| |
C © updated 09092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr kps |
|
| |
Nama:
Jenderal (Purn) M Jusuf
Nama Lengkap:
Andi Muhammad Jusuf Amir
Lahir:
Kayuara, Bone Selatan, 23 Juni 1928
Meninggal:
Makassar, 8 September 2004
Ayah:
Raja Kayuara
Isteri:
Elly Saelan
Anak:
Jaury Jusuf Putra (alm)
Pendidikan Umum:
- HIS di Watampone
- MULO
- SMA
Pendidikan Militer:
- Kursus Atase Militer
- SSKAD (Sekolah Staf & Komando AD) (1952-1953)
- Advanced Course of Infantery (Fort Benning), USA (US Army Infantery
Officers Advanced Course) 1955-1956
- Airborne Course di Amerika Serikat
- Kursus Singkat Khusus Angkatan IV
- Seskoad 1969
Karier:
- Perang Kemerdekaan di satuan Sulawesi (KRIS) di Yogyakarta
- Ajudan Letkol Kahar Muzakkhar (Abdul Qahar Mudzakkhar) di staf Komando
Markas ALRI Pangkalan X di Yogyakarta
- Kapten dalam Corps Pilisi Militer (CPM) (Des 1949)
- Anggota Staf Komisi militer untuk Indonesia Timur (Des 1949-1950)
- Ajudan Panglima TT-VII/TTIT Kolonel Kawilarang (April 1950)
- Kepala Staf Resimen RI-24 di Manado (1953-1954)
- Assisten II (Operasi) staf TT-VII/TTIT (1955-1956)
- Kepala Komando Reserve Umum (KRU) dgn pangkat Mayor (Okt 1956)
- Kepala Staf Resimen Hassanudin (RI-Hasanuddin) di Pare-pare Sulsel (ex
KRU)
- Menandatangani Naskah Piagam PERMESTA (no.24) (Maret 1957)
- Pangkat Letkol (Februari 1958)
- Kepala Staf Kodam XIV/Hasanuddin di Makassar (Feb 1959)
- Komandan KDM-SST (Okt 1959)
- Panglima Kodam XIV/Hasanuddin di Makassar (1960-1964)
- Menteri Perindustrian Ringan di Kabinet Dwikora-I (27/8/1964 -
21/2/1966)
- Menteri Perindustrian Dasar di Kabinet Dwikora-II (24/2/1966 -
28/3/1966)
- Menteri Perindustrian Dasar di Kabinet Dwikora-III (28/3/1966 -
25/7/1966)
- Menteri Perindustrian Dasar 7 Menengah di Kabinet Ampera-I (25/7/66 -
17/10/67)
- Menteri Perindustrian di Kabinet Pembangunan I (6/6/1968 - 28/3/1973)
- Menteri Perindustrian di Kabinet Pembangunan II (28/3/1973 - 28/3/1978)
- Menhankam/Panglima ABRI dalam Kabinet Pembangunan-III (29/3/1978 -
19/3/1983)
- Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (1983-1988 dan 1988-1993)
Penghargaan:
Grand Cordon of the Order of the Sacred Treasure dari Pemerintah
Jepang di Tokyo (13 Mei 1996)
Alamat Rumah:
Jalan Teuku Umar No.48, Jakarta Pusat
Alamat Rumah:
Jalan Sungai Tangka Nomor 2, Makassar, Sulawesi Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
M. Yusuf (1928-2004)
Panglima Paling Dicintai Prajurit
Dia panglima yang paling dekat dan dicintai oleh prajurit. Semasa menjabat
Menhankam/Pangab jenderal bintang empat ini sangat sering mengunjungi
asrama prajurit. Salah seorang putra terbaik bangsa dan mantan Ketua Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) kelahiran Kayuara, Bone Selatan, 23 Juni 1928,
ini meninggal dunia dalam usia 76 tahun di Makassar, 8 September 2004,
pukul 21.35 Wita. Indonesia berduka! Mabes TNI dan masyarakat Sulawesi
Selatan mengibarkarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari.
Mantan Menteri Preindustrian dalam enam periode kabinet (1864-1978), ini
meninggal dunia di kediamannya di Jalan Sungai Tangka Nomor 2, Makassar,
Sulawesi Selatan didampingi isterinya Elly Saelan bersama semua sanak
keluarga terdekat, di antaranya dua kemenakannya, Andi Hery Iskandar dan
Andi Oni Tenri Gappa serta tim medis yang selama ini merawatnya. Sementara
anak tunggalnya, Jaury Jusuf Putra, sudah lebih dulu meninggal. (Patung
anaknya dibuat di depan Rumah Sakit Akademis Jaury Jusuf Putra di Makassar).
Sehubungan dengan meninggalnya panglima yang sangat dicintai para prajurit
ini, Markas Besar (Mabes) Tentara Nasional Indonesia (TNI) memerintahkan
markas jajaran TNI di seluruh Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih
setengah tiang selama tujuh hari, terhitung mulai 8 September 2004. Begitu
pula Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan menyerukan kepada masyarakat
Sulsel mengibarkan bendera Merah Putih selama tiga hari. M Jusuf dianggap
sebagai seorang tokoh nasional yang mempunyai jasa-jasa yang sangat besar
dalam sejarah pembangunan di Sulawesi Selatan dan di Indonesia.
Dia seorang pejuang yang tegas, jujur, besih dan berani. Bangsa Indonesia
sungguh kehilangan salah seorang putera terbaik dan tokoh panutan yang
terus mengabdikan dirinya bagi bangsa dan negara hingga akhir hayatnya.
Sejumlah pelayat berdatangan ke rumah duka. Dalam pandangan mantan
Presiden Abdurrahman Wahid, Jenderal Jusuf merupakan satu dari tiga
jenderal yang dikaguminya selain Sudirman dan Benny Moerdani. Menurut Gus
Dur, dia jenderal yang bersahaja dan dekat dengan prajuritnya. Dia sangat
memperhatikan kesejahteraan prajurit.
Dia seorang prajurit sejati. Salah satu catatan karirnya yang cemerlang
dalam bidang militer, selain kegemilangannya saat menjabat MenhankamPangab,
adalah ketika menumpas pemberontakan Andi Azis di Sulawesi Selatan.
Kadispenum Mabes TNI, Letkol Achmad Yani Basuki di Jakarta, mengatakan,
Panglima TNI Jenderal Endriartono Soetarto, menjadi inspektur upacara pada
pemakaman jenazah mantan Menhankam/Pangab ini. Jenazah almarhum dimakamkan
bersebelahan dengan makam putranya di Perkuburan Islam Panaikang Makassar
yang bersebelahan dengan Taman Makam Pahlawan, usai salat zuhur, hari
Kamis 9 September 2004.
Kepergian tokoh yang menjadi salah satu kunci rahasia Surat Perintah 11
Maret 1966 (Supersemar) itu telah pula membawa rahasia itu. Dia salah
seorang dari tiga jenderal yang menemui Soekarno di Istana Bogor, yang
berperan di balik lahirnya Supersemar. Dua jenderal lainnya, Basuki Rahmat
dan Amirmachmud, telah lebih dahulu meninggal.
Rahasia Supersemar yang menjadi awal legitimasi berkuasanya Jenderal
Soeharto selama 32 tahun sampai ketiga jenderal itu meninggal belum
terungkap. Bahkan naskah asli Supersemar itu pun tak diketahui publik di
mana berada. Banyak pengamat meyakini Jusuf mengetahui banyak hal tentang
Supersemar, termasuk proses Supersemar itu dan di mana naskah aslinya
berada.
Peran kuncinya dalam proses lahirnya Supersemar, telah membuat hubungannya
dengan Pak Harto sangat dekat. Terbukti dari beberapa jabatan yang
diembannya sejak 1966 sampai 1993. Ia satu-satunya seorang militer yang
setelah dikaryakan menjabat menteri kemudian kembali berperan dalam bidang
militer sebagai panglima.
Dia menjabat menteri perindustrian sampai enam periode kabinet. Mulai -
Kabinet Dwikora-I (27/8/1964 - 21/2/1966), Kabinet Dwikora-II (24/2/1966 -
28/3/1966), Kabinet Dwikora-III (28/3/1966 - 25/7/1966), Kabinet Ampera-I
(25/7/66 - 17/10/67), Kabinet Pembangunan I (6/6/1968 - 28/3/1973) dan
Kabinet Pembangunan II (28/3/1973 - 28/3/1978).
Setelah itu, M. Jusuf dipercaya menjabat Menhankam/Panglima ABRI dalam
Kabinet Pembangunan-III (29/3/1978 - 19/3/1983). Saat menjabat Menhankam/Panglima
ABRI ini ia sangat sering mengunjungi prajurit di lapangan dan mengunjungi
keluarga prajurit di asrama-asrama. Mengunjungi prajurit dan keluarganya
jauh lebih penting baginya dari pada berlama-lama duduk di kantornya. Tak
segan-segan dia melompati parit dan menyeruak dari balik jemuran kain di
asrama untuk menyapa keluarga prajurit. Dia menyapa kebapakan dengan penuh
rasa kekeluargaan. Menanyakan tentang kesehatan dan kondisi asrama.
Dia pun memberi perhatian besar untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit
dan keluarganya. Prinsip dasarnya, untuk membangun tentara profesional
harus dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan prajurit. Banyak asrama
yang dibangun dan direhabilitasi. Begitu pula kebutuhan pokok diupayakan
pengadaannya.
Perhatiannya kepada keluarga prajurit telah menempatkannya menjadi
panglima paling disegani dan dicintai. Para prajurit pun sangat
mengaguminya. Namanya pun disebut publik berpotensi jadi Presiden
setidaknya Wakil Presiden. Namun hal ini membuat hubungannya dengan
Presiden Soeharto menjadi renggang. Maklum, ketika itu, tidak boleh siapa
pun yang bisa mengimbangi ketokohon dan kepemimpinan Pak Harto. Tidak
boleh ada dua matahari. Tidak boleh ada dua singa di lembah yang sama.
Jabatan Menhankam/Pangab pun ditanggalkan. Dia dialihkan menjadi Ketua
Badan Pemeriksa Keuangan dalam dua periode (1983-1988 dan 1988-1993).
Hubungannya dengan Pak Harto tetap terjalin kendati publik mengamatinya
tidak demikian akrab lagi. Pak Harto sendiri tampaknya tetap
menghormatinya.
Setelah melepas jabatan Ketua BPK, tokoh yang tak suka menonjolkan diri
ini tampak memilih berdiam diri. Dia memang seorang bangsawan Kerajaan
Bone bergelar Andi, bernama lengkap Andi Muhammad Jusuf Amir, namun
melepas gelar kebangsawanannya pada tahun 1957. Dia bangsawan pertama yang
melepas gelarnya dan tidak bersedia menggunakan lagi di depan namanya.
Soal hiruk-pikuk politik dan kekuasaan dia berdiam diri dan lebih memilih
mengonsentrasikan diri mengurus Masjid Al Markaz dan Rumah Sakit Jauri
Makassar. Dia aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan sebagai pendiri dan
ketua Yayasan Mesjid Al Markaz Al Islami serta Rumah Sakit Jauri Makassar.
Dia menghabiskan hari-hari tuanya dalam bidang sosial dan selalu
memperhatikan Masjid Al Markas mulai dari hal yang kecil seperti
kebersihan, wc, taman, sampai pembangunan fisiknya. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|