| |
C © updated 08122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas |
|
| |
Nama :
Prof Dr Mochtar Buchori
Lahir :
Yogyakarta, 9 Desember 1926
Agama :
Islam
Pendidikan :
- SR, Yogyakarta (1939)
- MULO, Yogyakarta (1945)
- SGB/SGA, Yogyakarta (1948)
- Paedagogische Leergang, Bandung (1954)
- S2 (M.Ed) Universitas Nebraska Lincoln, Nebraska, AS (1957)
- S2 (MA) Universitas Harvard, Cambridge, Massachussetts, AS (1969)
- S3 (Doktor) Universitas Harvard, Cambridge, Massachussetts, AS (1975)
Karir :
- Guru Sekolah Pendidikan Guru, Yogyakarta dan Bandung (1949-1954)
- Asisten Peneliti Laboratorium Psikologi, Pusat Pendidikan Guru, Bandung
(1954-1955)
- Koordinator Penelitian Pusat Penelitian Pendidikan IKIP Bandung
(1957-1958)
- Dosen Psikologi Pendidikan IKIP Bandung (1957-1964)
- Direktur Pusat Penelitian IKIP Bandung (1958-1961)
- Pembantu Rektor Bidang Akademis IKIP Bandung (1964-1965)
- Direktur Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (PLPIS) FIS UI
(1975-1977)
- Dosen IKIP Semarang (1978-1980)
- Deputi Ketua LIPI bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan (IPSK)
(1980-)
- Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta -
- Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Malang
- Rektor Universitas Prof Dr Hamka
Organisasi:
- Litbang Partai Demokrasi Indonesia (1994)
Alamat Rumah:
Jalan Bacang I/18, Blok D I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 732460
|
|
| |
|
|
|
|
Prof Dr Mochtar Buchori
Ahli Perencanaan Pendidikan
Dia seorang pakar perencanaan pendidikan, yang terbilang langka di
Indonesia. Mantan Rektor IKIP Jakarta ini, di usia senjanya aktif sebagai
kolumnis, terutama di Harian The Jakarta Post. Pada September 1994, pria
kelahiran Yogyakarta, 9 Desember 1926, ini bergabung ke Litbang Partai
Demokrasi Indonesia, karena melihat perjuangan Megawati yang sangat tulus
untuk memajukan demokrasi di Indonesia.
Saat itu Megawati mendapat tekanan politik yang demikian keras dari
pemerintah Orde baru. Ketika mengumumkan bergabung ke Litbang PDI yang
dipimpin Kwik Kian Gie, mantan Deputi Ketua LIPI bidang Ilmu Pengetahuan
Sosial Kemanusiaan (IPSK), itu menyebut alasan utamanya: "Saya melihat
perjuangan Megawati dan Kwik Kian Gie sangat tulus untuk memajukan
demokrasi di bumi yang sudah serba semrawut ini."
Menurut anak pertama dari dua bersaudara dari R Moh Dimyati, seorang
priayi aktivis Muhammadiyah yang sempat menjadi Kepala KUA di Yogya, ini
Litbanglah yang memberi masukan pada Mega untuk bisa mengantisipasi
berbagai persoalan budaya, hukum, pendidikan, sosial, sampai soal
kebijakan ekonomi dan politik di Indonesia. Mantan Rektor IKIP
Muhammadiyah Malang ini pun tetap bertahan walau Megawati semakin tertekan.
Dia sendiri tentu tidak luput dari tekanan tersendiri. Namun dia tetap
pada pendirian. Keadaan seperti itu bukan hal baru dalam pengalaman
hidupnya. Pada masa Orde Lama dia sering dituduh sebagai intelektual yang
kebarat-baratan akibat kebebasan berpikirnya. Selain itu dia, juga
kesulitan mendapat beasiswa karena dituduh sebagai orang PSI (Partai
Sosialis Indonesia).
Kesulitan memperoleh biasiswa pada masa Orde Lama itu, terlepas pada awal
pemerintahan Orde Baru. Pada tahun 1968, ia mendapat beasiswa dari Yayasan
Ford di Universitas Harvard, AS. Di universitas ternama ini dia mendalami
educational planning hingga meraih gelar doktor (1975) dengan disertasi An
Evaluative Study of Public Service Programme for University Student in
Indonesia.
Sesungguhnya, bukan itu pertama kali dia mendapat beasiswa ke AS. Pada
tahun 1954-1957, dia telah memperoleh beasiswa di Universitas Nebraska, AS
mendalami Sejarah dan Filosofi Edukasi.
Ayah lima orang anak ini, dipercaya menjadi asisten khusus menteri bidang
pendidikan oleh Mashuri saat menjabat menteri pendidikan dan kebudayaan.
Ketika itu (1970-1973), ia antara lain bertugas mengembangkan tiga model
sekolah, yaitu model 12 kelas di Semarang, model small town 8 tingkat di
Salatiga, dan model rural 5 tingkat di Basito, Kudus, Jawa Tengah.
Mantan guru Sekolah Pendidikan Guru, Yogyakarta dan Bandung (1949-1954),
ini menamatkan SR di Yogyakarta tahun 1939. Kemudian melanjut ke MULO
Yogyakarta (1945) dan SGB/SGA Yogyakarta (1948). Setelah itu, dia hijrah
ke Bandung, kuliah di Paedagogische Leergang, Bandung (1954).
Dia menjalani masa kecil dan remajanya dengan penuh kenangan di kota
kelahirannya Yogyakarta. Semasa remaja, saat masih SGB dan SGA misalnya,
Mochtar tergabung dengan klub musik sekolahnya. Dia sebagai pemain biola.
Dia pun menjadi anggota Kelompok Ansambel bersama para perawat-perawat
Rumah Sakit Bethesda, Yogya. Bahkan ia menjadi dirigen koor untuk kelompok
musik itu.
Kesenangan bermain musik itu, dia teruskan sewaktu menjadi dosen di IKIP
Bandung, bergabung dalam Kelompok Musik Kamar. Lalu, berhubung karena
kesibukan sesuai dengan tuntutan dan tanggung jawab berbagai jabatan yang
dipercayakan padanya, dia tidak punya waktu lagi memainkan musik
kesenangannya. Namun, sampai hari-hari tuanya, lelaki berkulit agak gelap,
ini seorang penikmat musik.
Kendati pada masa kecil dan remajanya senang bermain musik, sejak
kanak-kanak dia bercita-cita menjadi guru, bukan pemusik. Karena waktu itu,
dia melihat guru adalah orang yang terpandang, terpelajar dan hidup tidak
melarat. Walaupun dalam perkembangan berikutnya, guru tergolong melarat
karena pendapatan yang sangat rendah, dia tetap bangga sebagai guru.
Ketika guru-guru pernah berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji (2000), dia
pun mendukungnya . Menurutnya, selama puluhan tahun, ada proses sistematis
untuk memiskinkan guru, tidak hanya dalam hal pendapatan, tetapi juga
dalam status sosialnya. "Saya dapat merasakan kemarahan, kedongkolan, dan
frustrasi mereka terhadap birokrasi. Saya dapat merasakan bagaimana mereka
diperalat tanpa diberi penghargaan sepantasnya. Selama ini, mereka
dipuja-puja dengan pujaan hampa, seperti pemberian gelar pahlawan tanpa
tanda jasa," katanya saat ditemui wartawan di Jakarta, Kamis 20 April
2000. (Kompas 22/4/2000).
Dia mengaku didatangi sejumlah tokoh guru sebelum aksi-aksi itu
berlangsung menyatakan kekesalannya terhadap respons pemerintah terhadap
tuntutan guru yang cenderung bersifat teknis dengan mengabaikan substansi
persoalan. Menurut dia, bila pemerintah hanya menyelesaikan masalah
finansial yang dihadapi guru, tanpa menyentuh peremehan psikologis yang
mereka alami selama ini, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi
pemerintah juga tidak memiliki dana cukup.
Kecintaannya kepada guru dan ‘kebanggannya’ sebagai guru telah dijalani
dalam sepanjang perjalanan hidupnya. Mantan Pembantu Rektor Bidang
Akademis IKIP Bandung (1964-1965), ini sampai hari tuanya tetap
megnabdikan diri sebagai guru. Setelah pensiun sebagai pegawai negeri pun
ia tetap menjadi guru, di antaranya sebagai Rektor Universitas Prof Dr
Hamka. ►mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|