| |
C © updated 05022004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
Nama
Dr. Mochtar Riady (Lie Mo Tie)
Lahir
Malang, Jawa Timur, 12 Mei 1929
Jabatan:
Pendiri Grup Lippo dan Universitas Pelita Harapan
Sumber:
www.sinarharapan.co.id/
ekonomi/ceo/ 2002/03/3/ceo01.html
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Dr. Mochtar Riady
Sambut Era Globalisasi dan Liberalisasi
Di Grup Lippo konon ada tiga filsuf. Yang pertama Mochtar Riady, kedua
James Tjahaya Riady, dan yang terakhir Roy Edu Tirtadji. Mereka adalah
pemikir yang menentukan arah bisnis semua perusahaan-perusahaan yang
bernaung di bawah bendera Lippo.
Suatu hari, Roy E. Tirtadji pernah berkata: ”Kami adalah filsuf-filsuf.
Tugas kami berpikir bagaimana perusahaan ini 50 tahun yang akan datang.”
Dan itulah yang dilakukan mereka pada masa-masa tenang.
Menurut catatan Mochtar, ada tiga perjanjian penting yang muncul pada
1994, yaitu GATT, WTO, dan APEC. Kalau ketiga organisasi internasional ini
dihubungkan dengan organisasi lain, seperti World Bank, IMF, ADB, Uni
Eropa, AFTA, dan NAFTA, maka akan semakin jelas kalau
organisasi-organisasi international ini semakin berperan penting
menggantikan peranan pemerintah individu di dunia. Di sinilah dunia akan
memasuki era globalisasi tanpa batas negara (”borderless”).
Tetapi manakala salah satu perusahaannya diganggu musuh, para filsuf ini
pun berubah menjadi panglima perang. Mereka akan duduk di kantornya,
memonitor detik demi detik, jam demi jam jalannya situasi. Dan seringkali
juga memberikan instruksi-instruksi penting ke pada jajaran di bawahnya.
Situasi ini pernah terjadi. Misalnya ketika Bank Lippo di goyang rumor
kalah kliring pada November 1995 lalu.
Mochtar Riady yang lahir di Malang, Jawa Timur 12 Mei 1929 adalah pendiri
Grup Lippo, sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan.
Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang.
Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di
kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan
Shanghai.
Sejarah Grup Lippo bermula ketika Mochtar Riady yang memiliki nama
Tionghoa, Lie Mo Tie membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia
milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset bank milik keluarga
Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3 miliar. Mochtar sendiri
pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia, bank
yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong. Ia bergabung dengan BCA pada
1975 dengan meninggalkan Bank Panin.
Di BCA Mochtar mendapatkan share sebesar 17,5 persen saham dan menjadi
orang kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar bergabung hanya
Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika
itu aset bank tersebut sudah di atas Rp 5 triliun.
Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat. Pada 1987, setelah ia
bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500
persen menjadi Rp 257,73 miliar. Hal ini membuat kagum kalangan perbankan
nasional. Ia pun dijuluki sebagai The Magic Man of Bank Marketing. Dua
tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia
dan semenjak saat itu lahirlah Lippobank. Inilah cikal bakal Grup Lippo.
Lima Area Bisnis
Saat ini Grup Lippo paling tidak memiliki 5 area bisnis utama. Pertama
adalah jasa-jasa keuangan yang meliputi perbankan, investasi, asuransi,
sekuritas, manajemen aset, dan reksadana. Mochtar dan James berkali-kali
menegaskan bahwa core bisnis mereka adalah bisnis keuangan dan mereka akan
tetap konservatif. Walaupun Bank Lippo yang sempat digoyang isu kalah
kliring pada 1995 dan persoalan rekapitalisasi 1999, bank ini pun selamat
dari guncangan krisis moneter. Bank-bank lain bahkan telah berstatus Bank
Beku Operasi dan Bank Take Over.
Selain bank, grup ini juga memiliki perusahaan sekuritas yang memiliki
reputasi yang cukup baik, yaitu Lippo Securities. Di bidang investasi ada
Lippo Investment Management, Lippo Finance, dan Lippo Financial.
Tidak kalah penting adalah asuransi di mana ada tiga perusahaan penting
yaitu AIG Lippo yang sebelumnya dikenal dengan nama Lippo Insurance dan
Asuransi Lippo yang sebelumnya bernama Lippo General Insurance.
Kedua, properti dan urban development. Bisnis ini meliputi pembangunan
kota satelit terpadu, perumahan, kondominium, pusat hiburan dan
perbelanjaan, perkantoran dan kawasan industri.
Mochtar dan James lebih senang memperkenalkan kota baru yang mereka bangun
dengan istilah urban development. ”Di sini bukan hanya membangun perumahan,
tetapi suatu kota yang lengkap dengan berbagai infrastruktur,” kata
Mochtar Riady.
Ia pun menunjukan berbagai fasilitas seperti gedung perkantoran, pusat
pendidikan, rumah sakit, dan berbagai fasilitas lain. Bahkan di tiga kota
yang dibangun, para penghuni bisa mengakses TV Cable sekaligus fasilitas
internet.
Di Kawasan Jabotabek, Lippo mengepung Jakarta dengan tiga kota pentingnya,
yaitu Lippo Cikarang – Bekasi di timur Jakarta, Bukit Sentul – Bogor di
selatan Jakarta, dan Lippo Karawaci - Tangerang di barat Jakarta.
Ketiga, pembangunan infrastruktur seperti pembangkit tenaga listrik,
produksi gas, distribusi, pembangunan jalan raya, pembangunan sarana air
bersih, dan prasarana komunikasi. Hampir semua bisnis ini dikonsentrasikan
di luar negeri dan dikontrol oleh kantor pusat Grup Lippo yang berbasis di
Hong Kong.
Untuk Lippo Hong Kong, Mochtar mempercayakan kepada anaknya Stephen Riady.
Beberapa aktivitas bisnis antara lain pembangunan jalan tol di Guang Zhou,
pembangunan kota baru Tati City di Provinci Fujian, Gedung Perkantoran
bernama Plaza Lippo di Shanghai. Di Hong Kong, Lippo juga berkonsentrasi
membangun kawasan perumahan elit dan perkantoran.
Keempat, bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik,
komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi.
Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen
elektonik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen
otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel
persneling.
Kelima, bidang jasa-jasa yang meliputi teknologi informasi, bisnis ritel,
rekreasi, hiburan, hotel, rumah sakit, dan pendidikan. Ada beberapa hal
yang kontroversi yang dilakukan Mochtar dan James yang mendapat perhatian
media massa. Pertama ketika ia membangun Rumah Sakit untuk kelas atas di
Lippo Karawaci. Untuk itu, Mochtar berani menggandeng Gleneagles Hospital
yang berbasis di Singapura. ”Dari pada orang-orang kaya kita pergi ke
Singapura, kan lebih baik kita bawa saja Gleneagles ke Indonesia.” kata
Mochtar ketika Rumah Sakit itu diluncurkan.
Selain Rumah Sakit, ia juga mendirikan Sekolah Pelita Harapan. Sekolah ini
mendapat sorotan karena biayanya menggunakan dolar AS dan dinilai mahal
untuk saat itu. Tetapi para pendiri Lippo beranggapan bahwa pendidikan
yang disediakan oleh Sekolah Pelita Harapan adalah yang terbaik. Selain
wajib berbahasa Inggris, mereka memperoleh tambahan pendidikan ekstra
kurikuler seperti pelajaran musik, berkuda, dan ilmu komputer. Guru-guru
pun didatangkan dari Amerika.
Di bisnis ritel, ketika Grup Lippo mengumumkan akhir 1996 membeli lebih
dari 50 persen saham Matahari Putra Prima, perusahaan ritel terbesar yang
dimiliki Hari Darmawan, banyak orang terkejut. Namun itu merupakan
strategi penting Lippo untuk masuk ke dunia bisnis ritel. Supermal raksasa
telah dibangun dan Matahari merupakan salah satu penyewa terbesar. Selain
Matahari, Wal Mart dan JC Penney juga turut memeriahkan Lippo Supermal
yang memiliki luas 210.000 meter persegi.
Tantangan Globalisasi
Sebagai seorang chairman yang memimpin puluhan CEO harus diakui bahwa
Mochtar Riady memiliki visi yang jauh ke depan. Pengetahuannya yang luas
dan pengalamannya telah membuat Grup Lippo selamat melewati badai dan
guncangan krisis ekonomi berkepanjangan. Pada pertengahan 1995 ia pernah
berkata, bahwa dunia sedang mengalami perubahan yang sangat cepat.
”Apabila kita berbicara tentang globalisasi kita sebenarnya didorong ke
suatu era yang lebih jauh lagi, yaitu era era globalisasi ditambah
liberalisasi tanpa batas negara. Semua itu terjadi karena dua faktor,
yaitu revolusi teknologi informasi dan revolusi mata uang,” kata Mochtar.
Menurutnya, sejarah manusia sudah mengalami beberapa kali perubahan cara
hidup karena penemuan-penemuan di bidang energi dan teknologi. Pada era
50-an, khususnya di Amerika Serikat terjadi perubahan gaya hidup, yakni
masyarakat industri berubah menjadi masyarakat informasi. Akibat dari
perubahan itu Amerika harus memindahkan labour intensive industry-nya ke
negara-negara lain seperti Jerman Barat dan Jepang.
Tak lama Jepang pun mengalami hal yang sama sehingga harus memindahkan
industrinya ke Hong Kong, Singapura, Korea Selatan dan Taiwan. Dan ketika
negara-negara tersebut menjadi macan Asia, mereka pun mengalami perubahan
structural dalam masyarakatnya sehingga perlu memindahkan industrinya ke
RRC dan negara-negara ASEAN.
Perpindahan industri ini menimbulkan investasi silang antarbangsa dan
menimbulkan pula apa yang disebut dengan Asia-Euro-Dolar. Inilah era
globalisasi. Dengan era globalisasi sedemikian ini timbul suatu
ketergantungan antar suatu negara dengan negara lain. Kondisi tersebut
meningkatkan hubungan perekonomian dan perdagangan sehingga dibutuhkan
peraturan permainan ekonomi internasional.
Menurut catatan Mochtar, ada tiga perjanjian penting yang muncul pada
1994, yaitu GATT, WTO, dan APEC. Kalau ketiga organisasi internasional ini
dihubungakan dengan organisasi lain seperti World Bank, IMF, ADB, Uni
Eropa, AFTA, dan NAFTA, maka akan semakin jelas kalau
organisasi-organisasi international ini semakin berperan penting
menggantikan peranan pemerintah individu di dunia. Di sinilah dunia akan
memasuki era globalisasi tanpa batas negara (borderless).
Sementara itu pada saat yang bersamaan dunia sedang menyaksikan terjadinya
revolusi mata uang. Sebagai contoh, setiap hari terjadi transaksi foreign
exchange (forex) lebih dari US$800 miliar, tetapi hanya sekitar US$10
miliar yang memiliki kaitan dengan fungsi alat pembayaran. Sisanya, 90,85
persen tidak ada hubungannya dengan fungsi alat pembayaran, tetapi
berhubungan dengan barang dagangan. Kalau sudah menjadi barang dagangan
tentu timbul pasar derivatif.
”Derivatif itu sifatnya spekulatif, sementara spekulatif itu adalah
perjudian (gambling). Dengan demikian timbullah suatu kasino yang besar
dan kuat di dunia. Sadar atau tidak sadar, senang atau tidak senang, siap
atau tidak siap, kita sudah terlibat di dalam perjudian setiap hari,” kata
Mochtar yang pernah menjadi Chairman Asian Banker Association pada 1992.
Selanjutnya menurutnya, jumlah transaksi yang begitu besar, sekalipun lima
negara maju menggabungkan forex reserve-nya tidak akan sanggup mengalahkan
jumlah transaksi forex dalam sehari. Ini berarti tidak ada satu negara di
dunia ini yang bisa memberikan counter exchange terhadap spekulasi.
Dua revolusi, revolusi teknologi yang dicerminkan dengan sistem super
highway dan revolusi keuangan yang begitu cepat mutasinya membawa manusia
kepada situasi yang serba cepat, serba berubah, serba tidak mantap, dan
serba tidak pasti. ”Oleh karena itu, suatu bangsa atau suatu perusahaan
harus memberikan reaksi yang cepat, kalau tidak bangsa atau perusahaan itu
akan menghadapi masalah dan tekanan,” tegasnya.
BUMN Harus Lebih Berperan
Menurut Mochtar, yang mempunyai enam putra dan putri, untuk bisa bersaing
di era globalisasi pemerintah harus semakin meningkatkan produktivitas
BUMN.
Dikatakan, BUMN masih menguasai lebih dari 50 persen perekonomian nasional
dan secara tidak sadar menikmati oligopoli dan monopoli. Tidak ada jalan
lain selain membuat BUMN menjadi perusahaan yang efisien, menguntungkan,
dan kalau perlu bisa segera go public. Sebagai perbandingan, menurut
Mochtar, di RRC lebih dari 50 BUMNtelah masuk ke pasar modal. Bagaimana
dengan Indonesia?
Sekarang kita berada pada abad yang mementingkan perbandingan teknologi
dan mutu manusia. Itulah sebabnya ia sangat memperhatikan mutu pendidikan
di Indonesia. Mendirikan Sekolah Pelita Harapan dan Universitas Harapan
adalah bagian dari kepeduliannya terhadap dunia pendidikan nasional. Belum
lama ini ia pun ditunjuk menjadi Wali Amanah Universitas Indonesia.
Mochtar yang pernah mengenyam pendidikan di The Eastern College, Chung
Yang University, Nanking, RRC ini memiliki obsesi agar manusia Indonesia
memiliki kualitas yang setara dengan masyarakat maju lain hingga siap
memasuki era globalisasi.
Mochtar Riady, yang senang membaca buku Peter Drucker dan Prof Freeman
memperoleh gelar Doctor of Laws dari Golden Gate University, San
Francisco, Amerika Serikat dan pernah menjadi pembicara tamu di
Universitas Harvard pada pertengahan 1984. Pada saat senggang, salah
seorang filsuf Grup Lippo ini lebih senang melakukan perjalanan ke
sejumlah proyeknya.
Apa arti globalisasi buat Lippo? Menurutnya, perusahaan dan para
eksekutifnya harus lebih cepat lagi mengantisipasi perubahan yang sangat
cepat ini. Itulah sebabnya ia sangat hati-hati memilih orang-orang yang
akan menduduki posisi Chief Executive Officer-nya. Dari sejumlah CEO yang
dipercayainya, antara lain kakak beradik Edi Sindoro dan Billy Sindoro.
Edi dipercaya memimpin PT Lippoland Development Tbk. Perusahaan ini
mengawasi PT Lippo Cikarang Tbk., PT Bukit Sentul Tbk., PT Lippo Karawaci
Tbk., dan beberapa perusahaan property yang belum masuk ke pasar modal.
Sementara itu, Billy Sindoro dipercaya memimpin bisnis asuransi. Sedangkan
Benyamin Mailool, adik ipar Eddi Sindoro baru-baru ini dipercayakan
memimpin PT Matahari Putera Prima. Sementara PT Lippo Cikarang Tbk.,
dipimpin oleh Yuke Susilo Putera. Mochtar memilih mereka karena selain
jujur mereka merupakan CEO yang bisa diandalkan dan merupakan pekerja
keras. (audrey g. tangkudung, Sinar Harapan 3 Maret 2002) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|