| |
C © updated 10122007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Prof Dr James Danandjaja
Lahir:
Jakarta, 13 April 1934
Profesi:
Guru
Pendidikan:
- Sarjana Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1963
- Master Rolklor University of California, Berkeley, 1972
- Doktor Antropologi Psikologi Universitas Indonesia, 1977
Karir:
- Dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI), 1960-1983
- Sekretaris Dekan FSUI, 1963-1965
- Sekretaris Jurusan Antropologi FSUI, 1960-1975
- Pejabat Ketua Jurusan Antrapologi FSUI, 1975-1976
- Sekretaris Program Sarjana Humaniora FSU, 1982-1983
- Pengajar Antropologi Program S2 Kajian Amerika UI, 1983
- Kepala Tim Evaluasi Proposal Penelitian Tesis Doktoral Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik UI
- Pembimbing Akademik Program S2 Antropologi FISIP UI
- Sekretaris Komisi IV (Urusan Penilaian Kenaikan Pangkat Golongan IV ke
Atas dan Guru Besar) Senat UI, 1984-1988
Pengajar Antropologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Kristen
Indonesia (UKI), 1963-1969
Dosen Tamu Fulbright di University of California, Berkeley, untuk mata
kuliah Folklor Indonesia dan Etnografi Bali, 19801981
Penghargaan:
- Penghargaan Buku Terbaik dari Yayasan Buku Utama untuk buku
Folklor Indonesia, 1987
- Satyalencana Karya Satya Tingkat I atas jasa telah bekerja selama 30
tahun sebagai pegawai negeri sipil, 1998
- Satyalencana Kebudayaan untuk jasa dalam pengembangan dan penulisan di
bidang antropologi budaya dan ilmu folklor, 2002
- Anugerah Sewaka Winayaroha (Penghargaan Pengabdian Pendidikan Tinggi)
dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, 2006
|
|
| |
|
|
|
|
| JAMES TAN HOME |
|
|
 |
James Danandjaja
Ensiklopedia Folklor Indonesia
Antropolog Universitas Indonesia, yang lahir dengan nama James Tan, ini
seorang ahli folklor, pakar dongeng dan ilmu dongeng, cabang ilmu
antropologi yang mempelajari berbagai bentuk kebudayaan yang diwariskan
turun-temurun secara lisan. Profesor emeritus alias guru besar
pensiunan ini layak disebut sebagai ensiklopedia folklor Indonesia.
***
Kenapa dongeng Bawang Putih dan Bawang Merah bisa mirip dengan
dongeng Cinderella dari Eropa? Di Indonesia, mungkin hanya James
Danandjaja yang mampu memberi jawaban komprehensif atas pertanyaan
semacam ini.
James yang ini bisa bicara panjang lebar soal teori-teori yang
bisa menjelaskan proses sejarah yang menyebabkan terjadinya kesejajaran
itu, komplet dengan contoh-contoh dongeng lain dari berbagai penjuru
Nusantara dan dunia, yang intinya juga berkisah soal ibu tiri nan jahat.
James Danandjaja, yang lahir dengan nama James Tan, memang pakar dongeng
dan ilmu dongeng. Resminya, profesor emeritus alias guru besar pensiunan
berusia 73 tahun ini adalah ahli folklor, cabang ilmu antropologi yang
mempelajari berbagai bentuk kebudayaan yang diwariskan turun-temurun
secara lisan. Oleh karena itu, kecuali dongeng, ilmu folklor juga
mempelajari berbagai warisan tradisi lisan lain, sejak teka-teki,
legenda, mite, sampai busana dan arsitektur tradisional.
”Folklor itu penting dipelajari. Tradisi lisan merupakan cerminan
identitas masyarakat atau golongan di mana ia hidup. Masakan Padang yang
pedas dan berbumbu keras, misalnya, mencerminkan karakter orang Minang
yang penuh semangat,” kata Pak Jimmy, begitu James biasa dipanggil para
mahasiswanya, dalam obrolan di rumahnya di daerah Tanah Baru, Depok,
Rabu pekan lalu.
Sejak awal jadi antropolog, James sudah giat melakukan penelitian
kepustakaan dan mengumpulkan cerita rakyat langsung dari berbagai daerah
di Indonesia dan negara-negara lain. Saat melanjutkan studi di
University of California, Berkeley, pada 1972, dia melakukan riset
kepustakaan di sana untuk menyusun tesis master yang kemudian juga
terbit sebagai buku berjudul An Annotated Bibliography of Javanese
Folklore.
Dibantu mahasiswa
Ribuan naskah dongeng, teka-teki, cerita humor, sampai permainan rakyat
juga dikumpulkannya selama lebih dari 30 tahun dia mengajar di Jurusan
Antropologi Universitas Indonesia. Setiap mahasiswa peserta kuliah
folklor ia tugasi mengumpulkan cerita rakyat apa saja. ”Awalnya, setiap
mahasiswa saya minta mengumpulkan 100 cerita. Tetapi, kemudian terus
berkurang jadi 50, 30, dan akhirnya cuma 10 item saja,” cerita James.
Dari laporan tugas para muridnya itulah, antara lain, James menghasilkan
sejumlah buku kumpulan cerita humor, seperti Humor Mahasiswa Jakarta
(1988) dan Humor dan Rumor Politik Masa Reformasi (1999). Naskah-naskah
cerita rakyat dari berbagai daerah khusus ia rangkum dan terbitkan
sebagai serial buku anak-anak, yakni Cerita Rakyat dari Bali, Cerita
Rakyat dari Jawa Tengah, Cerita Rakyat dari Kalimantan, dan Cerita
Rakyat dari Sumatera, yang semua terbit pada 1992.
”Sebetulnya belum semua naskah sudah saya terbitkan. Sebagian berkasnya
dalam bentuk ketikan yang tersimpan di ruang Jurusan (Antropologi),
bahkan hilang dibuang dosen lain yang mungkin tak senang dengan apa yang
saya lakukan,” sesal James.
Buku-buku James tak hanya laku dijual di Tanah Air, tetapi juga banyak
dibaca orang di mancanegara. Beberapa universitas di Malaysia dan Brunei
Darussalam menjadikan Folklor Indonesia, buku lain yang disusun James,
bacaan wajib bagi para mahasiswanya. ”Buku saya itu sudah dicetak ulang
sampai enam kali,” kata pria yang memilih hidup sendiri itu.
Terapi amnesia
Meski lahir di Jakarta pada tahun 1934, James melewati masa remajanya di
Surabaya dan Malang, Jawa Timur. Di sana pula dia sempat mengembangkan
bakatnya yang lain, menari balet. Di ruang tamu rumahnya, James, yang
pada tahun 1950-an sempat menjadi instruktur tari di sekolah balet
Namarina, memajang beberapa foto kenangan masa muda, termasuk foto besar
Jimmy remaja sedang menari balet.
James baru kembali tinggal di Jakarta sejak kuliah di UI dan belajar
antropologi dari Profesor Koentjaraningrat (alm). Setelah jadi sarjana,
guru besar antropologi Indonesia yang pertama itu pula yang membantu
James mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di AS dan meraih
gelar master dalam bidang folklor.
Sambil mengembangkan ilmu folklor, di UI James juga mengembangkan
spesialisasi antropologi psikologi. Ini dilakukan terutama setelah ia
meraih gelar doktor pada 1977 dengan disertasi berjudul Petani Desa
Trunyan di Bali: Lukisan Analitis yang Menghubungkan Praktik Pengasuhan
Anak Orang Trunyan dengan Latar Belakang Etnografisnya. Karya ilmiah ini
kemudian juga diterbitkan oleh Pustaka Jaya sebagai buku (1980).
Sebagai dosen, James tak tergolong dosen killer. Namun, para
mahasiswanya mengenal Pak Jimmy sebagai pribadi yang tekun, rajin, dan
berdisiplin tinggi. Ia tak bisa menerima mahasiswa yang terlambat datang
kuliah dengan alasan hujan. ”Hujan air saja kok dibikin alasan. Saya
baru akan terlambat kalau hujannya hujan golok,” begitu Pak Jimmy pernah
menegur mahasiswa sambil bercanda, sekitar 30 tahun silam.
Pada tahun 1999 James memulai memasuki masa pensiun. Namun, sampai hari
ini ia masih tetap aktif mengajar sebagai guru besar emeritus di UI dan
Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida). ”Biar saya punya penghasilan
tambahan karena uang pensiun saya cuma Rp 1,2 juta sebulan,” demikian
James memberi alasan.
Di masa senjanya James juga tetap giat meneliti dan menulis. Setelah
menulis buku berjudul Folklor Amerika, yang diterbitkan tahun 2003, hari
Senin (10/12) ini rencananya dia akan meluncurkan buku barunya, Folklor
Tionghoa, di Kampus UI Depok.
James berharap buku barunya itu bisa berfungsi sebagai obat yang
menyembuhkan warga keturunan Tionghoa dari penyakit amnesia yang sudah
lama diderita. Akibat indoktrinasi yang dilakukan rezim Orde Baru (Orba)
yang tak ingin mengakui eksistensi mereka, menurut James, banyak warga
keturunan Tionghoa, sadar atau tidak, berusaha melupakan jati diri suku
bangsanya.
”Tekanan rezim Orba inilah yang mengakibatkan banyak warga keturunan
Tionghhoa mengalami autohypnotic amnesia, yakni proses melupakan jati
diri atas kemauan sendiri agar bisa diakui sebagai orang Indonesia,”
ujar James.
Saat ini dia juga tengah menulis buku otobiografi, yang penyelesaiannya
tak ia targetkan. ”Buku itu sudah selesai 60 persen, tetapi tak ada
target kapan harus selesai,” katanya. Apalagi, kondisi fisiknya kini tak
lagi prima. Selain menderita gangguan pada penglihatan, sejak terserang
stroke awal November lalu James nyaris tak bisa lepas dari kursi rodanya.
(Mulyawan Karim, Kompas 10 Desember 2007)
►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|