata M. Noer.
Apa yang ia lihat, dilaksanakan dengan mekanisme yang benar melalui
cara-cara administrasi dan birokrasi. Ia memberitahu para pejabat di
lingkungannya mengenai hal-hal yang perlu dilaksanakan. Bilamana ada
laporan, ia langsung melakukan cek dan ricek, apakah perintah atau
petunjuknya, dilaksanakan atau tidak, oleh para pelaksana di bawah. M.
Noer punya tim khusus yang akan melakukan pengecekan. Karena itu, ia
menekankan sikap jujur kepada para bawahannya, tidak mengecoh dan
mengabaikan kepentingan rakyat.
Tanpa Perbedaan
Ketika duduk di kursi gubernur, M. Noer melaksanakan tugas-tugasnya
dengan jujur, sungguh-sungguh dan disiplin. Ia bahkan memperhatikan
pagar rumah setiap warganya. Dengan demikian setiap orang tahu
batas-batasnya. Kebijaksanaan membuat pagar rumah itu dilaksanakan
dengan konsekuen, yang tidak mampu dibantu. Jika orang Jakarta datang ke
Jawa Timur, sesudah memasuki Ngawi menemukan rumah berpagar, berarti ia
sudah masuk Jatim.
Kata M. Noer, pembangunan mesti mencegah perbedaan antara desa dan kota.
Masyarakat harus sama-sama diajak berpartispasi, baik di dalam membangun
desa maupun kota. Jikaa ada SD sampai kelas empat tapi hanya punya
ruangan tiga kelas, maka masyarakat harus diajak berpartisipasi untuk
membangun kelas tambahan, bahkan untuk pengadaan guru.
M. Noer membanggakan provinsinya karena pertama kali mendapatkan
penghargaan Prasamya Karya Nugraha. Daerah ini dinilai berhasil
memajukan ekonomi, bukan semata-mata hasil prestasi sang gubernur,
tetapi juga rakyatnya. Ia membandingkan dengan keadaan sekarang. Para
pemimpin saling mengejek. Korupsi meluas. Kata M. Noer, di Surabaya ada
30 anggota DPRD, ada yang memperoleh ganti sewa Rp 5 juta per bulan per
orang. Lantas uang itu dari mana, “kan dari pajak rakyat. Kenapa
demikian. Kita harus kembali ke moral.”
“Saya tidak akan bilang harus begini dan begitu. Mohonlah pada Allah,
semoga ada kejujuran di tingkat pimpinan untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat,” kata M. Noer. Ini masalah moral, dan untuk
memperbaikinya harus lewat doa dan dakwah untuk menyadarkan para
pemimpin.
M. Noer selalu menomorsatukan pendidikan. Ketika menjadi Bupati, ia
melaksanakan program Tiga-P. Pendidikan menuju tauhid. Percaya kepada
Allah, dan perhubungan. Dengan pendidikan, masyarakat menjadi melek
huruf agar bisa membaca dan pintar. Jika seseorang sudah percaya kepada
Allah diharapkan hatinya bersih. Dan perhubungan bermaksud agar tidak
ada lagi daerah terpencil, makanya harus dibikin jalan.
Menurut M. Noer yang kini menjadi anggota Dewan Pendidikan Nasional,
pendidikan tanggung jawab tiga elemen; pemerintah, masyarakat dan
orangtua. Jangan selamanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat dan
orang tua mesti berpartisipasi. Ia sendiri sangat mengagumi Ma’had
Al-Zaytun yang dipimpin Syaykh AS Panji Gumilang. Ma’had Al-Zaytun
mencakup begitu luas, mulai dari kebutuhan pendidikan sampai pangan,
semuanya tersedia di situ.
“Ini harus jadi contoh. Dan mereka tidak menggunakan uang negara,” kata
M. Noer.
Ia melihat di Indonesia, pendidikan sudah berjalan bagus,
mengharapkannya benar-benar menjadi modal di masa datang. Katanya,
secara internasional arahnya ke sana. M. Noer setiap datang ke desa
selalu memperhatikan masalah pendidikan, mendengarkan keluhan masyarakat
dan pemerintah setempat.
Bagaimana Indonesia ke depan?
M. Noer menghendaki Indonesia tidak menggantungkan diri pada pihak lain.
Karena itu sumber daya manusianya (SDM) harus ditingkatkan. Indonesia
sangat kaya. Gas, minyak dan batu baranya dieksploitasi dan dikerjakan
oleh orang asing. Kata M. Noer, bilamana SDMnya sudah berkemampuan, maka
semua kekayaan alam Indonesia digali dan dikerjakan sendiri. Sekarang,
pengeboran minyak dilakukan orang-orang Filipina yang bergaji USD 2.000
dolar sebulan. Kata M. Noer, Indonesia mestinya bisa mendidik dan
mempekerjakan orangnya sendiri.
M. Noer juga merujuk pada pembangunan jembatan Surabaya-Madura. Ia
melihat ada dua soal. (1) Pelaksana pekerjaan pembangunan harus ditender
secara internasional dan terbuka. Konsultannya mesti mengetahui masalah
teknis dan keuangan. (2) Kalau jembatan Suramadu sudah selesai, nanti
akan dibikin jalan tol. Di Madura akan ada kawasan industri dan bandar
udara yang sudah tentu memerlukan tenaga-tenaga terdidik.
Ia berinisiatif menyampaikan hal ini kepada Gubernur dan para Bupati. M.
Nur memiliki yayasan pendidikan, mengirim 30 anak dengan beasiswa dua
semester untuk pendidikan di Politeknik (D-4) ITS. Dalam dua semester,
beasiswanya Rp 150 juta. Itu dibayar oleh yayasan milik M. Noer, dan
para pengurusnya setuju. Setelah dua semester tidak mendapat tanggapan,
baik dari gubernur maupun para bupati. Tetapi temannya dari Bali memberi
bantuan untuk satu semester. Dan gubernur akan memberi bantuan pada
semesetr keempat. “Ini maksudnya agar masyarakat Madura tidak hanya jadi
penonton,” kata M. Noer.
M. Noer sangat terobsesi dengan pembangunan jembatan Suramadu. Latar
belakangnya, ketika menjabat Patih (Wakil Bupati) Bangkalan tahun 1950,
ada kerja sama antara Bupati Bangkalan dan Walikota Surabaya. M. Noer
menjadi sekretaris. Setelah gubernur, M. Noer jadi ketua. Saat itu, M.
Noer sudah membayangkan akan terjadinya kemacetan di Surabaya. Ia punya
gagasan agar Kamal di ujung Bangkalan menjadi kota satelitnya Surabaya.
Tetapi hubungan Surabaya-Kamal saat itu dimonopoli oleh PJKA. Angkutan
lautnya dikuasai PJKA. Dari Kamal Ujung ada bis dan kapal ferry. Waktu
itu pelabuhan Ujung Kamal hanya diizinkan oleh Angkatan Laut boleh
dipakai dari pukul 6.00 sampai 18.00.
Ketika jadi gubernur, M. Noer mengubah pelabuhannya, tidak di Ujung,
tetapi di Perak agar bisa terbuka 24 jam. Monopoli PJKA-pun dihapus,
terbuka untuk semua pengusaha angkutan. Tetapi hal itu belum memuaskan.
Karena itu ia punya ide membangun sebuah jembatan. Ide ini memang mahal,
namun sudah mulai terwujud.
M. Noer ingin melihat kekayaan Indonesia diimbangi oleh SDM yang
berkemampuan, lewat pendidikan. Dengan demikian sumber daya alam (SDA)
tidak dikeruk oleh orang asing, tetapi oleh tenaga sendiri. Ia ingin
pembangunan tidak hanya bertumpu di darat, tetapi laut juga harus
diutamakan. Berapa ton ikan, dan berapa triliun rupiah yang dikeruk
orang lain dari laut Indonesia. “Pokoknya, negara kita kaya raya,” kata
M. Noer dengan nada yang selalu optimis. ►e-ti/sh,ri,sub
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|