| |
C © updated
04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/yus |
|
| |
Nama:
DR. H.M. HIDAYAT NUR WAHID, M.A
Lahir:
Klaten, 8 April 1960
Agama:
Islam
Jabatan:
Presiden Partai Keadilan Sejahtera
Isteri:
Hj. Kastrian Indriawati
Anak:
1. Inayatu Dzil Izzati
2. Ruzaina
3. Alla Khairi
4. Hubaib Shidiqi
Alamat :
Jl. H. Rijin No. 196, Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi
Kantor Pusat PKS
Gedung Dakwah Keadilan
Jl. Mampang Prapatan Raya No 98 D-E-F
Jakarta - Indonesia
Telp +62-21-7995425
Fax +62-21-7995433
|
|
| |
|
|
|
|
=
1
2
3 4
5
6 =
Dr HM Hidayat Nur Wahid, MA (1)
Capres Poling Jadi Kenyataan
Namanya kini disebut-sebut sebagai salah seorang calon Presiden atau Wakil
Presiden Pemilu 2004. Bahkan beberapa poling menempatkannya pada posisi
paling diunggulkan menjadi presiden. Poling TokohIndonesia DotCom
menempatkannya pada posisi pertama sebagai tokoh negarawan, tokoh bersih
KKN dan tokoh idola. Dalam poling Capres, ia bersaing dengan Amien Rais
menempati urutan pertama dan kedua secara bergantian. Banyak pihak
memperkirakan bisa saja hasil beberapa poling itu jadi kenyataan. Ia akan
jadi Presiden RI keenam.
Dr. HM. Hidayat Nur Wahid, MA adalah politisi, uztad dan cendekiawan yang
bergaya lembut serta mengedepankan moral dan dakwah. Sosoknya semakin
dikenal masyarakat luas setelah ia menjabat Presiden Partai Keadilan (PK),
kini menjadi Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dosen Pasca
Sarjana UAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini tidak pernah bercita-cita
jadi politisi. Kepemimpinnya di PK memberi warna tersendiri dalam peta
perpolitikan nasional.
Pria kelahiran Klaten 8 April 1960, ini tak pernah menargetkan atau
memprogramkan mau jadi apapun, termasuk menjadi ketua partai, apalagi
menjadi presiden. Ia mengaku menjalani hidup mengalir begitu saja dengan
penuh tawakal. “Dan Alhamdulillah, hidup saya berjalan dengan lancar,”
katanya. Sepanjang pengalaman pribadinya, ia merasa Allah membimbing dan
memberikan yang terbaik buatnya. Ini yang membuatnya semakin yakin bahwa
Allah itu Mahabijak, Mahakuasa dan takdir itu memang ada.
Latarbelakang kehidupan keluarganya sangat mempengaruhi perjalanan
hidupnya. Di kampung kelahirannya, keluarganya memang termasuk keluarga
pemuka agama. Kakeknya bahkan merupakan tokoh Muhammadiyah di Prambanan.
Ayahnya, sekalipun berlatar NU, juga pengurus Muhammadiyah, dan ibunya
aktivis Aisyiah.
Setelah SD, ia dimasukkan ayahnya ke Gontor karena banyak saudaranya yang
sekolah di sana. Dan, Alhamdulillah, selama mengenyam pendidikan di Gontor,
ia selalu ranking pertama atau kedua. Selama menimba ilmu di Pesantren
Modern Gontor, di samping menjadi pengurus OSIS, Hidayat pun anggota PII (Pelajar
Islam Indonesia).
Kemudian ia melanjutkan studi ke Madinah. Tidak tanggung-tanggung, selama
13 tahun, suami Hj Kastrian Indriawati yang telah dikaruniai dua orang
putri dan empat orang putra itu menimba ilmu keislaman di bumi tempat
Rasullulah SAW dimakamkan. Di sana, ia sempat menjadi ketua perhimpunan
mahasiswa asal Indonesia. Dan ia terpaksa berurusan dengan KBRI setempat,
karena ia mempersoalkan “Asas Tunggal” dan Penataran P-4.
Setelah selesai S-1, ia pun tidak terpikir untuk melanjutkan ke S-2. Tapi
tiba-tiba namanya masuk nominasi untuk ikut ujian S-2. Hari itu ia dapat
informasi dari orang lain dan hari itu juga ia harus menempuh ujiannya.
Dan tenyata alhamdulillah lulus.
Ketika masuk S-3 pun ia tidak punya niat sama sekali. Dosen pembimbingnya
yang agak memaksa supaya ia mengambil peluang S-3 yang diberikannya.
Padahal waktu itu, ia sudah ngotot untuk pulang ke Indonesia untuk
berdakwah. Sepulang dari tanah suci, ia aktif dalam berbagai kegiatan
dakwah sebelum terjun di dunia politik tahun 1999.
Kini, kesibukannya di partai tentu menyita waktu yang biasanya ia gunakan
untuk keluarga. Tapi ia merasa diuntungkan oleh keluarganya. “Istri saya
adalah tamatan Mu’allimat Yogya yang mantan aktivis organisasi Ikatan
Pelajar Muhammadiyah di tingkat nasional. Sehingga sedikit banyak
manajemen keluarga kami bisa lebih teratur,” kata pria yang hobi membaca
buku ini.
Lelaki 40 tahunan ini tak berubah dari watak aslinya meski sudah berada di
pucuk pimpinan partai. Pria yang dikenal berpenampilan sederhana dan ramah,
ini masih saja ikut bermain sepak bola bersama masya-rakat di sekitar
tempat tinggalnya. Tidak satu atau dua kali saja tetapi menjadi kegiatan
rutin. Ia kelihatan sangat menikmati sepak bola itu.
Selain sepak bola ia juga rutin bermain bulutangkis. Setiap Selasa pagi
nyaris tidak pernah dilewatkan untuk bermain bulutangkis bersama jamaah
masjid Al Qalam Pondok Gede. Ia masih kuat main selama lima set non stop.
Menurutnya, dengan rutin berolahraga stamina kerja seseorang menjadi
meningkat. Ia merasakan olahraga semakin penting ketika terjun mengurus
partai politik. Karena politik juga memerlukan stamina fisik yang prima. ►
Majalah Tokoh Indonesia Volume 09
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|