| |
C © updated 26122007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Biodata
Nama:
Kendro Hendra
Lahir:
Palembang, 31 Desember 1955
Istri:
Linda Widjaja
Anak:
- Ghana Galindra (22), kuliah bisnis di Kanada
- Dhana Galibdra (21), kuliah ilmu komputer di Kanada
- Febrian Galindra (14), Sec2 (SMP2) di Singapura
Pendidikan:
- SD sampai SMA Xaverius, Palembang
- Drop-out Architecture pada tahun ke-3 di University of Manitoba,
Kanada
- Sarjana ilmu komputer dari University of Manitoba, Kanada
Karier:
- Founder & CEO Pusat Pendidikan Komputer
- Eastern Computer
- Apple Center
- InMac (distributor komputer Apple, Indonesia)
- InTouch Wireless Services
- PT MORE Indonesia
|
|
| |
|
|
|
|
| KENDRO HENDRA HOME |
|
|
 |
Kendro Hendra
Pencipta Aplikasi Piranti Gerak
Kendro Hendra, pria kelahiran Palembang, 31 Desember 1955, orang
Indonesia yang mampu menciptakan aplikasi peranti bergerak yang
memungkinkan sebuah ponsel lebih bermakna dan bergaya. Sarjana Ilmu
Komputer dari University of Manitoba, Kanada, ini telah mencipta puluhan
aplikasi peranti lunak untuk membuat ponsel memiliki kelebihan.
Jika sulit membayangkan aplikasi peranti lunak, bayangkan seseorang
yang menciptakan permainan (games) yang ditanamkan pada ponsel. Ponsel
itu pun akan memiliki fitur lebih dibandingkan ponsel lainnya.
Apa yang Kendro ciptakan bukan sekadar dolanan, tetapi sebuah aplikasi
yang memungkinkan ponsel memiliki tingkat keamanan tinggi, meski dicuri
orang. Mungkin harga sebuah Nokia communicator sebagai devices "tidak
seberapa" dibandingkan data-data yang tersimpan di dalamnya, entah teks,
foto, atau video. Jika data rahasia turut lenyap seiring hilangnya
ponsel, maka celakalah. Kendro menciptakan hal-hal kecil yang tidak
banyak dipikirkan orang, tetapi bermanfaat bagi banyak orang.
"Salah satu peranti yang saya ciptakan untuk menyelamatkan data yang
hilang itu bernama AirGuard, yang sudah ditanamkan di ponsel
communicator Nokia. Saya bisa menghubungi pencuri telepon, meski dia
sudah mengganti simcard-nya dengan nomor lain," kata Kendro saat ditemui
di arena Nokia World 2007 di Amsterdam, Belanda, 5 Desember lalu.
Sebagai mitra, Kendro yang membangun perusahaan InTouch itu hadir atas
undangan Nokia.
InTouch adalah satu dari sedikit perusahaan komunikasi dan informasi
Indonesia dengan reputasi internasional. Kantor pemasaran perusahaan
yang didirikan tahun 1996 itu berada di Singapura. Di Indonesia, InTouch
mempekerjakan sekitar 60 karyawan yang setiap hari berkutat menciptakan
peranti lunak.
Lisensi peranti lunak yang memiliki kata depan "Air" selain AirGuard
tersebut antara lain AirAlbum, AirFax, AirRadio, dan AirVouchers. Tetapi,
aplikasi paling luas dan banyak digunakan adalah SettingsWizard dan
S80-DataMover yang dilisensi Nokia secara global untuk dimasukkan dalam
setiap ponsel Symbian S60 Nokia. Kini, temuan Kendro itu diterjemahkan
ke dalam 127 bahasa.
SettingsWizard adalah peranti lunak yang ditanamkan di ponsel Nokia, di
mana saat pemilik ponsel memasukkan simcard dari operator seluler mana
pun, ponsel itu otomatis bisa men-setting sendiri, baik SMS, MMS,
e-mail, maupun GPRS, sehingga tidak harus diketik ulang. Demikian juga
S80-DataMover yang memungkinkan pemindahan data secara otomatis dari
satu ponsel ke ponsel lain atau dari satu communicator ke communicator
lain, juga tanpa harus mengetik ulang.
"Banyak orang enggak percaya bahwa itu aplikasi buatan orang Indonesia.
Dengan aplikasi yang diterjemahkan ke dalam 127 bahasa, menunjukkan
orang Indonesia punya kemampuan," kata Kendro yang mempekerjakan dua
orang Singapura sebagai tenaga pemasaran global bagi produk-produk
InTouch.
Membangun perusahaan
Dilahirkan di Palembang tahun 1955, Kendro yang kini lebih sering mukim
di Singapura itu bukan orang kemarin sore yang serta-merta akrab dengan
dunia informasi dan teknologi (IT). Bidang ini, khususnya sebagai
pengembang aplikasi bergerak atau mobile application developer, sudah ia
geluti saat kuliah jurusan ilmu komputer di Kanada selepas menamatkan
sekolah menengah atas di tanah kelahirannya.
Seusai menyelesaikan masternya di Kanada, ia langsung kembali ke
Indonesia tahun 1981. Sampai saat ini Kendro sudah berhasil menciptakan
sekitar 30 peranti lunak yang semuanya khusus untuk aplikasi bergerak.
Pria yang menikahi Linda Widjaja, teman kuliahnya di Kanada, itu memulai
usaha dengan mendirikan perusahaan InMac, yakni distributor Apple
Macintosh. Pada awal 1990-an Kendro mulai terjun pada aplikasi bergerak
setelah Apple mengeluarkan PDA (personal data assistant) pertama bernama
Newton. Tahun 1996 Nokia mengeluarkan communicator 9000 pertamanya.
Nokia cabang Indonesia kemudian menawarinya kerja sama dalam hal peranti
lunak apa saja yang bisa disuntikkan ke dalam communicator. Pada
Februari 1999, saat Kendro ditawari kerja sama dengan Nokia Asia Pasifik,
ia membangun perusahaan di Singapura karena wilayah operasinya regional,
tetapi pengembangan tetap dilakukan di Indonesia.
Mengapa harus membuka kantor di Singapura?
"Jujur saja, Pemerintah Singapura memberikan insentif yang baik. Badan
penanaman modal Singapura juga sangat mendukung dengan memberikan
insentif, grand, tax holiday, dan subsidi lain yang sangat menguntungkan
buat orang berusaha," kata Kendro.
Ditanya apakah banyak orang Indonesia yang berpikiran maju di bidang IT,
ayah tiga anak ini tanpa ragu menjawab, "Banyak."
Kemampuan IT anak-anak muda Indonesia, kata Kendro, tidak kalah dengan
orang-orang India. Hanya kalau bicara outsourcing IT itu, selalu merujuk
ke Bangalore, India, salah satunya karena anak-anak muda India unggul
dalam berbahasa Inggris. Karena itu, mereka lebih cepat menyerap ilmu
dan tanggap terhadap tren baru.
"Selain menguasai bahasa programming, anak-anak muda Indonesia wajib
menguasai bahasa Inggris. Punya bakat besar di bidang IT tetapi
terkendala bahasa Inggris, kan sayang kalau larinya cuma jadi tukang
hacker," tutur Kendro.
Pria berkacamata ini tidak berhenti mencipta peranti baru. Kini ia
mengembangkan Mobile Reward Exchange (MORE) sebagai "mata uang baru"
dalam berbisnis. Alat bayar baru dari kumpulan reward (bonus/diskon)
beberapa perusahaan dapat ditukar dengan barang apa pun yang menjadi
mitranya. Kelak, orang membayar burger dari reward pembelian buku di
Toko Buku Gramedia, misalnya, hanya dengan menunjukkan jumlah reward
kepada kasir cukup dari ponselnya. (Pepih Nugraha, Kompas 26 Desember
2007) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|